Orang tuaku pindah ke rumah kami yang sekarang saat umurku baru tiga tahun jalan, sehingga ingatan yang kupunya hanya potongan-potongan yang acak. Kelebat bayang aku kecil yang jatuh terpeleset di ruang tunggu bidan saat diajak Ibuku memeriksakan kandungan, kemeriahan pergi melasti dan mendapat hadiah gula kapas, jatuh ke dalam sungai saat melintas di jembatan bambu dan yang membuatku ingin menulis tentang rumah adalah ingatan tentang sumur.
Saat baru pindah, kami tidak memiliki sumur. Untuk pemenuhan kebutuhan air bersih konsumsi, kami mengambil air dari sumur milik tetangga. Ibuku memilih beberapa rumah tetangga yang dikunjungi secara bergiliran, dengan kriteria; terdekat, sumur tidak terlalu dalam dan tidak ada anjing galak. Sedangkan untuk mandi dan mencuci, kami memilih sumur yang ada di tengah sawah yang juga menjadi titik temu belasan orang tetangga, terutama saat waktu mandi sore.
Menurut cerita, sumur itu dibangun oleh orang proyek yang mengerjakan salurun irigasi bendungan Palasari yang melintasi desa kami. Saat sudah bersekolah, selain mandi sore di lokasi sumur itu, kami juga membawa masing-masing satu ember air untuk kebutuhan mandi pagi sebelum berangkat ke sekolah. Tentu saja selain Ibuku, karena setelah selesai memasak setiap pagi, dia akan pergi ke sumur untuk mencuci dan mandi.
Pada musim kemarau panjang, seringkali semua sumur di sekitar rumah kami akan kekeringan sehingga kami akan meminta air ke sumur yang ada di Pura Taman, yang juga terletak di tengah persawahan. Menurutku sumur di pura itu ajaib, karena sepengetahuanku sumur itu tidak pernah kering dan ketinggian airnya sangat stabil seberapapun kemarau melanda. Tentu saja kami tidak mandi dan mencuci di sana, hanya mengambil air dan dibawa pulang.
Kira-kira di akhir tahun 80, kami memiliki sumur. Aku yakin Ayahku yang guru sekolah dasar kala itu, menabung cukup rajin untuk kemudian bisa membayar tukang gali sumur. Sumur milik kami termasuk paling dalam dibandingkan dengan sumur-sumur milik tetangga, apalagi dengan sumur yang ada di tengah sawah. Kedalaman sumur kami sebelas depa untuk mendapatkan air yang stabil. Proses penggalian yang memakan waktu dan begitu dalam, kelihatannya membuat Ibuku khawatir sehingga berkaul memotong ayam jago dan membuat cendol daluman kalau penggali sumur mulai menemukan air.
Sebagai anak kecil, aku lebih bahagia karena makan kuah ayam dan minum cendol daluman dibandingkan merayakan fakta bahwa sumur sudah ada airnya. Sumur kami yang begitu dalam, menjadi penyesalan kecil bagi Ayauhku karena memindahkan titik sumur beberapa meter ke arah barat daya dari yang seharusnya.
Menurut Ayah, sebelumnya dia sudah meminta petunjuk pada orang pintar yang memberi titik sumur persis di pohon belimbing, tapi Ayahku sayang pada pohon belimbing itu. Misterius, bagaimana kakek itu tau tentang pohon belimbing itu, padahal dia belum pernah ke rumah kami? Dan menurut para penggali sumur, sumber air di dalam sumur kami asalnya dari arah timur laut, persis arah pohon belimbing itu.
Bertahun-tahun kami bahagia memiliki sumur itu. Bergiliran menimba air untuk mengisi bak mandi dan gentong di dapur adalah rutinitas yang menyenangkan awalnya, tapi kemudian terasa menyebalkan. Setelah itu aku mulai menyadari kekhawatiran Ibuku saat penggalian sumur begitu dalam dan memilih mengambil air di sumur dangkal milik tetangga ketika itu.
Sumpah, bagiku yang waktu itu belum genap sepuluh tahun, menimba air dari kedalaman sebelas depa, sangat menguras tenaga dan emosi. Itu sebabnya, dimusim hujan, aku dan kakakku sering memilih mandi di saluran irigasi yang kami anggap lebih mudah dan menyenangkan, tapi menjadi tidak menyenangkan kalau kepergok Ayah kami karena kami tetap harus mandi lagi dan menimba lagi, karena dianggap mandi tidak bersih dan berenang dengan bebek. Ibuku juga sering mencuci di saluran irigasi, tentu untuk alasan menimba air yang melelahkan.
Pada awal tahun 2000, PAM (Perusahaan Air Minum) mulai memasang pipa di depan rumah kami dan tentu saja Ayahku mendapat tawaran untuk memasang air PAM. Aku senyum-senyum dalam hati mengingat pikiran masa kecilku yang menganggap punya keran itu keren, seperti yang sesekali aku nikmati saat berkunjung ke rumah paman yang tinggal di pinggir jalan raya Denpasar-Gilimanuk.
Ayahku baru memasang air PAM dua tahun kemudian, sebagai hadiah bagi Ibuku yang telah tegar menghadapi proses operasi tumor yang menjangkiti kandungannya. Dengan mengucurnya air dari keran, sangat memudahkan aktivitas Ibuku pada tahun-tahun pertama paska operasi yang tentu tidak sanggup jika harus menimba air dari sumur, sementara kami anak-anaknya yang sudah keluar dari rumah untuk sekolah dan bekerja tidak bisa membantunya.
Sudah dua minggu aku tinggal di rumah ini lagi, untuk memenuhi anjuran pemerintah mengisolasi diri karena kasus virus covid-19 yang mewabah di penjuru dunia, termasuk Indonesia. Dua minggu, waktu tinggal terpanjang semenjak lepas sekolah dan mulai bekerja, waktu yang panjang untuk membuat otak terbengong-bengong dan mulai mengulik apa-apa yang selama ini tidak pernah terpikirkan, detail yang tidak penting mulai terasa penting, seperti halnya sumur dan air PAM.
Sejak sumur-sumur digali di setiap rumah, sumur ditengah sawah tidak lagi digunakan walau tetap setia menampung air. Sejak air disalurkan melalui pipa-pipa kemudian begitu mudah mengucur dari keran, sumur di rumah-rumah mulai dilupakan walau tetap setia dengan misteri dikedalamannya. Sejak air tinggal klecek di keran, rasanya mewah penuh kemanjaan. Tidak ada lagi air yang diangkut dengan ember, tidak ada lagi ember yang dikerek kepermukaan dari kegelapan perut bumi.
Setelah merasakan kemewahan dan kemanjaan, rasanya mulai muncul sikap kurang ajar. Makian ketika air keran mati beberapa jam, atau ketika mati beberapa hari maka sumpah serapah akan ditujuakan pada perusahana-perusahaan yang mengelola pipa-pipa itu.
Saya merasa mewah, merasa dimanjakan dan juga mulai kurang ajar, tanpa pernah peduli atau sekedar bertanya siapakah yang merawat sumber-sumber air yang diangkut dengan pipa-pipa itu ke rumah dan mengucur tiap saat ketika keran dibuka? Saya jadi ingat ungkapan seorang petani ketika pipa-pipa dipasang dari mata air di hulu sungai desa kami menuju rumah-rumah penduduk, “Gendok bek, pulu puyung”. Gentong air penuh, gentong beras kosong.
Dumuat di tatkala dot co (28/3/2020)
“Yes, I believe that happiness can be achieved through training the mind” kata Dalai Lama dalam buku The Art of happiness: a hand book for living.
Dari kalimat itu saya merenungkan sebuah kejadian yang baru saja saya alami. Betapa jengkelnya perasaan saya saat sesuatu yang saya inginkan sedang dalam titik menuju pencapaian dan tiba-tiba semuanya runtuh. Saya mengibaratkan hidup saya seperti sedang membangun sebuah istana pasir yang tetiba runtuh diterjang ombak. Semuanya hanya mampir sesaat dan pergi begitu saja seakan tidak ada kesempatan untuk menikmatinya barang sekejap.
Bisa dibayangkan saat pundi-pundi tabungan baru saja menggelembung, sebuah musibah muncul dan menerjang. Bantuan harus segera diturunkan, perahu penyelamat, team SAR harus dipanggil, tenda darurat dan makanan harus dikirim, (ini bukan tsunami Aceh, ini hanya soal gangguan kesehatan) dan pundi-pundi itu mengempis kembali.
“Kapan sih ada kesempatan bersenang-senang, menikmati sedikit kebahagiaan?” hati saya sempat marah besar.
Tapi kemudian saya merasa semua berjalan dengan lancer, kesehatan membaik, segala keperluan RS tercukupi dan musibah itu berlalu dengan membawa semua isi pundi saya. Teringatlah saya pada sebuah film (saya belum ingat judulnya), ketika seorang istri sangat marah, dia memutuskan pergi membawa anak-anaknya meninggalkan suaminya sedirian. Saat berhenti untuk makan di sebuah restoran, dia bertemua dengan seorang laki-laki tua berkulit hitam yang mengajaknya bercakap-cakap.
Intinya begini:
“Jangan pernah berpikir bahwa tuhan akan memberikan semua yang kita minta, tapi Tuhan akan memberikan semua kesempatan untuk mendapatkannya. Jika kita meminta kebahagiaan maka tuhan akan memberikan kita kesempatan untuk merasakan kebahagiaan. Jika kita meminta kerukunan dalam rumah tangga, maka tuhan akan memberikan kesempatan bagi kita untuk membinanya.” Nah, bisa ditebak ending filmnya pasti happy.
Untuk kasus saya Tuhan telah memberikan kesempatan bagi saya untuk mengisi pundi-pundi itu, sebelum kemudian diberikan kenyataan bahwa kesehatan saya bermasalah. Dan Tuhan memberikan kesempatan pada diri saya untuk merasakan bahwa apa yang saya kerjakan dan hasilkan, sangat berguna dalam hidup ini. kalau seandainya saya diberi kesempatan makan bebek goreng di restoran, mungkin tidak akan sempat saya merenungkan bebek itu, karena sekali bersendawa, rasanya sudah lenyap.
Sepertinya kebahagiaan itu hanya bisa di peroleh dari pikiran kita sendiri, saya harus melatihnya. Kalau hanya tentang penuh tidaknya pundi yang saya miliki, mungkin hanya bahagia saat dia penuh. Kalau kosong? Melarat lagi lahir batin. Lalu, seperti yang di ungkapkan Dalai Lama, pikiran bisa dilatih untuk mencapai kebahagiaan yang sebenarnya, dan berlaku setiap saat dan dalam kondisi apapun.
Beberapa orang pernah berkata pada saya bahwa, seandainya kamu melihat kehidupan ini dari sisi jeleknya saja, bisa dijamin kepalamu akan selalu pusing mencapai lebih dari sekedar tujuh keliling. Tidak punya uang takut jadi gembel. Punya uang banyak takut kerampokan. Punya istri cantik takut diselingkuhi orang.
Ada ungkapan orang bali yang selalu “Aget” (untung). Apapun kejadian yang menimpanya. “Aget ye idup” (untung dia masih hidup) ungkapan itu sering saya dengar saat seseorang mengalami kecelakaan, padahal orang itu patah tulang pada kedua kaki dan tangannya. Atau jika korban meninggal karena kecelakaan yang parah. “Aget ye mati, padaan idup kegele-gele.” (untung dia mati, dari pada hidup sekarat/menderita). Saya menganggap ungkapan itu merupakan gaya berpikir positif yang membantu mengurangi rasa kecewa. Karena kecewa membuat kita terpuruk dan merasa semuanya sia-sia tiada guna.
Kemudian saya melatih diri saya untuk selalu berpiki pisitif, dengan harapan saya bisa menikmati hidup betapapun susahnya. Kalau sedang mengalami perasaan tidak nyaman saya akan berteriak “HIDUP INI INDAH”. Tapi ternyata susah, saya masih mengusahakannya.
"Apakah kebahagiaan tentang kedudukan dan harta semata?"
"Seperti kita mengenakan pakaian; karena merek atau kenyamanan?"
Saya pernah iri pada orang yang berprofesi sebagai dokter. Mereka di hormati, duit mengalir. Sepetinya mereka semua selalu bahagia. Tapi suatu kali saya melihat seseorang berdebat denga seorang penerima tamu klinik; intinya orang itu adalah seorang staff dealer/finance yang mencari seorang dokter yang namanya tertempel di pintu untuk urusan kredit mobil yang macet; nomor Hp tidak aktif, alamat rumah sesuai Ktp sudah kosong. Entahlah, apakah mereka bahagia? Tapi saya tetap bangga pada orang yang beersedia mengabdikan diri sebagai seorang pelayan kesehatan, apa lagi yang bersedia di tempatkan di daerah-daerah.
Satu orang lagi, dia adalah pengusaha yang mengembangkan sebuah usaha keluarga yang kini merambah keseluruh Indonesia. Kaya, banyak rumah, banyak mobil, istri cantik. Saya begitu iri dan ingin seperi dia, karena selain kaya dia juga dermawan, menyumbang sana-sini dalam jumlah besar. Apakah dia Bahagia? Saya sering melihat dia uring-uringan jika ada orang yang berusaha merebut pasar bisnisnya, selalu bertampang masam jika karyawannya bicara mengenai tunjangan kesehatan dan kesejahtraan.
Lalu di mana kebahagiaan itu?
Saya mulai percaya kebahagiaan itu ada dalam pikiran kita. Materi adalah pelengkap yang juga tidak boleh dikesampingkan. Seperti membedakan mansturbasi dan bercinta dengan pasangan, semuanya bisa mencapai orgasme. Atau makan bebek goreng di warung tenda dengan makan di restoran. Kenyangnya sama, hanya sensasinya yang beda.
Baiklah, di mana kebahagiaan itu bertahta dalam diri anda? Bolehlah berbagi dengan kita semua?
Bulan November 2019 saat belum ada November rain di Denpasar. Waktu itu tanggal 6, saya bersama keluarga menyaksikan pementasa BET (Bali Eksperimental Teater) untuk pertama kali dalam hidup saya, kendati masa kecil saya bertetangga dengan mereka. Kesan pertama yang saya bisa katakan dalam dua kata pada pandangan pertama menyaksikan BET adalah, “Mereka ngawur!”
Sebelum pementasan dimulai, saya sempat bertegur sapa dengan penulis dan sutradara pementasan yang berjudul Pan Balang Tamak Reborn ini, Nanoq Da Kansas. Wajahnya kelihatan tegang, entah karena gugup, menjaga wibawa atau sedang akting grogi. Dia berlalu-lalang di antara remaja putri yang sedang berias, memperhatikan salah seorang pemain yang sedang mengenakan pakaian penari, melihat sepintas putranya; Elang, yang sedang dibantu mengenakan pakaian yang terbuat dari karton. Tidak lupa mereka berfoto bersama.
BET dalam Festival Bali Jani yang berlangsung di Taman Werdhi Budaya – Denpasar, mendapat kapling panggung di depan Gedung Kriya. Kengawuran itu mulai terasa ketika waktu pementasan sudah tiba. Seorang pembawa acara mengarahkan penonton untuk naik ke atas panggung, panggung yang disiapkan oleh panitia dengan karpet merah itu. Suara merdu pembawa acara yang menggema dari empat titik pengeras suara, mengatakan bahwa BET akan menggunakan areal halaman di pinggir sungai, sebagai ruang pentas mereka.
Setelah saya dan penonton lain duduk di panggung, belasan muda-mudi berlarian ke penjuru halaman rumput di pinggir sungai, mengambil bungkusan tas kresek dan mengeluarkan isinya, daun-daunan. Mereka menebar daun-daun itu di halaman beton di depan panggung, menyiapkan seting pementasan. Di bagian ini saya agak kesal, karena melihat bahwa mereka sama-sekali tidak siap dengan pementasan, bahkan ketika pembawa acara telah mengumumkan bahwa pementasan telah mulai. Ya, terasa ngawur!
Belasan muda-mudi itu kemudian duduk, mereka hanya mengenakan kamben dan kaos bebas berwarna gelap, persis seperti muda-mudi banjar yang sedang ikut sangkep di balai banjar. Saat tokoh klian banjar memasuki kalangan itu, saya mulai menyadari, pementasan memang benar-benar telah dimulai. Apa yang mereka lakukan sejak awal adalah bagian dari skenario pementasan.
Tapi ada satu skenario yang diubah karena kendala teknis. Saya bocorkan di sini. Sampai tanggal 3 November, sang sutradara masih memiliki ide menggunakan layar lebar untuk menayangkan beberapa potongan video yang viral di jagat televisi dan maya negeri ini, sebagai pembuka. Untunglah ide itu gagal. Karena tanpa layar itu, latar pementasan terasa organik. Lampu-lampu dari pedangang yang mangkal dan gedung di seberang sungai seakan lampu kota di kejauhan. Artistik.

Pan Balang Tamak Reborn, kisah warga kerajaan BET yang dianggap licik penuh intrik dalam menghadapi segala situasi. Dalam pementasan BET, dikisahkan bagaimana Pan Balang Tamak berkelit mencari pembenaran untuk membela diri saat terlambat menghadiri kerja bakti. Di tampilkan pula, bagaimana Pan Balang Tamak menciptakan trik kemenangan menghadapi persaingan pentas busana anak-anak. Hingga akhirnya dia berhasil mengecoh raja dengan memanipulasi kematiannya sendiri.
Batang tubuh cerita masa kecil saya tentang Pan Balang Tamak ditikam dan dikoyak dengan nuansa teror; yang pernah terjadi, sedang terjadi, bahkan mungkin masih akan terjadi di negara kita tercinta ini. Teror ini bukan hanya terjadi di Negara – Bali, di mana asal BET. Tapi juga terjadi di Negara Indonesia, bahkan juga di negara api dan negara air, udara, tanah dan seandainya ada juga yang lain-lainnya.
Kembali lagi ke bagian awal yang ngawur, di mana panggung berkarpet merah diserahkan kepada penonton. Sementara itu, Pan Balang Tamak Reborn dipentaskan lesehan di halaman rumput dan beton. Saya merasa BET sedang menyuguhkan keripik renyah dengan tingkat pedas di atas level 10. Pan Balang Tamak yang menjadi representasi rakyat jelata, melata dengan nasib kehidupan mereka hanya menjadi sebuah tontonan bagi mereka yang ada di panggung berkarpet merah itu. Ya memang, ini hanya sebuah tontonan.
Kejelataan kembali ditampilkan dalam koreografi sederhana. Saya kira tidaklah dibutuhkan sutradara hebat, karena anak TK sering mementaskannya di acara perpisahan mereka. Tari menanam jagung, di mana remaja lelaki bergaya bapak tani yang mengayunkan cangkul dan remaja perempuan menggoyangkan pinggul berlaga jadi ibu tani yang menanam benih jagung. Namun tentu ini permainan orang dewasa, karena menanam jagung versi BET kini bukan lagi di kebun kita, tapi di beton kita; seperti itu yang saya dengar dari nyanyian Anak Badai yang menjadi pengiring pementasan. Sekali lagi ya, ini hanya sebuah tontonan.
Mungkin karena perubakan lingkungan, sosial kemasyarakatan dan hawa politik, warga masyarakat di desa Pan Balang Tamak tidak bisa mengapresiasi muda-mudi yang menyuguhkan kreatifitas. Bukannya saling mendukung, mereka malah saling ejek dan saling menjatuhkan antar mereka. Namun ketika anak Pan Balang Tamak muncul menyanyikan lagu Bongkar karya Iwan Fals, menawarkan raskin, bansos, subsidi, dan sebagainya; masyarakat menjadi beringas. Berlomba-lomba saling sikut mencari koneksi, mengajukan proposal agar mendapat komisi.
Tingkah yang lebih modern dalam masyarakat negara yang dipanggungkan BET, tampak saat kabar kematian Pan Balang Tamak mulai tersiar. Informasi menyebar dari gadget ke gadget, menghasilkan sinyal yang grengsut menghabiskan lebar frekwensi. Semua berbicara, semua memberitakan; “Pan Balang Tamak mati!”
Kok rasanya tidak ada yang berusaha mengklarifikasi dan mengkonfirmasi kesahihan beritanya. Hingga pengawal raja datang membawa berita, “Pan Balang tamak masih hidup!”
Lagi-lagi tidak ada konfirmasi sumber berita, bahkan oleh seorang raja sekalipun. Malah sang raja langsung main percaya saja dan segera mengambil keputusan. Matilah sang raja karena keputusannya sendiri, dan hoax membuatnya tamat.
Pementasan usai, penonton yang duduk di atas karpet mereh itupun senang dan bertepuk tangan, karena mendapatkan apa yang mereka harapkan. Pan Balang Tamak menang dalam kematiannya.

Pementasan BET (Bali Eksperimental Teater) dengan lakon Pan Balang Tamak Reborn, membuka mata saya bahwa panggung tidak melulu literal. Tempat yang disediakan, tetap dan kaku. Dengan membalik keadaan, bertukar tempat dengan penonton, saya merasa BET berhasil menempatkan Balang Tamak sebagai kita, rakyat jelata.
Saya duga, ini adalah kebiasaan BET yang jarang menggunakan panggung mewah. Hal ini terkonfirmasi dari pernyataan Nanoq Da Kansas dalam sebuah artikel yang ditulis Ketut Syahruwardi Abbas dalam blognya.
”Kami telah melakukannya di Negara (Jembrana) sejak tahun 90-an. Sejak saya dan kawan-kawan di Negara masih aktif di Teater Kene dan berlanjut dengan BET. Hal ini bahkan sempat kami lakukan secara berkesinambungan dalam kurun waktu 5 atau 6 tahunan (1993-1998),”
”Kami memanfaatkan teras atau halaman rumah, ditonton oleh kawan-kawan sendiri dan warga sekitar rumah. Bahkan di lingkungan tempat kontrakan saya dulu, di Banjar Satria, Negara, para ibu-ibu rumah tangga saat itu menjadi terbiasa membujuk anak-anak mereka untuk segera mandi dengan iming-iming mengizinkan anak-anak itu menonton pementasan kami pada malam harinya,”
__Karena Panggung Memakai ”Style Bali” (2012)
Saya rasa BET itu gila, dengan cara ngawur berhasil membuat kami bahagia, dan membuat anak saya yang berumur 8 tahun bertanya, "Kapan lagi ada acara yang seperti ini?" Kami sekeluarga menunggu pementasan selanjutnya.
Sumber kutipan: Karena Panggung Memakai ”Style Bali” | ketutwardi.wordpress.com
Kemarin lusa, saya diminta untuk datang ke rumah kontrakan teman saya yang membuka usaha pencucian pakaian, dengan nama Kadek’s Laundry. Kadek mengalami masalah dengan daya listrik, saat harus mengoperasikan dua buah setrika dan dua mesin cuci. “Listriknya jeglag-jegleg. Yang punya rumah bilang ini sembilan ratus watt.” Kadek menjelaskan ketika saya tiba di rumahnya.
Agar kelihatan meyakinkan dimata Kadek, saya melihat lebih seksama panel listriknya, kemudian sebagai teman saya memberi dua opsi. Yang pertama Kadek harus melakukan penghematan dengan satu setrika saja dan satu mesin cuci saja. Kedua, Kadek harus mengajukan permohonan penambahan daya ke perusahaan listrik.
“Ya saya hitung-hitung dulu, mana yang lebih menguntungkan.”
Sambil menikmati teh botol yang disuguhkan, saya mendapat penjelasan bahwa potensi bisnis laundry sedang naik daun. Semua orang membutuhkan jasa cuci-mencuci. Semua ingin praktis dan cepat. Mesin cuci ternyata belum menjadi solusi yang sempurna, karena sebagian orang menginginkan yang lebih mudah. Tinggal klik, pakaian kotor sudah tersetrika rapi.
“Tahu tidak, bisnis apa yang akan laku keras dalam tahun-tahun kedepan ini?” Kadek memberi teka-teki, dan saya pura-pura berpikir keras dengan mengetuk-ngetuk pelipis menggunakan jari telunjuk.
Suara mesin cuci berhenti menderu kemudian Kadek mengeluarkan pakaian-pakaian yang sudah setengah kering, membawanya dengan ember besar berwarna biru dan menggantungnya satu persatu di jemuran. Saya memindahkan diri ke depan tv yang menyala, dan saya sudah berhenti berpikir ketika Kadek masuk dan menanyakan kembali teka-tekinya. Saya hanya menggelengkan kepala.
“Begini bro,” kata Kadek setelah duduk di sebelah saya. “Sekarang orang selalu berpikir praktis dan tidak mau susah. Bayangkan betapa debu dan asap yang beterbangan diluarsana. Ketika otak manusia juga terkontaminasi oleh polusi-polusi jaman edan. Saat mereka bertengger di titik puncak kemanjaan duniawi. Kemudian ketika sebuah badai datang dalam kehidupan mereka, maka saya yakin otak mereka nyaris pada posisi 100% kotor, terkontaminasi, stress. Dan saat itulah saya perlu memasang poster ‘terima cuci otak’.” Kadek tertawa keras sekali saat mengakhiri kelakarnya.
Cuci otak saya pikir sangat ekstrim dan terdengar radikal. Tapi setelah saya renungkan, setiap orang telah mengalami kekeruhan dalam otaknya akibat stres harian, yang seakan menjadi brand image manusia modern. Orang sibuk pasti stres, banyak uang banyak stres, banyak pikiran jadi stres, agar dikira sukses orang-orang mengatakan dirinya stres.
Saya yakin bahwa Kadek akan sudah sangat terlambat memasang poster terima cuci otak, jika menunggu beberapa tahun lagi. Banyak orang saat ini sudah bersedia membayar mahal untuk sebuah terapi yang menenangkan jiwa, seminar yang membangkitkan gairah hidup, ceramah pembersih jiwa, buku petunjuk menjadi bahagia, video kotbah, hingga siaran tv pencerahan jiwa.
Membersihkan baju dan pikiran sama-sama capek, makanya jangan sampai kena saus sambal.
Pada masa jaya Elias Pical dan Icuk Sugiarto, kami dan para tetangga berbondong-bondong menonton tv dirumah tetangga kami, Dewa Aji Komang. Dia satu-satunya penduduk terdekat yang memiliki tv, yang waktu itu dicatu dengan tenaga aki dan warnanya baru dua, hitam dan putih. Semua orang bersuka-cita mendukung pahlawan-pahlawan olah raga yang mengharumkan nama Indonesia. Mengagumi penyanyi dan artis-artis televisi, semuanya tampak begitu cantik, sempurna dan indah.
Kotak ajaib bernama tv itu baru merambah rumah kami sehari setelah pemilu tahun 1992. Yakinlah bahwa ini bukan hasil sumbangan caleg. Warna gambarnya masih dua, hitam dan putih, karena harga tv berwarna tentu saja tidak terjangkau oleh kantong ayah kami yang seorang Guru biasa. Tapi bukan warnanya yang kami persoalkan, tapi rasa bangga yang kami nikmati ketika bisa duduk di depan tv, dalam rumah kami sendiri.
Setiap perubahan berpangkal dari buah pikiran manusia. Tidak ada pilihan ya atau tidak untuk perubahan, karena ia mengalir. Ketika hitam putih menjadi berwarna, tabung cembung menjadi datar, tabung CRT menjadi LCD, analog menjadi digital, semua ada harga yang harus dibayar oleh manusia.
Berangsur hari berangsur tahun, tv hitam putih kami rusak. Dua kali masuk bengkel sebelum akhirnya harus pensiun untuk teronggok di sudut halaman. Dalam kurun enam tahun, ia tergantikan oleh dua generasi baru tv berwarna lengkap. Demikian pula dengan para tetangga, nyaris setiap rumah sudah menikmati tv sebagai hiburan utama kala melepas kepenatan.
Setiap orang telah disentuh oleh kemewahan kecil bernama tv yang semakin penuh warna, dengan pilihan stasiun dan program acara kesenangan masing-masing, tinggal pencet remote. Ketika tv mengisi setiap ruang tamu, ruang keluarga, kamar tidur, dapur, bahkan tidak ada celah dalam rumah yang tidak dilengkapi dengan tv, suasana menonton jadi berbeda dalam kamar-kamar itu. Tidak ada lagi lampu senter yang berkedip di kegelapan malam menelusuri jalan setapak, untuk menyaksikan perhelatan tinju, bulutangkis, drama gong atau sepak bola. Tidak ada lagi kemeriahan seperti dulu.
Kehidupan sepertinya bergerak terbalik. Ketika tv hanya memiliki dua warna, hitam dan putih, ia memiliki penonton yang begitu banyak dan meriah. Namun ketika warna tv hadir lengkap dan tampak semakin indah, suasana menjadi sunyi tanpa gairah. TV sepertinya hanya sebuah pelarian untuk membunuh sepi, menemani kesendirian, menghilangkan kejenuhan, karena tidak ada teman bicara.
Saat ini bukan soal mahal harga tv atau banyaknya kanal, namun harga dari imbas perubahan itu yang menjadi soal, saat manusia merindukan suasana menonton, bukan tontonannya. Ketika kami duduk berdesakan di depan tv hitam putih ukuran empat belas inci di rumah tetangga, kami tidak membayar harga apapun selain ucapan terima kasih.
Suasana menonton kini sudah menjadi komoditi pasar hiburan di café, restaurant, club menonton, yang menyediakan tayangan layar lebar. Penonton yang datang adalah orang-orang yang bersedia membayar harganya. Namun di antara mereka selalu ada jarak, dibatasi oleh uang dan ego yang membawa mereka kembali ke dalam diri mereka sendiri yang kesepian.
Selalu ada harga yang harus dibayar ketika kita menginginkannya, bahkan ketika kita menolaknya.
Kalian pasti mengenal kalimat ini:
“Usahakan yang terbaik hari ini, untuk hari esok yang lebih baik.” atau “Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin” atau, “Hari esok harus lebih baik dari hari ini.” Kalimat-kalimat tersebut mengisyaratkan bahwa hendaknya hidup kita semakin baik dari hari ke hari. Tapi ternyata saya menerapkan kalimat tersebut dengan sedikit terpelesat. Karena saya selalu mencari pembenaran bahwa; apapun yang terjadi hari ini, mari perbaiki esok saja.
Pada kenyataan sehari-hari, saya sering membiarkan diri saya hidup pada hari esok, bahkan dalam hal-hal yang sangat kecil dan sesungguhnya tidak membutuhkan pemikiran yang canggih, atau resiko menghabiskan tenaga besar, karena persoalannya hanya berurusan dengan kamar kecil–toilet–wc–kamar mandi. Dalam situasi ini, kenapa persoalannya kemudian menjadi ruwet, rumit dan melilit hidup saya? Adalah karena persoalan kamar kecil, yang direcoki oleh bisikan setan kecil, yang merayu dan sedikit memaksa saya, untuk membiarkan semua persoalan itu berlarut-larut.
Persoalan pertama adalah, keran di kamar mandi sudah bocor nyaris sejak empat bulan yang lalu. Yang kedua, jika mandi di atas jam tujuh malam suasananya sangat gelap, bukan karena pemadaman listrik bergilir yang beberapa bulan kemarin melanda. Tapi karena lampu kamar mandi mati sejak lebih dari dua bulan yang lalu. Pertanyaannya, kenapa masih menyisahakn masalah hingga hari ini? Padahal saya punya pengalaman sebagai profesional dalam urusan dengan air, pipa, keran, kabel, lampu dan listrik. Saya bukan orang yang tidak tahu bagaimana cara memasang seal tape agar keran tidak bocor. Atau gagap ketika berhadapan dengan setrum listrik.
Setan kecil telah menguasai kehidupan saya, sementara malaikat kecil megap-megap tenggelam dalam banjir kenyamanan yang dihembuskan setan kecil. Dengan kedipan mata bersekongkol, setan kecil selalu berkata, “Sudahlah, biarkan saja lampu itu, toh kamu tidak selalu mandi malam hari. Apa lagi kamu tidak punya tangga untuk naik. Pakai kursi kan tidak cukup. Besok saja lah, hari ini ada pekerjaan yang lebih penting yang harus diselesaikan. Kalau bisa besok kenapa harus hari ini? Kalau bisa ditunda kenapa harus buru-buru?”.
Kalau sudah begitu, malaikat kecil tersungut dan menggerutu, “Ya besok saja, hu’uh. Kalian seperti kenek angkot yang memasang stiker ‘hari ini bayar besok gratis’. Besok, besok, besok, terus saja besok. Sudah berapa kali besok, tapi tetap saja besok. Kalau semua mau dikerjakan besok terus hari ini apa? Jangan mencoba menjadi regu tembak, tar sok tar sok”. Setelah menyelesaikan kalimatnya, malaikat kecil biasanya kabur dengan membanting pintu.
Kenapa hidup saya terombang-ambing dalam perseteruan dua mahluk kecil itu? Kenapa saya tidak bisa memutuskan apapun? Dimana seharusnya saya meletakan esok dalam hidup saya? Ketegasan itu sama sekali tidak ada. Bahkan untuk hal kecil.
Ahirnya tekanan koalisi yang digalang malaikat kecil datang. Ibu, ponakan, sepupu, dan keluarga dari kampong, akan datang dan tinggal ditempat saya pada akhir pekan depan. Ini yang menghasilkan desakan kuat agar saya segera membereskan persoalan kecil itu. Semua akhirnya beres karena desakan, terdesak, mendesak dan didesak. Apakah saya harus terus menunggu diri saya terdesak oleh pengaruh dari luar, baru kemudian saya menjadi manusia yang hidup hari ini? Kenapa tidak melakukan yang terbaik hari ini untuk hari esok yang lebih baik?
Dan selalu ada kambing hitam pada setiap persoalan. Bahkan soal kecil.