Cara menulis cerpen ini saya tulis sebagai upaya pembelajaran diri, sebuah catatan proses kreatif saya dalam menulis cerpen selama ini. Tentu saja ini bukan cara baku, apalagi kaku. Karena menulis adalah proses kreatif, yang aturan paling mendasar adalah kebebasan berekspresi. Ayo tulislah, jangan ragu.
Cerita bisa disebut cerita pendek atau cerpen, tentu saja ketika dia pendek. Mengukur panjang pendeknya tentu kita butuh parameter. Parameter yang umum adalah ketersediaan ruang untuk penerbitan. Media seperti Koran Kompas, mensyaratkan maksimal panjang cerpen adalah 10.000 karakter, atau kurang lebih 1500 kata, dan jika diketik 1,5 spasi, Time New roman 12 akan tercapai 5 halaman A4. Ada juga media yang hanya menyediakan ruang untuk tulisan sepanjang 700 kata, atau kurang lebih 5000 karakter.
Lalu, apakah boleh menulis cerita lebih pendek dari itu? Tentu saja boleh. Mari kembali pada aturan paling mendasar; kebebasan berekspresi. Untuk cerita-cerita yang lebih pendek, misalnya dibawah 300 hingga Cuma 5 kata; ada beberapa istilah yang digunakan untuk penyebutannya. Misalnya Cermin atau cerita mini, dalam Bahasa inggris ada istilah short-short story, micro fiction dan flash fiction.
Semakin pendek batasan ceritanya, maka semakin padat cerita yang ditulis untuk mengungkapkan sebuah gagasan atau pesan. Dan pasti semakin menantang sebagai sebuah eksperimentasi bertutur.
Menikmati cerpen membutuhkan waktu dan energi yang lebih sedikit dibandingkan membaca karya sastra panjang seperti novel. Sebuah cerpen bisa dibaca hingga selesai, bahkan sebelum nomor antrian dipanggil di ruang tunggu dokter. Cerpen yang ditulis dengan cara bertutur yang baik, biasanya membuat pembacanya enggan berhenti sebelum menemukan endingnya.
Buat saya, cerita pendek yang memberikan kenikmatan adalah cerita yang memberikan daya kejut yang kuat saat kita akan mencapai akhir. Atau cerita yang memiliki lapisan pesan yang kuat di balik kisah yang terkesan biasa, yang biasanya jenis cerpen ini memberikan ruang pikir dan memicu sebuah ide baru untuk diungkapkan. Satu lagi, cerpen yang menarik adalah ketika ia memiliki konteks yang kuat dengan pemikiran saya, atau dekat dengan situasi dan isu terkini; bagusnya lagi ketika gagasannya masih relevan sejak ditulis hingga ketika dibaca lagi sepuluh tahun kemudian.
Karena keterbatasan cerita pendek adalah pada jumlah kata, tentu saja dalam bercerita tidak sebebas menulis novel, yang bisa menulis lebih dari 10.000 kata. Namun bagi saya, apapun formatnya, struktur sebuah cerita tidak bisa lepas dari unsur pembuka, konflik, ketegangan, klimak dan ending. Yang seru dari struktur cerpen adalah, kita bisa memulai paragraf pembuka dengan sebuah konflik atau ketegangan. Kita bisa mengaduk-aduk perasaan pembaca sejak awal.
Baiklah, mari saya bagikan cara atau langkah-langkah, yang saya perbuat ketika hendak menulis sebuah cerpen. Meskipun ini tersusun berurutan dari atas ke bawah, mungkin bukan berarti urutan ini selalu cocok dengan semua orang. Tulisan ini juga hanya membutuhkan beberapa menit untuk dibaca, namun pada kenyataannya, setiap poin yang saya tulis di bawah ini, membutuhkan inkubasi lebih lama dari menghabiskan sebatang rokok.
Hal pertama dari langkah-langkah cara menulis cerpen versi saya, adalah; saya cenderung bergerak dari sebuah gagasan yang emosional, karakter yang melawan atau sedang kontra terhadap sesuatu. Jika sebuah isu dapat menyentuh secara emosional dan terasa intim dengan apa yang saya rasakan, maka saat itulah gagasan awal saya temukan.
Namun harus berhati-hati, apakah gagasan itu cukup layak untuk diceritakan sebagai sebuah karya yang akan dibagikan pada publik, atau hanya emosi curhat yang sangat personal, yang sebaiknya diceritakan pada buku diari saja. Gagasan dasar ini hendaknya bisa lebih universal dan menyentuh orang lain, yang akan membaca tulisan kita.
Ramuan kisah kekerasan politik, kehilangan, perjuangan hidup, cinta tak terbalas; selalu dapat menguras emosi. Dari gagasan dasar ini, bagaimana kemudian kita menariknya pada kehidupan nyata, kehidupan hari ini, membuatnya bersentuhan dengan emosi dasar manusia.
Kisah seorang anak kehilangan mainan, dibandingkan dengan ketika seorang anak kehilangan anjing peliharaannya atau kehilangan Ibunya, tentu akan memberikan emosi yang berbeda.
Ini adalah salah satu cara bagi seorang pemula seperti saya, fokus pada satu kasus khusus, sehingga cerita tidak melebar ke mana-mana. Saking fokusnya, kadang saya membuat sebuah cerita dengan seting waktu yang terjadi hanya dalam rentang satu hari atau beberapa saat saja.
Dalam cerpen Prahara Secangkir Kopi yang menjadi cerpen pembuka dalam buku kumpulan cerpen Politik Kasur, Dengkur dan Kubur, saya berfokus pada perasaan dan gerak-gerik fisik tokoh utama Kayan, bagaimana ia bereaksi terhadap situasi yang dihadapi; berseteru dengan istrinya, sehingga tidak dibuatkan kopi. Saya berfokus pada konflik batin, berusaha terus meningkatkan nuansa depresi, hingga mencapai ending.
Tentu saja bagi yang sudah berpengalaman dan punya kemampuan bercerita dan bahasa yang digjaya, sangat mungkin memasukkan lapisan-lapisan lain, pesan-pesan tersirat, maksud terselubung, simbol-simbol tertentu dalam tiap paragraf ceritanya.
Ada tokoh, ada aksi, ada reaksi dan ada situasi; itulah yang menggerakkan cerita. Tokoh yang meyakinkan adalah tokoh yang masuk akal dan pantas untuk melakukan aksi yang penulis inginkan, dan sanggup bereaksi atas situasi yang menghantamnya.
Tokoh Kayan dalam cerpen Prahara Secangkir Kopi, saya ciptakan sebagai laki-laki cuek, menganggap semuanya akan berjalan baik-baik saja, luka akan sembuh sendiri, berharap semuanya damai apa adanya, sehingga ketika dia dihadapkan pada konflik di rumahnya, dia memilih kabur keluar rumah, dan ketika ada konflik di luar rumah ia memilih kabur, dengan pulang. Sikap cuek inilah yang menjadi prahara dalam cerita ini.
Awal, tengah dan akhir. Lahir, hidup dan mati; menjadi dasar sebuah kehidupan dan cerita adalah replika dari kehidupan nyata yang sangat nyata dengan bumbu fantasi dan kenakalan penciptanya, penulis.
Struktur ini – awal, tengah, akhir – tidak selalu bisa diartikan secara harfiah sebagai urutan waktu atau kejadian yang runut secara kronologis; a, b, c, d, e …, namun sangat mungkin dimulai dari e mundur ke b, maju ke c, mundur ke a, lalu berakhir di d.
Cerpen Prahara Secangkir Kopi adalah contoh cerpen menggunakan struktur kronologis, maju pantang mundur. Dari Kayan bangun tidur pagi itu, berangkat ke kantor, pergi ke taman, pulang dan berakhir di rumah malam itu juga. Walaupun ada paragraf menyinggung kejadian lama, namun tetap ada dalam kerangka perasaan Kayan saat itu, bukan lompatan secara struktur.
Sebuah cerpen dengan struktur yang maju mundur saya ambil contoh, cerpen berjudul Terumbu Tulang Istri karya Made Adnyana Ole, dalam buku kumpulan cerpen Gadis Suci Melukis Tanda Suci Di Tempat Suci. Cerpen ini saya ambil sebagai contoh karena menggunakan nama tokoh yang sama, Kayan.
Di awal cerita, Kayan versi Adnyana Ole ditempatkan pada kisah hari ini, saat ia melakukan ziarah pagi ke dasar laut. Kemudian mundur ke masa Kayan bekerja sebagai guide diving, pada bagian berikutnya digambarkan Kayan entah beberapa tahun sebelumnya ketika ia dipisahkan dari istrinya oleh warga adat, kemudian melompat lagi ke belakang ketika Kayan berusia 13 tahun dan bekerja sebagai pegawai villa, dan cerita ini diakhiri dengan kisah asmara Kayan dengan istrinya yang menjawab kenapa warga adat tega memisahkan mereka. Struktur bercerita yang brilian.
Ketika mulai menulis, mungkin saja kita memiliki struktur yang kronologis, kemudian saat proses editing, eksperimentasi struktur bisa dilakukan untuk mendapatkan emosi tertentu dalam cerita.
Karena cerpen adalah cerita pendek, tidak ada waktu untuk bertele-tele, maka mulailah dengan sesuatu yang mengejutkan. Sebuah pokok pikiran yang menjadi kunci yang bisa nyantol di kepala pembaca, sehingga mereka tidak bisa berpaling ke lain hati.
Cerpen Prahara Secangkir Kopi saya mulai dengan konflik Kayan dengan Istrinya, dan menjadi pembuka yang menggerakkan cerita. Menarik atau tidak, terserah pembaca kemudian menilai setelah membacanya. Masih ada loh bukunya kalau mau.
Pada cerpen Terumbu Tulang Istri, Ole memaparkan dalam empat paragraf, perjalanan Kayan melakukan ziarah ke dasar laut, bercumbu dengan karang yang ternyata adalah tulang istrinya. Siapa yang tidak tersentu dengan pokok pikiran cerita seperti itu?
Satu lagi cerpen renyah yang ingin saya jadikan contoh, cerpen Putu Wijaya berjudul Laila, yang ditulis 12 Oktober 09, dibuka dengan kejadian seorang pembantu yang sedang menangis, dan dalam sebuah paragraf awal terungkaplah situasi yang sedang dihadapi Laila, sang pembantu.
”Dia punya konflik,” kata istri saya kemudian. ”Suaminya kurang ajar. Masak memaksa Laila banting tulang, tapi dianya ngurus anak ogah! Primitif banget! Laki-laki apa itu? Giliran anaknya kena DB dibiarin saja. Coba kalau sampai mati bagaimana? Pasti si Laila lagi yang disalahin! Memangnya perempuan WC untuk nampung kotoran?!” [Sumber]
Setiap bagian dalam cerita hendaknya adalah hal-hal yang penting dan menguatkan cerita. Setiap paragraf haruslah menggambarkan pokok masalah secara jelas dan tuntas, dan sebagiknya tidak lagi mengulangi pokok pikiran tersebut di lain paragraf, kecuali memang sebuah teknik pengulangan yang menguatkan cerita.
Kalimat mesti mampu bercerita dengan lugas, sesederhana mungkin. Menurut saya, berhasil dalam bercerita adalah ketika mampu mencapai puncak cerita dengan cepat dan tepat, kalau ada jalan short cut, ambil jalur itu dan ajak pembaca ke terminal pemberhentian dengan segera, walaupun perjalanan cerita masih akan berlanjut ke pemberhentian selanjutnya, hingga akhir.
Pilihan kata juga menjadi sesuatu yang sangat amat penting, karena sebagai penunjuk jalan cerita, kita bertanggung jawab pada kenyamanan penumpang. Namun tentu saja kita memiliki hak penuh atas kata-kata seperti apa yang ingin digunakan; kadang berikan mereka jalan mulus, sesekali biarkan mereka terguncang dengan menceburkannya ke kubangan di tengah jalan, karena kenakalan ini adalah dinamika perjalanan cerita, sehingga pembaca tidak tidur atau turun di tengah jalan.
Seperti virus, sebuah tulisan membutuhkan masa inkubasi yang cukup agar matang dan bisa menimbulkan penyakit yang menyengat pada pembaca. Berapa lama? Tentu saja tergantung jenis virusnya; kalau jenis virus deadline mungkin hanya punya waktu beberapa jam. Pada pokoknya adalah, sempatkan untuk mebaca ulang dengan suasana jernih, ambil sudut pandang baru sesuai kebutuhan, kemudian rasakan dan mulailah menyunat segala yang dirasa berlebihan dan lakukan tambal sulam pada bagian yang masih compang-camping.
Saya kadang membutuhkan 4 – 5 kali baca ulang dan koreksi, sebelum didiamkan dalam kurun waktu tidak terbatas, sambil melakukan pengayaan wawasan atas topik yang saya bahas. Kendati sedang menulis fiksi, kita membutuhkan pijakan nyata untuk menguatkan. Mencari referensi karya tulisan orang lain juga penting. Tulisan yang membahas topik sejenis, atau menggunakan gaya bercerita serupa dengan yang sedang kita kerjakan, barulah kemudian suatu saat yang tepat, tulisan itu kita baca dan kita koreksi lagi.
Satu langkah yang menjadi bagian penting cara menulis cerpen ini, yang saya anggap baik dan patut untuk selalu dicoba adalah, tunjukan tulisan ini pada orang yang netral, seorang mentor, minta pendapatnya; dan pastikan hati dan pikiran kita terbuka menerima segala saran dan kritik yang kemudian muncul. Jangan baper.
Tahap terakhir dari cara menulis cerpen ini, yang sesungguhnya adalah langkah pertama adalah; tulislah, berceritalah. Jika kamu baru mulai belajar menulis, tetapkan waktu menulis secara konsisten, cukup tiga paragraf tiap waktu, jangan pedulikan kualitasnya dulu, fokuslah pada kuantitas dan konsistensi.
Ketika kamu sudah memiliki tradisi menulis dalam dirimu, baru kemudian mulai meningkatkan kualitas dengan mengisi diri, membaca sebanyak mungkin, apakah itu karya sastra sejenis yang ingin kamu tulis, ataupun tulisan atau buku lain dari berbagai bidang keilmuan.
Ruang Belajar Bersama: Tutorial Menulis
Masuklah ke dalam komunitas yang sehat dan mendukung proses pembelajaran kita. Tidak hanya kelompok yang berkaitan dengan tulis-menulis, tapi berbagai kelompok kemasyarakatan yang memancing pemikiran baru, sudut pandang baru dan kemungkinan-kemungkinan baru dalam kehidupan. Jika berkenan mari bergabung di group WA Belajar Menulis Cerpen bersama mipmap.id.
Baiklah, saya sudah menulis lebih dari 10 ribu karakter mengenai cara menulis cerpen, yang tentu saja ini bukan pendek lagi, apalagi dibaca di hand phone. Semoga cukup lugas. Semua yang saya tulis adalah kisah dari sudut pandang diri saya. Tentu saja akan banyak sudut berbeda dengan proses kreatif yang sedang kalian alami. Semoga berkenan.
Jika sudah ada cerpen yang selesai, langkah berikutnya adalah publikasi. Bisa melalui blog pribadi atau memilih media cetak atau online yang menyediakan ruang seperti mipmap.id; kamu bisa lihat bagaimana mengirimkan tulisan ke mipmap melalui laman menjadi penulis.
Kaki[1] Wari seorang petani tulen yang mengabdikan hidupnya bagi bumi pertiwi, yang tidak henti-hentinya memberikan anugerah berlimpah. Kesuburan, air yang terus mengalir, hingga panen yang selama bertahun-tahun selalu membuat Kaki Wari tersenyum lebar saat menuntun sapi-sapinya menarik cikar[2] yang dipenuhi hasil panen.
Kaki Wari termasuk petani yang terpandang dan dihormati. Selain karena usianya yang termasuk sepuh, dia memiliki sejumlah sawah yang luas di beberapa desa yang berbeda. Setiap sawah yang baru dibeli selalu sempat digarapnya sendiri, sebelum kemudian diserahkan pada seorang penyakap[3]. Hingga suatu kali dia membeli sebidang sawah seluas 45 are yang menjadi sawah garapannya hingga kini. Sawah yang terletak persis berbatasan dengan hutan jati yang merupakan wilayah penyangga Taman Nasional Bali Barat itu, memiliki struktur tanah yang agak miring. Tanahnya lebih tinggi di bagian timur dan semakin rendah di arah barat, sehingga petak-petak sawah harus dibuat kecil memanjang dan bertingkat-tingkat mengikuti struktur tanah yang ada. Belum lagi bongkahan batu berukuran sangat besar teronggok di sana-sini, semakin membuat areal persawahannya tampak unik.
Di sisi timur terdapat saluran irigasi yang mengalir dari dalam hutan yang selama ini menjadi sumber pengairan bagi beberapa kelompok subak[4] di desa tersebut. Sisi sebelah utara ditumbuhi rimbunan pandan berduri yang berbatasan langsung dengan hutan jati yang disekat oleh sebuah jalan tanah selebar kurang lebih dua meter. Di sebelah barat mengalir sebuah kali kecil berbatu dengan sumber air berasal dari dalam hutan yang memiliki banyak mata air jernih dan sejuk sepanjang tahun. Sedangkan di sebelah selatan berbatasan dengan lahan milik petani setempat.
Lahan persawahan ini menjadi kesukaan Kaki Wari. Semenjak dibeli, tidak pernah sekalipun diserahkan pada penyakap dan kebiasaannya membeli sawah berhenti seketika. Di sisi timur, Kaki Wari membiarkan sepetak tanah kering untuk tempatnya mendirikan gubuk sederhana sebagai rumah tinggal selama musim menggarap sawah. Itu berarti nyaris sepanjang tahun dia tinggal, karena sumber air yang melimpah membuatnya bisa bercocok tanam sepanjang tahun. Apapun yang ditanamnya tumbuh dengan subur dan memberi hasil yang memuaskan.
Dalam usinya yang menginjak 75 tahun, tubuhnya masih cukup kuat untuk menggarap lahan tersebut. Anak-anak Kaki Wari sering memintanya untuk pensiun dan beristirahat. Tapi bagi Kaki Wari, sawah dan lumpur adalah bagian yang tidak mungkin dipisahkan dari kehidupannya.
“Ini saatnya Bapa[5] menikmati hasil keringat selama puluhan tahun, kami semua sudah bekerja dan punya penghasilan untuk membiayai hidup keluarga kita. Bahkan hasil pembagian dari penyakap sawah-sawah Bapa sudah lebih dari cukup sebagai uang pensiun Bapa” Demikian kata anak laki-laki tertua Kaki Wari yang bernama Wayan Gede Idep Wirawan berusaha meyakinkan.
“Ini bukan masalah uang, bukan masalah harta, ini masalah arti sebuah kebahagiaan. Dimana Bapa bisa merasa senang di sana Bapa akan menghabiskan sisa hidup Bapa.”
“Tyang[6] mengerti, tapi usia Bapa sudah cukup untuk mengambil waktu istirahat. Kami khawatir dengan kesehatan Bapa.” Idep masih bersikeras meluluhkan hati Ayahnya, dan berusaha menunjukan betapa dia sayang pada laki-laki yang baginya sudah mulai renta itu.
“Yan, kesehatan buat Bapa bukan tentang diam dan istirahat, tapi kebebasan jiwa untuk berbuat. Tubuh Bapa terasa begitu sehat saat menenggelamkan diri dalam sejuknya lumpur dan aromanya yang khas terhirup hingga paru-paru dan memenuhi rongga jantung, sehingga detaknya begitu seimbang dan selaras dengan detak alam semesta.” Kaki Wari tersenyum tenang sementara tangannya mengelus dada.
Idep dan adiknya, Nengah Jineng Sastrawan, hanya bisa diam membisu mendapat ceramah dari Bapa mereka. Tidak ada kata yang bisa melawan keinginan Kaki Wari dalam menjalani kehidupnya sendiri. Percakapan antara anak dan ayah yang belangsung pada malam bulan purnama di rumah mereka yang terletak di tengah desa itu, terhenti sampai disitu.
Rumah yang terhitung paling besar dibandingkan dengan rumah disekitarnya, selalu sepi tanpa penghuni beberapa tahun terakhir ini. Istri Kaki Wari telah meninggal lima belas tahun yang lalu dalam tidurnya yang tenang. Kaki Wari dan istrinya memiliki filosopi sederhana tentang hidup. Jika kehidupan dijalani dengan tulus dan penuh kejujuran, maka kebahagiaan akan selalu menyertainya. Sejak berpulangnya Dadong[7] Wari, Kaki Wari lebih memilih tinggal di gubuknya ketimbang di rumah besar yang baginya seperti ruang hampa yang tidak memberinya keleluasaan untuk sekedar bernafas. Sementara Wayan Idep si anak tertua harus menempati rumah dinas, setelah melenggang ke gedung dewan setelah adanya proses pergantian antar waktu. Seorang anggota dewan dari partainya di recall karena terbukti terlibat kasus pelecehan seksual terhadap seorang perempuan pemandu karaoke. Sementara Jineng lebih memilih tinggal di rumah barunya yang terletak di pusat kota, dengan alasan lebih dekat dengan tempat usahanya, tapi sejatinya itu hanya karena istri mudanya yang mantan mami kafe remang-remang tidak senang tinggal di desa.
* * *
Secara fisik, Kaki Wari tampak semakin tua dalam kesendiriannya. Tapi bukan itu yang mengganggu pikirannya. Pada pagi hari saat embun masih menguasai pucuk-pucuk daun dan rerumputan, saat mentari sedang berusaha menembus rimbunan daun jati, Kaki Wari sering termenung, duduk di balai-balai bambu di depan gubuknya, matanya memandang jauh ke arah hamparan sawah di hadapannya. Dua bulan lalu musim penghujan telah berakhir dan musim kering menjelang. Sepanjang puluhan tahun, tiada pernah ada rasa khawatir dalam benak Kaki Wari akan kekurangan air bagi sawahnya. Tapi belakangan, ada sesuatu yang dirasa berubah.
Kali kecil berbatu di ujung barat tidak lagi mengalirkan air jernihnya, hanya genangan-genangan kecil yang tersisa, bahkan saat musim penghujan airnya akan mengalir dengan warna coklat tanah. Saluran irigasi di atas sana pun airnya mulai surut dan tidak sanggup lagi memenuhi kebutuhan bercocok tanam padi pada musim kemarau seperti sekarang ini, airnya hanya cukup untuk sekedar menopang pertumbuhan kedelai yang disemai bulan lalu.
“Semua memang tidak ada yang sanggup lepas dari perubahan. Pun keluargaku dan mahluk yang bernama manusia dan tanah ini serta alam semesta.” Batin Kaki Wari. Dia menenggak sisa kopi dari dalam cangkir yang terbuat dari bambu. Tangannya mengusap rambut dan wajahnya. Dia seperti sedang merasakan betapa dirinya pun sudah merubah total. Rambut yang beruban dan selalu rontok, kulit wajahnya yang semakin keriput. Kering dirasakan di sekujur kulit yang membalut tubuhnya, warna legam itu menyimpan berbagai kisah kehidupan tanah ini.
Matahari menyinari hamparan sawah, menerpa bulir embun di pucuk-pucuk daun kedelai yang kemudian memendarkan warna perak.
Kaki Wari berjalan menyusuri pematang saluran irigasi, dia melangkah masuk ke dalam hutan. Air bening mengalir sangat kecil di sepanjang saluran itu, sehingga dasar lumpur terlihat jelas. Daun-daun kering terkumpul pada ranting yang melintang, membuat bendungan-bendungan kecil. Rumput-rumput liar tumbuh di sepanjang saluran air tersebut.
Semakin dalam Kaki Wari masuk ke dalam hutan, semakin terang matahari bersinar. Tidak ada rimbunan daun jati yang menghalangi sinarnya menghujam bumi. Bukan pula karena pohon jati sedang musim meranggas, tapi pohon-pohon jati itu seperti menghilang. Mata Kaki Wari menengadah memastikan, matanya tertumbuk matahari yang semakin tinggi, matanya silau, pandangannya menjadi gelap tidak jelas apa yang tampak di hadapannya, dia seperti kehilangan kemampuan penglihatan, dan dia semakin tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, bahkan pohon-pohon jati yang begitu lebat tidak tampak oleh matanya yang semakin berkunang-kunang. Kemudian dia melangkah mengandalkan jejak ingatan masa lalunya tentang hutan ini. Jalan setapak itu, rimbunan semak belukar, rumpun rotan yang saling membelit, batang-batang pohon jati itu, semua masih tersimpan dalam memori masa lalunya, dan kini dia harus mencari jalan pulang karena dunia sudah semakin gelap baginya.
* * *
Sosok laki-laki berkulit legam dengan rambut beruban dan wajah berkeriput itu tampak terbaring di atas ranjang besi bercat hijau muda, dengan selimut berwarna abu-abu pucat. Pada tangannya tertancap jarum yang menjadi saluran bagi cairan infus yang mengalir dari botol berlabel merah yang tergantung pada sebuah tiang stainless di sisi ranjang. Lelaki itu adalah Kaki Wari, dia harus menjalani perawatan intensif setelah dua hari yang lalu, tubuhnya ditemukan oleh seorang pencari madu, tergeletak di dekat saluran irigasi, di antara pangkal batang pohon jati sisa penebangan. Pencari madu itu yang kemudian menggendong tubuh renta Kaki Wari keluar dari dalam hutan dan mengabarkan berita itu pada Wayan Idep.
Kaki Wari merasa sangat bingung ketika siuman dan menyadari tubuhnya tergeletak dalam kamar bersih bercat putih. Tapi dia tidak sanggup melakukan apapun, tubuhnya tidak bisa dia gerakkan, hanya senyum yang selalu sanggup mengembang bagi siapapun yang menjenguknya.
“Kenapa Bapa harus disini, kapan kalian akan membawa Bapa pulang?” tanya Kaki Wari sore itu pada Wayan Idep.
“Bapa tenang saja dulu. dokter akan merawat hingga Bapa cukup sehat untuk pulang.” Idep mencoba menjelaskan.
Kaki Wari hanya menarik nafas dalam-dalam. Ruangan VIP rumah sakit yang cukup luas itu tampak lengang, hanya Idep yang menunggu disana.
“Apa adikmu Jineng akan kemari?”
“Ya nanti dia pasti kemari” Kata Idep setelah diam dengan wajah bingung untuk beberapa saat. Nada suaranya terdengar gelagapan dan penuh keraguan.
“Suruh dia kemari agar kita bisa bicara, kapan lagi kita bisa berkumpul seperti ini?” suara Kaki Wari terdengar lemah dan kurang jelas pengucapannya.
“Tentu saja, saya akan menelpon agar dia segera kemari.” Idep bangkit dari duduknya dan melangkah keluar dari ruang perawatan menuju ruang depan yang menjadi bagian dari ruang perawatan VIP tersebut.
* * *
Hari berganti hari, Kaki Wari masih dirawat di ruangan yang sama. tidak ada perubahan yang mendasar pada kondisinya. Tidak ada gerakan tubuh, dia tampak lemah tanpa daya.
“Mana Jineng, kenapa dia tidak kunjung datang? Apa kau sudah menelponnya? Apa katanya?” pertanyaan itu terus mengalir dari kerongkongan Kaki Wari setiap Idep memasuki ruangan itu tanpa membawa Jineng serta, sehingga Idep tidak punya jawaban lain lagi.
“Bapa sabar, Jineng pasti segera datang.”
Pertanyaan dan jawaban itu selalu silih berganti terdengar, hingga hari ke tujuh, Jineng muncul di ruang perawatan Kaki Wari, wajahnya kusam dan tidak bergairah.
“Kenapa baru datang Jineng, apa kau sakit? Apa anak-anakmu sehat dan keluargamu baik-baik saja? Bapa khawatir terjadi apa-apa pada kalian.”
Jineng tidak sanggup berucap, dia menggeleng dan mengangguk pelan berulang kali, wajahnya tertunduk menghujam ujung kakinya yang kokoh menancap ke lantai, agar sanggup menopang tubuhnya. Tidak ada kata-kata lagi, sunyi diantara mereka yang dibiarkan berdua saja dalam ruanggan itu. Mata tua Kaki Wari bermain sendiri, menyiratkan penantian akan apa yang telah lama diharapkannya. Tapi Jineng tetap membisu, tidak ada sepatah katapun keluar dari mulut Jineng, hingga dua orang berseragam warna abu-abu gelap masuk dan mendekatinya. Seorang dari mereka membisikkan sesuatu di telinga Jineng, kemudian mereka pergi meninggalkan ruang perawatan tersebut. Jineng berjalan diapit oleh dua orang laki-laki berseragam abu-abu.
Mata Kaki Wari tertutup perlahan, bibirnya menyiratkan senyum tenang penuh kedamaian.
* * *
Satu minggu setelah kunjungannya ke ruang perawatan Kaki Wari, Jineng dinyatakan bebas dari tuduhan sebagai pelaku sekaligus penadah aksi penebangan liar hutan jati di kawasan utara, setelah menyerahkan sejumlah uang jaminan sehingga memiliki kesempatan mengikuti prosesi upacara pengabenan ayahnya.
Setelah berpuluh-tahun bergelut dengan ketulusan dan keyakinannya terhadap Ibu Pertiwi, kini Kaki Wari telah mencapai titik tertinggi pengabdiannya, di mana dia telah kembali ke dalam serat-serat inti alam semesta.
Denpasar, Agustus 2008
Pernah Cetak Denpost
[1] Kakek
[2] Pedati
[3] Petani penggarap dengan sistem bagi hasil
[4] Organisasi yang mengatur sistem pengairan/irigasi di Bali
[5] Bapak
[6] Saya
[7] Nenek
Woho! Bukan persoalan mudah menjadi orang jujur, rendah hati, penuh cinta dan selalu berpikiran positif. Aku yakin semua orang akan menganggapku narsis, over pede kalau aku mengatakan aku adalah orang paling positif, jujur dan selalu baik kepada setiap orang, bahkan sudah bermula dari dalam hatiku, bukan sekedar lipstick yang manis di bibir tapi sepahit empedu di dalam hati. Terus terang, hanya kejujuran itu modalku menjalani hidup, termasuk kehidupan percintaan.
May, gadis manis yang begitu sering mengirimkan puisi indah untukku. Puisi-puisi itu telah banyak menginspirasi lagu-lagu dalam album terbaruku. Oh ya, aku seorang penyanyi sekaligus komposer. Aku sering menggarap musik untuk kawan-kawan baikku. Sekali lagi aku bukan sombong, aku hanya mengatakan sejujurnya. Setiap lagu yang musiknya aku kerjakan selalu laris manis dan menduduki deretan top ten di mana-mana bahkan kadang viral di media sosial.
Kembali lagi kepada May. Setiap orang pasti menebak kalau dia lahir bulan Mei. Hem, kalian salah besar. May lahir bulan Juni. Aku tidak tahu, apakah orang-orang yang lahir bulan Juni semuanya seasik dan semenarik May.
Sejak pertemuan pertama kami dalam program televisi, kencan buta bareng artis, aku sudah merasa ada getaran aneh. Dia beda dengan fans lain yang biasanya suka berteriak-teriak, ”Jozi! Jozi!” dan mereka akan mengejar-ngejarku mencari kesempatan mencubit, yang lebih parah lagi kalau ada yang mendaratkan tamparan di wajahku dan berharap aku akan melaporkan mereka ke polisi dan jadi viral di mana-mana.
Sedangkan May selalu terkesan tenang, gak gampangan. Misterius! Dia selalu sanggup menahan gejolak perasaannya tanpa diekspresikan secara berlebih. Senyumnya membuatku megap-megap menahan birahi. Tiga lagu aku ciptakan khusus untuk memuja senyum manis itu.
Baiklah, aku katakan pada kalian bahwa aku sudah menyunting May menjadi kekasih seminggu sebelum peluncuran albumku yang ke-5. Jangan menuduhku memanfaatkan aji mumpung ngetop, lalu seenak hati menggaet setiap fans yang bertampang manis. Oh tidak! Janganlah kalian kejam pada diriku. Bukankah sudah aku katakan bahwa aku orang yang jujur dan baik hati. Dan perlu kutambahkan bahwa aku tipe setia pada satu pasangan. Poligami? Oh, Noway!
Aku sadar bahwa aku bukan tipe laki-laki romantis. Lagu-lagu yang aku ciptakan memang selalu romantis dan membuat semua perempuan terlena, tapi kalian boleh tanya pada May, dia masih hidup, dia boleh bersaksi. Pernahkah aku melakukan sesuatu yang romantis seperti dalam lagu yang aku ciptakan? Dia pasti menjawab “Never!”.
Seperti sahabatku, kau pasti mengatakan bahwa May sudah tertipu, jatuh cinta pada plyboy kacangan. Tapi mereka hanya iri, menuduhku sebagai laki-laki penipu bermulut manis penuh bisa.
“Kau hanya manusia pencemburu, susah melihat orang senang dan senang melihat orang susah.”
“Joz, kami sahabatmu. Tidak ada cemburu. Buka matamu! Lihat keluar! siapa sebenarnya May? Dunia ini berputar Joz, semua tidak kekal, hanya perubahan yang abadi. Juga hati May, dia masih sangat muda dan penuh gejolak. Bagai butir apel ranum yang menggoda siapapun untuk menyentuhnya. Bangun Joz!”
“Hei! Kalian hanya menginginkan Mayku yang ranum. Percintaan kami terlalu indah untuk kalian hancurkan”
“Joz, kenapa cinta membuatmu semakin goblok?”
Apa kau juga memikirkan hal yang sama seperti sahabatku? Aku goblok? Oh, nasibku. Bahkan mereka yang mengaku sahabat meninggalkanku dan mengucilkanku dalam dunia yang luas ini.
Aku katakan padamu; benar bahwa telponku tidak pernah diangkat. Pesanku tidak pernah dibalas. Tapi bukan berarti dia meninggalkanku. Sahabat-sahabatku terlalu pendek akal, munafik. Termasuk gosip serong dan selingkuh untuk menarik keuntungan agar reting acara TV mereka naik. Agar oplah tabloid picisan mereka meningkat. Puih!
Kau tahu, sahabatku bahkan bertindak seolah mereka pisikolog dan peramal masa depan. Memaksakan opini mereka.
“Joz, kau tau aku sahabat baikmu. Aku seorang perempuan, tidak mungkin merebut May. Cinta bukan sekedar syair dalam lagu, perempuan perlu sentuhan nyata dari hati-kehati. Kami perlu dimanja, disayang, bukan cuma disuruh mendengarkan CD. Dan aku ingin mengatakan, kau telah gagal dalam kehidupan nyata. Itu kenapa May mencampakkanmu!”
“Hei, Kau cuma iri pada May! Tidakkah kau ingin membiarkan May bahagia bersamaku? Dia memang perempuan beruntung yang meluluhkan hatiku.”
“Oh Joz, kenapa cinta membuatmu semakin gila?”
Kau bisa bayangkan rasanya saat sahabatmu menuduh kau gila? Betapa perih hati ini ketika mereka menyiramkan cuka pada lukaku.
Aku buka rahasia padamu. Tapi ingat! jangan pernah bercerita pada mereka. Aku tahu semua desas-desus tentang May di belakangku. Untuk sebuah reputasi aku berusaha menutupinya, membohongi semua orang. Skandal yang paling besar adalah aku telah membohongi diriku sendiri.
Oh, ini adalah aib terburuk dalam sejarah karirku. Bayangkan, seorang Jozi telah dikhianati, dicampakkan! Oh, baiklah aku akui di hadapanmu bahwa ini kenyataan. Aku dikhianati. Tapi tolong jangan hukum aku dengan kata dicampakkan, karena itu memuakan sekali.
Begini, setelah banyak rahasia kecil itu. Oh, hei! Apakah itu rahasia kecil? Aku yakin kau menganggap itu rahasia besar karena aku artis. Tapi kau kuanggap sahabatku, kau boleh tahu semuanya.
Baiklah, aku lanjutkan ceritaku. May menelponku malam itu. Suaranya lirih seperti biasa, tapi aku dapat menangkap keraguan, ketakutan dan penyesalan. Aku telah mengenalnya dengan baik sehingga dapat merasakan apa yang dia rasa, bahkan aku dapat membayangkan bibir merahnya yang merekah dan basah bergetar saat berucap. Wajahnya yang merona merah, matanya yang berkaca-kaca. Aku dapat membayangkan betapa cantiknya dia malam itu.
“Hallo May, apa kabarmu? aku sangat merindukanmu.” aku memecah kekeluan yang menyelimuti percakapan kami. Tapi aku hanya mendengar desah pelan. Aku yakin May mulai menangis saat itu, air matanya mulai bergulir di pipinya yang halus. “Katakan sesuatu. Bicaralah! Aku masih mendengarmu.”
“Joz... aku mohon kau memaafkanku.”
“May, kau sudah mengenalku, kapan aku bisa pelit akan maaf. Apapun itu, aku akan menerima dengan lapang dada. Aku pasti memaafkanmu.” ucapanku cukup lama tidak berbalas, hanya terdengar isak kecil dari seberang sana. “May…?”
“Joz, maafkan aku, aku hanya perempuan pengkhianat. Maafkan aku! Tut, tut, tut, tut…”
“May hallo…”
Kau pasti sudah tau, itu artinya percakapan kami terputus sampai disitu saja. Tapi tidak apa-apa, paling tidak itu adalah awal yang baik. Aku yakin selanjutnya akan jauh lebih mudah.
“Jozi, terimakasih engkau telah menganggapku sahabat. Kedatanganku menemuimu sesungguhnya hendak menyampaikan sesuatu.”
“Baiklah, setelah kau mendengar kisah panjangku, kini saatnya aku mendengarkanmu.”
“Aku sangat kagum dengan kejujuranmu dan ketulusanmu. May juga mengagumi dirimu melebihi apapun. May sering bercerita betapa engkau adalah sebuah kesempurnaan. Hanya saja, May merasa dia bukan orang yang tepat untuk mendampingimu. Dia merasa terlalu naïf untuk memahami cara berfikirmu. Dia ingin membiarkanmu bahagia karena engkau memiliki kebahagiaan itu dalam dirimu, bahkan dalam kesendirianmu engkau akan bahagia. Joz, aku menyampaikan titipan May untukmu.”
“Titipan? Oh biarkan aku memelukmu sahabat baikku. Hei! Siapa yang menikah?”
“May.”
“May?”
“Ya, May.”
“Mayku?”
“Benar, May”
“Apa tidak salah? Ini? bukankah ini fotomu? Hei!! Kau!? Kau menikahi Mayku? Oh Kau! Bukankah aku sudah memaafkannya? Kenapa dia meninggalkan aku? Kau! Anggap kita tidak saling kenal. Enyah dari hadapanku dan lupakan aku pernah menganggapmu sahabat. Itu tidak pernah terjadi!”
Denpasar, Oktober 2008
Membaca satu judul cerpen dari seorang penulis memberikan saya gambaran yang kuat akan gagasan dari penulis tersebtu. Namun, akan berbeda sensasinya ketika membaca beberapa judul cerpen yang telah dipilih menjadi satu buku. Selain sensasi aroma kertas dan tinta yang semerbak ketika membuka buku pertama kali, dari sebuah rangkaian cerpen dalam satu buku, saya bisa membaca ruang hidup dan rentang waktu pemikiran serta kegelisahan yang mengganggu jiwa si penulis, hingga tertumpah ke dalam cerpen-cerpen itu.
Cerpen Lelaki Garam karya Made Adnyana Ole, saya baca pertama kali tahun 2017 ketika diterbitkan di koran Kompas, dan ternyata juga menjadi salah satu cerpen yang masuk dalam buku cerpen pilihan Kompas 2017, Kasur Tanah. Setelah membaca, kepala saya berusaha menguliti isi kepala Ole. Apa yang masih tersembunyi di balik cerita itu, selain kisah pertemuan asam pegunungan dan garam laut di sebuah belanga yang kemudian melahirkan Jenawi? Bahkan sampai akhir cerita, Ole dengan kejam tetap meyembunyikan kenyataan itu pada Jenawi, yang begitu merindukan uap garam dari masa kecilnya. Dalam tubuh Jenawi, Ole menitipkan kerinduannya pada masa lalu; keperawanan alam yang tidak terjamah, romantisme yang selalu berusaha dipertahankan, dan gambaran ideal pemudi desa yang bersekolah ke kota kemudian pulang membangun desa. Di sisi lain, Ole menanam kegeraman hatinya dan kobaran asa perlawanan terhadap serangan atas nama kemajuan dan pembangunan, pada sosok lelaki bernama Ripah, yang ternyata juga memendam rindu menggila dalam dirinya.
Kemudian Lelaki Garam kembali saya temukan bersama delapan cerpen lain karya Made Adnyana Ole, dalam buku kumpulan cerpen berjudul Gadis Suci Melukis Tanda Suci Di Tempat Suci. Buku tersebut baru terbeli di pameran buku Festival Bali Jani pada November 2019, walaupun buku itu sudah saya taksir di acara May May Komunitas Mahima pada bulan Mei 2019, namun otak saya agak waras bersepakat dengan lambung dan memilih membeli siobak.
Setelah melahap sembilan cerita bersama menu alakadarnya yang kami punya di meja makan, atau kadang menghabiskan sedikit uang di warung pinggir jalan, saya merasa Ole berhasil membuat saya bahagia secara utuh dari awal; cerita pertama, hingga cerita terakhir. Saya sangat menyarankan untuk jangan sekali-kali melompati satu judulpun, karena nuansa yang didapatkan pasti akan berbeda. Tapi kalau mau-mau sendiri mulai dari cerpen manapun, dan mengakhirinya pada judul yang manapun, itu tetap sah dan meyakinkan bahwa kalian telah menyukseskan program ayo membaca, dan kalian pasti bahagia seperti saya.
Kenapa saya menekankan untuk membaca secara berurutan? Jadi begini. Saat memegang sebuah buku, otak saya membacanya sebagai sebuah keutuhan, setiap judul adalah bab dari sebuah cerita panjang. Benang merahnya adalah gagasan dan kegelisahan penulisnya, yang tentu saja akan bergantung pada sudut pandang personal saya sebagai pembaca.
Ketika membaca cerpen pertama, Terumbu Tulang Istri, saya telah bisa dikecoh dan dibawa masuk dalam suasana depresif dari tokoh lelaki bernama Kayan, yang sialnya namanya sama dengan tokoh dalam cerpen saya. Suasana depresif masih terbawa ketika memasuki kisah kedua, namun Gede Juta mulai memberi harapan, mewakili semangat perlawanan, seorang pahlawan rasanya sudah akan segera muncul, namun ternyata bukan Gede Juta. Dia tidak segagah yang saya kira, seperti Gundala atau Si Buta Dari Gua Hantu.
Sosok pahlawan baru muncul pada cerpen berikutnya, Siat Wengi dan Gadis Suci Melukis Tanda Suci di Tempat Suci. Tapi sungguh, bukan seperti Superman atau Catwoman yang sejak awal sudah jelas adalah pahlawan. Dalam dua cerpen ini, tokoh utama yang begitu menggebu ingin menjadi pahlawan bagi komunitas ataupun bagi nafsu balas dendam, kemudian letoi, dan membiarkan tokoh lain yang menyelesaikan persoalan itu.
Sampai cerpen keempat, saya masih diaduk dan dibawa ke puncak, namun kemudian diredam dan terasa sekali penurunan tensi ketika membaca cerpen Kerapu Macan dan Men Suka. Membaca Kerapu Macan, lebih seperti membaca esai ringan, kemudian ada twist yang tidak terlalu mengejutkan. Walaupun tetap ada kesenjangan sosial yang berusaha dipotret, saya merasa Ole mungkin sedang lelah, kemudian memutuskan makan enak agar dapat inspirasi lagi. Sedangkan cerpen Men Suka, memberi rasa gamang, tidak berdaya dan sudah tidak ada lagi perlawanan, hanya diam. Namun itulah cara satu-satunya mengobati luka dalam yang dihadapi Men Suka, dengan harapan akan mengering dan rasa sakitnya ikut menguap bersama waktu. Tokoh anak Men Suka, yang berusaha menjadi tim pencari fakta untuk mengungkap teka-teki akhirnya menyerah, dan terjadilah rekonsiliasi semu.
Luka-luka yang berusaha diobati dengan kepedihan dan keterasingan, digambarkan akan sangat mungkin kambuh pada hari-hari raya kenegaraan, seperti digambarkan dalam cerpen Darah Pembasuh Luka. Luka kambuhan pada lutut kiri Tantri, sangat halus dimasukan sebagai simbol paham yang selalu dijadikan kambing hitam saat dibutuhkan, guna menebar rasa takut.
Pada nyaris di ujung rangkaian gerbong cerita ini, di sanalah muncul Lelaki Garam yang menyimpan atau sengaja menyembunyikan kisahnya dari generasi keturunanya, yang tidak pernah diketahuinya akan menimbulkan kekacauan dan kerumitan. Ketika selesai membaca cerpen ini, kalian akan mengetahui betapa kerumitan itu akan terjadi oleh kenyataan yang ditutup-tutupi, dimanipulasi dan dikorupsi.
Di penghujung cerita, Ole mengambil peran dan membayar kesalahan Lelaki Garam yang penuh rahasia. Cerpen 4 Dari 100 Lelucon Politik, mengambarkan seorang Ayah yang berusaha membawa cerita dari masa lalu kepada anaknya yang menjadi simbol masa mendatang, sehingga anak-anak kita memiliki bekal untuk memecahkan sedikit kekacauan dan kerumitan kehidupan yang sering kusut tak berujung. Paling tidak, dalam kisah ini seorang Ayah berusaha untuk menjadi berguna di depan anak perempuannya, dengan menjadi sedikit lucu. Saraf di tengkuk saya kembali lentur dan rilek setelah Ole menyudahi ceritanya dan Putik pergi tidur.
Ingin sekali menelisik dan mengulas lebih dalam satu persatu cerpen-cerpen dalam buku ini. Namun kalau dipaksakan sekarang tentu saja tidak akan terlalu lucu lagi. Yang pasti, buku ini sangat layak untuk dinikmati secara utuh sebagai serampai kisah, yang ingin dijaga oleh penulisnya sebagai sebuah pengingat dan penanda, sebuah tanda suci, bahwa hari itu pernah ada. Bahwa kenyataan memang kadang pahit.
Judul: Gadis Suci Melukis Tanda Suci di Tempat Suci Pengarang: Made Adnyana Ole Terbit: 2018 ISBN : 9-786026-106360 Bahasa: Indonesia Penerbit: Mahima Institute Indonesia Jenis Buku: Kumpulan Cerita Pendek
Membaca cerpen-cerpen Made Suarbawa kadang terasa seperti menonton film pendek. Detil, rinci, tapi ketat dan padat. Penilaian saya mungkin saja dipengaruhi oleh pengetahuan utama saya tentang sosok penulisnya yang selama ini memang lebih banyak bergiat di Minikino, sebuah organisasi festival film pendek yang berkedudukan di Denpasar dan memiliki jaringan kerja amat luas di dunia internasional. Tapi, soal rinci dan detil, sepertinya bukanlah penilaian berlebihan.
Sejumlah tokoh dalam cerpen-cerpen ini dilukiskan dengan begitu teliti, sebagaimana seorang juru kamera dalam proses penggarapan film, yang dengan upaya keras mengarahkan moncong kamera ke seluruh tubuh pemain. Bagaimana wujud tokohnya, apa saja aksesorisnya, bagaimana tokoh itu bergerak, dilukiskan dengan penuh perhitungan, bahkan kadang terkesan amat lengkap. Seperti juga dalam sebuah film di mana kamera tak bisa merekam perasaan tokoh-tokohnya hingga ke dalam hati, Made Suarbawa tampak berupaya keras melukiskan perasaan tokoh-tokoh dalam cerpennya —sedih, cemas atau sakit hati— dengan hanya menarasikan gerak tubuh dan mimik sang tokoh. Pada bagain inilah salah satu letak kelebihan cerpen-cerpen Made Suarbawa.
Meski cerpen-cerpennya belum banyak dikenal pembaca karena memang belum banyak disiarkan di media massa atau media sosial, bisa diduga Made Suarbawa punya pengalaman menulis yang panjang. Ini tampak dari kematangannya mengatur strategi bercerita untuk mengaduk-aduk perasaan pembacanya. Strategi penceritaan yang cukup berani dilakukan pada cerpen “Kisah Peniup Seruling”. Cerita yang sesungguhnya sederhana ini diramu dengan dialog tanya-jawab yang terkesan monoton, namun penulisnya cukup lihai menyusun tanya-jawab itu sehingga pembaca menjadi penasaran dan membacanya hingga usai.
Meski sejumlah ceritanya memiliki tema sederhana, bahkan kadang klise, misalnya soal diskriminasi anak perempuan dalam keluarga di Bali, namun Made Suarbawa punya teknik penyelesaian yang tak tertebak. Saat sepasang suami-istri berbahagia atas kelahiran anak pertamanya yang perempuan, dan di sisi lain anak perempuan tak membuat keluarga besar mereka bahagia, Made Suarbawa menyelesaikan cerpen itu dengan amat datar, santai, tapi menimbulkan keharuan dan pesan terselubung yang cukup mendalam.
Akhirnya, selamat membaca.
Singaraja, September 2019
Made Adnyana Ole, editor

Note: Buku Kumpulan Cerpen Politik Kasur, Dengkur dan Kubur diterbitkan oleh Mahima Institute Indonesia - Singaraja (ISBN 978-623-7220-15-2). Bila ingin memiliki buku ini, dapat mengontak penerbit @bukumahima atau penulisnya @madebirus (IG).
Judul: Politik Kasur, Dengkur dan Kubur Pengarang: I Made Suarbawa Terbit: 30 Oktober 2019 ISBN : 978-623-7220-15-2 Bahasa: Indonesia Penerbit: Mahima Institute Indonesia Jenis Buku: Kumpulan Cerita Pendek