Pada Kamis, 16 Maret 2023 Mash Denpasar menjadi tuan rumah sebuah acara Malam Puisi yang dilakukan untuk pertama kali. Acara tersebut digagas oleh duo host Richie dan Grace, dengan mengundang mereka yang ingin berbagi puisi.

Para tamu mulai membanjiri ruangan sejak awal acara, yang pastilah mereka adalah para penggemar puisi. Bila diamati, mereka termasuk kalangan anak muda yang sebagian besar mahasiswa. Malam itu dihadirkan juga pembaca puisi yang secara khusus diundang membaca puisi, yaitu @fadilasst48, @Tembangmerahss, dan @ainunanjasmara_

Acara Malam Puisi di Mash Denpasar dimulai pada pukul tujuh tiga puluh malam dengan suasana yang meriah dan semangat yang tinggi. Pemandangan yang menyenangkan melihat antusiasme anak muda terhadap puisi.

Setelah pengantar singkat dari Richie selaku pemandu acara, beberapa penyair dan penulis diundang untuk membacakan puisi mereka. Suasana yang tercipta di dalam ruangan menjadi hening, hanya sedikit suara AC yang mendengus sejuk. Terlihat mata para hadirin tertegun saat para penyair mulai membacakan puisi mereka dengan penuh hikmat.

Format program Malam Puisi ini menarik, Richie membagi setiap sesi yang dijeda dengan istirahat beberapa menit. Setiap akhir sesi, siapapun dari hadirin diperkenankan mengajukan diri untuk membacakan puisi pada sesi berikutnya.

Malam Puisi perdana ini mengambil tema kebebasan. Dan kelihatanya diartikan sebagai kebebasan sebagai tema puisi dan juga kebebasan dalam membaca puisi apa saja dan dengan gaya apa saja. Ada puisi tentang politik, perdamaian, keluarga, makanan, tentang cinta dan kerinduan, serta tentang kehidupan dan arti kebebasan.

Sambil mendengarkan puisi yang dibacakan, para tamu menikmati hidangan lezat dan minuman yang dipesan di tempat. Sebagian besar dari mereka mengambil kesempatan untuk bersantai dan menikmati suasana yang menyenangkan, sementara beberapa orang mulai memilih dan menulis puisi mereka sendiri.

Pada setiap jeda, selalu ada obrolan singkat tentang puisi yang baru dibacakan, atau mengorek informasi dari teman baru mengenai puisi dan praktek menulis puisi mereka.

Acara Malam Puisi di Mash Denpasar berlangsung selama beberapa jam, dan menjadi malam Jumat yang menyenangkan. Hal ini membuktikan bahwa puisi masih menjadi cara yang efektif untuk menyampaikan pesan-pesan penting, tapi juga bisa menghibur.

Membaca Puisi Sebagai Terapi

Melepaskan emosi adalah salah satu cara terapi kejiwaan yang sederhana namun efektif. Dengan melepaskan emosi, seseorang dapat mengurangi stres dan ketegangan yang mungkin dirasakan dalam keseharian.

Membaca puisi dapat menjadi salah satu bentuk terapi yang efektif dalam meredakan stres, kecemasan, atau ketegangan emosional. Terapi dengan menggunakan puisi dapat membantu seseorang dalam mengatasi berbagai masalah psikologis karena puisi dapat menimbulkan efek psikologis yang kuat pada pembacanya.

Membaca puisi juga menjadi salah satu alternatif melepaskan emosi sedih, marah, dan keinginan didengar. Membaca puisi itu membutuhkan fokus, penjiwaan, pengaturan nafas, suara dan gestur. Ini seperti beryoga. Hal berikut bisa kita kerucutkan sebagai manfaat ketika membaca puisi, selain mendapat teman dan pendengar ketika membacanya dalam forum kecil dan intim seperti Malam Puisi Mash Denpasar.

Membantu meredakan stres: Saat membaca puisi, pikiran seseorang akan terfokus pada kata-kata dan makna yang disampaikan dalam puisi tersebut. Hal ini dapat membantu mengalihkan perhatian dari masalah yang sedang dihadapi sehingga dapat meredakan stres. Lupa mantan dan lupa utang.

Meningkatkan rasa empati: Puisi seringkali mengandung perasaan dan emosi yang kuat, sehingga dapat membantu pembaca dalam memahami dan merasakan emosi orang lain. Dengan membaca puisi, seseorang dapat memperluas pemahaman tentang perasaan dan perspektif orang lain.

Meningkatkan kreativitas: Puisi seringkali menggunakan bahasa yang kreatif dan tidak konvensional. Dengan membaca puisi, seseorang dapat belajar untuk mengembangkan kreativitasnya dalam memikirkan atau mengekspresikan diri.

Menenangkan pikiran: Puisi dapat memberikan pengalaman yang menyenangkan dan menenangkan pikiran. Ketika seseorang membaca puisi, ia dapat merasa lebih rileks dan tenang.

Memperluas wawasan: Puisi seringkali mengandung makna yang dalam dan kompleks. Dengan membaca puisi, seseorang dapat memperluas wawasannya dan memperdalam pemahaman tentang dirinya sendiri, dunia di sekitarnya, atau kehidupan secara umum.

Mari membaca. Membaca Puisi dan apa saja, yang penting menyenangkan.

Sepanjang siang tadi saya pulang ke dusun menemani kawan-kawan BaleBengong Denpasar, melali ke dusun.

Penyusuran kami mulai dari pantai Candikusuma, Kecamatan Melaya. Di pantai nelayan ini, kami sudah ditunggu oleh Pak Kelian Banjar Moding Kaja I Kadek Erayanta dan anggota KJW (Kelompok Jurnalistik Warga Moding Kaja) antara lain Dek Yudi, Yarka Moni dan Agus Linuh. Mereka lalu mengajak kami menapak tilas perjalanan Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh yang konon dahulu kala "menitipkan" istri beliau kepada warga setempat di pesisir karena dalam kondisi hamil tua, sementara Ida Pedanda meneruskan perjalanan sucinya ke arah timur Pulau Bali.

Di atas tebing pantai ini ada sebuah candi kecil (tugu) bersudut tiga terbuat dari bata merah. Tugu inilah yang disebut Candi Kusuma, kemudian dipakai sebagai nama Desa Candikusuma. Candi ini konon dibangun oleh warga setempat pada tahun 1897 atas perintah pimpinan perkebunan Belanda yang bertugas di sana. Alasan membangun candi ini konon untuk tempat pemujaan, karena saat itu perkebunan Belanda di sana sering diganggu macan dan binatang buas lainnya, serta warga masyarakat sempat terkena wabah penyakit misterius (grubug). Konon sejak candi itu dibangun, keadaan kebun dan warga menjadi normal kembali. Sayangnya, candi yang asli sudah sempat dipugar entah oleh perintah siapa. Pemugarannya pun dilakukan secara amat buruk dan sembrono. Susunan batu bata asli yang tidak memakai perekat semen, justru sekarang disemen, lalu dikelilingi tembok beton yang juga asal-asalan. ????

Dari pantai Candikusuma kami menuju Dusun Moding. Di dusun yang terkenal dengan kebun vanili dan kakao ini kami mengunjungi rumah dan kebun petani setempat, Pak Ketut Sudomo. Pak Ketut Sudomo adalah salah seorang Petani Teladan Indonesia pada era 1990-an, yang telah banyak memberi inspirasi, pendampingan dan pelatihan serta menunjukkan keberhasilan pertanian kepada berbagai kalangan, termasuk menjadi "tempat belajar" bagi instansi-instansi berbagai pemerintah daerah, khususnya belajar tentang vanili dan kakao. Pak Ketut Sudomo juga adalah salah satu tokoh perintis kesenian Jegog di Banjar Moding.

Selanjutnya kami menuju rumah industri kreatif milik pionir Kelompok Wanita Tani (KWT) setempat. Rumah kreatif yang dikelola oleh Ibu Ayu ini bernama Coklat CK berada di tengah kebun. Di sini biji kakao hasil kebun di Banjar Moding diolah menjadi beberapa macam minuman coklat asli, camilan-camilan hingga coklat batangan. Pengolahan dilakukan dengan alat atau mesin manual serta dikemas secara kekinian di bawah binaan Bank Indonesia (BI). Rasa dahaga di siang yang tadi kebetulan cukup terik langsung terobati oleh jus coklat murni yang disajikan Ibu Ayu kepada kami semua.

Dari Rumah Coklat, kami menuju Dusun Senja yang berlokasi di Banjar Moding Kaja.

Di Dusun Senja, kami sudah ditunggu oleh ibu saya yang ditemani oleh Pak Agung Mang De dan istri, Gung Biyang Tami dan beberapa anggota STT Kusuma Bhakti Banjar Moding Kaja serta sahabat kami Made Suarbawa alias Made Birus dari Desa Tukadaya. Birus adalah penggerak Minikino dan pemilik "Rumah Baca Bali Tersenyum".

Di Dusun Senja kami makan siang dengan suguhan olahan tangan Agung Mang De, Agung Pekak Cakra, Gung Biyang Tami dan Gung Bagus berupa "lawar klungah" khas Jembrana, komoh (sup) daging ayam kampung dan ikan laut panggang, ditutup dengan secangkir kopi ditemani ketela dan pisang rebus.
Setelah obrolan singkat tentang apa dan bagaimana Dusun Senja ini dikelola, sekitar pukul 3 sore teman-teman dari BaleBengong bersiap kembali ke Denpasar dengan singgah dulu di Rompyok Kopi, di Negara.

Di Rompyok Kopi, sambil ngobrol tentang aktivitas sastra yang diselenggarakan Komunitas Kertas Budaya (sekarang menjadi Yayasan Kertas Budaya Indonesia), teman-teman BaleBengong khusus memesan Es Kuning dan Kopi Wanen, minuman dusun racikan Wayan Nanoq da Kansas yang satu-satunya di bumi itu. Haha.

Begitulah kisah kami melali ke dusun sepanjang hari ini, Sabtu 4 Februari 2023. Salam rahayu bagi kita semua.

Lima film pendek dari program Purwa Carita Campuhan diputar perdana di di Studio XXI Plaza Level 21, Denpasar pada Jumat, 3 Maret 2023 mulai pukul 18:45 Wita. Lima karya film pendek tersebut adalah:

  1. Tonya Bindu karya Kirania Maheswari,
  2. Boni karya Amrita Dharma dan Gede Nadi,
  3. I Swarnangkara karya Petra Paramita,
  4. Kacang Dari karya Dodek Sukahet,
  5. I Tundung karya I Nengah Juliawan.

Purwa Carita Campuhan merupakan Program dari Yayasan Puri Kauhan Ubud, berupa kompetisi ide cerita film dengan tema air dan lingkungan, yang mewajibkan peserta menggali sumber cerita dari cerita rakyat Bali. Kompetisi ini diikuti puluhan peserta, yang disaring dalam berberapa tahapan, dimana tahap pertama meloloskan 30 cerita yang kemudian mendapat pembekalan mengenai penggalian sumber cerita dan pemgembangannya menjadi cerita film. Tahap selanjutnya, meloloskan 15 cerita yang kemudian mengukuti pelatihan penyusunan proposal film dan dipertemukan dengan juri utama dalam sesi pitching ide cerita.

Sebelumnya, acara peluncuran film pendek Purwa Carita Campuhan berserta tiga seri buku oleh Yayasan Puri Kauhan Ubud dilangsungkan pada pagi hari di Ruang Taksu, Gedung Dharma Negara Alaya, Denpasar. Hadir dalam acara peluncuran tersebut Wakil Walikota Denpasar, Kadek Agus Arya Wibawa yang memberikan apresiasi peluncuran buku dan film pendek ini, sebagai sesuatu yang penting sebagai sarana interaksi dan komunikasi dalam usaha menumbuhkembangkan kreativitas di kalangan anak-anak dan remaja terkait agama, adat dan budaya Bali yang berkesinambungan.

Yayasan Puri Kauhan Ubud, Anak Agung Gde Ngurah Ari Dwipayana menyampaikan, diadakannya kompetisi ini terinspirasi dari cerita rakyat Bali yang di dalamnya memuat pesan lingkungan dan pemuliaan air. Dimana bertujuan bukan hanya sebagai kompetisi, tapi juga mengedukasi perihal lingkungan serta pelatihan khususnya dalam pembuatan film pendek. Tema air diangkat dikarenakan air merupakan hal yang penting dalam sistem kepercayaan masyarakat Bali. Dalam upacara panca yadnya pun air menjadi simbol penting.

Ajang kompetisi Film Pendek Purwa Carita Campuhan adalah bagian dari rangkaian panjang Program Sastra Saraswati Sewana 2022. Purwa Carita Campuhan adalah kompetisi ide cerita film pendek tentang pemuliaan air dan pelestarian alam yang dikembangkan dari cerita rakyat Bali. Cerita rakyat tersebut dialih wahanakan ke film pendek agar cocok untuk generasi kekinian, terutama Gen-Z.

Nonton Bareng Film Pendek Bali Di Bioskop

Sekitar 160 orang penonton memenuhi ruang bioskop XXI yang terletak di Jl. Teuku Umar, Denpasar. Dalam kesempatan tersebut, AAGN Ari Dwipayana menyampaikan pemutaran karya pemenang di bioskop XXI ini sebagai penghargaan kepada para peserta lomba yang telah bekerja keras mengikuti seluruh rangkaian lomba.

Kompetisi ini turut bekerjasama dengan Minikino, dan didukung oleh Pupuk Kaltim, Telkom dsn Indihome. Dalam Program Purwa Carita Campuhan diharapkan bisa membantu para peserta untuk memahami lebih dalam lagi tentang Cerita Rakyat yang terkait dengan Pemuliaan Air dan Pelestarian Alam-lingkungan Bali. Menggali kekayaan cerita lokal hendaknya menjadi sebuah kesadaran bagi para sineas dalam mengembangkan cerita film yang memiliki nilai universal. Kisah-kisah lokal Bali tidak akan kalah dengan kisah Pocahontas, Mulan, atau Moana.

Lima film pendek yang disaksikan malam itu, merupakan luaran dari 5 project film yang  mendapatkan bantuan dana produksi sebesar masing-masing 25 juta rupiah untuk biaya produksi. Pemenang kompetisi bervariasi dari Siswa SMA sampai dosen-dosen audio visual di Bali. Cerita film pemenang tersebut melalui serangkaian penilaian oleh kurator dan juri-juri yang kompeten, diantaranya Garin Nugroho, Tjokorda Raka Kerthyasa, Anak Agung Gde Ariawan, Happy Salma dan Robi Navicula.

Dalam proses pra-produksi peserta mendapat kesempatan konsultasi mengenai sekenario yang mereka tulis sebelum memasuki tahapan produksi. Dalam tahap produksi film pendek, setiap peserta memilih tim produksi dan melakukan seluruh proses produksi secara mandiri, selama kurang-lebih satu bulan, hinggal menghasilkan final film yang disaksikan bersama-sama di Bioskop malam itu.

Konsep program alih wahana cerita rakyat ke dalam film Purwa Carita Campuhan ini mejadi menarik, karena memiliki fokus pada penggalian sumber cerita dan memberikan pembekalan melalui pelatihannya. Peserta yang berhasil menang ataupun yang hanya bisa sampai di tahap pelatihan akan pulang membawa ilmu dan wawasan baru. Sangat berbeda dengan lomba film pendek yang meminta peserta mengirimkan film jadi dan membumbuinya wajib memasukan jargon promosi produknya. Peserta yang menang dapat hadiah, semetara yang tidak menang hanya jadi koeban eksploitasi kepentingan kapita saja.

 

Pada Sabtu sore yang hangat akhirnya kami bisa keluar jalan-jalan. Sebelumnya cuaca basah berhari-hari akibat hujan lebat dan angin kencang. Udara menjadi dingin dan matahari hanya muncul sesekali. Namun sore itu semuanya seakan hilang. Sambil menikmati cuaca yang hangat, kami memacu motor menuju Kulidan Space di Desa Guwang, Gianyar.

Saya lupa kapan terakhir kali saya mengunjungi Kulidan Space. Namun tempat ini sangat membuat saya terkesan karena lokasinya terletak di tengah sawah dan tegalan. Suasana desa masih sangat terasa walaupun sudah dilalui jalanan beraspal. Lokasinya berada di Timur jalan sehingga saat sore tiba kita akan dapat menyaksikan matahari tenggelam di balik pohon-pohon kelapa. Saat saya kembali mengunjunginya di Sabtu sore itu, suasana belum banyak berubah. Namun kali ini para pengunjung dapat menikmati suasana sambil menyeruput kopi atau kudapan-kudapan ala café kekinian. Selain itu,banyak acara dan agenda yang dilaksanakan di tempat ini. Seperti diskusi dan pameran.

Sore ini Kulidan Space menyelenggarakan pameran lukisan.  Pelukisnya adalah Gus West, dari Rambut Siwi Jembrana. Saya bukan penggemar lukisan. Jadi saat melihat banyak lukisan besar tergantung dengan warna-warna yang menurut saya sendu, saya berpikir hanya akan menikmatinya sambil lalu. Saya pun masuk ke dalam aula yang mulai banyak dimasuki para pengunjung. Pada lukisan pertama, saya mulai bingung. Lukisan karya Gus West tidak biasa.

"Dimana tandatangannya?" pikir saya sambil mencari-cari dan tidak ketemu. Saya kemudian melanjutkan ke lukisan kedua, dan berikutnya, dan berikutnya, tetap tidak ketemu. Sepertinya sang pelukis lupa menorehkan tanda tangannya, pikir saya. Tapi kenapa pada semua lukisan? Masih bingung, saya kembali ke lukisan pertama. Barangkali ada yang terlewat. Kembali saya teliti lebih detil. Saya meneliti setiap tepian pada lukisan karena biasanya disitu ada tanda tangan sang pelukis. Namun tetap saja tidak ada. Akhirnya saya berkesimpulan, sang pelukis benar-benar lupa menaruh tandatangannya. Saya memandangi lukisan itu kembali. Barangkali keunikan sang pelukis ada disitu. Saya kemudian melihat deretan angka yang terlihat acak dengan tanda lingkaran kecil dan tanda petik. Angka-angka itu ada di setiap lukisan. Saya pun menebak barangkali ini tanda tangannya. Tapi kenapa angka? "Angka-angka ini adalah koordinat." kata seseorang disamping saya. Koordinat? Wah, unik nih. Tapi kenapa harus koordinat? “Kalau bingung tanya langsung sama pelukisnya.” kata orang tadi. Tepat sekali.

Menggunakan bakat saya yang selalu penasaran, saya kemudian menemui Gus West. "Tandatangan itu nggak penting." kata Gus West sambil tertawa. Lho? Kamipun mengobrol tentang lukisannya. Di setiap lukisan karyanya, Gus West selalu menuliskan koordinat yang menunjukkan lokasi kejadian yang menjadi inspirasi lukisannya. Maka ada Monkey Changer yang terinspirasi saat melihat monyet di Pura Melanting. Lukisan itu bercerita tentang bagaimana sang monyet diberikan harmoni antara manusia dan monyet yang hidup berdampingan. Mereka disiapkan makanan, pura khusus dibangun dan tentu saja cerita-cerita hebat dibuat untuk mereka. Para turis datang tertarik untuk menyaksikan. Pandemi kemudian datang, para turis menghilang, dan para monyet kesulitan mencari makanan. Mereka kemudian ke pemukiman penduduk dan harmoni itu mendadak hilang. Mereka malah diusir, ditembak dan dianggap sebagai hama. Sangat paradoks. Ada pula lukisan buaya yang terinspirasi dari cerita para tetua untuk melindungi daerah aliran sungai. Buaya yang digambarkan angker dan ganas akan memakan siapapun yang hendak mengganggu kawasan sungai. Namun aliran modal yang agresif mengeksploitasi lebih beringas. Modal tidak pernah takut kepada cerita-cerita para tetua. Mereka takut kalau rugi.

Lukisan karya Gus West yang lain masih banyak bercerita dengan koordinatnya. Masing-masing lukisan memiliki ceritanya sendiri. Semua ceritanya sangat menarik karena kita dapat melihat bagaimana manusia menggarap alam sekelilingnya, dan bagaimana alam merespon tangan-tangan manusia yang menggarapnya.

Sejak tahun 2004 hingga kini Gus West masih aktif di organisasi Greenpeace melanglang buana bersama kapal Rainbow Warrior yang legendaris. Karena sebagian besar waktunya Gus Wes berinteraksi di luar negeri, saya jadi ingin tahu bagaimana kehidupan para bule di negerinya sendiri? Dengan lugas Gus Wes menjawab, sama saja seperti manusia pada umumnya. Ada yang peduli lingkungan, ada yang tidak. Ada yang paham,ada yang tidak. Menurut Gus Wes juga para politisinya jago membuat narasi. Ya, sepertinya sama saja seperti di sini di tanah air kita. Hehehe...

Permakultur diobrolkan di Kulidan Space pada Sabtu 18 Februari 2023, menghadirkan Sayu seorang spesialis permakultur dan agroforestry. Obrolan dimulai pukul 17.00 wita, menjelang pembukaan pameran karya lukis Gus West, seniman asal Jembrana yang punya perhatian pada lingkungan. Karena saya datang terlambat sekali, jadi hanya mendengar ujung obrolan yang diseting di depan Kulitan Kitchen & Coffee.

Dari meja paling belakang di bawah pohon kamboja, saya mendengarkan Sayu menjawab pertanyaan, bagaimana cara bertahan dan konsisten di jalur perjuangan lingkungan dan kehidupan berkelanjutan. Sayu menyampaikan bahwa dia menyiapkan diri menjadi gila di lingkungan yang "waras" untuk bisa bertahan. Ketika orang memasak memakai penyedap, makan makanan instan dan kita tidak, itu sudah memisahkan diri dari arus utama. Dalam perjalanannya, Sayu berpikir bahwa berusaha menggali masalah akan menimbulkan pesimis. Maka temukan satu masalah dan gali solusi sebanyak-banyaknya, itu yang akan membuat kita optimis dan terus berjalan.

Sayu juga menceritakan bagaimana orang tuanya dulu yang awalnya menggunakan kotoran ternak sebagai pupuk. Kemudian beralih ke ponska, urea dan sebagainya, yang kemudian mengubah situasi sosial ekonomi dalam keluarga. Uang habis untuk membeli pupuk, dan yang tersisa hanya bisa untuk membeli garam dapur.

Selesai Dengan Diri Sendiri

Berbicara tentang tips masuk ke komunitas membawa ide permakultur atau kehidupan berkelanjutan, Sayu menyampaikan bahwa sebelum mengajak orang diluar lingkungan kita, maka kita harus selesai dengan diri kita dulu. Seperti permakultur, kita mulai dari zona 0 dan zona 1, yaitu diri kita, rumah kita dan halaman rumah kita.

Ketika kita keluar dari zona kita sendiri, masalah pasti akan lebih banyak. Memulai konsep permakultur tidak terlalu sulit, tapi keberlanjutannya ternyata lebih sulit. Apalagi di kalangan anak muda yang sudah terbiasa dengan budaya instan. Subsidi pupuk ternyata tidak mendidik karena menimbulkan banyak mafia pupuk sehingga harga beli petani jadi lebih tinggi. Namun solusi dalam hal ini adalah mengikuti alur anak muda itu sendiri. Membuat "mainan baru" membuat anak muda jadi lebih tertarik mengikuti permakultur dan permasalahannya.

Seorang peserta diskusi menyampaikan - saya tidak ingat namanya - dalam prakteknya kegiatan terkait lingkungan menjadi trend instan. Ikut meramaikan tapi tidak paham esensinya. Pegang cangkul, berfoto lalu sibuk dengan hp untuk bikin caption. Kadang segala sesuatunya tidak perlu dilaporkan atau dikatakan. Lakukan saja dan saat ada hasil baru laporkan pada dunia.

Bertemu Permakultur dan Berusaha Memahaminya

Pertama kali saya bertemu permakultur adalah di Omah Apik, kalau tidak salah tahun 2020. Secara kebetulan memergoki Sayu sedang berbagi tentang permakultur yang merupakan proyek lanjutan alih fungsi kebun-kebun indah Omah Apik Pejeng menjadi kebun-bekun sayur yang produktif. Saat itu saya hanya mendengarkan dan berusaha memahaminya, dan bercita-cita untuk menulisnya sebagai bahan ingatan. Tapi baru sekarang saya menulisnya, setelah ketemu obrolan permakultur di Kulidan. Jangankan mempraktekan permakultur, menulisnyapun baru saya praktekan sekarang.

Saya baca wikipedia untuk mendapat sedikit gambaran apa itu permakultur. Ternyata permakultur bukan sekedar mempetak-petakkan kebun agar terlihat cantik untuk selfie. Permakultur sendiri merupakan cabang ilmu desain ekologis, teknik ekologis, dan desain lingkungan yang mengembangkan arsitektur berkelanjutan dan sistem pertanian swadaya berdasarkan ekosistem alam. Kalau disimak, permakultur akan merekam situasi lingkungannya dan dirancang menyesuaikan situasi manusia dan lingkungannya.

Ada zonasi yang dirancang dalam praktek permakultur. Zonasi ini mengacu pada pergerakan manusinya. Zona 1 dan 2 merupakan area terdekat pusat hidup si manusianya, membutuhkan perhatian dan kunjungan paling sering. Sementara zona 3, 4 dan 5 merupakan zona kerja lebih jauh yang umumnya mendapat lebih sedikit kunjungan atau kebutuhan perawatan. Pembagian zona ini berkaitan dengan efektifitas energi yang dibutuhkan dari manusia.

Zonasi Permakultur

Zona 0
Merupakan pusat aktivitas, rumah atau rumah utama. Disini dilakukan praktek-praktek keberlanjutan. Prinsip penggunaan energi terbarukan, tanpa limbah, penghematan air dapat diterapkan di zone ini.

Zona 1
Merupakan zona yang paling dekat dengan rumah atau yang paling sering dilalui. Sesuatu yang membutuhkan perhatian harian, observasi, dan pemeliharaan rutin. Kebun herbal dan sayur, atau tong sampah untuk dapur baik ditempatkan di area ini untuk kecapatan akses.

Zona 2
Zona ini adalah kawasan yang membutuhkan frekuensi perawatan yang lebih jarang, dikunjungi beberapa hari sekali. Penetapan zona dan bagaimana dimanfaatkan akan berbeda tergantung lingkungannya, urban atau di pedesaan. Kebun yang membutuhkan pemangkasan seminggu dua kali, kebun yang memuiliki irigasi terkontrol, tempat komposting, bisa menjadi zona 2.

Zona 3
Bagian ini dikenal sebagai kawasan pertanian atau kawasan produksi. Di zone 3 menjadi kawasan bercocok tanam untuk kebutuhan domestik atau untuk dijual, yang membutuhkan lebih sedikit intensitas perawatan. Di pedesan misalnya kebun pisang, jagung, atau padi. Di area urban tentu akan beda lagi, atau bahkan jarang yang memenuhi sebagai kawasan zone 3 karena keterbatasan lahan.

Zona 4
Bagian 4 dari pembagian wilayah permakultur sudah mulai bergerak lebih jauh dari kawasan utama. Kawasan ini menjadi penyangga antara zona sebelumnya dengan zona selanjutnya yang merupakan zona “liar”. Kawasan ini terutama digunakan untuk mencari bahan makan yang tumbuh liar serta produksi kayu untuk konstruksi atau kayu bakar.

Zona 5
Kawasan ini adalah area yang dibiarkan liar. Kalau di kawasan hutan, ini adalah hutan lindung. Dimana tidak dibutuhkan intervensi manusia. Semuanya dibiarkan liar, baik itu tumbuhan dan habitat lain yang nantinya berguna menyokong zonasi lainnya.

Prinsip Permakultur

  1. Amati dan Berinteraksi

Ini adalah prinsip pembelajaran. Kesediaan kita untuk mengamati dan berinteraksi dengan sekitar kita, apakah itu alam, tumbuhan, tanah, dan manusia. Belajar dari alam dan melihat bagaimana orang lain menerapkan prinsip-prinsip berkelanjutan. Yang nantinya bisa diadopsi kedalam konsep dan desain permakultur di lingkungan kita sendiri.

  1. Menangkap dan Menyimpan Energi

Energi berlimpah di alam ini perlu kita manfaatkan. Angin dan sinar matahari banyak dan gratis. Perlu mengamati dan mempelajari bagaimana itu bisa dimanfaatkan. Sesederhana cukupnya cahaya masuk ke dalam rumah atau kantor, sehingga tidak lagi membutuhkan lampu saat siang hari.

  1. Dapatkan Hasil

Mulailah memikirkan hasil apa yang bisa dituai. Kita bisa menghasilkan sayuran, cabe, tomat untuk kebutuhan dapur. Tahu sesuatu yang non materiil, misalnya kesenangan dan kesehatan berkat apa yang kita praktekkan.

  1. Terapkan Regulasi Diri dan Terima Umpan Balik

Menerapkan aturan diri berdasarkan target-target kehidupan berkelanjutan dalam diri kita. Disini juga bicara tentang swakelola dan penataan mandiri. Kita bisa melakukan analisa internal, apakah kita sudah bisa memilih barang apa yang kita konsumsi, beli dan bawa pulang ke rumah. Dengan menganalisa, mungkin ada yang bisa kita perbaiki lagi.

  1. Pergunaan dan Hargai Energi Terbarukan

Dengan menggunakan kekuatan matahari, angin, atau air, kita dapat menggerakkan rumah kita, menumbuhkan makanan kita, dan meregenerasi lingkungan kita. Beralih ke pemasok energi ramah lingkungan (di Indonesia masih monopoli) – atau bahkan menghasilkan listrik sendiri dengan panel surya atau infrastruktur terbarukan lainnya di rumah – adalah sesuatu yang kita dapat lakukan untuk menuju gaya hidup yang lebih berkelanjutan.

  1. Tidak Menghasilkan Limbah

Bicara konsep tanpa limbah / sampah, maka kita bisa bergerak dari menguranginya. Reuse, reduce, recycle menjadi langkah yang bisa kita terapkan. Selalu membawa tas belanja sehingga mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Melakukan komposting juga salah satu langkah. Meimilih alat-alat jangka panjang juga merupakan langkah pengurangan sampah.

  1. Desain dari Pola Hingga Detailnya

Mendesain dengan membaca pola yang ada disekitar merupakan hal yang baik. Suatu rancangan yang bersifat universal, bisa diterapkan di berbagai situasi. Berpikir secara menyeluruh, tentang semua bidang kehidupan kita, dapat membantu kita bergerak maju ke arah yang positif.

  1. Integrasikan Jangan Pisahkan

Kita mempelajari tentang simbiosis mutualistis, rantai makanan, yang mana setiap unsur alam saling menopang satu dengan yang lainnya. Unsur-unsur itu memiliki hubungan saling memberi manfaat. Saling keterkaitan satu dengan yang lain menjadi prinsip penting permakultur. Keberlanjutan adalah sesuatu yang kita capai bersama – melalui kolaborasi dan kerja sama – bukan sesuatu yang kita lakukan sendiri.

  1. Gunakan Solusi Kecil dan Lambat

Mulai dari nol, mulai dari satu langkah kecil menuju langkah yang lebih besar. Jika memaksakan langsung dihajar dengan kerja besar, tenaga akan cepat habis, kemudian menyerah. Mulai dari yang kecil. Mengubah gaya hidup secara ekstrim, mungkin bisa dimulai dari mengubah satu kebiasaan kecil namun konsisten dan dimulai dari sekarang.

  1. Manfaatkan dan Hargai Keanekaragaman

Keberagaman atalah kunci keindahan. Representasi keaneka-ragaman dalam satu ekosistem akan membuat lingkungan tersebut bekerja lebih baik. Dalam pertanian dikenal istilah polikultur, dimana ditanam berbagai jenis tanaman yang saling mendukung. Bukan sekedar ingin mendapat hasil dari berbagai tanaman sepanjang tahun. Tetapi pola non-monokultur ini juga dikenal mampu mengendalikan hama tanaman, dengan istilah ‘pengendalian hama terpadu’.

  1. Manfaatkan Sisa dan Hargai Hal Marjinal

Keberlanjutan adalah tentang memanfaatkan semua sumber daya yang kita miliki. Memanfaatkan barang sisa, memanfaat lahan sisa dan memberi nilai pada ruang-ruang antara yang akan menjadi nuansa dukungan bagi pertemuan habitat atau ekosistem.

  1. Manfaatkan dan Tanggapi Perubahan Secara Kreatif

Perubahan tidak bisa kita bendung. Semuanya terjadi lebih cepat dari apa yang kita bayangkan. Bisa dikatakan kita tidak punya kuasa untuk membendungnya. Namun sikap kita terhadap perubahan tersebutlah yang bisa kita kontrol. Sikap dan gaya hidup yang berkelajutan, menyikapi perubahan secara kreatif, merupakan pilihan yang bisa kita kendalikan.

 

Kopi Kintamani sudah dikenal luas, terutama dikalangan pecinta kopi. Saya sebagai bukan pengopi, tidak memiliki ketertarikan khusus dengan kopi, namun selalu tertarik mendengar dan belajar jika punya kesempatan. Dan kesempatan itu datang, ketika ada tawaran kepada kami di Minikino untuk ikut program melali ke Kintamani dari Bale Bengong. “Yes, saya meu melali!” jawab saya ketika diminta mewakili Minikino. Saya pikir melali ke Kintamani, lihat kebun kopi, ketemu petani kopi dan minum kopi, pasti akan menyenangkan dan menemukan banyak pembelajaran.

Buat saya sendiri, melali ke Desa bukan sesuatu yang asing, karena pada dasarnya saya orang desa yang melalinya di pangkung, sungai, kebun, sawah dan sekitarnya. Namun tentu saja memali saya adalah keniscayaan dalam hidup anak desa, tanpa konsep yang jelas selain melali itu sendiri, juga tanpa analisa dan simpulan. Di Minikino kami juga memiliki kegiatan ke desa-desa melalui program layar tancap dan workshop. Desa yang menjadi rekan berlayar tancap menjadi tujuan melali bagi tamu-tamu festival.

Melali Bersama Teman Baru dan Lama

4 Desember 2022, saya menuju markas Bale Bengong di Peguyangan Kaja, Denpasar Utara. Ini menjadi kali pertama berkunjung ke kantor mereka, sebuah tempat yang hijau dan terasa sejuk di pagi itu. Setelah diajak tour keliling dan naik turun bangunan yang menarik tersebut, saya tidak tau menyebutnya apa. Tapu ya, secara arsitektur bangunan ini sangat membuat saya senang, banyak angina, banyak cahaya, dengan struktur yang terasa unik. Tempat yang tenang di titik yang cukup sintru di pinggir Tukad Ayung.

“Hai halo apa kabar, jumpa lagi kita. Hi salam kenal, saya Birus dari Minikino. Halo saya asli Jembrana, Bali Barat”. Begitu kira-kira sapa-sapa saya bertemu teman lama dan baru di teras kantor Bale Bengong yang sangat rumahan itu. Sambil menunggu bus yang akan mengangkut, kami menikmati kudapan pagi, teh kopi dan secercah terang penjelasan mengenai program melali kita hari itu, dari Luh De Suriyani the mother of melali kita, dan ada juga Iin dan Juni yang kelihatannya sibuk mengatur segala sesuatunya.

Kami kemudian berjalan menuju titik temu dengan bus, yang sopirnya khawatir jalannya terlalu sempit untuk kendaraannya yang agak bongsor. Kami dengan riang memulai perjalanan itu. Saya lupa apakah ada sesi menyanyi bersama sehingga kami begitu gembira dalam bus tersebut. Yang teringat, bahwa kami dipandu untuk memperkenalkan diri lebih jauh, tentang siapa dan apa aktivitas masing-masing. Saya jadi tau, dalam perjalanan itu saya bersama dosen, pegiat lingkungan, fotografer, pengusaha perjalanan, pebisnis kuliner dan ya, rame lah ya.

Perjalanan kami agak tersendat di Petang - Badung, kurang lebih lima kilometer sebelum mencapai jembatan Tukad Bangkung, karen tidak satupun POM Bensin yang memiliki stok solar untuk mengisi bus kami. Saya berpikir, seandainya bus itu bisa hybrid, bisa isi solar tapi juga bisa isi bensin atau kalau semua bahan bakar langka bisa dengan listrik. Sambil duduk menonton rombongan pesepeda yang melintas di jalan, saya merenung, “Berharap ada stok solar di POM Bensin itu adalah kesalahan. Mungkin mereka hanya khusus jual bensin. Tapi bensin juga tidak ada, sudah ganti perta”.

Akhirnya perjalanan kami berhasil dilanjutkan dengan berganti kendaraan, dan mulailah perkenalan saya dengan Dek Pong yang datang menjemput kami. Dia adalah tokoh utama dalam program melali ke desa Mengani – Kintamani. Seorang petnai muda yang memiliki dedikasi pada kopi Kintamani, mulai dari menanam hingga memasarkan hasil olahan siap konsumsi.

Melali, Kintamani, Kopi dan Mengani

Beberapa kali ke Kintamai tujuan saya bertemu petani jeruk dan sekali pernah bermalam di dekat danau bersama petani tomat dan bawang. Kali ini menjadi pengalaman pertama bertemu kebun kopi kintamani yang sudah begitu sering saya dengar. Kenangan tentang kebun kopi bagi saya adalah kebun kopi Kumpi di Tukadaya – Jembrana. Kebun seluas sekitar 10 are di pinggir Tukad Brangbang, yang hari ini telah berganti dengan pohon jati dan sengon.

Di Mengani kami disambut hidangan bubuh nasi dengan lawar nangka dan kuah ayam kampung bumbu Bali. Dihangatkan matahari pagi dalam sejuk angina Kintamani, kami menikmati sarapan sambil berkenalan lebih lanjut dengan tim Mengani yang akan memandu kami melali-lali di desa mereka. Tim kecil tersebut, terdiri dari anak-anak muda desa yang merupakan alumni program pelatihan jurnalisme warga oleh Bale Bengong. Melihat suasana hari itu, saya mendapat validasi bahwa jurnalisme warga bukan sekedar soal memberitakan oleh warga biasa, tapi memiliki fungsi pemberdayaan yang sangat kuat.

Dari titik sarapan di jaba sisi Pura Desa/Pusah Mengani, kami berjalan menuju tempat persemaian kopi. Berpapasan dengan beberapa perempuan yang mengusung keranjang penuh pupuk kandang. Di persemaian kami menyaksikan deretean bibit kopi yang beberapa minggu lagi siap ditanam di kebun. Pembibitan ini bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan petani Kopi Mengani, tetapi merupakan sebuah unit usaha pembibitan yang memasok kebutuhan bibit unggul Kopi Kintamani.

Berpindah ke kebun. Ternyata kebun milik Dek Pong tidak hanya ditanami kopi, namun tumpang sari dengan jeruk dan ada pula pohon durian. “Biar ada hasil lain. Kalau hanya kopi kan kita tidak dapat hasil sepanjang tahun.” Kata Dek Pong mengomentasi konsep tumpang sari di kebunnya. Dia juga menjelaskan bahwa hasil kopi dari kebunnya telah diolah dan dijual langsung pada konsumen baik di Indonesia dan di luar negeri. Namun persoalannya kemudian adalah, jumlah produksi kebunnya yang terbatas sehingga tidak mampu memasok secara konsisten sepanjang tahun.

Setelah makan siang dikebun kopi, kami kemudian menuju “pabrik kopi” milik Dek Pong di rumahnya. Di tempat itu tampak sarana penjemuran kopi yang mengalami kerusakan Karena diterjang angina. Di dalam rumah, ada pulah mesin sangria, penggilingan dan alat packing. Hari ini Dek Pong dan Istrinya mempresentasikan proses penggilingan kopi dan kami diberi kesempatan untuk ikut dalam proses pengemasan bubuk kopi.

Kopi Kintamani dan Identifikasi Geografis

Merujuk pada website DGIP Dirjen (https://ig.dgip.go.id/detail-ig/5#karakteristik ) Kekayaan Intelektual Kemkumham, karakteristik Kopi Kintamani adalah jenis Arabica yang ditanam di dataran tinggi Kitamani pada ketinggian di atas 900 m dpl atau lebih tinggi.

Berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) Biji kopi Kintamani Bali mutu 1 adalah biji dengan nilai cacat fisik kurang dari 5 per 30 gr. Sedangkan berdasarkan Standar Coffee of America (SCAA) adalah diukur dari kadar air biji kopi maksimum 12 %, dengan biji kopi berwarna  hijau keabu-abuan, diameter  16 mm atau lebih besar. Profil cita rasa Kopi Kintamani adalah bebas dari cacat cita rasa, rasa asam bersih dari tingkat sedang sampai tinggi , rasa pahit yang yang tidak terdeteksi, mutu dan intensitas aroma yang kuat, kadang ada rasa buah khususnya jeruk peras.

Kendati namanya adalah Kopi Kintamani, berdasarkan Indentifikasi Geografis, Kopi Kintamani tidak hanya kopi yang ditanam di kawasan Kintamani, Kabupaten Bangli. Batas wilayah identifikasi ini mecakup kawasan yang terletak diantara gunung Batur dan Gunung Catur. Secara administratif kawasan ini mencakup 16 desa di Kecamatan Kintamani, Kubutambahan, Sawan dan Petang yang masuk dalam wilayah tiga kabupaten yaitu Bangli, Buleleng dan Badung.

Singaraja, kota dengan sederat tempat dan bangunan bersejarah. Jika memang ingin jalan-jalan berkeliling, rasanya sepeda menjadi sarana yang paling tepat. Kalau memaksakan dengan jalan kaki, jangkauannya akan terlalu pendek. Misalnya dari Tugu Singa Ambara Raja menuju Pelabuhan Buleleng, mungkin sudah nyerah ketika sampai di Jalan Pramuka.

Hal menarik dilakukan para penghobi sepeda di Buleleng pada Sabtu, 6 Agustus 2022. Mereka melaksanakan acara Kopdar (Kopi darat) Bike, dengan mengusung tema Selusur Heritage Kota, yang dikaitkan dengan Bulan Kemerdekaan RI ke-77.

Rute yang dipilih adalah jalan di tengah Kota Singaraja dan melintasi bangunan-bangunan tua dan bernilai sejarah. Start dimulai dari Danke Cafe di Jalan Udayana - Jalan Ngurah Rai - Jalan Pramuka - Jalan Diponogoro - Jalan Erlangga - Pelabuan Tua Buleleng - Jalan Imam Bonjol - Jalan Gajah - Jalan Veteran - Jalan Ngurah Rai dan kembali ke Jalan Udayana.

Jalan-jalan protokol di tengah Kota Singaraja, merupakan jalan yang telah berumur tua, yang merupakan jalan peninggalan Belanda. Menyusuri jalanan tersebut, untuk mengenal kembali tata kota Singaraja yang telah dibuat sejak masuknya Belanda ke Buleleng. Di sepanjang jalan ini banyak ditemukan bangunan tua yang masih kokoh dan masih tetap difungsikan.

Melintasi jalan Pramuka, di sana terdapat bangunan utama SMA Negeri 1 Singaraja, yang merupakan karya arsitektur jaman Belanda. Selanjutnya menuju Pelabuhan Tua Buleleng, di mana terdapat bangunan Museum Soenda Ketjil. Di jalan Imam Bonjol, peserta melintas di depan Masjid Agung Jami’ Singaraja. Melintasi sepanjang jalan Gajah Mada, bisa menyaksikan banyak bangunan-bangunan tua, seperti di sekitar SMP Negeri 1 Singaraja dan Gardu Listrik Kolonial yang telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya.

Mengayuh ke arah selatan yang perlahan menanjak, di jalan Veteran peserta melintasi Perpustakaan Lontar Gedong Kirtya, dan juga dapat menemukan SD Negeri 1 Paket Agung yang merupakan Sekolah Rakyat pertama di Buleleng. Sekolah ini adalah tempat mengajar Raden Soekemi, ayah dari Proklamator Indonesia, Ir. Soekarno. Kemudian memutar kembali ke arah utara, setelah melewati Tugu Singa Ambara, di jalan Ngurah Rai terdapat Rumah Soenda Kecil dan Kamar Bola.

“Rutenya lumayan melelahkan, terutama ketika kita melintasi jalan Gajah Mada, saya kira itu jalan yang lurus dan datar, ternyata menajak halus, cukup bikin ngos-ngosan gowes pedal,” Kata Hary Sujayanta, peserta Kopdar Bike yang penuh semangat.

“Ternyata banyak yang belum saya ketahui tentang Kota Singaraja. Dari acara ini ada pengetahuan baru yang saya dapat. Paling menarik itu ya, bangunan Kamar Bola yang katanya dulu Ballroom yang menjadi tempat dansa orang Belanda. Saya kira hanya sekedar bangunan tua milik TNI,” ujarn Kadek Yudha Prasertya, salah satu pesepeda yang ikut dalam Kopdar Bike kali ini.

Koordintor acara Kopdar Bike 2, Bagus Jayantha, menyampaikan bahwa acara Kopdar Bike ini dirancang bukan sekedar kumpul pesepeda lalu gowes bareng saja, tetapi juga berusaha untuk selalu memberikan informasi tentang Singaraja.

“Kali ini rutenya sengaja dipilih yang punya history kuat. Apalagi sekarang kan bulan Agustus, Bulan Kemerdekaan. Cara inilah yang kami gunakan untuk merayakannya,” ungkap Bagus Jayantha yang merupakan owner Danke Café, yang ditemui di sela-sela acara.

“Kita tidak bicara biar sehat, itu cuma bonus. Tapi yang lebih penting, orang semakin ramai yang mengunakan sepeda bukan cuma untuk olah raga, tapi juga untuk aktifitas keseharian” imbuh Bagus.

Kopdar Bike yang rencananya menjadi event bulanan ini, diinisiasi oleh tiga tempat nongkrong di Buleleng, yaitu Kedai Kopi Dekakiang, Danke Cafe dan Angkringan Mula Keto.

Pada bulan pertama Kopdar Bike di Bulan Juli 2022 lalu, rombongan Kopdar Bike menempuh jalur pendek ke wilayah barat dan memilih rehat di Pantai Penimbangan. Menurut cerita, pantai Penimbangan adalah tempat Raja Buleleng Ki Barak Panji Sakti menyelamatkan perahu saudagar Tiongkok yang karam. Di sanalah beliau memperoleh hadiah sepasang Gong Jegir. Kini salah satu gong itu tersimpan di Pura Pejenengan desa Panji, dan satu lagi tersimpan di Pura Bale Agung desa Menyali.

Sampai jumpa di Kopdar Bike mendatang.

Nandusin adalah cara tradisional pengolahan buah kelapa menjadi minyak goreng. Proses ini umum dilakukan masyarakat di Desa Tukadaya, memanfaatkan buah kelapa yang ditanam di kebun mereka. Semua penduduk Tukadaya yang memiliki tegalan, menanam kelapa.

Begitu banyak hasil buah kelapa yang dihasilkan di desa Tukadaya, tapi sudah sangat sedikit yang nandusin. Lebih praktis untuk membeli dan menggunakan minyak kemasan yang tinggal beli di warung. Ketika harga minyak goreng melambung tinggi dan langka, terjadilah kepanikan. Padahal masih ada banyak buah kelapa yang bisa dimanfaatkan menjadi minyak goreng.

Dalam kesempatan Cerita Rasa Festival 2022 yang diselenggarakan Sanggar Bali Tersenyum, Banjar Berawantangi Taman, Desa Tukadaya, Kami memperkenalkan proses nandusin ini pada anak-anak di desa kami. Anak-anak desa kami sebenarnya sudah pernah melihat proses tersebut, tetapi belum pernah diberi kesempatan untuk ikut terlibat dalam prosesnya. 

Anak anak sangat antusias mengikuti proses nandusin tersebut, dari mejek santen dengan mencampurkan parutan kelapa dengan air kelapa. Lalu diremas-remas dan diperas secara berulang-ulang. Setelah itu santan disaring ke dalam wajan besar yang akan digunakan untuk merebus santan. 

Pemasakan santan dilakukan hingga satu sampai dua jam atau sampai keluar minyaknya. Minyak akan terpisah, dan berada di bagian atas.

Dalam proses pemasakan ini, kami masih menggunakan tungku tradisional dan kayu bakar. Bukan karena sok bergaya tradisional, tapi memang sebagian masyarakat kami masih menggunakan kayu bakar. Kayu bakar masih mudah didapat dengan mengumpulkan ranting, pelepah kelapa, sisa bahan bambu, dan sebagainya.

Setelah terlihat minyak terpisah dengan sempurna, maka sudah saatnya nuduk lengis.

Wajan diangkat dari tungku, dan dilanjutkan dengan mengambil minyak dengan sendok. Pekerjaan ini butuh ketelatenan, agar tidak banyak roroban yang ikut terambil. Setelah dipisah, saatnya nglalo, yaitu proses memanaskan minyak untuk menguapkan air yang masih ikut terambil dari proses nuduk tadi. Selain itu, telengis yang ikut terambil akan mengendap ke dasar wajan. Maka minyak goreng sudah selesai dibuat.

Hasil Sampingan Membuat Minyak Kelapa

Dari sisa proses membuat minyak goreng ini, kami bisa membuat beberapa jenis masakan. Bagian inilah yang membuat program membuat minyak kelapa ini, kami beri judul Presentasi Kuliner dalam Festival Cerita Rasa 2022.

Air sisa merebus santan disebut roroban. Jika roroban disaring, hasil saringan yang kental itu disebut tlengis. Keduanya bisa diolah menjadi makanan yang enak.

Dengan bahan roroban ini, kita bisa membuat makanan khas Jembrana, yaitu lontong serapah. Roroban ditambahkan base genep dan dimasak lagi, maka akan siap menjadi kuah kental untuk lontong serapah.

Bahan lain yang diperlukan untuk menjadi lontong serapah adalah beberapa jenis sayur yang direbus. Misalnya daun singkong muda, kacang panjang, jantung pisang, nangka muda, kecipir, bayam dan lain-lain. Jangan lupa juga lontongnya. Tanpa lontong, maka tidak ada lontong serapah, tapi hanya akan menjadi jukut serapah.

Sementara, jika punya telengis, bisa dimasak menjadi pepes. Di desa kami kebanyakan pesan tlengis dicampur dengan sayuran, seperti kelor, daun kemangi atau daun katuk.  Masakan ini sangat sederhana. Tinggal dibuatkan bumbu halus bawang suna tabia, lalu dibungkus daun pisang bentuk pepes, lalu panggang, jadilah pesan tlengis.

Jangan Hanya Jadi Ingatan

Proses pembuatan minyak kelapa yang memakan waktu, menjadikan hanya generasi di atas 50 tahun yang masih melakukan kegiatan ini. Banyak generasi kepala 3 yang sama sekali tidak paham proses nandusin.

Generasi tua membuat minyak kelapa atau nandusin, tidak selalu untuk membuat minyak goreng. Ada alasan membuat minyak untuk apun, ataupun ingin bernostalgia dengan nikmatnya lontong serapah dan pesan tlengis yang makin susah didapat.

Minyak kelapa memang multi fungsi. Untuk minyak apun, tidak akan mungkin menggunakan minyak kemasan yang terbuat dari sawit. Jika untuk memasak, minyak tandusan mempunyai aroma yang khas, hasil masakan pun akan memiliki aroma yang berbeda jika dibandingkan dengan minyak kelapa sawit.

Untuk nilai jual, minyak kelapa tandusan ini mempunyai nilai yang lebih tinggi daripada minyak kemasan berbahan kelapa sawit, jadi ini bisa menjadi komoditi usaha yang bisa dikembangkan di desa.

Di Tukadaya, masih ada beberapa orang yang setia berproduksi atau berjualan lontong serapah. Namun hanya akan ada ketika ada acara sangkep krama istri di banjar.

Dalam acara-acara tertentu, sering kali penyelenggara acara memesan lontong serapah ini, sebagai hidangan khas asli Jembrana yang disajikan dan dinikmati para undangan. Saat ini, kami di Desa Tukadaya siap mengemas paket wisata cooking class pembuatan minyak kelapa dan kuliner turunannya, sekaligus mempelajari manfaat kelapa dan mengunjungi perkebunan kelapa rakyat di desa kami.

Pak camat mengirim surat,
Tapi lupa menempel perangko.
Jika lewat ke Bali Barat,
Jangan lupa mampir ke Tukadayo.

sebelumnya terbit di tatkala.com

Pelatihan fotografi untuk remaja dihadirkan di Cerita Rasa Festival 2022, untuk memperkenalkan fotografi dasar dan profesi fotografer. Program ini ditujukan bagi remaja pedesaan yang mulai tertarik dengan fotografi ataupun mereka yang sudah mempraktekkan fotografi, namun ingin belajar bersama.

Setiap pemilik smartphone berkamera akan otomatis segera menjadi pemotret. Mereka akan menggunakan fasilitas kamera di gadget mereka sebagai sebuah hal yang biasa saja, serupa dengan berbagai aplikasi yang ada di dalam smartphone

mereka. Mengambil foto hanya untuk bersenang-senang, terutama ketika wajah mereka ada di dalam foto. Karena itu, swafoto menjadi favorit walaupun masih banyak yang malu-malu. Foto-foto itu kemudian dibagikan untuk mendapatkan perhatian dari teman-teman maya mereka di media sosial.

Dalam pelatihan fotografi Cerita Rasa yang berlangsung pada tanggal 30 Juli 2022 di Rumah Baca Bali Tersenyum Jembrana, para peserta dihantarkan untuk mengetahui unsur-unsur yang membuat fotografi itu ada. Peserta diperkenalkan pada prinsip dasar fisika yang membentuk kamera hingga menghasilkan gambar dan sisi estetik yang menjadi sisi indah dari fotografi.

Kesadaran Visual Dalam Memotret

Kemudahan yang disuguhkan teknologi digital, seringkali membuat kita memotret tanpa pertimbangan terlebih dahulu, apa hasil yang diinginkan. Memotret apa saja, kemudian dihapus atau mengeluh memori handphone penuh.

Sebagai pemantik kesadaran visual, peserta diajak untuk belajar mengamati dan membaca sebuah foto kemudian mengungkapkan rekaman visual yang mereka temukan. Selain itu, peserta melakukan observasi objek foto dan melakukan pemotretan tanpa kamera, untuk kemudian melakukan presentasi kecil tentang foto imajiner yang mereka buat.

Untuk memberikan pengalaman praktis, peserta diberikan kesempatan mengeksplorasi kamera DSLR. Mereka mengalami gambar under dan over exposure, melihat arah cahaya, mencoba komposisi dan framing.

Semua Mulai Dari Nol

Persoalan paling banyak yang ditemukan dari peserta adalah rasa khawatir bahwa mereka tidak bisa, tidak mengerti yang akhirnya tidak bersedia mencoba sesuatu yang baru. Hal ini kelihatannya menjadi sesuatu yang lebih penting untuk dipecahkan, ketimbang mempelajari cara menggunakan gadget canggih.

Beruntunglah ada dua narasumber yang memberikan pandangan dan pengalaman, bagaimana mereka memulai masuk ke dunia fotografi dan membuka usaha foto dan video mulai dari nol. Mereka adalah Dwi Artawan pemilik Relief Studio dan Komang Triadi pemilik Chandra Photography.

Dwi menceritakan bahwa masuk ke dunia foto dan video bukan cita-cita atau tujuan. Dia pergi merantau ke Denpasar dengan tujuan pasti mencari pekerjaan, tapi entah pekerjaan apa. Kemudian dia diterima bekerja di sebuah studio jasa foto dan video sebagai crew. Atas dorongan pemilik studio akhirnya Dwi “terpaksa” belajar di lapangan.

Membuka usaha jasa foto dan video di Jembrana juga bukan sebuah cita-cita. Hanya merasa tidak punya keterampilan lain ketika diwajibkan pulang kampung, akhirnya memberanikan diri menjual jasa foto dan video di seputaran Kota Negara.

“Beruntung sampai saat ini, masih mendapat kepercayaan dari banyak pihak di Jembrana”. kata Dwi.

Cerita lain dari Komang Triadi, atau biasa dikenal sebagai Mang Tri. Dia menceritakan pengalamannya belajar fotografi sejak jaman analog. Untuk belajar fotografi ketika itu, dibutuhkan serangkaian training khusus hingga memperoleh sertifikat dan berhak menyandang “gelar” fotografer. Dalam training tersebut, dia harus mempelajari teknik kamera, tata cahaya, hingga teknik kimia cuci-cetak foto.

Menurut Mang Tri, dalam era foto digital saat ini kita cukup menguasai prinsip dasar kamera, dan hendaknya lebih banyak melakukan praktek dan diskusi karya. Setiap jepretan sudah bisa langsung dilihat dan dibahas bersama komunitas.

“Tidak seperti jaman dulu harus menunggu antri cuci film dan membuat contact print dulu, baru bisa tahu hasil fotonya.” ungkap Mang Tri.

Dari Nol Menuju 360

Sebuah keyakinan mesti ditumbuhkan, bahwa pembelajaran tidak boleh berhenti ketika sesi pelatihan selesai. Cerita Rasa menawarkan pada para peserta untuk melanjutkan masa belajar, dalam sebuah proyek fotografi bersama, satu tahun ke depan.

Selain melibatkan peserta yang telah hadir dalam pelatihan, Cerita Rasa juga mengundang peminat fotografi khususnya di Jembrana untuk menerjunkan diri dalam proyek ini. Proyek untuk membuat sebuah cerita foto di desanya masing-masing, dengan target bisa dipamerkan dalam Cerita Rasa Festival 2023.

Sebelumnya diterbitkan di tatkala.com

Adakah dari pembaca adalah orang tua yang suka mejadi “juri” gambar untuk anak-anaknya, yang bahkan sebelum gambar itu selesai sudah memberi komentar nyinyir? “Warnanya jelek, gak rapi, kok gunung warnanya merah, kok gini, kok gitu, harusnya gini, harusnya gitu, gak punya rasa seni!”.

Dalam Cerita Rasa pada Sabtu 30 Juli 2022 yang dicita-citakan menjadi Village Festival di Jembrana, sesi melukis bersama tidak menyediakan juri yang akan menghakimi hasil karya anak-anak. Kami hanya menyediakan ruang dan lebih mendorong sebuah kegiatan bersama.

Melukis bersama diikuti oleh anak-anak tetangga Rumah Baca Bali Tersenyum di Desa Tukadaya, Melaya, Jembrana. Bayangan awal kami, paling banyak akan mampu mengumpulkan 10 - 20 orang anak. Namun pada kenyataannya, lebih dar 35 orang anak berkumpul untuk melukis bersama.

Dalam sesi ini, kami mengundang perupa muda asal desa Tukadaya, Wayan Wasudewa, yang banyak bermain-main di ranah mural dan tato. Kehadiran Wayan yang dikenal dengan sign WSDW menjadi sebuah gambaran tentang jalan berkesenian.

Secara tidak langsung, kehadiran orang dewasa yang melukis bersama anak-anak menjadi role model bagi mereka, yang selama ini hanya mengetahui menggambar adalah sempilan pelajaran di sekolahnya. Bahwa seni juga bisa menjadi profesi, dan ada sekolahannya hingga perguruan tinggi. Ada juga orang yang memilih berkesenian sebagai jalan hidupnya.

Anak-anak Menjuri Lukisannya Sendiri

Semua lukisan anak-anak yang dibuat dengan pastel di atas kertas, kemudian dipajang di salah satu bidang dinding rumah. Ini adalah pameran karya mereka setelah sekitar dua jam bersenang-senang dengan imajinasi dan warna.

Untuk mengakomodir keinginan anak-anak agar ada “pemenang” dalam menggambar yang mereka anggap adalah lomba, kami membiarkan mereka menjadi juri bersama pengunjung lain. Setiap anak berhak memilih tiga karya yang mereka sukai, termasuk salah satunya gambar mereka sendiri.

Dalam proses “penjurian ini”, ada anak yang tenang-tenang saja menyaksikan gambarnya dijuri. Sementara ada anak lain yang sangat berambisi mendapat vote terbanyak, dengan berkampanye bahwa gambarnya layak untuk dipilih. Ada pula anak yang sengaja menggambar piala dengan tulisan “pemenang”, dengan harapan dialah yang akan menang. Dan ternyata afirmasi ini berhasil, gambar piala itu memancing anak-anak untuk memilih.

Sebagai penyemangat, kami mengumumkan tiga karya dengan pemilih terbanyak di sela-sela program Pentas Cerita dan Menonton Film Pendek. Penerima bingkisan tesebut adalah, Geta dengan raihan 10 pemilih, Satria “penggambar piala” dengan 11 pemilih dan Nanda dengan raihan 21 pemilih.

Imajinasi, Inspirasi dan Gunung Kembar

Dari 35+ karya yang dihasilkan, yang cukup mendominasi adalah gambar gunung kembar beserta pohon dan sawahnya. Mungkin terinspirasi dari pemandangan desa kami yang sangat indah, yang menampilkan jajaran bukit dan gunung di sisi utara, dari Gunung Sondoh hingga Gunung Agung. Sementarai di sisi Barat, tampak Bukit Kelatakan, dan saat hari cerah, pegunungan Jawa Timur juga tampak jelas terlihat.

Inspirasi gunung kembar ini memang sudah turun-temurun diwariskan. Dari jaman saya SD tahun 86, template gambar itu masih ada hingga sekarang. Tidak ada yang salah dengan model gambar seperti itu. Namun yang menjadi pemikiran adalah, kenapa ketika kelas 2 SD menggambar pola tersebut dan saat sudah SMP juga masih menggambar hal yang sama?

Saya melihat, setiap anak memiliki cara untuk menemukan inspirasi karyanya. Imajinasi mereka tumbuh dari apa yang pernah mereka lihat atau tonton, bayangkan atau apa yang ada di sekitar mereka saat itu. Kalau mereka masih berkutat pada pola gunung kembar, artinya mereka butuh bantuan, bagaimana cara menemukan inspirasi untuk dituangkan dalam gambarnya.

Ada yang menggambar setting adegan film kesukaan mereka, ada yang meniru gambar yang ada di dinding rumah, ada juga yang meniru gambar teman di sebelahnya, sebagai sebuah dampak dari berkegiatan bersama.

Kalau diamati, setiap anak memiliki ide dan imajinasi sendiri. Namun kemudian terpengaruh oleh lingkungan sekitarnya. Bisa jadi karena teman di sebelahnya menggambar sangat bagus sehingga menjadi inspirasi, atau memang dia tidak tau cara memvisualisasikan apa yang diinginkannya.

Ada perbedaan cukup mencolok yang dialami anak-anak yang lebih tua, dibandingkan mereka yang masih TK, SD awal, atau yang belum sekolah. Anak lebih kecil, tampak lebih ekspresif dan bebas dalam menuangkan ide dan terasa sekali kebebasan tangan dan pikiran mereka di atas kertas. Sementara mereka yang lebih tua, antara kelas 4 SD hingga SMP, mereka mengalami mental block. Mereka berasa tidak bisa, malu menunjukan gambarnya, takut gambarnya dibilang seperti gambar anak TK, bahkan bisa mengatakan tidak punya bakat menggambar.

Dari mana datangnya mental block itu? Tentu tidak bisa kita pungkiri, bahwa tumbuh kembang anak dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya. Mereka merekam apapun yang mereka lihat, dengar dan rasakan. Dan sayangnya, tidak disediakan penghapus atau tombol reset dalam kehidupan ini. Yang bisa dilakukan adalah, memberi ruang menemukan pengalaman baru yang membatu mereka bertumbuh dengan lebih baik.

Saya meyakini, apapun pilihan di masa depan yang akan diambil anak-anak adalah dimulai hari ini. Maka beri ruang mencoba semua hal dengan gembira, mencicipi semua rasa, mencoba semua warna. Tidak peduli itu hasilnya bagus atau bagus banget. Melukis bersama di Cerita Rasa adalah ruang mengungkapkan cerita dan rasa yang mengendap dalam diri kalian, ke dalam visual dan warna. Sapai jumpa lagi.

sebelumnya diterbitkan di tatkala.co