Menulis adalah keterampilan, seperti menyetir dia harus dilatih. Kalau saya, cara meningkatkan kemampuan menulis adalah dengan sering menulis. Tidak peduli apakah hanya tentang pedasnya rasa cabe yang saya makan tadi pagi atau kritik tentang sebuah pementasan teater di Taman Budaya. Semuanya merupakan latihan, proses belajar, bukan sebuah hasil akhir yang akan membuat saya puas lalu berhenti. Seperti pembalap yang sudah tidak mungkin lagi jadi juara dunia karena kalah cepat dengan yang lebih muda. Tapi terusterang, saya sering kadang jeda beberapa lama karena merasa kehilangan gairah.

Ini adalah draft tulisan ketiga yang saya tulis malam ini, karena tadi sore saya menulis delapan outline dan berharap bisa menulis draft-1 sebanyak mungkin. Kenapa saya tulis materi seperti ini, tentang belajar menulis? Ya karena saya sedang berusaha meningkatkan kemampuan menulis. Sekali lagi, tidak peduli apa topiknya, tulis saja. Tulisan ini juga menjadi catatan buat saya pribadi, sebuah catatan proses balajar.

9 Cara Meningkatkan Kemampuan Menulis

Membaca  merupakan salah satu cara meningkatkan kemampuan menulis. Membaca seperti asupan bergizi, vitamin lenkap bagi seorang penulis. Baca apapun yang bisa ditemukan disekitar kita; koran, majalah, stensilan, novel, cerpen, brosur gadget, menu makanan dan apapun itu. Bangun rasa penasaran pata teks yang ada di dekat kita. Ketika tradisi membaca ini sudah tertanam kuat dalam benak kita, tentu saja kita harus mulai mengumpulan materi bacaan yang berbobot. Pertama pilih buku yang sesuai minat kita, kemudian luaskan koleksi bacaan ke berbagai topik. Semakin beragam topik bacaan kita, maka akan semakin lengkap gizi yang otak kita dapatkan.

Bacaan-bacaan pertama saya adalah koran partai, majalah kriminal, majalah anak-anak, termasuk majalah erotis dan buku-buku dari perpustakaan sekolah terutama sejak SMP. Membaca menurut saya bukan suka atau tidak suka, tapi pembiasaan dan terbentuk dari lingkungan yang membaca. Kalau kalian tidak ada dilingkungan itu, bentuklah lingkungan membaca dari sekarang.

Saya pernah membuat target harian sendiri; lima ide tulisan, dua outline, satu draft tulisan dan satu tulisan yang dipublikasikan di blog. Terus terang itu hanya terjadi selama empat hari, kemudian berusaha menebus dengan menulis beberapa artikel dan mempublikasikannya, seperti saya lakukan saat menulis ini, saya sedang menebus dengan menulis beberapa artikel sampai kantuk tak tertahan lagi. Tapi jujur, tanpa konsistensi, hasil yang kita dapat juga seadanya.

Saya pernah membaca tulisan yang menyarankan agar kita konsisten menulis setiap hari, apapun itu, tidak peduli bagus atau tidak, hasilnya akan disimpan atau dibuang, tulislah sebagai kebiasaan.

Saran lain; menantang diri sendiri menulis satu halaman setiap hari dan konsisten selama satu tahun, maka kita akan punya 360 halaman. Bayangkan jika tulisan itu satu alur cerita, maka kita sudah memiliki sebuah buku. Inilah satu lagi cara meningkatkan kemampuan menulis yang paling ampuh, bayangkan kalau langkah ini tidak dilaksanakan.

Saya sendiri masih meraba-raba, apakah pengetahuan dasar saya sudah cukup atau belum. Tapi paling tidak saya mulai tau kapan harus menggunakan huruf kapital, kapan kalimat saya selesai untuk menaruh titik atau mulai merasakan kapan topik saya habis dan harus memulai paragraf baru. Jaman online seperti sekarang, banyak panduan yang bisa menolong saat kita tersesat.

Saya belajar hal-hal mendasar agar memiliki pijakan. Apa yang saya pelajari selalu coba saya catat dan bagikan dalam sebuah artikel, seperti artikel ini atau artikel tentang sudut pandang cerita, perbedaan naratif dan non-naratif, panduan menulis cerpen dan esai serta yang lainnya.

Membedah tulisan adalah satu proses setelah membaca, artinya dibutuhkan membaca terlebih dahulu. Mungkin kalian pernah mendengar istilah bedah buku. Dalam acara bedah buku ditampilkan narasumber yang kompeten dari bidang tertentu dan pastinya telah membaca buku tersebut, sehingga bisa mengulas isi buku sesuai kompetensi bidangnya. Nah, kita juga bisa melakukan itu, membedah sesuai kebutuhan kita.

Cara ini menarik dilakukan jikga kita sedang mencari topik tulisan dan ingin tau cara mengembangkan topik tersebut. Maka kita bisa membaca artikel sesuai topik yang kita inginkan, kemudian menganalisa dan menemukan ide-ide pokok tulisan tersebut. Dalam proses ini kita juga bisa mengamati gaya tulisan, pemilihan kata, panjang tulisan dan sebagainya.

Dalam proses belajar saya pernah melakukan imitasi terhadap berita. Konsep ATM (amati, tiru, modifikasi) berhasil dengan baik. Ceritanya begini; ketika SMP saya dikutkan lomba menulis berita, kemudian saya membaca beberpa berita koran dan menyesuaikan dengan bahan dan informasi yang mungkin saya dapat di lingkungan sekolah sesuai tema lomba. Jadilah saya menulis berita tentang pembangunan taman sekolah yang dimodifikasi dari berita pembangunan jembatan, dan satu berita tentang sekolah kami menjadi juara lomba lari yang dimodifikasi dari berita olahraga dayung.

Di sebuah  baju kaos saya pernah membaca, sekelompok orang pergi dengan tujuan namanya rombongan dan sekelompok orang pergi tanpa tujuan namanya rombengan. Sedangkan seorang yang pergi dengan tujuan dan peta jalan yang pasti namanya Ojol.

Ya, seperti ojol, kita sebagai penulis membutuhkan peta yang jelas ketika mulai menulis, walaupun ditengah jalan akan belok kanan-kiri, masuk gang sana-sini, namun kita sudah tau ujungnya mau kemana. Menurut saya menulis outline atau kerangka karangan adalah modal penting ketika kita telah memiliki ide yang baik.

“Ah tidak usah menulis outline, tulis saja langsung artikelnya, biar tidak keburu hilang idenya”.

Fine, kalau menilis 300 – 500 kata dengan ide dan materi yang sudah sangat dikuasai, tanpa outline pasti bisa beres tulisannya. Tapi jika menilis 1000 kata ke atas dengan materi yang baru dan butuh riset, maka saran saya bersahabatlah dengan outline.

Kalau saya alur kerjanya adalah, mencatat ide-ide yang muncul dalam satu kalimat dan menambahkan catatan kecil, kemudian membuat outline untuk beberapa ide dalam satu kesempatan, melakukan riset bila diperlukan, kemudian baru memasuki proses penulisan cepat tanpa mikir, dan akhirnya editing.

Saya ingat slogan Bupati Jembrana dulu, “Kalau mau pasti bisa!” Termasuk menulis, kalau mau pasti menulis, dan kalau tidak menulisa tidak akan pernah tau kita bisa menulis apa tidak. Tapi saya yakin, kalian yang membaca tulisan ini pasti memiliki keinginan menulis, atau bahkan selama ini sudah menulis.

Sejak sering saya ajak ke acara bedah buku dan menonton pentas seni, anak saya yang berusia 8 tahun mulai menulis ceritanya sendiri. Kenapa dia menulis? Pertama karena dia melihat saya menulis dan menerbitkan buku, kedua dia mulai suka membaca, favoritnya sekarang adalah komik dan dongeng. Saya kira kuncinya adalah dia merasa senang dan dihargai. Kemarin dia menulis empat puisi pertamanya, salahsatunya seperti berikut ini;

Api dan Air

Kompor isi api
Sampai rumah terbakar
Tetangga padamkan dengan air
Api itu kalah
Air menang
(Puspa Dewi, 2020)

Lebih baik menghasilkan tulisan dari pada tidak sama sekali, bagus atau tidak, bisa diedit kemudian.

Menghasilkan tulisan yang selesai adalah kemenangan. Selesai dalam artian bahwa kita telah menulis semua ide dari awal hingga akhir dan tidak ada yang ingin kita sambung lagi, kita telah memerdekakan pikiran kita dari belenggu unek-unek.

Namun seperti kemerdekaan Negara, hari merdeka itu hanyalah awal dari penataan kehidupan berbangsa dan bernegara. Ketika draft tulisan selesai, hadiahi diri dengan es krim dan tidur yang nyenyak. Keesokan harinya, baca lagi dan mulai menata dan menulis ulang yang perlu di perbaiki. Buang yang tidak perlu dan mantapkan lagi bagian perbagian. Dalam editing pertama, kita masih melibatkan rasa, ide-ide dan emosi.

Ketika memasuki final editing, maka lupakan emosi, cukup fokus pada teknis, tata bahasa, ejaan, huruf dan tanda baca. Maka selesailah tulisan itu.

Kalau sudah yakin untuk menyerahkan nasib tulisan pada pembaca, cobalah menemukan seseorang sebagai pembaca pertama. Pilihan bisa keluarga, teman atau siapapun. Namun saya menyerankan agar pembaca pertama ini memiliki minat yang sama, dan bersedia memberi dukungan secara proporsiaonal; kalau jelek dia bisa mengkritik, kalau dirasa menarik dia bisa memberi apresiasi.

Dimana bisa menemukan orang yang tepat? Biasanya bisa kita temukan ketika bergabung dengan klub menulis, mengikuti kelas menulis atau sejak awal memang menentukan rekan menulis, yang sama-sama berjuang saling mendukung. Rekan menulis, atau klub menulis yang sama-sama aktif akan membatu menjaga api dalam dirikita tatap menyala, dan kita malu untuk tidak menulis.

Ketika sudah rutin menulis dan mulai mengeksplorasi tema-tema baru, riset menjadi hal yang penting. Seberapa dalam dan besar riset yang perlu dilakuakan? Tentu saja mengacu pada kebutuhan materi pendukung dari tulisan, dan seberapa dalam pembahasan yang kita lakukan terkait isu atau ide tulisan kita.

Mendengar kata riset, saya selalu ingat pak BJ. Habibie, Menteri Riset dan Teknologi yang terkenal itu. Riset selalu saya kaitkan dengan teknologi dan penemuan baru atau sesuatu yang canggih. Kemudian, riset dalam menulis saya pahami sebagai pengumpulan data dan informasi untuk mendukung sudut pandang atau mematangkan karakter dan seting dari tulisan saya.

Riset yang saya lakukan mulai dari riset dalam ingatan, membaca berbagai literatur, mendengar dari orang di sekitar, mewawancarai orang secara khusus, hingga membedah buku statistik. Perlakuan ini kembali lagi pada kebutuhan tulisan kita. Poin nomor sembilan ini, sesungguhnya kembali lagi pada poin pertama, membaca adalah kewajiban; membaca teks dan membaca lingkungan sekitar kita adalah bagian dari riset.

Kalau mau belajar nulis, baiknya belajar menulis naratif atau non-naratif? Sebenarnya tulis saja, karena belajar menulis adalah menulis itu sendiri. Teori dan pemahaman istilah-istilah seperti ini bisa dipelajari sambil jalan. Seperti kita belajar berjalan, mana pernah Ibu kita memberi teori teknik melangkah. Semuanya dipelajari sambil jalan sesuai kebutuhan, sesuai tantangan yang ada di depan kita. Yang Ibu kita lakukan adalah memberi semangat dan memberi apresiasi pada usaha kita. Ayo menulis!

Naratif atau non naratif adalah istilah yang saya temukan baik dalam dunia menulis ataupun dalam dunia film. Awalnya saya simpulkan bahwa dalam film, naratif adalah film cerita atau film fiksi dan non-naratif adalah film non-cerita yang bukan fiksi tentunya, sesederhana itu. Setelah memiliki kesimpulan itu saya anggap sudah selesai. Namun belakangan, karena menonton semakin banyak film saya mengetahui film non-fiksi, documenter ataupun program televisi juga dapat menggunakan cara bertutur naratif, dan demikian pula dalam menulis. Menulis sejarah juga bisa dikisahkan secara naratif.

Belajar Menulis Di Sekolah Dasar

Ingatkah kalian pelajaran menulis atau yang kita sebut dengan pelajaran mengarang? Seingat saya mengarang sudah mulai sejak di sekolah dasar. Kalau tidak salah, kelas empat atau kelas lima sudah mendapat tugas mengarang cerita. Secara serempak kita akan menulis sebauh kaliamat pembuka; Pada suatu hari saya pergi berlibur ke rumah nenek, dan seterusnya. Gaya menulis atau mengarang yang diajarkan pada kita ketika itu adalah cara bertutur secara naratif. Menarasikan tentang seseorang (tokoh) yang melakukan sesuatu (peristiwa) di suatu tempat (seting).

Bagaimanadengan menulis artikel untuk blog? Menurut saya, para blogger menulis dengan dua cara bertutur ini, naratif maupun non-naratif. Tentu saja tergantung dari karakter konten dan penulisnya. Menulis sebuah review film, bisa dibuat naratif ataupun non-naratif, bahkan menulis sebuah tutorial juga dapat memilih menggunakan cara tutur naratif.
Gini aja, ayuk kita simak apa sih perbedaan cara bertutur naratif dan non-naratif? Ketika kita sudah memiliki pemahaman dasarnya, kita jadi bisa mengenali selama ini cara bertutur kita dalam menulis itu cenderung ke mana sih? Atau kalau yang dalam proses belajar menulis, akan bisa melakukan eksperimen teknik bertutur ketika kita mengenali dua tipe bertutur ini, untuk dapat mencapai tujuan dari tulisan itu sendiri.

Perbedaan Naskah Naratif dan Non-Naratif

Bertutur naratif adalah bercerita, mendongeng, atau menyampaikan sebuah cerita, baik itu fiksi atau non-fiksi. Bertutur non-naratif adalah teknik penulisan yang terstruktur yang digunakan untuk aplikasi formal, makalah penelitian atau tulisan pembelajaran akademik. Kalau kita melihat bentuk atau contoh, ambil dan bacalah sebuah cerita pendek fiksi dan kemudian baca sebuah tugas esai tentang kesehatan.

Kisah naratif mengambil berbagai sudut pandang baik itu perspektif orang pertama, orang kedua ataupun orang ketiga. Sedangkan tulisan non-naratif selalu menggunakan sudut pandang orang ketiga. Kalau kalian sudah mencoba membaca dan memperbandingkan dua cara bertutur seperti yang saya sarankan di paragraf sebelumnya, kalian pasti dapat merasakan nuansa sudut pandang penceritaan ini.

Kemudian kita bicara format. Bertutur naratif lebih menekankan pada cerita; ada alur dari sebuah awalan yang menjadi seting atau penanda yang akan terjadi di masa depan dalam cerita tersebut. Ada aksi, ada kegagalan, ada klimak, dan ada resolusi. Kisah naratif memiliki plot, karakter dan seting sebagai kerangka bangunan bercerita. Sedangkan non-naratif selalu formal; dengan pembukaan, isi, dan konklusi, yang umumnya bertujuan menginformasikan dan mendidik. Penulisan non-naratif diawali dengan pendapat atau sudut pandang penulis tentang isu yang diangkat, kemudian didukung oleh data-data dan sumber-sumber yang dianggap kredibel.

Struktur kaliamat dalam bertutur naratif lebih lues yang kadang sengaja menggunakan struktur kalimat dengan susunan kata yang tidak biasa. Berusaha menemukan ritme atau rima sehingga kadang membolak-balik kata dalam struktur kalimat. Dalam menuliskan dialog, penutur naratif dapat membuat ungkapan yang lebih otentik, natural seperti kaliamat obrolan warung kopi yang gado-gado atau slengekan. Sedangkan dalam penulisan non-naratif sangat menekankan tata bahasa yang baik dan baku, karena bertujuan untuk pendidikan atau informasi-informasi formal.

Dalam penggunaan referensi atau hasil riset, penulisan non-naratif mengacu pada hasil riset formal yang dipertanggungjawabkan dengan mencantuman informasi sumber dengan jelas. Ketika menambahkan statistik atau kutipan, wajib ditulis sumbernya pula. Untuk penulisan naratif, riset dan referensi kerap diperlukan, namun tidak melakukan pencantuman sumber secara jelas atau detail seperti non-naratif, walaupun tulisan naratif yang sifatnya non-fiksi atau dari kejadian nyata.

Belajar Menulis Naratif atau Non-Naratif, Mana Yang Mau Dicoba?

Kalau saya mengingat pelajaran pertama dalam menulis, yaitu mengarang cerita tentang liburan sekolah, adalah cara bertutur naratif. Terus bagaimana kalau kita menulis untuk blog? Selama ini karena saya lebih banyak menulis berdasarkan pengalaman sendiri dan latar kepenulisan saya lebih banyak menulis cerita fiksi, maka gaya bertutur saya cenderung naratif. Saya lebih nyaman bertutur begini, bercerita, seprti saya ngobrol sama teman di teras rumah.

Penulisan non-naratif pernah saya lakukan ketika menulis untuk video-video profile perusahaan atau video laporan dinas pemerintah. Video-video seperti itu umumnya bicara data dan statistik perjalanan usaha atau tingkat pencapaian program-program dan pelayanan masyarakat. Demikainlah, cara bertutur akhirnya adalah pilihan sesuai dengan kebutuhan, maka tulis saja. Selamat menulis, mari berbagi dan saling menginspirasi.