Sepanjang siang tadi saya pulang ke dusun menemani kawan-kawan BaleBengong Denpasar, melali ke dusun.

Penyusuran kami mulai dari pantai Candikusuma, Kecamatan Melaya. Di pantai nelayan ini, kami sudah ditunggu oleh Pak Kelian Banjar Moding Kaja I Kadek Erayanta dan anggota KJW (Kelompok Jurnalistik Warga Moding Kaja) antara lain Dek Yudi, Yarka Moni dan Agus Linuh. Mereka lalu mengajak kami menapak tilas perjalanan Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh yang konon dahulu kala "menitipkan" istri beliau kepada warga setempat di pesisir karena dalam kondisi hamil tua, sementara Ida Pedanda meneruskan perjalanan sucinya ke arah timur Pulau Bali.

Di atas tebing pantai ini ada sebuah candi kecil (tugu) bersudut tiga terbuat dari bata merah. Tugu inilah yang disebut Candi Kusuma, kemudian dipakai sebagai nama Desa Candikusuma. Candi ini konon dibangun oleh warga setempat pada tahun 1897 atas perintah pimpinan perkebunan Belanda yang bertugas di sana. Alasan membangun candi ini konon untuk tempat pemujaan, karena saat itu perkebunan Belanda di sana sering diganggu macan dan binatang buas lainnya, serta warga masyarakat sempat terkena wabah penyakit misterius (grubug). Konon sejak candi itu dibangun, keadaan kebun dan warga menjadi normal kembali. Sayangnya, candi yang asli sudah sempat dipugar entah oleh perintah siapa. Pemugarannya pun dilakukan secara amat buruk dan sembrono. Susunan batu bata asli yang tidak memakai perekat semen, justru sekarang disemen, lalu dikelilingi tembok beton yang juga asal-asalan. ????

Dari pantai Candikusuma kami menuju Dusun Moding. Di dusun yang terkenal dengan kebun vanili dan kakao ini kami mengunjungi rumah dan kebun petani setempat, Pak Ketut Sudomo. Pak Ketut Sudomo adalah salah seorang Petani Teladan Indonesia pada era 1990-an, yang telah banyak memberi inspirasi, pendampingan dan pelatihan serta menunjukkan keberhasilan pertanian kepada berbagai kalangan, termasuk menjadi "tempat belajar" bagi instansi-instansi berbagai pemerintah daerah, khususnya belajar tentang vanili dan kakao. Pak Ketut Sudomo juga adalah salah satu tokoh perintis kesenian Jegog di Banjar Moding.

Selanjutnya kami menuju rumah industri kreatif milik pionir Kelompok Wanita Tani (KWT) setempat. Rumah kreatif yang dikelola oleh Ibu Ayu ini bernama Coklat CK berada di tengah kebun. Di sini biji kakao hasil kebun di Banjar Moding diolah menjadi beberapa macam minuman coklat asli, camilan-camilan hingga coklat batangan. Pengolahan dilakukan dengan alat atau mesin manual serta dikemas secara kekinian di bawah binaan Bank Indonesia (BI). Rasa dahaga di siang yang tadi kebetulan cukup terik langsung terobati oleh jus coklat murni yang disajikan Ibu Ayu kepada kami semua.

Dari Rumah Coklat, kami menuju Dusun Senja yang berlokasi di Banjar Moding Kaja.

Di Dusun Senja, kami sudah ditunggu oleh ibu saya yang ditemani oleh Pak Agung Mang De dan istri, Gung Biyang Tami dan beberapa anggota STT Kusuma Bhakti Banjar Moding Kaja serta sahabat kami Made Suarbawa alias Made Birus dari Desa Tukadaya. Birus adalah penggerak Minikino dan pemilik "Rumah Baca Bali Tersenyum".

Di Dusun Senja kami makan siang dengan suguhan olahan tangan Agung Mang De, Agung Pekak Cakra, Gung Biyang Tami dan Gung Bagus berupa "lawar klungah" khas Jembrana, komoh (sup) daging ayam kampung dan ikan laut panggang, ditutup dengan secangkir kopi ditemani ketela dan pisang rebus.
Setelah obrolan singkat tentang apa dan bagaimana Dusun Senja ini dikelola, sekitar pukul 3 sore teman-teman dari BaleBengong bersiap kembali ke Denpasar dengan singgah dulu di Rompyok Kopi, di Negara.

Di Rompyok Kopi, sambil ngobrol tentang aktivitas sastra yang diselenggarakan Komunitas Kertas Budaya (sekarang menjadi Yayasan Kertas Budaya Indonesia), teman-teman BaleBengong khusus memesan Es Kuning dan Kopi Wanen, minuman dusun racikan Wayan Nanoq da Kansas yang satu-satunya di bumi itu. Haha.

Begitulah kisah kami melali ke dusun sepanjang hari ini, Sabtu 4 Februari 2023. Salam rahayu bagi kita semua.

Cita Rasa Festival Jembrana adalah sebuah cita-cita. Sebuah rintisan festival desa untuk merayakan cerita, cita rasa dan mempromosikan kepedulian lingkungan, budaya dan kemanusiaan. Cerita Rasa Festival Jembrana digagas dan diselenggarakan oleh Bali Tersenyum, sebuah sanggar literasi di banjar Brawantangi Taman, Desa Tukadaya. 

Cerita Rasa dilaksanakan selama satu hari, pada Sabtu, 30 Juli 2022 mulai pukul 12:00 hingga 21:00 wita. Event rintisan festival desa ini dijadikan ruang untuk bersama-sama saling mendengar, merasakan, berbagi dan mendokumentasikan cerita, rasa dan peristiwa, bertempat di halaman Rumah Baca Bali Tersenyum

Ide awal dari rintisan kegiatan festival desa ini, datang dari rencana pemutaran film pendek yang diproduksi Sanggar Bali Tersenyum, untuk ditonton bersama kru dan pemain yang berasal dari desa setempat. Film tersebut berjudul @ItsDekRaaa yang mengambil lokasi syuting di Banjar Pangkung Jajang, Desa Tukadaya pada bulan November 2021. Pemutaran film inilah yang kemudian menjadi puncak acara, yang diawali dengan presentasi kuliner, pelatihan fotografi, melukis bersama, dan pentas cerita.

Presentasi Kuliner Cerita Rasa Jembrana.

Hal yang khas di Jembrana adalah pemanfaatan sisa pembuatan minyak kelapa menjadi menu masakan yang khas, dan enak. Makanan itu terbuat dari sisa rebusan santan setelah minyaknya dipisahkan, yang disebut roroban. Roroban kemudian ditambahkan dengan bumbu bali dan direbus beberapa saat, maka jadilah kuah kental yang gurih.

Kuah tersebut kemudian dicampur dengan berbagai jenis sayuran rebus, yang kemudian disebut jukut serapah. Lauk ini umumnya disajikan dengan lontong, sehingga dikenal sejagat sebagai lontong serapah khas Jembrana.

Keberadaan lontong serapah sudah mulai jarang ditemukan di Jembrana. Hal ini disebabkan oleh sudah jarangnya pembuatan minyak kelapa tradisional dilakukan oleh masyarakat setempat. Seperti kita tahu, minyak kelapa sudah di gantikan oleh minyak sawit kemasan.

Pelatihan Fotografi Untuk Remaja.

Kamera sudah lekat dengan remaja kita, karena setiap smartphone sudah dilengkapi dengan kamera yang bagus. Hal itu mendorong pelaksanaan pelatihan fotografi bagi remaja, guna memperkenalkan dasar-dasar fotografi, memperkenalkan profesi fotografer dan bagaimana usaha foto & video itu berjalan.

Yang unik dari program pelatihan fotografi di Cerita Rasa Festival adalah, peserta diajak untuk memotret tanpa kamera. Aktifitas ini adalah untuk mengasah kesadaran visual, mengenai apa yang dilihat, apa yang menarik dan bagian mana dari objek foto yang akan diambil. Kesadaran visual inilah yang akan menjadikan foto yang diambil memiliki makna dan cerita, dan menjadi jalan menuju jenjang dari sekedar “tukang cekrek aplud” menjadi fotografer.

Selain itu, peserta juga mendapat cerita dari dua orang pengusaha foto dan video di Jembrana, yaitu Dwi Artawan pemilik Relief Studio dan Komang Triadi pemilik Candra Photography studio. Mereka berdua memberi semangat pada peserta, bahwa segala sesuatu harus dimulai dari nol. Dan jika memiliki semangat, maka nol akan bergerak menjadi satu, dua, dan seterusnya, tergantung pada semangat belajar masing-masing.

Melukis Bersama Anak-anak Desa Tukadaya

Menggambar bersama dalam Cerita Rasa kali ini, diikuti oleh tidak kurang dari tiga puluhan anak. Mereka datang dari beberapa banjar di Desa Tukadaya, dan ada juga dari desa sekitarnya. Program melukis ini merupakan ruang bermain dan belajar bagi anak-anak. Kegiatan ini, lebih ditujukan sebagai momen beraktivitas bersama, baik itu kerjasama antar anak-anak dan juga pendampingan oleh orang tua.

Setelah kurang lebih dua jam, karya anak-anak kemudian dipajang sebagai sebuah pameran bersama. Setiap anak kemudian bertindak sebagai juri, bagi lukisannya sendiri dan lukisan kawan lainnya. Mereka berhak memilih tiga lukisan yang menurut mereka terbaik, terbagus, atau yang mereka suka.

Aktivitas menjuri ini, dijadikan ajang bagi anak untuk mepresentasikan karya pada teman-temannya. Di sini anak-anak juga berkesempatan mengapresiasi dan menunjukkan aspirasinya dalam memilih karya terbaik versi mereka sendiri.

Dalam sesi menggambar ini, kami mengundang perupa muda asal desa Tukadaya, Wayan Wasudewa, yang banyak bermain-main di ranah mural dan tato. Kehadiran Wayan yang dikenal dengan sign WSDW menjadi sebuah gambaran tentang jalan berkesenian.

Secara tidak langsung, kehadiran orang dewasa yang melukis bersama anak-anak menjadi role model bagi mereka, yang selama ini hanya mengetahui menggambar adalah sempilan pelajaran di sekolahnya. Di sini mereka akan tahu bahwa seni juga bisa menjadi profesi, dan ada sekolahnya hingga perguruan tinggi. Ada juga orang yang memilih berkesenian sebagai jalan hidupnya.

Mendongeng Cerita Rasa Festival Jembrana

Mesatua atau mendongeng merupakan pola penanaman nilai-nilai kehidupan yang sangat penting di dalam keluarga. Cerita rasa menghadirkan program pentas cerita, berupa mendongeng dan membaca cerita. Malam itu, tampil Ayu Nila yang membaca cerita dari buku karya Made Taro, sebuah dongeng berjudul Padi dan Hama Wereng, dan juga Melany yang mendongeng tentang balas budi semut pada burung merpati.

Dua konsep bercerita yaitu membacakan cerita dari buku dan bercerita secara hafalan sengaja ditampilkan di Cerita Rasa Festival Jembrana. Hal ini untuk memberi gambaran, bahwa bercerita tidak melulu menghafal diluar kepala, tapi bisa juga dengan membaca dari buku. Program ini ditujukan untuk memancing kembalinya minat orang tua bercerita atau mendongeng untuk anaknya. Yang juga semoga dapat meningkatkan minat baca di dalam keluarga-keluarga pedesaan.

Sebelum memulai mendongeng, Melany sempat memberikan gambaran apa itu dongeng dan bagaimana kemudian ia bekerja mengasah imajinasi anak-anak pendengarnya. Dengan mendongeng bagi anak-anak, kita juga sedang merangsang minat baca mereka.

Ketika imajinasi anak-anak mulai tumbuh, maka minat mencari tahu akan tumbuh. Lalu ke mana mereka akan mencari selain dengan membaca? Maka ada kewajiban lain, yaitu memberi contoh dan memberi fasilitas berupa buku bacaan yang cukup dan layak sesuai perkembangan usia anak-anak.

Pemutaran Film Pendek.

Film pertama yang diputar yaitu Pekak Kukuruyuk, sebuah film dokumenter berdurasi dua puluh menit, yang merupakan produksi program Eagle Award Metro TV. Pekak Kukuruyuk berkisah tentang kehidupan Pak Made Taro, seorang pelestari dongeng dan permainan tradisional. Karya Agung Yudha ini dipilih, karena berkaitan dengan program pentas cerita, yang mengangkat dongeng dan bercerita sebagai sebuah aktifitas yang perlu tetap dilakukan disetiap rumah orang tua bagi anak-anaknya.

Film selanjutnya adalah film berjudu Besok Saya Tidak Masuk Sekolah karya Oka Sudarsana. Fiksi pendek berdurasi enam belas menit ini berkisah tentang Ginar, seorang anak SD di pelosok Kintamani yang berjuang menempuh pendidikan Sekolah Dasar. Besok Saya Tidak Masuk Sekolah menggambarkan sisi lain dari keindahan dan kemegahan pulau Bali di mata dunia, sekaligus juga menyentil dunia pendidikan di negeri kita tercinta.

Film terakhir adalah @ItsDekRaaa. Film ini bercerita tentang kehidupan remaja di pedesaan yang terpapar oleh smartphone dan media sosial. Dekra, tokoh utama dalam film ini ingin sekali menjadi selebriti Tiktok, namun grup Tiktoknya terancam bubar karena salah satu temannya menghilang secara misterius.

@ItsDekRaaa adalah karya warga desa Tukadaya - Jembrana, Made Suarbawa, yang juga pengasuh Rumah Baca Bali Tersenyum. @ItsDekRaaa bercerita tentang seorang remaja perempuan desa bernama Dekra yang ingin menjadi seleb Tiktok, mendapat ancaman kelompoknya akan bubar karena salah satu temannya menghilang secara misterius.

Karya film pendek dari Jembrana yang sedang keliling dunia menuju berbagai festival film ini, dibintangi oleh empat remaja Desa Tukadaya, disyuting di desa mereka sendiri dan sebagian kru adalah warga desa setempat. Malam itu, puluhan orang memadati halaman Rumah Baca Bali tersenyum untuk menyaksikan wajah anak mereka, tetangga, dan alam desanya tampil di layar lebar. 

Demikian catatan Cerita Rasa Festival Jembrana 2022 yang penuh kesan. Merdesa!

1995, selepas SMP saya meninggalkan Desa Tukadaya untuk bersekolah di STM Negeri di kota Singaraja. Tiga tahun di Buleleng saya gagal mendapatkan ijasah STM, kemudian pulang untuk selanjutnya mengadu nasib berbekal ijasah SMK, ke Gumi Badung dan Denpasar hingga tahun 2020 sekarang ini, dan mungkin serialnya masih bersambung. Itu artinya saya hanya menghabiskan hidup saya selama 15 tahun menetap di Desa Tukadaya sejak umur 0. Dalam kurun 25 tahun terakhir, saya hanya pulang ke Tukadaya untuk berbagai urusan kependudukan, adat dan keluarga, dengan waktu tinggal rata-rata menginap 2 – 4 malam saja.

Tukadaya Berubah Bersama Waktu

Banyak perubahan di Tukadaya yang tidak saya sadari, atau mungkin saya sedang tidak punya kepentingan untuk mencari tau. Misalnya tentang banjar yang dulu saya hafalkan berdasarkan lokasi Sekolah Dasar (SD). Ada lima banjar dan lima SD di Desa Tukadaya; SDN 1 di Banjar Munduk Ranti, SDN 2 di Banjar Sarikuning, SDN 3 di Banjar Berawantangi, SDN 4 di Banjar Sombang dan SDN 5 di Banjar Pangkung Jajang. Namun ternyata dari lima banjar, sekarang telah menjadi delapan Banjar Dinas.

Banjar Berawantangi, saya tau prosesnya ketika menjadi dua banjar; Banjar Berawantangi dan Banjar Berawantangi Taman, karena alamat KTP saya ada di banjar tersebut. Banjar lain yang dimekarkan adalah Banjar Sombang menjadi Banjar Sombang dan Banjar Kembangsari, Banjar Sarikuning mekar menjadi Banjar Sarikuning dan Banjar Sarikuning Tulungagung. Nama asli dari banjar-banjar tersebut masih tetap dipertahankan.

Berbicara nama, Tukadaya sesungguhnya terdiri dari dua kata; Tukad dan Aya, yang diambil dari nama sungai yang membatasi sebagian wilayah Desa Tukadaya dengan desa di sisi timur dan selatan. Tukad berarti sungai, Aya berarti besar atau bukan main. Tukad Aya sebagai sungai adalah sungai besar, yang merupakan kesatuan dari beberapa sungai, dengan cerita keganasannya ketika mengalami banjir bandang di musim hujan. Sungguh, ini hanya otak-atik cocoklogi saya saja, karena tidak pernah mendengar mengenai sejarah nama maupun bagaimana Desa Tukadaya ini terbentuk. Pun jika belum tertulis, semoga suatu hari terlahir buku yang menuliskan sejarah Desa Tukadaya.

Tukadaya di Era Online

Ditarik ke jaman sekarang, tahun 2020 yang katanya sudah ada di jaman 4.0, saya melakukan pencarian menggunakan google. Saya menggunakan kata kunci Tukadaya, Sejarah Tukadaya, Desa Tukadaya, Kerajinan Tukadaya dan Seni Tukadaya; namun tidak menemukan artikel yang terlalu menarik, selain dari portal-portal berita lokal yang menjadi basi ketika momennya sudah lewat. Sialnya, ketika mengetik kata kunci Seni Tukadaya, kemunculan informasi dari Desa Tukadaya tertutupi oleh artikel mengenai kesenian dari Desa Dangin Tukadaya.

Dari situasi tersebut, perlahan saya mundur dari dunia online, karena ingat cerita seseorang yang berusaha meretas jaringan komputer sebuah kantor polisi untuk menghapus data penangkapan kawan mereka, namun gagal total karena semua file kantor polisi tersebut tidak online, alias masih di atas kertas menggunakan mesin ketik. Saya kemudian mengingat-ingat dan mulai bertemu beberapa orang kawan dan tetangga, bicara-bicara kangin-kauh. Dari beberapa obrolan, saya kemudian tau, ada beberapa sekaha dan pengerajin rindik yang sangat aktif dan produktif, beberapa sekaha jegog yang mati suri, ada pengerajin ingka, ada pembuat kripik, banyak peminat sekar alit hingga sekar agung yang bertalenta dan informasi lain sebagainya. Mereka tidak online, walau ada satu-dua yang muncul alamatnya jika dicari di google map.

Perlukah Mereka Media Online?

Pertanyaannya kemudian, perlukah mereka media online, perlukah mereka dionlinkan? Menurut saya, memang tidak perlu dipaksakan, toh mereka bertumbuh dengan alami. Tapi di sisi lain, paling tidak ada yang bersedia menulis tentang talenta dan produk mereka dengan baik, agar tercatat dalam sejarah, yang mungkin tidak akan menjadi bagian kurikulum pelajaran sejarah manapun, tetapi tercatat bahwa mereka ada dan hidup, aktif dan produktif. Memang tidak bisa dipungkiri, di jaman ketika orang mencari sesuatu sekarang lebih suka menggunakan media internet, maka kitapun harus masuk ke dunia itu jika ingin ditemukan, tercatat secara online jika ingin dikenal, terutama oleh orang di luar lingkungan pergaulan offline kita (face to face).

Kondisi ini saya kira dialami juga oleh desa lain, yang bukan objek berita, objek wisata atau objek penelitian yang menarik. Desa-desa yang tidak punya kontribusi besar pada sejarah Bali, Pariwisata Bali, mungkin juga APBD Bali, hanya akan tercatat di website badan statistik, dinas kependudukan dan wikipedia. Maaf, jika kelihatannya saya mulai mengeluh. Tapi begini, saya ingin menulis sesuatu tentang desa saya, dan saya menantang siapapun yang bersedia untuk balapan menulis sesuatu tentang desanya, ayo menulis. Maksudnya agar saya tetap semangat menulis, karena ada tamannya.

 

Minikino bersama kantor Desa Padangsambian, Denpasar Barat menyelenggarakan rangkaian pelatihan Literasi Film Dan Produksi Film selama 3 hari. Dimulai Jumat 6 Desember dan berlangsung setiap hari sampai Minggu 8 Desember 2019. Seluruh rangkaian workshop diadakan di Balai Desa Padangsambian Kaja, Jl. Kebo Iwa No.35.

Pelatihan dibuka Perbekel Padangsambian Kaja, I Made Gede Wijaya, S.Pt., M.Si. yang pada sambutannya menyatakan “Pelatihan semacam ini diharapkan bermanfaat bagi generasi muda desa untuk memanfaatkan teknologi, media film serta industri kreatif yang dapat menjadi kekuatan desa supaya tidak ketinggalan jaman.”

Modul workshop film pendek ini disusun oleh tim kerja Minikino dengan silabus yang padat. Para peserta remaja dari desa Padangsambian Kaja dilibatkan secara aktif mulai dari menonton dan berdiskusi dengan para profesional di bidangnya, mengikuti seminar tentang sejarah, dari sisi perkembangan kebudayaan serta teknologinya. Mereka juga mendapatkan pembekalan pemahaman kekuatan visual dan materi suara dalam film, hingga akhirnya mempraktekkan seluruh rangkaian proses produksi sebuah film; mulai dari pengembangan ide, penulisan cerita, desain produksi dan produksinya sendiri.

Mengenal Film Pendek Melalui Pemutaran dan Diskusi

Pra-aktifitas untuk pemanasan dilakukan Kamis, 5 Desember 2019. Seluruh peserta dan pengurus Desa Padangsambian Kaja diundang untuk terlibat dalam pemutaran dan diskusi program ReelOzInd! Award Winners di Art-House Cinema MASH Denpasar. Selain menonton program film pendek, acara ini menghadirkan diskusi online melalui skype dengan narasumber Jemma Purdey (Australia) selaku direktur ReelOzInd! & Melanie Filler, produser film “Posko Palu’. Dipandu moderator, keduanya narasumber melakukan tanya jawab langsung dengan penonton. Sesi diskusi berlangsung lancar selama 30 menit antara Denpasar, Melbourne dan Sydney di Australia.

Hari Pertama: Menganal Sejarah Film dan Menemukan Cerita Film

workshop film

Sesi pertama setelah pembukaan, dimulai dengan materi Sejarah Film Pendek di Dunia dan di Indonesia disampaikan oleh Edo Wulia, direktur Minikino yang sekaligus menjadi mentor pelatihan. Edo memberikan informasi sejarah film dunia dan memberi gambaran luas tentang bagaimana industri film di dunia berkembang seiring kemajuan teknologi. Edo Wulia juga menghubungkannya dengan Bali melalui film “Legong, Dance of the Virgins” yang diproduksi tahun 1935, yang ternyata merupakan salah satu film bisu produksi terakhir di Hollywood.

Selanjutnya, sesi “Visual Storytelling” yang disampaikan oleh I Made Suarbawa, sebagai sebuah pondasi bagi peserta dalam menyusun cerita. Peserta secara perlahan dipandu untuk mulai mengembangkan ide dan mencari fokus alur cerita, sehingga sebuah ide besar bisa dikerucutkan menjadi sebuah cerita yang tajam. Sesi ini menghasilkan logline, sinopsis dan storyline, yang akan dikembangkan pada hari selanjutnya.

 Hari Kedua: Literasi Film, Suara, Tim Kerja, Skenario dan Desain Produksi

Seminar “Literasi Film Dan Media Untuk Berpikir Kritis” menjadi tema pembuka di pagi hari. Materi ini disampaikan oleh Nurafida Kemala Hapsari dan Saffira Nusa Dewi. Diskusi menjadi lebih hangat ketika menyentuh topik pengaruh publikasi dan persepsi penonton bahkan tentang film yang belum ditonton. Modul dilanjutkan dengan presentasi mengenai “Kerjasama Tim Dalam Produksi” disampaikan oleh Inez Peringga. Studi kasus disampaikan dari pengalaman pribadi Inez saat membuat film pendek pertama di masa kuliahnya di sekolah film.

Materi berikutnya “Suara dalam Film” menerangkan sisi audio pada film, diawali dari sejarah film bisu yang hampir selalu ditampilkan dengan iringan musik. Materi ini diberikan untuk membangun pemahaman tentang kekuatan audio dan pengaruhnya pada visual. Pengenalan teknis diiringi berbagai contoh dan praktek, serta berbagi pengalaman tim minikino melakukan audio dubbing untuk keperluan festival internasionalnya.

Hari kedua diakhiri dengan pembahasan cerita para peserta serta desain produksi meliputi pembedahan naskah termasuk lokasi, properti, pemain, dari ide cerita peserta di hari pertama. Para mentor dan fasilitator mengarahkan peserta untuk melakukan analisis mandiri ide cerita mana yang paling memungkinkan untuk diproduksi pada hari ketiga. Sesi terakhir namun yang paling panjang ini dipandu oleh I Made Suarbawa sebagai pendamping utama produksi.

Dari berbagai ide cerita yang dikembangkan hingga menjadi storyline, dipilih satu cerita yang kemudian ditulis menjadi skenario, yang kemudian dibedah dalam sesi desain produksi. Sesi ini mempersiapkan hari terakhir, di mana semua peserta akan mengambil peran masing-masing dalam sesi produksi.

Paket Lengkap Teori dan Praktek

workshop film

Proses pengambilan gambar dan suara dimulai sejak pukul 8 pagi dan berlangsung secara intensif sampai 4 sore. Produksi ditutup dengan sesi evaluasi di akhir hari, para peserta secara umum merasakan ini pengalaman baru walaupun mereka sudah pernah membuat online konten sebelumnya.

Ngurah Ketut Hariadi, S.Kom selaku sekretaris Desa Padangsambian Kaja menyampaikan apresiasi positif tentang pelatihan ini, “Melihat antusiasme peserta saya berharap apa yang difasilitasi desa dapat dimanfaatkan para peserta. Bila 10 persen saja dari para peserta dapat memanfaatkan dengan baik, kegiatan ini dapat dinilai sukses.” Sambungnya “Pelatihan diberikan dengan profesional, awalnya saya tidak membayangkan bahwa dalam tiga hari pelatihan bisa benar-benar menghasilkan produk sampai film. Semoga minat dari masyarakat makin tinggi setelah nanti melihat hasilnya.”

Menurut Cika selaku fasilitator acara, “Berkegiatan dengan peserta di Padangsambian Kaja sangat menggairahkan secara kreatif, karena mereka antusias dan penuh perhatian. Para peserta sudah dekat secara keseharian dengan media audio visual serta dunia digital. Sebagian peserta sudah terbiasa dengan konten online, bahkan ada yang sudah menjadi idola milenial dengan 1 juta subscriber @aryanthisuastika dengan kanal @ricaricaa96 .

Film pendek hasil pelatihan di Desa Padangsambian Kaja ini direncanakan akan tayang perdana dalam acara tahunan MINIKINO OPEN DESEMBER ke 17, di Desa Padangsambian Kaja. Edo Wulia selaku direktur Minikino menyampaikan, “Atas nama organisasi kami mengucapkan terima kasih atas dukungan segenap masyarakat dan pegawai di kantor desa Padangsambian Kaja. Walaupun sudah diadakan tahunan sejak tahun 2003, untuk pertama kalinya acara Open Desember hadir dalam format layar tancap pada hari Sabtu tanggal 21 Desember 2019, mulai pukul 19:00 di Balai Pertemuan Dukuh Sari, Padangsambian Kaja; jalan Gunung Sari.” Selengkapnya mengenai Open December dapat di baca di https://minikino.org/minikinoopendecember17