Singaraja, kota dengan sederat tempat dan bangunan bersejarah. Jika memang ingin jalan-jalan berkeliling, rasanya sepeda menjadi sarana yang paling tepat. Kalau memaksakan dengan jalan kaki, jangkauannya akan terlalu pendek. Misalnya dari Tugu Singa Ambara Raja menuju Pelabuhan Buleleng, mungkin sudah nyerah ketika sampai di Jalan Pramuka.

Hal menarik dilakukan para penghobi sepeda di Buleleng pada Sabtu, 6 Agustus 2022. Mereka melaksanakan acara Kopdar (Kopi darat) Bike, dengan mengusung tema Selusur Heritage Kota, yang dikaitkan dengan Bulan Kemerdekaan RI ke-77.

Rute yang dipilih adalah jalan di tengah Kota Singaraja dan melintasi bangunan-bangunan tua dan bernilai sejarah. Start dimulai dari Danke Cafe di Jalan Udayana - Jalan Ngurah Rai - Jalan Pramuka - Jalan Diponogoro - Jalan Erlangga - Pelabuan Tua Buleleng - Jalan Imam Bonjol - Jalan Gajah - Jalan Veteran - Jalan Ngurah Rai dan kembali ke Jalan Udayana.

Jalan-jalan protokol di tengah Kota Singaraja, merupakan jalan yang telah berumur tua, yang merupakan jalan peninggalan Belanda. Menyusuri jalanan tersebut, untuk mengenal kembali tata kota Singaraja yang telah dibuat sejak masuknya Belanda ke Buleleng. Di sepanjang jalan ini banyak ditemukan bangunan tua yang masih kokoh dan masih tetap difungsikan.

Melintasi jalan Pramuka, di sana terdapat bangunan utama SMA Negeri 1 Singaraja, yang merupakan karya arsitektur jaman Belanda. Selanjutnya menuju Pelabuhan Tua Buleleng, di mana terdapat bangunan Museum Soenda Ketjil. Di jalan Imam Bonjol, peserta melintas di depan Masjid Agung Jami’ Singaraja. Melintasi sepanjang jalan Gajah Mada, bisa menyaksikan banyak bangunan-bangunan tua, seperti di sekitar SMP Negeri 1 Singaraja dan Gardu Listrik Kolonial yang telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya.

Mengayuh ke arah selatan yang perlahan menanjak, di jalan Veteran peserta melintasi Perpustakaan Lontar Gedong Kirtya, dan juga dapat menemukan SD Negeri 1 Paket Agung yang merupakan Sekolah Rakyat pertama di Buleleng. Sekolah ini adalah tempat mengajar Raden Soekemi, ayah dari Proklamator Indonesia, Ir. Soekarno. Kemudian memutar kembali ke arah utara, setelah melewati Tugu Singa Ambara, di jalan Ngurah Rai terdapat Rumah Soenda Kecil dan Kamar Bola.

“Rutenya lumayan melelahkan, terutama ketika kita melintasi jalan Gajah Mada, saya kira itu jalan yang lurus dan datar, ternyata menajak halus, cukup bikin ngos-ngosan gowes pedal,” Kata Hary Sujayanta, peserta Kopdar Bike yang penuh semangat.

“Ternyata banyak yang belum saya ketahui tentang Kota Singaraja. Dari acara ini ada pengetahuan baru yang saya dapat. Paling menarik itu ya, bangunan Kamar Bola yang katanya dulu Ballroom yang menjadi tempat dansa orang Belanda. Saya kira hanya sekedar bangunan tua milik TNI,” ujarn Kadek Yudha Prasertya, salah satu pesepeda yang ikut dalam Kopdar Bike kali ini.

Koordintor acara Kopdar Bike 2, Bagus Jayantha, menyampaikan bahwa acara Kopdar Bike ini dirancang bukan sekedar kumpul pesepeda lalu gowes bareng saja, tetapi juga berusaha untuk selalu memberikan informasi tentang Singaraja.

“Kali ini rutenya sengaja dipilih yang punya history kuat. Apalagi sekarang kan bulan Agustus, Bulan Kemerdekaan. Cara inilah yang kami gunakan untuk merayakannya,” ungkap Bagus Jayantha yang merupakan owner Danke Café, yang ditemui di sela-sela acara.

“Kita tidak bicara biar sehat, itu cuma bonus. Tapi yang lebih penting, orang semakin ramai yang mengunakan sepeda bukan cuma untuk olah raga, tapi juga untuk aktifitas keseharian” imbuh Bagus.

Kopdar Bike yang rencananya menjadi event bulanan ini, diinisiasi oleh tiga tempat nongkrong di Buleleng, yaitu Kedai Kopi Dekakiang, Danke Cafe dan Angkringan Mula Keto.

Pada bulan pertama Kopdar Bike di Bulan Juli 2022 lalu, rombongan Kopdar Bike menempuh jalur pendek ke wilayah barat dan memilih rehat di Pantai Penimbangan. Menurut cerita, pantai Penimbangan adalah tempat Raja Buleleng Ki Barak Panji Sakti menyelamatkan perahu saudagar Tiongkok yang karam. Di sanalah beliau memperoleh hadiah sepasang Gong Jegir. Kini salah satu gong itu tersimpan di Pura Pejenengan desa Panji, dan satu lagi tersimpan di Pura Bale Agung desa Menyali.

Sampai jumpa di Kopdar Bike mendatang.

Dongeng sebelum tidur itu penting. Paling tidak itu kata survei yang saya lakukan melalui story Instagram @idBaliTersenyum, sehari menjelang perhelatan Cerita Rasa Festival yang dilaksanakan pada hari Sabtu, 30 Juli 2022. Menanggapi pernyataan “Mendongeng untuk anak”, 94% responden menyatakan penting, 6% menyatakan tidak sempat dan 0% jawaban untuk pilihan tidak penting dan buang waktu. Menurut kalian, pentingkah dongeng sebelum tidur untuk anak-anak?

Cerita Rasa Festival mengedepankan storytelling dalam program-programnya, selain film, seni dan budaya, yang kesemuanya membutuhkan penceritaan yang baik, jika ingin mengkomunikasikan ide kepada orang lain.

Kegiatan ini adalah rintisan festival pedesaan untuk merayakan cerita, cita rasa dan mempromosikan kepedulian lingkungan, budaya dan kemanusiaan. Cerita Rasa digagas dan diselenggarakan oleh Bali Tersenyum, sebuah sanggar literasi di desa Tukadaya, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana.

Mendongeng dan Membaca Cerita

 

Ketika 6% responden menyatakan tidak sempat membaca dongeng untuk anaknya, lalu apakah 94% dari mereka yang menyatakan mendongeng itu penting, telah memiliki waktu untuk membaca dongeng sebelum tidur bagi anak-anak mereka? Untuk menjawab ini, dibutuhkan survei yang lebih detail dan dilakukan oleh mereka yang lebih berkompeten dari pada saya yang suka main-main dan berimajinasi saja.

Di lingkungan dekat saya, terutama generasi seusia, kebanyakan enggan mendongeng untuk anaknya karena tidak tau dongeng yang cocok dibacakan sebelum tidur atau merasa tidak bisa mendongeng. Sikap dan paradigma ini, cukup mengkhawatirkan akan menurun pada anak-anak mereka, karena anak-anak mencontoh orang tuanya. Memberikan satu jawaban untuk persoalan keengganan itu, Cerita Rasa mengemas Pentas Cerita yang mengetengahkan pentas mendongeng dan membaca cerita.

Membaca cerita dibawakan oleh Ayu Nila, remaja Tukadaya yang baru menamatkan sekolah SMK Pariwisata. Nila tampil membaca dongeng Padi dan Hama Wereng, dari buku karya Made Taro yang berjudul Kumpi Mangku Mendongeng. Sesi ini memberikan pilihan cara bercerita, jika tidak menguasai cerita diluar kepala, lakukan dengan membaca. Membaca di depan anak-anak, tentu akan menjadi contoh yang sangat baik bagi perkembangan anak-anak.

Sesi mendongeng dibawakan oleh Melany, dengan dongeng klasik Burung Merpati dan Semut. Dengan penampilan atraktif, permainan tempo dan intonasi yang baik, Melany yang juga seorang guru Sekolah Dasar, mampu mengajak penonton untuk turut hanyut bersama semut dan terbang bersama burung merpati.

Dongeng Sebelum Tidur: Imajinasi dan Minat Baca

Sebelum memulai mendongeng, Melany sempat memberikan gambaran apa itu dongeng dan bagaimana kemudian ia bekerja mengasah imajinasi anak-anak pendengarnya. Saya juga sepakat dengan pernyataannya bahwa dengan mendongeng bagi anak-anak kita, kita juga sedang merangsang minat baca.

Ketika imajinasi anak-anak mulai tumbuh, maka minat mencari tau akan tumbuh. Lalu ke mana mereka akan mencari selain dengan membaca? Kendati saat ini ada media audio visual yang mendominasi kehidupan anak-anak yang lahir bersama gadget.

Ketika kita berusaha dan bicara tentang meningkatkan minat baca, maka ada kewajiban lain, yaitu memberi contoh dan memberi fasilitas berupa buku bacaan yang cukup dan layak sesuai perkembangan usia anak-anak.

Demikian dongeng saya kali ini. Salam literasi!

Sebelumnya terbit di tatkala.com

Cita Rasa Festival Jembrana adalah sebuah cita-cita. Sebuah rintisan festival desa untuk merayakan cerita, cita rasa dan mempromosikan kepedulian lingkungan, budaya dan kemanusiaan. Cerita Rasa Festival Jembrana digagas dan diselenggarakan oleh Bali Tersenyum, sebuah sanggar literasi di banjar Brawantangi Taman, Desa Tukadaya. 

Cerita Rasa dilaksanakan selama satu hari, pada Sabtu, 30 Juli 2022 mulai pukul 12:00 hingga 21:00 wita. Event rintisan festival desa ini dijadikan ruang untuk bersama-sama saling mendengar, merasakan, berbagi dan mendokumentasikan cerita, rasa dan peristiwa, bertempat di halaman Rumah Baca Bali Tersenyum

Ide awal dari rintisan kegiatan festival desa ini, datang dari rencana pemutaran film pendek yang diproduksi Sanggar Bali Tersenyum, untuk ditonton bersama kru dan pemain yang berasal dari desa setempat. Film tersebut berjudul @ItsDekRaaa yang mengambil lokasi syuting di Banjar Pangkung Jajang, Desa Tukadaya pada bulan November 2021. Pemutaran film inilah yang kemudian menjadi puncak acara, yang diawali dengan presentasi kuliner, pelatihan fotografi, melukis bersama, dan pentas cerita.

Presentasi Kuliner Cerita Rasa Jembrana.

Hal yang khas di Jembrana adalah pemanfaatan sisa pembuatan minyak kelapa menjadi menu masakan yang khas, dan enak. Makanan itu terbuat dari sisa rebusan santan setelah minyaknya dipisahkan, yang disebut roroban. Roroban kemudian ditambahkan dengan bumbu bali dan direbus beberapa saat, maka jadilah kuah kental yang gurih.

Kuah tersebut kemudian dicampur dengan berbagai jenis sayuran rebus, yang kemudian disebut jukut serapah. Lauk ini umumnya disajikan dengan lontong, sehingga dikenal sejagat sebagai lontong serapah khas Jembrana.

Keberadaan lontong serapah sudah mulai jarang ditemukan di Jembrana. Hal ini disebabkan oleh sudah jarangnya pembuatan minyak kelapa tradisional dilakukan oleh masyarakat setempat. Seperti kita tahu, minyak kelapa sudah di gantikan oleh minyak sawit kemasan.

Pelatihan Fotografi Untuk Remaja.

Kamera sudah lekat dengan remaja kita, karena setiap smartphone sudah dilengkapi dengan kamera yang bagus. Hal itu mendorong pelaksanaan pelatihan fotografi bagi remaja, guna memperkenalkan dasar-dasar fotografi, memperkenalkan profesi fotografer dan bagaimana usaha foto & video itu berjalan.

Yang unik dari program pelatihan fotografi di Cerita Rasa Festival adalah, peserta diajak untuk memotret tanpa kamera. Aktifitas ini adalah untuk mengasah kesadaran visual, mengenai apa yang dilihat, apa yang menarik dan bagian mana dari objek foto yang akan diambil. Kesadaran visual inilah yang akan menjadikan foto yang diambil memiliki makna dan cerita, dan menjadi jalan menuju jenjang dari sekedar “tukang cekrek aplud” menjadi fotografer.

Selain itu, peserta juga mendapat cerita dari dua orang pengusaha foto dan video di Jembrana, yaitu Dwi Artawan pemilik Relief Studio dan Komang Triadi pemilik Candra Photography studio. Mereka berdua memberi semangat pada peserta, bahwa segala sesuatu harus dimulai dari nol. Dan jika memiliki semangat, maka nol akan bergerak menjadi satu, dua, dan seterusnya, tergantung pada semangat belajar masing-masing.

Melukis Bersama Anak-anak Desa Tukadaya

Menggambar bersama dalam Cerita Rasa kali ini, diikuti oleh tidak kurang dari tiga puluhan anak. Mereka datang dari beberapa banjar di Desa Tukadaya, dan ada juga dari desa sekitarnya. Program melukis ini merupakan ruang bermain dan belajar bagi anak-anak. Kegiatan ini, lebih ditujukan sebagai momen beraktivitas bersama, baik itu kerjasama antar anak-anak dan juga pendampingan oleh orang tua.

Setelah kurang lebih dua jam, karya anak-anak kemudian dipajang sebagai sebuah pameran bersama. Setiap anak kemudian bertindak sebagai juri, bagi lukisannya sendiri dan lukisan kawan lainnya. Mereka berhak memilih tiga lukisan yang menurut mereka terbaik, terbagus, atau yang mereka suka.

Aktivitas menjuri ini, dijadikan ajang bagi anak untuk mepresentasikan karya pada teman-temannya. Di sini anak-anak juga berkesempatan mengapresiasi dan menunjukkan aspirasinya dalam memilih karya terbaik versi mereka sendiri.

Dalam sesi menggambar ini, kami mengundang perupa muda asal desa Tukadaya, Wayan Wasudewa, yang banyak bermain-main di ranah mural dan tato. Kehadiran Wayan yang dikenal dengan sign WSDW menjadi sebuah gambaran tentang jalan berkesenian.

Secara tidak langsung, kehadiran orang dewasa yang melukis bersama anak-anak menjadi role model bagi mereka, yang selama ini hanya mengetahui menggambar adalah sempilan pelajaran di sekolahnya. Di sini mereka akan tahu bahwa seni juga bisa menjadi profesi, dan ada sekolahnya hingga perguruan tinggi. Ada juga orang yang memilih berkesenian sebagai jalan hidupnya.

Mendongeng Cerita Rasa Festival Jembrana

Mesatua atau mendongeng merupakan pola penanaman nilai-nilai kehidupan yang sangat penting di dalam keluarga. Cerita rasa menghadirkan program pentas cerita, berupa mendongeng dan membaca cerita. Malam itu, tampil Ayu Nila yang membaca cerita dari buku karya Made Taro, sebuah dongeng berjudul Padi dan Hama Wereng, dan juga Melany yang mendongeng tentang balas budi semut pada burung merpati.

Dua konsep bercerita yaitu membacakan cerita dari buku dan bercerita secara hafalan sengaja ditampilkan di Cerita Rasa Festival Jembrana. Hal ini untuk memberi gambaran, bahwa bercerita tidak melulu menghafal diluar kepala, tapi bisa juga dengan membaca dari buku. Program ini ditujukan untuk memancing kembalinya minat orang tua bercerita atau mendongeng untuk anaknya. Yang juga semoga dapat meningkatkan minat baca di dalam keluarga-keluarga pedesaan.

Sebelum memulai mendongeng, Melany sempat memberikan gambaran apa itu dongeng dan bagaimana kemudian ia bekerja mengasah imajinasi anak-anak pendengarnya. Dengan mendongeng bagi anak-anak, kita juga sedang merangsang minat baca mereka.

Ketika imajinasi anak-anak mulai tumbuh, maka minat mencari tahu akan tumbuh. Lalu ke mana mereka akan mencari selain dengan membaca? Maka ada kewajiban lain, yaitu memberi contoh dan memberi fasilitas berupa buku bacaan yang cukup dan layak sesuai perkembangan usia anak-anak.

Pemutaran Film Pendek.

Film pertama yang diputar yaitu Pekak Kukuruyuk, sebuah film dokumenter berdurasi dua puluh menit, yang merupakan produksi program Eagle Award Metro TV. Pekak Kukuruyuk berkisah tentang kehidupan Pak Made Taro, seorang pelestari dongeng dan permainan tradisional. Karya Agung Yudha ini dipilih, karena berkaitan dengan program pentas cerita, yang mengangkat dongeng dan bercerita sebagai sebuah aktifitas yang perlu tetap dilakukan disetiap rumah orang tua bagi anak-anaknya.

Film selanjutnya adalah film berjudu Besok Saya Tidak Masuk Sekolah karya Oka Sudarsana. Fiksi pendek berdurasi enam belas menit ini berkisah tentang Ginar, seorang anak SD di pelosok Kintamani yang berjuang menempuh pendidikan Sekolah Dasar. Besok Saya Tidak Masuk Sekolah menggambarkan sisi lain dari keindahan dan kemegahan pulau Bali di mata dunia, sekaligus juga menyentil dunia pendidikan di negeri kita tercinta.

Film terakhir adalah @ItsDekRaaa. Film ini bercerita tentang kehidupan remaja di pedesaan yang terpapar oleh smartphone dan media sosial. Dekra, tokoh utama dalam film ini ingin sekali menjadi selebriti Tiktok, namun grup Tiktoknya terancam bubar karena salah satu temannya menghilang secara misterius.

@ItsDekRaaa adalah karya warga desa Tukadaya - Jembrana, Made Suarbawa, yang juga pengasuh Rumah Baca Bali Tersenyum. @ItsDekRaaa bercerita tentang seorang remaja perempuan desa bernama Dekra yang ingin menjadi seleb Tiktok, mendapat ancaman kelompoknya akan bubar karena salah satu temannya menghilang secara misterius.

Karya film pendek dari Jembrana yang sedang keliling dunia menuju berbagai festival film ini, dibintangi oleh empat remaja Desa Tukadaya, disyuting di desa mereka sendiri dan sebagian kru adalah warga desa setempat. Malam itu, puluhan orang memadati halaman Rumah Baca Bali tersenyum untuk menyaksikan wajah anak mereka, tetangga, dan alam desanya tampil di layar lebar. 

Demikian catatan Cerita Rasa Festival Jembrana 2022 yang penuh kesan. Merdesa!

Cerita Rasa Village Festival adalah rintisan festival pedesaan untuk merayakan cerita, cita rasa dan mempromosikan kepedulian lingkungan, budaya dan kemanusiaan. Cerita Rasa digagas dan diselenggarakan oleh Bali Tersenyum, sebuah sanggar literasi di kabupaten Jembrana.

Cerita Rasa dilaksanakan pada hari Sabtu, 30 Juli 2022 mulai pukul 12:00 hingga 21:00 wita, bertempat di Rumah Baca Bali Tersenyum, Banjar Brawantangi Taman, Desa Tukadaya, Jembrana. Kedepannya, kegiatan ini akan dijadikan ruang untuk bersama-sama saling mendengar, merasakan, berbagi dan mendokumentasikan cerita, rasa dan peristiwa.

Pemutaran film inilah yang akan menjadi puncak acara, yang akan diawali dengan presentasi kuliner, pelatihan fotografi, melukis bersama, dan pentas cerita.

Presentasi Kuliner

Kuliner yang akan dipresentasikan dalam Cerita Rasa adalah olahan kelapa. Yang pertama adalah membuat minyak kelapa dengan cara tradisional, yang sesungguhnya mulai jarang dilakukan jika tujuannya hanya minyak goreng. Seperti kita tahu, minyak kelapa sudah di gantikan oleh minyak sawit kemasan.

Hal yang khas di Jembrana adalah pemanfaatan sisa pembuatan minyak kelapa menjadi menu masakan yang khas, yaitu jukut serapah atau lontong serapah, yang bisa dikatakan hanya ada di Jembrana. Selain jukut serapah, akan ada juga sambal goreng kelapa dan tentunya pesan telengis.

Pelatihan Fotografi

Kamera sudah lekat dengan remaja kita, karena setiap smartphone sudah dilengkapi dengan kamera yang bagus. Hal itu mendorong pelaksanaan pelatihan fotografi bagi remaja, guna memperkenalkan dasar-dasar fotografi, memperkenalkan profesi fotografer dan bagaimana usaha foto & video itu berjalan.

Pelatihan fotografi bekerjasama dengan Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) MAKATA Desa Tukadaya, serta mengundang narasumber dari komunitas dan pelaku usaha fotografi dan video di Jembrana.

Melukis Bersama

Program melukis dan kerajinan ini merupakan ruang bermain dan belajar bagi anak-anak. Dalam program ini, lebih ditujukan sebagai momen beraktivitas bersama, baik itu kerjasama antar anak-anak dan bersama orang tua. Pada sesi melukis, anak-anak akan melukis bersama seniman Wasudewa. Wasudewa dengan sign WSDW banyak bermain di seni tato dan street art.

Selain melukis, akan diperkenalkan kerajinan tradisional kepada anak-anak. Banyak kerajinan yang sejak dulu diturunkan atau diajarkan melalui pergaulan adat dan sosial, seperti kelatkat, wakul, kelabang dan sebagainya. Dalam sesi ini, lebih ingin untuk saling mengingatkan, agar kita punya itikad secara sadar untuk mengajarkan hal-hal yang menjadi tradisi di desa.

Pentas Cerita

Mesatua atau mendongeng merupakan pola penanaman nilai-nilai kehidupan yang sangat penting di dalam keluarga. Cerita rasa menghadirkan program pentas cerita, berupa mendongeng dan membaca cerita. Akan tampil Ayu Nila seorang remaja Tukadaya yang baru menamatkan sekolah menengah atas dan Melany seorang Ibu muda yang juga seorang guru sekolah dasar.

Ayu Nila akan membaca cerita dari buku karya Made Taro, sebuah dongeng berjudul Padi dan Hama Wereng, sedangkan Melany akan mendongeng tentang Semut dan Burung Merpati.

Pemutaran Film

Cerita Rasa akan menampilkan Film @ItsDekRaaa karya Made Suarbawa, yang bercerita tentang seorang remaja desa bernama Dekra yang ingin menjadi artis Tiktok. Saat membuat video Tiktok, salah satu temannya menghilang.

Selain itu, diputar pula film Pekak Kukuruyuk dan Besok Saya Tidak Masuk Sekolah. Pekak Kukuruyuk karya Agung Yudha, bercerita tentang Pak Made Taro, seorang pelestari tradisi lisan atau dongeng dan permainan anak-anak tradisional. Besok Saya Tidak Masuk Sekolah karya Oka Sudarsana, bercerita tentang seorang anak bernama Ginar yang mendapat kejutan di sekolahnya setelah begadang membuat PR.

Cerita rasa akan menjadi ajang pemutaran pertama @ItsDekRaaa di negeri sendiri, setelah pada 23 Juli diputar di Planet 23 Studios, Wheeling, West Virginia, dalam rangka The Fifteen Minute Film Festival. Film @ItsDekRaaa saat ini sedang berkeliling masuk berbagai festival film di berbagai negara. Selain The Fifteen Minute, festival yang telah memilih dan akan memutar film @ItsDekRaaa diantaranya; MiCe Festival di Valencia - Spanyol, Cinemaking International Film Festival - Banglades, DYTIATKO International Children’s Media Festival - Ukraina, dan semoga banyak lagi yang tertarik memutar hingga dua tahun mendatang.

Sampai jumpa di “Cerita Rasa”.

Sebuah perjalanan dimulai dan pasti harus berakhir di sebuah tujuan atau pun persinggahan. Perjalanan Minikino Film Week (MFW) 7, Bali International Short Film Festival berakhir pada Sabtu, 11 September 2021 lalu; satu lagi persinggahan menuju MFW selanjutnya yang tujuannya telah pasti di 2 - 10 September 2022.

MFW adalah sebuah kolaborasi bersama banyak pihak, semuanya ikut andil membentuk perjalanan dan kualitas festival ini. Sejak pandemi melanda dunia, setiap langkah serasa tidak pernah mulus. Tahun 2021 memang terasa lebih sulit untuk menyelenggarakan festival ini. Namun ketika kita semua mengusung semangat dan harapan yang sama, maka kita bisa berjuang bersama.

Total 166 mata acara pemutaran film dan kegiatan Short Film Market berhasil terlaksana dalam MFW7. Tercatat 1997 penonton hadir di 14 lokasi yang tersebar di seluruh pulau Bali dan sekitar 366 views acara yang disiarkan online.

Program yang selalu menarik banyak perhatian adalah layar tancap. Sejak awal MFW selalu mengembangkan modul pelatihan yang mengiringi Pop Up Cinema ke desa-desa. Tahun sebelumnya kami sudah mengenalkan kepada anak-anak dan remaja tentang bagaimana terjadinya gambar bergerak, bagaimana membaca gambar atau bagaimana sebuah film dibuat. Sementara tahun ini pelatihan Pop Up cinema, memperkenalkan media baru yang bisa diproduksi dengan gadget atau HP mereka sendiri.

MFW Awarding Event

Minikino Film Week 7 ditutup dengan International Awarding Event, pada (11/9/2021). Dalam kegiatan ini, MFW mengumumkan berbagai penghargaan baik Internasional dan juga penghargaan Nasional.

Peraih penghargaan Internasional dan Nasional Award untuk masing-masing kategori, adalah sebagai berikut:

MFW7 Best Animation Short
Thorns and Fishbones” (sutradara: Natália Azevedo Andrade, Hungaria, 2020);

MFW7 Best Audio Visual Experimental Short
“Inside”
(sutradara: Yann Chapotel, Perancis, 2020);

MFW7 Best Children Short
“Girlsboysmix”
(sutradara: Lara Aerts, Belanda, 2020);

MFW7 Best Documentary Short
“Why Didn’t You Stay For Me”
(sutradara: Gevers Milou, Belanda, 2020);

MFW7 Best Fiction Short
“Makassar Is A City For Football Fans” (sutradara: Khozy Rizal, Indonesia, 2020);

MFW7 Programmer’s Choice
"A Lonely Afternoon”
(sutradara: Kyle Credo, Kanada, 2020). Sedangkan penghargaan tertinggi, yakni

MFW Best Short Film of the Year 2021
“I Am Afraid to Forget Your Face”
(sutradara: Sameh Alaa, Mesir, Prancis, Belgia, Qatar, 2020).

Begadang Filmmaking Competition 2021
"Pro Cast"
(sutradara: Immanuel Kurniawan, Victoria Film, Malang, Jawa Timur, 2021).

MFW National Competition 2021
“Masa Depan Cerah 2040”
(sutradara: Winner Wijaya, Fiksi, 2020)

Special Jury Mention
“Chintya”
(sutradara: Sesarina Puspita, Fiksi, 2019)

“Salmiyah”
(sutradara: Harryaldi Kurniawan, Dokumenter, 2019)

Raoul Wallenberg Institute Asia Pacific Award at MFW7
“The Last Breath of the Tonle Sap”
(sutradara: Thomas Cristofoletti, Robin Narciso, Kamboja, 2020).

 

Masih di tengah terpaan pandemi COVID-19. Festival film pendek internasional Minikino Film Week 7 (MFW7), hadir pada 3-11 September 2021 di Bali. Sebagai komitmen untuk saling menjaga, seluruh rangkaian acara diselenggarakan secara luring (fisik) dan daring (online) yang dibarengi dengan komitmen penerapan protokol kesehatan bagi penonton maupun penyelenggara yang bertugas.

“Festival di tengah pandemi tetap perlu memperhatikan protokol kesehatan. Tahun ini ada syarat tambahan bagi seluruh relawan festival dan penonton. Mereka wajib memiliki bukti vaksin minimal satu kali atau hasil negatif rapid test antigen swab di bulan September 2021.” ujar Direktur Festival, Edo Wulia.

Program Film Pendek Internasional Di Minikino FIlm Week 7

Tercatat 925 judul film pendek yang masuk melalui kanal online Short Film Depot dan Filmfreeway. Film maker dari seluruh dunia, termasuk Indonesia memiliki kesempatan yang sama memanfaatkan kanal tersebut. Seluruh film yang masuk kemudian melalui proses seleksi. 214 film internasional terpilih dan dikemas dalam 36 program.

Selain itu MFW7 akan menampilkan program film pendek dari festival tamu yaitu Image Forum Festival (Jepang), In-Docs (Indonesia), Seoul Yeongdeungpo International Extreme Short Image & Film Festival (Korea), Reel Asian (Canada), dan Clermont-Ferrand International Short Film Festival (Prancis).  Kehadiran program tamu dari berbagai festival di dunia tersebut, merupakan konsep pertukaran program film pendek, dari kerja berjejaring dengan festival di dalam dan luar Indonesia.

Selain berhasil mendatangkan program dari luar, Minikino juga berhasil membawa program film pendek Indonesia untuk tampil di berbagai festival film internasional sepanjang tahun. Tahun ini kerjasama seleksi dan kurasi dilakukan untuk KAUM Alternative Indonesian Performance and Film Festival (Jerman) pada 8-21 Agustus 2021, Nòt Film Festival (Italia) pada 24-29 Agustus 2021, dan Seoul Yeongdeungpo International Extreme-Short Image & Film Festival (SESIFF, Korea Selatan) pada 7-12 September 2021 dan Image Forum Festival di Tokyo dan Nagoya, Jepang pada 25 September - 3 Oktober 2021.

“Berjejaring merupakan kunci. Minikino Film Week adalah jembatan sekaligus pintu yang membuka lebar potensi kerjasama serta apresiasi terhadap film-film pendek terbaik Indonesia, Asia Tenggara dan internasional,” papar Fransiska Prihadi, Direktur Program Minikino.

Selain pertukaran program film pendek, Minikino juga melakukan pertukaran sumber daya manusia, seperti bisa dilihat dalam deretan nama-nama dewan juri penghargaan Minikino Film Week 7. Demikian halnya tim Minikino yang diwakili Fransiska Prihadi berkesempatan diundang menjadi bagian komite juri dalam ReelOzInd! Australia Indonesia Short Film Competition dan SESIFF Korea Selatan. Selain itu, diundang pula sebagai pembicara dalam workshop film fiksi pendek yang diselenggarakan AKATARA, mempresentasikan program Minikino di Image Forum Festival Jepang mengenai Film in Shelter, dan Short Film Forum: How To Make The Most Of Film Festival yang diselenggarakan oleh Objectifs Centre for Photography and Film, Singapura.

Ragam Program Interaksi MFW7

Berbagai acara pra-festival sudah terlaksana sejak bulan Juni 2021. Program Hybrid Writer Internship mengawali di bulan Juni dan berlangsung hingga November 2021. Kompetisi produksi film pendek nasional tahunan, Begadang Filmmaking Competition berlangsung pada 23-24 Juli lalu.

Kisahpedia mendukung kegiatan Minikino tahun ini. Kisahpedia adalah lembaga akuisisi film yang menaruh perhatian pada isu keragaman dan toleransi dalam penyelenggaraan Begadang Filmmaking Competition. 39 tim produksi dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti kompetisi ini. Namun hanya 29 tim yang berhasil menyelesaikan produksi sesuai batas waktu 34 jam.

Selain lebih dari 150 kali pemutaran film di berbagai lokasi selama sepekan. MFW7 juga memberikan fasilitas bagi para pegiat film untuk bertemu, berjejaring, hingga mempromosikan karya mereka lewat Short Film Market. Terdapat kegiatan forum diskusi Kopi Selem, Nurturing FIlm Festival Writers dan Toast Your Short, workshop bedah film, Open Screen, Short Film Library, Open Screen Event, Begadang 2021 Official Selection, dan RWI Asia Pacific Award Nominees at MFW7 dengan Audio Description dan Closed Caption yang dapat dinikmati bersama  teman-teman tuna netra dan tuli.

Hadirkan Virtual Reality

Untuk pertama kalinya tahun ini MFW7 akan menghadirkan pengalaman menikmati film virtual reality (VR) berjudul “Penggantian” karya Jonathan Hagard, seorang sutradara Indonesia-Prancis. Film ini menggambarkan akar identitas budaya, perubahan sosial, politik dan lingkungan hidup. Sebelum hadir di Minikino Film Week, “Penggantian” sudah lebih dulu tampil di berbagai festival internasional.  Film ini meraih penghargaan di Venice International Film Festival, Annecy Festival dan Siggraph.

MFW Hadir di Seluruh Penjuru Bali 

Tahun ini MFW7, Bali International Short Film Festival hadir di 15 titik yang tersebar di seluruh Bali. Festival Lounge atau tempat titik temu festival berada di MASH Denpasar. Selebihnya lokasi tersebar di kota Denpasar (Antida Sound Garden, Alliance Française Bali, Irama Indah Mini Hall, CushCush Gallery, Rumah Sanur Creative Hub, Men Brayut). Kabupaten Badung (Uma Seminyak). Kabupaten Buleleng (Rumah Film Sang Karsa), dan kabupaten Gianyar (Omah Apik Pejeng). Layar tancap tahun ini akan diadakan di kabupaten Buleleng (Desa Pedawa). Kabupaten Jembrana di Pangkungjaka, Desa Tukadaya. Kota Denpasar di Kebun Berdaya Kampung Hijau, Desa Tegeh Sari.

Made Suarbawa, Direktur Traveling Cinema mengatakan bahwa, bertemu dengan penonton di desa dalam program layar tancap selalu memberikan gairah baru. Pandemi ini membuat komunikasi dengan kolaborator menjadi semakin erat, selain untuk berkoordinasi, juga untuk saling bertukar informasi  dan dukungan dalam beraktivitas dan mempersiapkan MFW7.

Buku program digital dan jadwal festival tersedia di situs minikino.org/filmweek. Semua program gratis dan terbuka untuk umum, sesuai dengan pedoman usia. Calon penonton diwajibkan mendaftar terlebih dahulu sebelum datang ke lokasi acara untuk mendapatkan festival pass. Formulir festival pass dapat diisi secara daring di minikino.org/mfw7pass.

Festival film pendek internasional Minikino Film Week (MFW) kembali hadir di tahun ke-7, pada 3-11 September 2021. Dari siaran media yang diterima Mipmap, MFW7 mencatat 925 judul film pendek yang masuk, melalui kanal online Short Film Depot dan Filmfreeway. Penerimaan film ini dibuka untuk film maker dari seluruh dunia, termasuk Indonesia. Seluruh film yang masuk kemudian melalui proses seleksi dan terpilih 214 film. Film-film yang masuk baik dari Indonesia maupun luar negeri tersebut, dikemas dalam 36 program dan akan diputar di layar-layar di seantero pulau Bali.

Tahun 2021 ini, Minikino Film Week memberikan penganugerahan penghargaan untuk film-film pendek terbaik dalam beberapa kategori, antara lain; Best Animation Short, Best Audio Visual Experimental Short, Best Children Short, Best Documentary Short, Best Fiction Short, Programmer’s Choice, dan Best Short Film of The Year 2021.

Juri untuk penghargaan kompetisi internasional tahun ini ialah Asako Fujioka (Yamagata International Documentary Film Festival, Jepang) , Lucky Kuswandi (sutradara dan penulis film, Indonesia), Kelly Lui (Reel Asian, Canada), dan Monez Gusmang (ilustrator, Indonesia).

Minikino Film Week 7 National Competition Award

Penghargaan terbaru adalah National Competition Award, yang ditujukan khusus bagi film pendek Indonesia. Nominasi penerima penghargaan MFW National Competition Award diseleksi oleh juri tahap pertama yang merupakan programmer Indonesia Raja 2021 yaitu Akbar Rafsanjani (Aceh), Kardian Narayana (Bali), Kemala Astika (Cirebon), Nosa Normanda  (Jakarta), Sazkia Noor Anggraini (Yogyakarta).

Lima nominasi pada kategori ini ialah tiga karya film pendek fiksi berjudul Angpao (sutradara Stefanus Cancan), Chintya (sutradara Sesarina Puspita), Masa Depan Cerah (sutradara Winner Wijaya) dan dua film pendek dokumenter yaitu Shin Hua (sutradara Erick Sutanto), Salmiyah (sutradara Harryaldi Kurniawan).

Untuk penentuan pemenang yang berhak menerima National Competition Award, ditentukan oleh final round juri yang terdiri dari Anom Darsana (produser musik dan teknisi suara, Indonesia), John Badalu (produser film, Indonesia) dan Sanchai Chotirosseranee (Thai Film Archive, Tahiland).

Penghargaan Khusus: The RWI Asia Pacific Award

Tahun ini Minikino Film Week juga bekerjasama dengan The Raoul Wallenberg Institute Humanitarian Rights and Law yang berbasis di Lund, Swedia, untuk memberikan perhatian pada film-film pendek yang berurusan dengan serangkaian masalah kesetaraan, keragaman, dan lingkungan. Satu film pendek akan terpilih untuk mendapatkan gelar The RWI Asia Pacific Award at MFW7 dengan hadiah uang tunai sebesar sepuluh juta rupiah.

Ada pun film-film yang masuk nominasi untuk memperebutkan gelar tersebut adalah Citarum (sutradara Ali Satri Efendi, Indonesia, 2020), God’s Daughter Dances (sutradara Sungbin Byun, Korea Selatan, 2020), Gold is Eating People (sutradara Su Xia, Cina, 2020), The Last Breath of Tonle Sap. (sutradara Thomas Cristofoletti, Robin Narciso, Kamboja, 2020), dan The Execution (sutradara Jeroen Van der Stock, Jepang, 2019).

Begadang Filmmaking Competition Bersama Kisahpedia

Tentu saja tidak lupa, pemenang kompetisi membuat film pendek dalam waktu 34 jam, Begadang Filmmaking Competition juga ditentukan dari 4 nominasi yang terpilih yaitu, Makasih, Mbak Anggun (dir. Dimas Adiputro, Suka Films), Selamat Datang di Indonesia (dir. Azalia Muchransyah, CATastrophe Productions), Pro Cast (dir. Immanuel Kurniawan, Victoria Film / Malang, Jawa Timur), dan From Mars For England (dir. Mochamad Rizky Fauzy, KMTF).

Tahun 2021 Begadang Filmmaking Competition didukung oleh Kisahpedia, lembaga akuisisi film yang menaruh perhatian pada isu keragaman dan toleransi. Begadang diikuti oleh 39 tim produksi dari berbagai daerah di Indonesia, namun hanya 29 tim yang berhasil menyelesaikan produksi sesuai batas waktu. Kemudian, dari 29 film yang masuk diseleksi kembali hingga terpilih 10 film yang ditayangkan selama MFW7. Dari 10 film pilihan tersebutlah terpilih 4 (empat) film nominasi yang akan melalui proses penjurian akhir untuk menentukan pemenang utama.

Seluruh penghargaan yang dianugrahkan Minikino Film Week 7, diumumkan dan diserahkan dalam acara penutupan dan awarding events, pada tanggal 13 September 2021.

Untuk menjadi perhatian para peminat film, bahwa seluruh rangkaian Minikino Film Week 7 adalah bebas biaya dan terbuka untuk umum, dengan memperhatikan rating usia. Selain itu, panitia juga penerapkan protokol kesehatan yang ketat, dengan mewajibkan para penonton untuk melakukan registrasi awal, untuk mendapatkan festival pass.

“Festival di tengah pandemi tetap perlu memperhatikan protokol kesehatan dan tahun ini ada syarat tambahan bagi seluruh pekerja festival dan penonton untuk memiliki bukti vaksin minimal satu kali atau hasil negatif rapid test antigen swab di bulan September 2021,” ujar Direktur Festival, Edo Wulia dalam siaran persnya.

COVID-19 menunda berbagai event festival film di berbagai negara. Namun Minikino Film Week terus melangkah dengan berbagai penyesuaian dan inovasi. Seluruh rangkaian kegiatan disesuaikan dengan protokol kesehatan dan berbagai pembatasan era New Normal di masa pandemi ini.

Di tengah terpaan pandemi COVID-19, Minikino Film Week (MFW), Bali International Short Film Festival menyelenggarakan edisi ke-enamnya pada 4-12 September 2020. Seluruh rangkaian acara ini tentunya dibarengi dengan komitmen melaksanakan protokol kesehatan bagi penonton maupun penyelenggara yang bertugas. Penyelenggaraan MFW6 kali ini turut didukung oleh Fasilitasi Bidang Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan serta Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. 

Event Kolaboratif

“Tiap tahunnya, MFW selalu menghadirkan kolaborasi baru hasil dari jaringan kerja Minikino dengan berbagai festival film pendek maupun para profesional lainnya. Sebuah festival film pendek sejatinya adalah ruang untuk eksibisi, edukasi, dan networking, sehingga memperluas jaringan kerja menjadi kunci utamanya.” papar Direktur Travelling Festival I Made Suarbawa.

Menjelang terselenggaranya MFW6, telah terlaksana pula berbagai acara pra-festival yang dimulai sejak bulan Juli lalu. Diawali dengan Youth Jury Online Camp pada 20-24 Juli 2020, kemudian dilanjutkan dengan kompetisi produksi film pendek nasional tahunan Begadang Filmmaking Competition pada 25-26 Juli 2020 lalu. 

Film Pendek Internasional

Direktur Festival Edo Wulia menjelaskan, film-film pendek internasional yang akan tayang di MFW6 merupakan film pendek yang dipilih dari pengajuan terbuka melalui platform online. Tahun ini, MFW menerima pengajuan film pendek melalui 2 (dua) platform, yakni Short Film Depot (https://minikino.org/shortfilmdepot) dan Filmfreeway (https://filmfreeway.com/MINIKINOFILMWEEK).

“Di tahun keenam ini ada 198 film pendek dari 79 negara yang terpilih sebagai Official Selection akan tayang di layar MFW6. Jumlah ini terpilih dari total 903 film pendek yang masuk lewat pendaftaran seleksi Minikino Film Week. Seluruh film terpilih tersebut kemudian dikemas menjadi berbagai program.” lanjut Edo Wulia.

Minikino Film Week Awarding Event

Festival film pendek

Jackson Segars Sutradara Film “Kimchi” Saat Menerima Penghargaan (foto: wayan martino #sayabercerita)

Diakhir pelaksanaan MFW6 pada 12 September nanti, akan ada penganugerahaan bagi film-film pendek terbaik dalam beberapa kategori, antara lain; MFW Best Short Film of the Year 2020, MFW6 Best Animation Short, MFW6 Best Audio Visual Experimental Short, MFW6 Best Children Short, serta MFW6 Best Documentary Short. Dan untuk pertama kalinya pada tahun ini, MFW6 akan memberikan penganugerahaan khusus untuk film-film pendek Indonesia dalam kategori MFW National Competition Award 2020. 

MFW6 juga menghadirkan Short Film Market Events yang berisikan Short Film Library, MFW6 Open Screen Event, Forum dan Talks, Fringes, serta Workshop. Dengan berlakunya pembatasan jumlah penonton dan ketatnya prosedur bepergian, sejumlah pembicara dalam Forum dan Talks akan tampil secara online (daring) dan penyelenggaraannya akan disiarkan secara langsung melalui minikino.org/live dengan menghadirkan juru bahasa isyarat pada seluruh sesi.

“Secara umum, akan ada 31 program internasional, 8 program S-Express 2020 dengan fokus Asia Tenggara, 3 program Indonesia Raja 2019, 3 program tamu dan Begadang 2020 Official Selection. Lalu, untuk Short Film Market Events 2020, ada 4 (empat) topik Forum, 3 (tiga) Talks, 1 (satu) Fringes, dan 2 (dua) Workshop.” Ungkap Direktur Program Fransiska Prihadi.

Short Film Market MFW6

Para pembicara dalam Short Film Market MFW6 menghadirkan Forum berupa diskusi panel dengan berbagai topik diskusi. “Why Film Festival Matters Beyond 2020” menghadirkan Jukka Pekka Laakso (Finlandia), Gina Dellabarca (New Zealand), Kelly Lui (Kanada) dan Koyo Yamashita (Jepang). “Future Cinema Audience: The Youth” akan dihadiri oleh Tomy W. Taslim (Indonesia), Sébastien Simon (Prancis, Korea Selatan) dan Tim Redford (Prancis) serta MFW6 Youth Juries Kayla Amare Budiwarman, Qiu Mattane Lao, Seika Cintanya Sanger, Sophie Louisa & Stella Melody Winata. Para profesional dari industri film pendek dunia juga akan menambah wawasan tentang nilai ekonomi film pendek menghadirkan Ho Hock Doong (Malaysia), Jaime E. Manrique (Kolombia), Sabrina Spence (Kanada) dan Vivian Idris (Indonesia).

Anggun Pradesha, seorang aktivis transpuan, bersama ibunya dari Jambi juga akan hadir secara langsung mengisi program MFW6 Talks tentang keberagaman dan penerimaan orang tua. Lalu ada Asako Fujioka (Jepang) yang akan memaparkan program kolaborasi Yamagata Documentary Dojo dengan Minikino berupa pertukaran pembuat film pendek dalam sesi “Breathing The Same Air”. Selain itu Ade Wirawan, pendiri Bali Deaf Community akan membahas  topik Film, Orang Tuli, dan Bahasa Isyarat.

Workshop akan diisi dengan perkenalan produksi film dengan ponsel pintar oleh Mondiblanc Workshop. Ada pula workshop gambar gerak untuk anak-anak yang akan mengiringi layar tancap di 3 (tiga) desa. Kolaborasi tahun ini juga dilakukan bersama Nosa Normanda untuk memproduksi serial podcast minikino dengan fokus dunia film pendek.

Seluruh film pendek yang diputar memiliki teks Bahasa Indonesia. Menambah keistimewaan tahun ini, MFW6 merambah jangkauan penonton tuna netra dan tuli agar dapat menikmati festival film pendek ini. Bekerja sama dengan Teater Kalangan, untuk pertama kalinya dibuat deskripsi audio untuk 5 (lima) film pendek Indonesia dalam program S-Express 2020: Indonesia yang dapat dinikmati penonton tuna netra.

Bali International Short Film Festival Di 10 Titik Pemutaran

MFW4 Festival film pendek

Masih dengan format yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya, kali ini MFW 6, Bali International Short Film Festival hadir di 10 titik yang tersebar di seluruh Pulau Bali. Festival Lounge atau titik temu utama festival akan berada di MASH Denpasar. Selebihnya akan ada di Irama Indah, MASH Denpasar, Rumah Sanur Creative Hub, Antida Sound Garden, Uma Seminyak, Omah Apik Pejeng, dan Rumah Film Sang Karsa Buleleng. Lalu MFW6 juga akan buka layar di Desa Pedawa, Buleleng; Selat Karangasem, dan Tegeh Sari Denpasar.

Acara akan berlangsung secara bersamaan selama 1 minggu (4-12 September) di titik-titik tersebut. Hanya terkecuali Pop Up Cinema (layar tancap) yang akan ada selama 3 (tiga) hari saja secara bergiliran di masing-masing desa. Seluruh calon penonton diwajibkan mendaftar terlebih dahulu sebelum datang ke lokasi acara dengan festival pass yang dapat diperoleh tanpa dikenakan biaya. Formulir festival pass dapat diisi secara daring di minikino.org/festivalpass.

Menonton adalah aktivitas dengan indra pengelihatan. Bagaimana caranya jika ingin mengajak Tuna Netra (Orang Buta) untuk menonton film pendek? Inovasi untuk memberikan akses pada tuna netra terhadap tontonan film pendek dilakukan oleh Minikino dalam ajang tahunan Minikino Film Week 6. Film-film yang disediakan untuk tontonan penyandang Tuna Netra, diambil dari program S-Express 2020: Indonesia, yang merupakan bagian dari program pertukaran film pendek dari negara-negara Asia Tenggara yang telah berjalan sejak tahun 2003.

S-Express 2020: Indonesia

S-Express 2020: Indonesia terdiri atas 5 (lima) film pendek yang dikurasi oleh Direktur Program Minikino, Fransiska Prihadi. Kelima film pendek tersebut ialah, Sunyi (sutradara Riani Singgih, Dokumenter, 2018) Joko & Bowo Reading Vol. 1 (sutradara: I Kadek Jaya Wiguna, Fiksi, 2019), Omah Njero (sutradara: Gelora Yudhaswara, Fiksi, 2019), Jemari Yang Menari di Atas Luka-Luka (sutradara: Putri Sarah Amelia, Fiksi, 2019) dan Bura (sutradara: Eden Junjung, Fiksi, 2019).

“Kelimanya memiliki cerita yang patut disuarakan di tahun 2020 ini. Harapannya film-film pendek ini dapat menggugah diskusi yang menarik.” Ungkap Fransiska Prihadi.

Deskripsi Audio & Teater Kalangan

Menambah keistimewaan S-Express 2020: Indonesia, tahun ini Minikino bekerjasama dengan kelompok seni pertunjukan ternama di Bali, Teater Kalangan untuk membuat deskripsi audio untuk seluruh film pendek S-Express 2020: Indonesia. Audio Description ini bermanfaat untuk memberi akses pada tuna netra agar turut bisa menikmati film.

“Biasanya kegiatan menonton untuk tuna netra didampingi oleh seseorang yang akan membisikkan adegan-adegan dalam film. Metode ini memerlukan relawan dengan jumlah memadai. Pendekatan pembisik ini memiliki kendala deskripsi adegan yang belum tentu sesuai dengan maksud sinematografer. Penyampaian antara satu relawan dengan yang lain juga bisa saja berbeda dan mengubah nuansa film. Dengan Audio Description pengalaman menonton film bisa makin menyenangkan tanpa mengubah kualitas film yang dibuat oleh pembuatnya.” Terang Fransiska Prihadi.

Teater Kalangan bergerak dalam membuat naskah deskripsi audio sekaligus menarasikannya. Sebagai Koordinator Deskripsi Audio untuk kelimat film pendek dalam program S-Express 2020: Indonesia ialah Agus Wiratama. Deskripsi audio film Sunyi ditulis dan dinarasikan oleh Manik Sukadana, Joko & Bowo Reading Vol. 1 oleh Wayan Sumahardika dan dinarasikan oleh Iin Valentine, Omah Njero ditulis oleh Jong Santiasa Putra dan dinarasikan oleh Dedek Surya Mahadipa, Jemari Yang Menari di Atas Luka-Luka ditulis oleh Juli Sastrawan dan dinarasikan oleh Iin Valentine, dan Bura ditulis dan dinarasikan oleh Agus Wiratama.

S-Express 2020: Indonesia dengan deskripsi audio ini dapat disaksikan dalam Minikino Film Week 6 – Bali International Short Film Festival pada tanggal 5, 6, dan 10 September. Lokasinya, secara berturut-turut, dapat ditemui di Minihall Irama Indah, Rumah Sanur Creative Hub, dan Antida Sound Garden.

Film Pendek Asia Tenggara

Program pertukaran film pendek se-Asia Tenggara, S-Express tahun ini menapaki edisi ke-18. Sejak 2002 S-Express masih menjadi satu-satunya program pertukaran film pendek yang menghubungkan sejumlah negara di Asia Tenggara dan menjadi bagian penting dalam sejarah perkembangan film pendek di negara-negara yang terlibat.

Minikino bergabung dalam jejaring S-Express pada tahun 2003 dan hingga saat ini terus aktif mendistribusikan film-film pendek Indonesia ke negara-negara Asia Tenggara dalam jejaring S-Express. Negara-negara tersebut antara lain, Malaysia, Myanmar, Filipina, Kamboja, Singapura, Thailand, dan Vietnam.  Di Indonesia sendiri, S-Express telah menjadi bagian dari festival film pendek tahunan Minikino Film Week yang tahun ini akan terlaksana mulai 4-12 September 2020 di Bali.

Film Pendek Indonesia wajib diusahakan agar ditonton oleh lebih banyak orang dalam jaringan festival-festival film pendek di penjuru dunia. Hal ini mungkin terjadi jika film tersebut masuk dalam radar jaringan kerja festival-festival film dunia, seperti jejaring yang dibangun oleh Minikino. Lengan distribusi dalam organisasi Minikino secara efektif membuka celah diseminasi film pendek secara luas.

Film Pendek Indonesia Di Show Me Shorts

Minikino dan para pembuat film Indonesia kembali menambahkan daftar panjang kerjasama internasional dalam promosi seni dan budaya dalam bentuk film pendek. Kali ini kerjasama pertukaran program terjalin antara Minikino dengan Show Me Shorts, sebuah festival film pendek yang berbasis di New Zealand. Film-film pendek Indonesia pilihan Direktur Program Minikino Fransiska Prihadi akan diputar dalam salah satu program bulanan Show Me Shorts. Sebaliknya, beberapa film pendek dari New Zealand akan diputar dalam Minikino Film Week - Bali International Short Film Festival tahun keenam yang akan diadakan di Bali, 4-12 September 2020 mendatang.

“Diputarnya film-film pendek Indonesia dalam program bulanan Show Me Shorts adalah langkah awal dari kerjasama kami dengan festival film pendek internasional terdepan di New Zealand tersebut. Ini merupakan kesempatan yang istimewa mengingat Show Me Shorts Film Festival telah memiliki kualifikasi Oscar dan terakreditasi oleh Academy Awards,” terang Fransiska Prihadi.

Awalnya, Fransiska Prihadi mengkurasi 12 film pendek Indonesia yang kemudian dikirimkan ke Show Me Shorts. Selanjutnya, Gina Dellabarca selaku Direktur Festival dan Co-Founder Show Me Shorts sekaligus Vice Chair of the Board dari asosiasi internasional, Short Film Conference, menyeleksi kembali film-film pendek tersebut hingga akhirnya terpilihlah 6 (enam) film pendek Indonesia yang akan diputar di New Zealand.

6 Film Pendek Indonesia Terpilih

berikut dafrat film terpilih yang diputar di Festival Film Pendek Show Me Shorts New Zealand, antara lain:

Keenam film tersebut sebelumnya dijadwalkan akan diputar dengan tajuk “Indonesian Short Film Night” pada Selasa, 18 Agustus 2020 pukul 19.00 waktu setempat di The Kingslander, 470 New North Road, Kingsland, Auckland dan Rabu, 19 Agustus 2020 pada jam yang sama di Third Eye Tuatara Bar, 30 Arthur St, Te Aro, Wellington. Kemudian dilanjutkan dengan geo-blocked online-event yang hanya bisa diakses di New Zealand selama dua hari saja yaitu pada tanggal 20-21 Agustus 2020. Namun, akibat adanya penambahan kasus COVID-19 baru di New Zealand per tanggal 11 Agustus lalu, seluruh pemutaran disiarkan secara online dengan geo-blocked New Zealand bagi penonton yang sudah membeli tiket. Show Me Shorts juga merangkul KBRI Wellington, New Zealand untuk mendukung berlangsung acara ini.

Direktur Program Minikino Fransiska Prihadi berharap kedepannya film pendek Indonesia mendapat perhatian dan diikutsertakan dalam festival tahunan Show Me Shorts.