Di awal tahun 2013 aku mulai bekerja di sebuah Kedai Kopi Surabaya atau yang lebih dikenal dengan nama KEIKO. Aku bekerja di sana sebagai waiter karena aku belum punya pengalaman tentang peracikan kopi. Tentu saja aku tak membuang-buang kesempatan emas itu untuk segera belajar, dan dalam waktu satu bulan masa training aku sudah tau semua racikan dari menu yang ada di KEIKO, kecuali pengetahuan tentang kopi. Harap dimaklumi, Barista dan Captainnya terlalu menganut sistem senioritas. Semua resep yang aku ketahui, bukan karena diajarkan padaku, melainkan aku memperhatikan setiap barista yang sedang bekerja, yang diam-diam sambil aku catat setiap ukuran yang digunakan dalam peracikan minuman.

Tiga bulan berlalu, aku menandatangani kontrak kerja selama setahun. Seharusnya aku sudah menjadi barista, tapi peraturan tak tertulis di tempat itu mengharuskan yang lebih dulu menandatangani kontrak yang berhak duluan jadi barista. Apalah daya, aku harus menunggu salah satu dari mereka menyelesaikan kontrak kerja dan berharap tak memperpanjang lagi. Dan bulan depannya harapanku terkabulkan, akhirnya aku jadi barista juga. Masalahnya, aku justru belum tau cara meracik kopi yang benar. Gimana enggak, masak jualan kopi belum pernah ngerasain kopinya. Memang dasar tuh bosnya pelit, ga pernah ngasi kopi gratis buat dicobain. Aku coba tanya sama Captain, namun yang ada hanya disuruh fokus bikin minuman non-kopi.

Tak kehilangan akal, aku belajar semua tentang kopi dari youtube, dari basic sampai ke latte art. Saking penasarannya sama kopi, aku memutuskan berburu kopi dari café ke café di Surabaya, dan selalu pula aku tanya-tanya tentang kopi sama barista yang meracikan kopi.

Suatu waktu aku menemukan warung kopi di Sidoarjo yang sangat unik, mereka memiliki banyak varian kopi tanah air, dari Aceh Gayo sampai kopi Wamena. Uniknya lagi, mereka membuat espresso dari mesin motor GL. Bisa dibayangkan, sekelas warkop menyediakan espresso. Tapi yang menjadi tujuan utamaku adalah rasa dari semua varian kopi tanah air itu sendiri. Karena yang aku tahu, kopi standart ala café saat itu, hanyalah kopi houseblend yang rata-rata adalah kopi jawa yang notabene rasanya lebih soft. Sangat jarang café menyedikan kopi original khas Nusantara, yang ada lebih ke kopi luwak atau semacamnya, rasa yang menurutku tak sepadan dengan harganya.

Setahun berlalu dan kontrak kerjaku habis, aku tak memperpanjangnya dan lebih memilih untuk mencari kerja di café lain untuk mencari tantangan baru dan siapa tau juga bisa menambah wawasan baru tentang kopi. Ahh aku dilema, ternyata agak susah mendapatkan kerja baru yang langsung di posisi Barista dengan hanya bermodalkan sertifikasi kerja setahun di KEIKO. Sampai akhirnya aku menemukan café yang baru dibuka, dan beruntungnya aku langsung diposisikan menjadi leader bar. 

Di tempat baru ini aku banyak belajar, bukan hanya tentang kopi melainkan semua tentang penghitungan harga dasar sampai ke harga jual. Selain urusan racik menu, aku juga harus melatih tiga orang barista yang masih sama-sama belajar, dan disini aku tidak ingin adanya sistem senioritas, karena menurutku kalau semuanya bisa bekerja dengan baik, akan menjadi lebih mudah nantinya buatku sendiri sebagai leader. Bukan berarti juga aku bisa lepas tangan begitu saja, karena setiap ada masalah di bar tetap saja aku yang harus bertanggung jawab.

Setelah delapan bulan, aku merasa masa belajarku sudah cukup, dan karena tidak adanya kontrak kerja, aku mencoba pindah ke tempat lain. Tapi ternyata semakin ke depan sistem di dunia perkopian semakin gak asyik, mungkin karena terlalu banyak aturan dalam pembuatan kopi; yang ditimbanglah kopinya, yang di ukurlah susu cairnya, padahal tanpa ditimbang atau diukur pun toh hasilnya akan sama. Kenapa? Ya karena gelas yang dipakai sudah ada ukurannya. Ya, mungkin karena aku barista yang belajar mandiri dari pengalaman.

Sebagai barista otodidak, bukan berarti aku tidak mempunyai aturan dalam pembuatan kopi lho, hanya saja di dunia F&B rasa dari setiap tangan peraciknya pasti akan terasa beda, meski dengan ukuran yang sama seperti tertulis dalam resep. Sejatinya ukuran itu bukan hal yang mutlak untuk dipatuhi, asalkan bisa mengukur estimasinya, rasa yang didapat tak akan berbeda jauh dari yang menggunakan gelas ukur atau semacamnya. Aku sudah sering membuat kopi dengan mood yang berbeda-beda, dan rasanya juga ikut berbeda. Kopi akan terasa balance dicampur dengan apa aja yang penting ukurannya pas, tapi “apa aja” yang dimaksud dalam taraf wajar ya. Contoh nih, bagi kamu yang gak terlalu suka kopi, coba deh kamu campur single espresso dengan satu scoop es krim stroberi terus kamu blender dan sajikan dengan es batu, aku jamin kamu yang gak suka kopi bakalan ketagihan sama kafein yang satu ini.

Dari tahun ke tahun aku sudah keluar masuk café, dan akhir tahun 2018 aku pensiun dari dunia perkopian, aku datang ke Bali untuk mencari tantangan baru. Ternyata ada hal yang mengejutkan, di Bali skill barista tak terlalu diperhitungkan, yang diperhitungkan hanya skill berbahasa inggris aktif. Semakin mantap saja aku pensiun dari dunia kopi.

Untuk kalian yang ingin menjadi barista, jangan takut untuk bereksperimen dengan kopi. Sisihkan uang dari gaji kalian untuk membeli perlengkapan peracikan kopi, karena dengan itu kalian akan lebih mudah untuk bereksperimen. Untuk pecinta kopi hitam, aku sarankan membeli siphon kopi dan grinder manual yang low budget tapi hasil rasanya akan lebih greget daripada dengan v60 atau yang lainnya.

“Yes, I believe that happiness can be achieved through training the mind” kata Dalai Lama dalam buku The Art of happiness: a hand book for living.

Dari kalimat itu saya merenungkan sebuah kejadian yang baru saja saya alami. Betapa jengkelnya perasaan saya saat sesuatu yang saya inginkan sedang dalam titik menuju pencapaian dan tiba-tiba semuanya runtuh. Saya mengibaratkan hidup saya seperti sedang membangun sebuah istana pasir yang tetiba runtuh diterjang ombak. Semuanya hanya mampir sesaat dan pergi begitu saja seakan tidak ada kesempatan untuk menikmatinya barang sekejap.

Bisa dibayangkan saat pundi-pundi tabungan baru saja menggelembung, sebuah musibah muncul dan menerjang. Bantuan harus segera diturunkan, perahu penyelamat, team SAR harus dipanggil, tenda darurat dan makanan harus dikirim, (ini bukan tsunami Aceh, ini hanya soal gangguan kesehatan) dan pundi-pundi itu mengempis kembali.

“Kapan sih ada kesempatan bersenang-senang, menikmati sedikit kebahagiaan?” hati saya sempat marah besar.

Tapi kemudian saya merasa semua berjalan dengan lancer, kesehatan membaik, segala keperluan RS tercukupi dan musibah itu berlalu dengan membawa semua isi pundi saya. Teringatlah saya pada sebuah film (saya belum ingat judulnya), ketika seorang istri sangat marah, dia memutuskan pergi membawa anak-anaknya meninggalkan suaminya sedirian. Saat berhenti untuk makan di sebuah restoran, dia bertemua dengan seorang laki-laki tua berkulit hitam yang mengajaknya bercakap-cakap.
Intinya begini:
“Jangan pernah berpikir bahwa tuhan akan memberikan semua yang kita minta, tapi Tuhan akan memberikan semua kesempatan untuk mendapatkannya. Jika kita meminta kebahagiaan maka tuhan akan memberikan kita kesempatan untuk merasakan kebahagiaan. Jika kita meminta kerukunan dalam rumah tangga, maka tuhan akan memberikan kesempatan bagi kita untuk membinanya.” Nah, bisa ditebak ending filmnya pasti happy.

Untuk kasus saya Tuhan telah memberikan kesempatan bagi saya untuk mengisi pundi-pundi itu, sebelum kemudian diberikan kenyataan bahwa kesehatan saya bermasalah. Dan Tuhan memberikan kesempatan pada diri saya untuk merasakan bahwa apa yang saya kerjakan dan hasilkan, sangat berguna dalam hidup ini. kalau seandainya saya diberi kesempatan makan bebek goreng di restoran, mungkin tidak akan sempat saya merenungkan bebek itu, karena sekali bersendawa, rasanya sudah lenyap.

Sepertinya kebahagiaan itu hanya bisa di peroleh dari pikiran kita sendiri, saya harus melatihnya. Kalau hanya tentang penuh tidaknya pundi yang saya miliki, mungkin hanya bahagia saat dia penuh. Kalau kosong? Melarat lagi lahir batin. Lalu, seperti yang di ungkapkan Dalai Lama, pikiran bisa dilatih untuk mencapai kebahagiaan yang sebenarnya, dan berlaku setiap saat dan dalam kondisi apapun.

Beberapa orang pernah berkata pada saya bahwa, seandainya kamu melihat kehidupan ini dari sisi jeleknya saja, bisa dijamin kepalamu akan selalu pusing mencapai lebih dari sekedar tujuh keliling. Tidak punya uang takut jadi gembel. Punya uang banyak takut kerampokan. Punya istri cantik takut diselingkuhi orang.

Ada ungkapan orang bali yang selalu “Aget” (untung). Apapun kejadian yang menimpanya. “Aget ye idup” (untung dia masih hidup) ungkapan itu sering saya dengar saat seseorang mengalami kecelakaan, padahal orang itu patah tulang pada kedua kaki dan tangannya. Atau jika korban meninggal karena kecelakaan yang parah. “Aget ye mati, padaan idup kegele-gele.” (untung dia mati, dari pada hidup sekarat/menderita). Saya menganggap ungkapan itu merupakan gaya berpikir positif yang membantu mengurangi rasa kecewa. Karena kecewa membuat kita terpuruk dan merasa semuanya sia-sia tiada guna.

Kemudian saya melatih diri saya untuk selalu berpiki pisitif, dengan harapan saya bisa menikmati hidup betapapun susahnya. Kalau sedang mengalami perasaan tidak nyaman saya akan berteriak “HIDUP INI INDAH”. Tapi ternyata susah, saya masih mengusahakannya.

"Apakah kebahagiaan tentang kedudukan dan harta semata?"

"Seperti kita mengenakan pakaian; karena merek atau kenyamanan?"

Saya pernah iri pada orang yang berprofesi sebagai dokter. Mereka di hormati, duit mengalir. Sepetinya mereka semua selalu bahagia. Tapi suatu kali saya melihat seseorang berdebat denga seorang penerima tamu klinik; intinya orang itu adalah seorang staff dealer/finance yang mencari seorang dokter yang namanya tertempel di pintu untuk urusan kredit mobil yang macet; nomor Hp tidak aktif, alamat rumah sesuai Ktp sudah kosong. Entahlah, apakah mereka bahagia? Tapi saya tetap bangga pada orang yang beersedia mengabdikan diri sebagai seorang pelayan kesehatan, apa lagi yang bersedia di tempatkan di daerah-daerah.

Satu orang lagi, dia adalah pengusaha yang mengembangkan sebuah usaha keluarga yang kini merambah keseluruh Indonesia. Kaya, banyak rumah, banyak mobil, istri cantik. Saya begitu iri dan ingin seperi dia, karena selain kaya dia juga dermawan, menyumbang sana-sini dalam jumlah besar. Apakah dia Bahagia? Saya sering melihat dia uring-uringan jika ada orang yang berusaha merebut pasar bisnisnya, selalu bertampang masam jika karyawannya bicara mengenai tunjangan kesehatan dan kesejahtraan.

Lalu di mana kebahagiaan itu?

Saya mulai percaya kebahagiaan itu ada dalam pikiran kita. Materi adalah pelengkap yang juga tidak boleh dikesampingkan. Seperti membedakan mansturbasi dan bercinta dengan pasangan, semuanya bisa mencapai orgasme. Atau makan bebek goreng di warung tenda dengan makan di restoran. Kenyangnya sama, hanya sensasinya yang beda.

Baiklah, di mana kebahagiaan itu bertahta dalam diri anda? Bolehlah berbagi dengan kita semua?

Kemarin lusa, saya diminta untuk datang ke rumah kontrakan teman saya yang membuka usaha pencucian pakaian, dengan nama Kadek’s Laundry. Kadek mengalami masalah dengan daya listrik, saat harus mengoperasikan dua buah setrika dan dua mesin cuci. “Listriknya jeglag-jegleg. Yang punya rumah bilang ini sembilan ratus watt.” Kadek menjelaskan ketika saya tiba di rumahnya.

Agar kelihatan meyakinkan dimata Kadek, saya melihat lebih seksama panel listriknya, kemudian sebagai teman saya memberi dua opsi. Yang pertama Kadek harus melakukan penghematan dengan satu setrika saja dan satu mesin cuci saja. Kedua, Kadek harus mengajukan permohonan penambahan daya ke perusahaan listrik.

“Ya saya hitung-hitung dulu, mana yang lebih menguntungkan.”

Sambil menikmati teh botol yang disuguhkan, saya mendapat penjelasan bahwa potensi bisnis laundry sedang naik daun. Semua orang membutuhkan jasa cuci-mencuci. Semua ingin praktis dan cepat. Mesin cuci ternyata belum menjadi solusi yang sempurna, karena sebagian orang menginginkan yang lebih mudah. Tinggal klik, pakaian kotor sudah tersetrika rapi.

“Tahu tidak, bisnis apa yang akan laku keras dalam tahun-tahun kedepan ini?” Kadek memberi teka-teki, dan saya pura-pura berpikir keras dengan mengetuk-ngetuk pelipis menggunakan jari telunjuk.

Suara mesin cuci berhenti menderu kemudian Kadek mengeluarkan pakaian-pakaian yang sudah setengah kering, membawanya dengan ember besar berwarna biru dan menggantungnya satu persatu di jemuran. Saya memindahkan diri ke depan tv yang menyala, dan saya sudah berhenti berpikir ketika Kadek masuk dan menanyakan kembali teka-tekinya. Saya hanya menggelengkan kepala.

“Begini bro,” kata Kadek setelah duduk di sebelah saya. “Sekarang orang selalu berpikir praktis dan tidak mau susah. Bayangkan betapa debu dan asap yang beterbangan diluarsana. Ketika otak manusia juga terkontaminasi oleh polusi-polusi jaman edan. Saat mereka bertengger di titik puncak kemanjaan duniawi. Kemudian ketika sebuah badai datang dalam kehidupan mereka, maka saya yakin otak mereka nyaris pada posisi 100% kotor, terkontaminasi, stress. Dan saat itulah saya perlu memasang poster ‘terima cuci otak’.” Kadek tertawa keras sekali saat mengakhiri kelakarnya.

Cuci otak saya pikir sangat ekstrim dan terdengar radikal. Tapi setelah saya renungkan, setiap orang telah mengalami kekeruhan dalam otaknya akibat stres harian, yang seakan menjadi brand image manusia modern. Orang sibuk pasti stres,  banyak uang banyak stres, banyak pikiran jadi stres, agar dikira sukses orang-orang mengatakan dirinya stres.

Saya yakin bahwa Kadek akan sudah sangat terlambat memasang poster terima cuci otak, jika menunggu beberapa tahun lagi. Banyak orang saat ini sudah bersedia membayar mahal untuk sebuah terapi yang menenangkan jiwa, seminar yang membangkitkan gairah hidup, ceramah pembersih jiwa, buku petunjuk menjadi bahagia, video kotbah, hingga siaran tv pencerahan jiwa.

Membersihkan baju dan pikiran sama-sama capek, makanya jangan sampai kena saus sambal.

Pada masa jaya Elias Pical dan Icuk Sugiarto, kami dan para tetangga berbondong-bondong menonton tv dirumah tetangga kami, Dewa Aji Komang. Dia satu-satunya penduduk terdekat yang memiliki tv, yang waktu itu dicatu dengan tenaga aki dan warnanya baru dua, hitam dan putih. Semua orang bersuka-cita mendukung pahlawan-pahlawan olah raga yang mengharumkan nama Indonesia. Mengagumi penyanyi dan artis-artis televisi, semuanya tampak begitu cantik, sempurna dan indah.

Kotak ajaib bernama tv itu baru merambah rumah kami sehari setelah pemilu tahun 1992. Yakinlah bahwa ini bukan hasil sumbangan caleg. Warna gambarnya masih dua, hitam dan putih, karena harga tv berwarna tentu saja tidak terjangkau oleh kantong ayah kami yang seorang Guru biasa. Tapi bukan warnanya yang kami persoalkan, tapi rasa bangga yang kami nikmati ketika bisa duduk di depan tv, dalam rumah kami sendiri.

Setiap perubahan berpangkal dari buah pikiran manusia. Tidak ada pilihan ya atau tidak untuk perubahan, karena ia mengalir. Ketika hitam putih menjadi berwarna, tabung cembung menjadi datar, tabung CRT menjadi LCD, analog menjadi digital, semua ada harga yang harus dibayar oleh manusia.

Berangsur hari berangsur tahun, tv hitam putih kami rusak. Dua kali masuk bengkel sebelum akhirnya harus pensiun untuk teronggok di sudut halaman. Dalam kurun enam tahun, ia tergantikan oleh dua generasi baru tv berwarna lengkap. Demikian pula dengan para tetangga, nyaris setiap rumah sudah menikmati tv sebagai hiburan utama kala melepas kepenatan.

Setiap orang telah disentuh oleh kemewahan kecil bernama tv yang semakin penuh warna, dengan pilihan stasiun dan program acara kesenangan masing-masing, tinggal pencet remote. Ketika tv mengisi setiap ruang tamu, ruang keluarga, kamar tidur, dapur, bahkan tidak ada celah dalam rumah yang tidak dilengkapi dengan tv, suasana menonton jadi berbeda dalam kamar-kamar itu. Tidak ada lagi lampu senter yang berkedip di kegelapan malam menelusuri jalan setapak, untuk menyaksikan perhelatan tinju, bulutangkis, drama gong atau sepak bola. Tidak ada lagi kemeriahan seperti dulu.

Kehidupan sepertinya bergerak terbalik. Ketika tv hanya memiliki dua warna, hitam dan putih, ia memiliki penonton yang begitu banyak dan meriah. Namun ketika warna tv hadir lengkap dan tampak semakin indah, suasana menjadi sunyi tanpa gairah. TV sepertinya hanya sebuah pelarian untuk membunuh sepi, menemani kesendirian, menghilangkan kejenuhan, karena tidak ada teman bicara.

Saat ini bukan soal mahal harga tv atau banyaknya kanal, namun harga dari imbas perubahan itu yang menjadi soal, saat manusia merindukan suasana menonton, bukan tontonannya. Ketika kami duduk berdesakan di depan tv hitam putih ukuran empat belas inci di rumah tetangga, kami tidak membayar harga apapun selain ucapan terima kasih.

Suasana menonton kini sudah menjadi komoditi pasar hiburan di café, restaurant, club menonton, yang menyediakan tayangan layar lebar. Penonton yang datang adalah orang-orang yang bersedia membayar harganya. Namun di antara mereka selalu ada jarak, dibatasi oleh uang dan ego yang membawa mereka kembali ke dalam diri mereka sendiri yang kesepian.

Selalu ada harga yang harus dibayar ketika kita menginginkannya, bahkan ketika kita menolaknya.

Membaca cerpen-cerpen Made Suarbawa kadang terasa seperti menonton film pendek. Detil, rinci, tapi ketat dan padat. Penilaian saya mungkin saja dipengaruhi oleh pengetahuan utama saya tentang sosok penulisnya yang selama ini memang lebih banyak bergiat di Minikino, sebuah organisasi festival film pendek yang berkedudukan di Denpasar dan memiliki jaringan kerja amat luas di dunia internasional. Tapi, soal rinci dan detil, sepertinya bukanlah penilaian berlebihan.

Sejumlah tokoh dalam cerpen-cerpen ini dilukiskan dengan begitu teliti, sebagaimana seorang juru kamera dalam proses penggarapan film, yang dengan upaya keras mengarahkan moncong kamera ke seluruh tubuh pemain. Bagaimana wujud tokohnya, apa saja aksesorisnya, bagaimana tokoh itu bergerak, dilukiskan dengan penuh perhitungan, bahkan kadang terkesan amat lengkap. Seperti juga dalam sebuah film di mana kamera tak bisa merekam perasaan tokoh-tokohnya hingga ke dalam hati, Made Suarbawa tampak berupaya keras melukiskan perasaan tokoh-tokoh dalam cerpennya —sedih, cemas atau sakit hati— dengan hanya menarasikan gerak tubuh dan mimik sang tokoh. Pada bagain inilah salah satu letak kelebihan cerpen-cerpen Made Suarbawa.

Meski cerpen-cerpennya belum banyak dikenal pembaca karena memang belum banyak disiarkan di media massa atau media sosial, bisa diduga Made Suarbawa punya pengalaman menulis yang panjang. Ini tampak dari kematangannya mengatur strategi bercerita untuk mengaduk-aduk perasaan pembacanya. Strategi penceritaan yang cukup berani dilakukan pada cerpen “Kisah Peniup Seruling”. Cerita yang sesungguhnya sederhana ini diramu dengan dialog tanya-jawab yang terkesan monoton, namun penulisnya cukup lihai menyusun tanya-jawab itu sehingga pembaca menjadi penasaran dan membacanya hingga usai.

Meski sejumlah ceritanya memiliki tema sederhana, bahkan kadang klise, misalnya soal diskriminasi anak perempuan dalam keluarga di Bali, namun Made Suarbawa punya teknik penyelesaian yang tak tertebak. Saat sepasang suami-istri berbahagia atas kelahiran anak pertamanya yang perempuan, dan di sisi lain anak perempuan tak membuat keluarga besar mereka bahagia, Made Suarbawa menyelesaikan cerpen itu dengan amat datar, santai, tapi menimbulkan keharuan dan pesan terselubung yang cukup mendalam.

Akhirnya, selamat membaca.

Singaraja, September 2019
Made Adnyana Ole, editor

Note: Buku Kumpulan Cerpen Politik Kasur, Dengkur dan Kubur diterbitkan oleh Mahima Institute Indonesia - Singaraja (ISBN 978-623-7220-15-2). Bila ingin memiliki buku ini, dapat mengontak penerbit @bukumahima atau penulisnya @madebirus (IG).

Judul: Politik Kasur, Dengkur dan Kubur
Pengarang: I Made Suarbawa
Terbit: 30 Oktober 2019
ISBN : 978-623-7220-15-2
Bahasa: Indonesia
Penerbit: Mahima Institute Indonesia
Jenis Buku: Kumpulan Cerita Pendek

Kalian  pasti mengenal kalimat ini:
“Usahakan yang terbaik hari ini, untuk hari esok yang lebih baik.” atau “Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin” atau, “Hari esok harus lebih baik dari hari ini.” Kalimat-kalimat tersebut mengisyaratkan bahwa hendaknya hidup kita semakin baik dari hari ke hari. Tapi ternyata saya menerapkan kalimat tersebut dengan sedikit terpelesat. Karena saya selalu mencari pembenaran bahwa; apapun yang terjadi hari ini, mari perbaiki esok saja.

Pada kenyataan sehari-hari, saya sering membiarkan diri saya hidup pada hari esok, bahkan dalam hal-hal yang sangat kecil dan sesungguhnya tidak membutuhkan pemikiran yang canggih, atau resiko menghabiskan tenaga besar, karena persoalannya hanya berurusan dengan kamar kecil–toilet–wc–kamar mandi. Dalam situasi ini, kenapa persoalannya kemudian menjadi ruwet, rumit dan melilit hidup saya? Adalah karena persoalan kamar kecil, yang direcoki oleh bisikan setan kecil, yang  merayu dan sedikit memaksa saya, untuk membiarkan semua persoalan itu berlarut-larut.

Persoalan pertama adalah, keran di kamar mandi sudah bocor nyaris sejak empat bulan yang lalu. Yang kedua, jika mandi di atas jam tujuh malam suasananya sangat gelap, bukan karena pemadaman listrik bergilir yang beberapa bulan kemarin melanda. Tapi karena lampu kamar mandi mati sejak lebih dari dua bulan yang lalu. Pertanyaannya, kenapa masih menyisahakn masalah hingga hari ini? Padahal saya punya pengalaman sebagai profesional dalam  urusan dengan air, pipa, keran, kabel, lampu dan listrik. Saya bukan orang yang tidak tahu bagaimana cara memasang seal tape agar keran tidak bocor. Atau gagap ketika berhadapan dengan setrum listrik.

Setan kecil telah menguasai kehidupan saya, sementara malaikat kecil megap-megap tenggelam dalam banjir kenyamanan yang dihembuskan setan kecil.  Dengan kedipan mata bersekongkol, setan kecil selalu berkata, “Sudahlah, biarkan saja lampu itu, toh kamu tidak selalu mandi malam hari. Apa lagi kamu tidak punya tangga untuk naik. Pakai kursi kan tidak cukup. Besok saja lah, hari ini ada pekerjaan yang lebih penting yang harus diselesaikan. Kalau bisa besok kenapa harus hari ini? Kalau bisa ditunda kenapa harus buru-buru?”.

Kalau sudah begitu, malaikat kecil tersungut dan menggerutu, “Ya besok saja, hu’uh. Kalian seperti kenek angkot yang memasang stiker ‘hari ini bayar besok gratis’. Besok, besok, besok, terus saja besok. Sudah berapa kali besok, tapi tetap saja besok. Kalau semua mau dikerjakan besok terus hari ini apa? Jangan mencoba menjadi regu tembak, tar sok tar sok”. Setelah menyelesaikan kalimatnya, malaikat kecil biasanya kabur dengan membanting pintu.

Kenapa hidup saya terombang-ambing dalam perseteruan dua mahluk kecil itu? Kenapa saya tidak bisa memutuskan apapun? Dimana seharusnya saya meletakan esok dalam hidup saya? Ketegasan itu sama sekali tidak ada. Bahkan untuk hal kecil.

Ahirnya tekanan koalisi yang digalang malaikat kecil datang. Ibu, ponakan, sepupu, dan keluarga dari kampong, akan datang dan tinggal ditempat saya pada akhir pekan depan. Ini yang menghasilkan desakan kuat agar saya segera membereskan persoalan kecil itu. Semua akhirnya beres karena desakan, terdesak, mendesak dan didesak. Apakah saya harus terus menunggu diri saya terdesak oleh pengaruh dari luar, baru kemudian saya menjadi manusia yang hidup hari ini? Kenapa tidak melakukan yang terbaik hari ini untuk hari esok yang lebih baik?

Dan selalu ada kambing hitam pada setiap persoalan. Bahkan soal kecil.