Penghargaan kompetisi nasional di Minikino Film Week 9 menegaskan bahwa film pendek adalah bentuk seni yang penting dalam eksperimen sinematografi, narasi, dan gaya visual. Pengakuan ini mendorong perkembangan film pendek lebih jauh lagi dan memacu inovasi dalam industri film secara keseluruhan.
Penghargaan dalam sebuah festival menjadi penting bagi pembuat film pendek, sebagai bentuk pengakuan atas pencapaian serta dedikasi mereka dalam industri film. Kehadiran penghargaan bertaraf nasional juga dapat memotivasi sineas untuk terus berkarya, meningkatkan visibilitas karya mereka, dan membantu mereka mendapatkan perhatian dari produser, distributor, dan penyelenggara festival film.
Ada 16 judul film pendek yang masuk tahap penjurian oleh Dewan Juri Nasional Minikino Film Week 9. Para Dewan Juri terdiri dari seniman, sastrawan dan filmmaker, dari beragam kebangsaan, disiplin ilmu dan gender. Mereka diundang untuk melihat film-film yang telah melewati seleksi resmi 2023 dan memenuhi persyaratan untuk MFW9 National Competition Award. Para dewan juri ini adalah Made Adyana Ole (Sastrawan dan Jurnalis, Indonesia), Kelly Lui (Programmer Toronto Reel Asian International Film Festival, Kanada), dan Pedro Toro (Direktur Artistik, Programmer, dan Kurator Comunidad de Madrid Film Festival, Spanyol).
Pemenang utama kompetisi nasional berhak atas hadiah tunai sebesar dua juta lima ratus ribu rupiah, sementara Dewan Juri Nasional tahun ini akan menentukan pemenang Begadang Filmmaking Competition 2023 yang berkompetisi untuk hadiah senilai lima juta rupiah. Selain itu, nominasi kompetisi nasional MFW9 juga memiliki kesempatan untuk memenangkan hadiah tunai sebesar dua juta lima ratus ribu rupiah dalam Rangkai Award at MFW9. Tahun ini, Lumix Indonesia juga turut mendukung dengan hadiah berupa kamera Lumix G90 K Kit untuk film produksi Indonesia yang akan diumumkan pada malam penganugerahan, tanggal 23 September 2023 mendatang.
Selain dukungan dari perusahaan berbasis di Indonesia, sejak 2021 Minikino Film Week juga bekerjasama dengan The Raoul Wallenberg Institute Humanitarian Rights and Law yang berbasis di Lund, Swedia, untuk memberikan perhatian pada film-film pendek produksi regional Asia Pasifik yang berfokus pada isu kesetaraan, kemanusiaan, dan lingkungan. Tiga film pendek akan mendapatkan RWI Asia Pacific Award di MFW9 dengan total hadiah uang tunai sebesar tiga puluh juta rupiah. Film-film yang masuk nominasi untuk memperebutkan penghargaan tersebut adalah Acung Memilih Bersuara (Amelia Hapsari, Indonesia, 2023), Blue Poetry (Muhammad Heri Fadli, Indonesia, 2023), One Day In Lim Chu Kang (Michael Kam, Singapura, 2022), Senandung Senyap (Riani Singgih, Indonesia, 2021), dan The Wedding Ring (Robin Narciso, Kamboja, 2022).
Selain National Competition Award juga memberikan penghargaan internasional untuk kategori Best Short Film Of The Year, Best Animation Short, Best Audio Visual Experimental Short, Best Children Short, Best Documentary Short, Best Fiction Short, Programmer’s Choice, Youth Jury Award, Begadang Filmmaking Competition, Rangkai Award, dan RWI Asia Pacific Award.
Juri untuk penghargaan kompetisi internasional tahun ini adalah Clarissa Jacobson (Penulis dan produser, Amerika Serikat), Gita Fara (Produser Film dan Tim Komite Festival Film Indonesia, Indonesia), dan Sébastien Simon (Sutradara dan Programmer Film Busan International Short Film Festival, Korea/Perancis).
Melalui penghargaan-penghargaan ini, Edo Wulia selaku Direktur Festival mengharapkan agar film pendek mulai dilirik dan diapresiasi lebih jauh oleh masyarakat. “Festival film pendek seperti Minikino Film Week yang mengedepankan pertemuan fisik saya harap bisa berumur panjang dan terus didukung oleh berbagai pihak. Karena festival seperti ini merupakan tempat terjadi pertemuan ide, pemahaman, dan pertukaran antarpelaku industri film pendek." pungkasnya.

ACCIDENTALLY INTENTIONAL | [d][w] Kevin Rahardjo / Indonesia / 2023 / Fiction / 14:07 //
Seorang remaja yang relijius menonton film porno pertama kalinya, namun secara tak sengaja audionya tersambung menggunakan bluetooth ke mobil ibunya
[ig] @kevin_rahardjo // Awards/Screenings: World Premiere, Palm Springs International ShortFest 2023

AKEDAH (THE BINDING) | [d][w] Alessandro Manuel Rustanto / Indonesia, Czech Republic / 2022 / Fiction / 13:33 //
Tahun 1965 saat pembersihan orang-orang yang dianggap komunis, seorang pendeta berjanji untuk membaptis seorang wanita secara diam-diam. Wanita itu sedang hamil dan mencari perlindungan.

AKHIRNYA (By and By) | [d][w] Adi Dwianto / Indonesia / 2023 / Fiction / 15:30 //
Di sebuah desa yang terpencil, kehilangan yang tragis membuat sepasang pria dan wanita berpisah, namun sebuah reuni memaksa mereka untuk kemballi berhadapan dengan kesedihan.

ALKISAH SI DEWA (The Myth of Dewa) | [d][w] Brahmma Putra Wijaya / Indonesia / 2023 / Fiction / 10:56 //
Sebuah kisah tentang seorang anak laki-laki pemalu yang mengunjungi seorang dukun yang menakutkan, Ia kemudian menemukan perasaannya seperti di rumah sendiri. // [ig] @utuh.studio @sinemalima Crew @brahmma99 @annisaadjam @lottalemett

ALMIGHTY (Mahakuasa) | [d] Kenneth Lisungan, Itqon Askary / [w] Itqon Askary, Kenneth Lisungan / Indonesia / 2023 / Fiction / 08:05 //
Seorang polisi yang bertugas dalam tragedi Kanjuruhan membuat para tetangganya bertanya-tanya karena ia tidak menghadiri pemakaman anaknya. // [ig] @kennethlisungan // Awards/Screenings: Official Selection Lift-Off Filmmaker Sessions by Lift-Off Global Network.

ATTACK ON CHOLESTEROL | [d][w] Anjas Artha Putra / Indonesia / 2022 / Fiction / 09:24 //
Kehidupan Tommy dipertaruhkan saat kolesterol baik dan buruk dalam tubuhnya terlibat dalam pertarungan anime abad ini.

BERDOA, MULAI // [d][w] Tanzilal Azizie / Indonesia, Cirebon / 2022 / Fiksi / 10:05 //
Sebagai seorang minoritas di sekolahnya, Ruth harus beradaptasi dengan kebiasan teman-temannya yang Muslim. //
Awards/Screenings: Nominee Madani International Film Festival 2022 | Official Selection Jakarta Film Week 2022 | Shortlisted 30 Besar Festival Film Indonesia 2022.

BISING (Chorus of The Wounded Birds) | [d] Amar Haikal / [w] Amar Haikal, Bintang Panglima / Indonesia / 2023 / Fiction / 12:24 //
Tengah malam, seorang pemuda yang sedang gundah mencari pelepasan di sebuah bengkel sepeda motor yang bising. //
[ig] @podium.pictures

BLUE POETRY | [d][w] Muhammad Heri Fadli / Indonesia / 2023 / Fiction / 18:28 //
Berkisah tentang seorang nelayan yang bekerja keras menangkap ikan di laut. Ia sering makan ikan yang mengandung plastik yang membuat tubuhnya berubah.

BURNING BLUE | [d] Ezra Cecio / [w] Ezra Cecio, Garry Christian / Indonesia / 2023 / Fiction / 13:58 //
Gita, seorang remaja putus asa yang dipaksa menjadi pemain bulu tangkis oleh ayahnya yang otoriter, menemukan jalan keluar melalui permintaan aneh yang diajukan kepada pacarnya. //
[ig] @agterplaasproduction

HOW DOES IT SOUND? | [d][w] Medy Mahasena / Indonesia / 2023 / Fiction / 13:45 //
Arya adalah seorang komposer yang ingin membuat skor musik untuk film karya Edy namun trauma bom Bali menghambatnya berkarya. //
[ig] @satufrekuensi.films

I SAW A GHOST, AND IT WAS BEAUTIFUL | [d][w] Bobby Fernando / Indonesia / 2022 / Animation / 09:06 //
Seorang agen properti yang jenuh dengan pekerjaannya berubah menjadi konfrontasi nyata yang menyelubungi kebenaran di balik kliennya yang hilang. //
[ig] @odnanrefybbob

IYA IYA IYA IYA | [d] Winner Wijaya / [w] Winner Wijaya, Rayner Wijaya, Adit MKM / Indonesia / 2023 / Fiction / 17:32 //
Mariana dan Callista mengobrol tentang kehidupan cinta mereka. //
[ig] @horebesoklibur

MEMORI DIA | [d][w] Asarela Orchidia Dewi / Indonesia / 2022 / Fiction / 19:00 //
Saat mengingat kembali kenangan yang terlupa cukup lama, Azka menemukan rasa sakit yang belum selesai dan tidak pernah mereka ketahui keberadaannya. //
[ig] @qunfilms @asarela.dewi @chloeclau //
Awards/Screenings: Won Jury Award, Divine Queer Film Festival 2023 – Italy | Screened at Asian Perspective – Short Compilation Jogja Netpac Asian Film Festival, 2022 – Indonesia

REMEMBERING THE SERENADE | [d] Muhammad Exsell Rabbani / [w] Muhammad Exsell Rabbani, Agnes Monica Hernadi, Ernest Lesmana // Indonesia / 2022 / Fiction / 18:23 //
Seorang wanita paruh baya yang kesepian memutuskan apakah akan berkencan dengan mantan pacarnya atau merawat ibunya yang terkena Alzheimer. //
[ig] @serojafilm

SENANDUNG SENYAP (A SONOROUS MELODY) | [d] Riani Singgih / Indonesia / 2022 / Documentary / 24:26 //
Tumbuh besar dalam tuli, Mufi mengukir karir musiknya untuk menginspirasi orang lain untuk mengekspresikan diri mereka melalui bahasa isyarat. //
[ig] @inteamates.id @storiesofus Team @jejakria @annisaadjam @trezola //
Awards/Screenings: Selected Project Yamagata Doc Dojo 2021 | Selected Project IF/Then Southeast Asia Doc Lab 2020.
Minikino Film Week (MFW9) - Bali International Short Film Festival, berlangsung dari tanggal 15 hingga 23 September 2023 mendatang di Bali. MFW9 tahun ini akan diadakan dalam format hybrid, menggabungkan komponen fisik dan virtual. Semua pemutaran film dan diskusi akan dilakukan secara langsung, sementara sejumlah forum dalam Short Film Market akan diadakan secara daring, guna memperluas akses kepada khalayak yang lebih luas dan mengakomodasi para pembuat film dan pembicara yang tidak dapat hadir secara langsung.
Edo Wulia, Direktur Festival MFW9, menyatakan optimisme terhadap edisi tahun ini, dengan mengatakan, "MFW tahun ini lebih stabil dibandingkan tahun-tahun sebelumnya saat pandemi Covid-19. Akibatnya, kami melihat peningkatan partisipasi dari pemangku kepentingan industri film pendek, termasuk pelaku lokal, nasional, dan internasional."
Penggelaran MFW9 yang sukses terwujud berkat dukungan yang besar dari berbagai pihak. Festival tahun ini mendapat dukungan dari Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, serta Lembaga Pengelola Dana Pendidikan melalui Program Pemanfaatan Hasil Kelola Dana Abadi Kebudayaan Tahun 2023. Selain itu, organisasi dan entitas swasta, baik dalam negeri maupun luar negeri, turut berkontribusi dalam mewujudkan festival ini. Di antaranya adalah PT Kino Media Nusantara (Minikino Studio), The Raoul Wallenberg Institute of Human Rights and Humanitarian Law Regional Asia Pasifik, Lumix Indonesia, Grab, Rangkai, dan berbagai kerjasama dengan berbagai media, festival film internasional, universitas, tempat penyelenggaraan, perusahaan, dan komunitas lokal di Bali.
Dari 1.111 film pendek yang masuk melalui platform online Short Film Depot dan Filmfreeway, sebanyak 187 film, termasuk produksi Indonesia, telah terpilih untuk diputar. Selain itu, kolaborasi nasional dan internasional Minikino telah menyusun program film pendek tamu dan film-film untuk segmen Market Screening. Tahun ini, MFW9 akan menampilkan total lebih dari 275 film pendek, berasal dari Indonesia maupun negara-negara asing, mewakili 69 negara yang berbeda. Film-film ini akan diputar selama 9 hari penuh, di 13 lokasi berbeda yang tersebar di seluruh pulau Bali.
Program film pendek dalam MFW9 mencakup beragam jenis program, termasuk 33 program internasional, 3 Program Inclusive Cinema, 6 program S-Express 2023 Asia Tenggara, 6 program Indonesia Raja 2023, 4 VR Films, 5 Program Tamu, 7 Market Screening, 1 program Pool Cinema, dan Begadang 2023 Official Selection. Setiap film dalam program ini disertai dengan panduan rekomendasi batas usia dan dilengkapi dengan takarir dalam bahasa Indonesia. Penting juga dicatat bahwa beberapa program film akan didampingi oleh relawan profesional sebagai active listener dari Ikatan Psikologi Klinis HIMPSI Wilayah Bali.
Fransiska Prihadi, Direktur Program MFW9, mengungkapkan, "Meskipun MFW9 sudah memberikan panduan rekomendasi batas usia, kita tidak pernah sepenuhnya tahu kondisi psikologis para penonton. Di beberapa film yang memiliki konten eksplisit seperti trauma, kehadiran profesional sebagai active listener diperlukan untuk memberikan ruang aman. Sehingga kita semua bisa menikmati film, berdiskusi, dan berpikir kritis dalam ekosistem yang sehat."
Dengan berbagai program yang menarik dan perhatian terhadap kesejahteraan psikologis penonton, MFW9 berkomitmen untuk memberikan pengalaman yang mendalam dan bermakna dalam mengeksplorasi dunia film pendek internasional dan Indonesia.
MFW9 Inclusive Programs kembali menjadi bagian integral dalam upaya mewujudkan festival yang inklusif. Program ini mencakup serangkaian pemutaran film dan lokakarya yang ditujukan untuk semua penonton, dengan perhatian khusus pada penyandang disabilitas. Setiap film dalam program ini dilengkapi dengan Closed Caption (CC)/Subtitles for the Deaf and Hard-of-Hearing (SDH) dalam Bahasa Indonesia, yang merupakan jenis subtitle yang memfasilitasi penonton yang tuli atau kurang pendengaran. Selain itu, program ini juga menyertakan Audio Description (AD) dalam Bahasa Indonesia, yang disisipkan ke dalam film untuk penonton dengan disabilitas netra. Yang membuat tahun ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya adalah program AD sepenuhnya diisi oleh relawan penyandang disabilitas netra yang berasal dari Bali.
Edo Wulia berharap bahwa partisipasi penyandang disabilitas netra dalam produksi AD bersama Minikino Studio ini akan membuka peluang baru bagi komunitas tersebut. "Kami berusaha untuk memperkenalkan AD ke dalam ekosistem festival di Indonesia, dan semoga hal ini menjadi tren positif serta membuka peluang baru bagi pengisi suara tunanetra," ungkap Edo Wulia. Hal ini sejalan dengan semakin kuatnya gerakan inklusif dan peningkatan kesadaran akan pentingnya aksesibilitas yang semakin ditekankan.
Salah satu inisiatif baru yang diperkenalkan adalah MFW9 Market Screenings, yang bertujuan untuk menyediakan platform pertukaran film pendek bagi berbagai instansi perfilman internasional. Berbeda dengan program pemutaran film biasa, Market Screening dikelola langsung oleh instansi yang terlibat, dengan MFW9 berperan sebagai fasilitator. Beberapa instansi yang ikut serta dalam program ini meliputi SAE Media Academy (Indonesia), Doha Film Institute (Qatar), Institut Seni Indonesia Denpasar (Indonesia), Universitas Pelita Harapan (Indonesia), Universitas Multimedia Nusantara (Indonesia), Rangkai (Indonesia), dan Festival Film Purbalingga (Indonesia).
Market Screening merupakan bagian integral dari Short Film Market MFW9, yang bertujuan membangun jembatan antara profesional di tingkat nasional dan internasional. Program ini juga mendorong pertemuan dan pertukaran langsung, membuka lebih banyak peluang untuk terlibat dalam industri film. "Pusat perhatian dari wadah ini adalah pertukaran nilai budaya, modal sosial, dan pameran bagi para pemangku kepentingan dalam dunia perfilman," jelas Edo Wulia.
Selain itu, festival ini juga akan menampilkan program film pendek dari jaringan regional Asia Tenggara melalui S-Express 2023 Networks dan regional Indonesia melalui jaringan programer Indonesia Raja 2023. Tidak hanya itu, MFW9 juga akan mempersembahkan program film pendek dari kolaborator festival internasional seperti Alcine Film Festival (Spanyol), Kaohsiung Film Festival (Taiwan), Toronto Reel Asian (Kanada), Image Forum Festival (Jepang), dan Show Me Short Film Festival (Selandia Baru).
MFW melibatkan Micro Cinema, Community Screening, dan Pop-Up Cinema di sejumlah lokasi Bali. Ini memberi penduduk lokal akses dan pengalaman eksklusif, sementara pengunjung yang ingin merasakan Bali lebih dekat juga dapat menikmatinya. Ini menciptakan kesempatan unik untuk menggali budaya dan seni di Bali.
Lima film pendek dari program Purwa Carita Campuhan diputar perdana di di Studio XXI Plaza Level 21, Denpasar pada Jumat, 3 Maret 2023 mulai pukul 18:45 Wita. Lima karya film pendek tersebut adalah:
Purwa Carita Campuhan merupakan Program dari Yayasan Puri Kauhan Ubud, berupa kompetisi ide cerita film dengan tema air dan lingkungan, yang mewajibkan peserta menggali sumber cerita dari cerita rakyat Bali. Kompetisi ini diikuti puluhan peserta, yang disaring dalam berberapa tahapan, dimana tahap pertama meloloskan 30 cerita yang kemudian mendapat pembekalan mengenai penggalian sumber cerita dan pemgembangannya menjadi cerita film. Tahap selanjutnya, meloloskan 15 cerita yang kemudian mengukuti pelatihan penyusunan proposal film dan dipertemukan dengan juri utama dalam sesi pitching ide cerita.
Sebelumnya, acara peluncuran film pendek Purwa Carita Campuhan berserta tiga seri buku oleh Yayasan Puri Kauhan Ubud dilangsungkan pada pagi hari di Ruang Taksu, Gedung Dharma Negara Alaya, Denpasar. Hadir dalam acara peluncuran tersebut Wakil Walikota Denpasar, Kadek Agus Arya Wibawa yang memberikan apresiasi peluncuran buku dan film pendek ini, sebagai sesuatu yang penting sebagai sarana interaksi dan komunikasi dalam usaha menumbuhkembangkan kreativitas di kalangan anak-anak dan remaja terkait agama, adat dan budaya Bali yang berkesinambungan.
Yayasan Puri Kauhan Ubud, Anak Agung Gde Ngurah Ari Dwipayana menyampaikan, diadakannya kompetisi ini terinspirasi dari cerita rakyat Bali yang di dalamnya memuat pesan lingkungan dan pemuliaan air. Dimana bertujuan bukan hanya sebagai kompetisi, tapi juga mengedukasi perihal lingkungan serta pelatihan khususnya dalam pembuatan film pendek. Tema air diangkat dikarenakan air merupakan hal yang penting dalam sistem kepercayaan masyarakat Bali. Dalam upacara panca yadnya pun air menjadi simbol penting.
Ajang kompetisi Film Pendek Purwa Carita Campuhan adalah bagian dari rangkaian panjang Program Sastra Saraswati Sewana 2022. Purwa Carita Campuhan adalah kompetisi ide cerita film pendek tentang pemuliaan air dan pelestarian alam yang dikembangkan dari cerita rakyat Bali. Cerita rakyat tersebut dialih wahanakan ke film pendek agar cocok untuk generasi kekinian, terutama Gen-Z.
Sekitar 160 orang penonton memenuhi ruang bioskop XXI yang terletak di Jl. Teuku Umar, Denpasar. Dalam kesempatan tersebut, AAGN Ari Dwipayana menyampaikan pemutaran karya pemenang di bioskop XXI ini sebagai penghargaan kepada para peserta lomba yang telah bekerja keras mengikuti seluruh rangkaian lomba.
Kompetisi ini turut bekerjasama dengan Minikino, dan didukung oleh Pupuk Kaltim, Telkom dsn Indihome. Dalam Program Purwa Carita Campuhan diharapkan bisa membantu para peserta untuk memahami lebih dalam lagi tentang Cerita Rakyat yang terkait dengan Pemuliaan Air dan Pelestarian Alam-lingkungan Bali. Menggali kekayaan cerita lokal hendaknya menjadi sebuah kesadaran bagi para sineas dalam mengembangkan cerita film yang memiliki nilai universal. Kisah-kisah lokal Bali tidak akan kalah dengan kisah Pocahontas, Mulan, atau Moana.
Lima film pendek yang disaksikan malam itu, merupakan luaran dari 5 project film yang mendapatkan bantuan dana produksi sebesar masing-masing 25 juta rupiah untuk biaya produksi. Pemenang kompetisi bervariasi dari Siswa SMA sampai dosen-dosen audio visual di Bali. Cerita film pemenang tersebut melalui serangkaian penilaian oleh kurator dan juri-juri yang kompeten, diantaranya Garin Nugroho, Tjokorda Raka Kerthyasa, Anak Agung Gde Ariawan, Happy Salma dan Robi Navicula.
Dalam proses pra-produksi peserta mendapat kesempatan konsultasi mengenai sekenario yang mereka tulis sebelum memasuki tahapan produksi. Dalam tahap produksi film pendek, setiap peserta memilih tim produksi dan melakukan seluruh proses produksi secara mandiri, selama kurang-lebih satu bulan, hinggal menghasilkan final film yang disaksikan bersama-sama di Bioskop malam itu.
Konsep program alih wahana cerita rakyat ke dalam film Purwa Carita Campuhan ini mejadi menarik, karena memiliki fokus pada penggalian sumber cerita dan memberikan pembekalan melalui pelatihannya. Peserta yang berhasil menang ataupun yang hanya bisa sampai di tahap pelatihan akan pulang membawa ilmu dan wawasan baru. Sangat berbeda dengan lomba film pendek yang meminta peserta mengirimkan film jadi dan membumbuinya wajib memasukan jargon promosi produknya. Peserta yang menang dapat hadiah, semetara yang tidak menang hanya jadi koeban eksploitasi kepentingan kapita saja.
Sebuah perjalanan dimulai dan pasti harus berakhir di sebuah tujuan atau pun persinggahan. Perjalanan Minikino Film Week (MFW) 7, Bali International Short Film Festival berakhir pada Sabtu, 11 September 2021 lalu; satu lagi persinggahan menuju MFW selanjutnya yang tujuannya telah pasti di 2 - 10 September 2022.
MFW adalah sebuah kolaborasi bersama banyak pihak, semuanya ikut andil membentuk perjalanan dan kualitas festival ini. Sejak pandemi melanda dunia, setiap langkah serasa tidak pernah mulus. Tahun 2021 memang terasa lebih sulit untuk menyelenggarakan festival ini. Namun ketika kita semua mengusung semangat dan harapan yang sama, maka kita bisa berjuang bersama.
Total 166 mata acara pemutaran film dan kegiatan Short Film Market berhasil terlaksana dalam MFW7. Tercatat 1997 penonton hadir di 14 lokasi yang tersebar di seluruh pulau Bali dan sekitar 366 views acara yang disiarkan online.
Program yang selalu menarik banyak perhatian adalah layar tancap. Sejak awal MFW selalu mengembangkan modul pelatihan yang mengiringi Pop Up Cinema ke desa-desa. Tahun sebelumnya kami sudah mengenalkan kepada anak-anak dan remaja tentang bagaimana terjadinya gambar bergerak, bagaimana membaca gambar atau bagaimana sebuah film dibuat. Sementara tahun ini pelatihan Pop Up cinema, memperkenalkan media baru yang bisa diproduksi dengan gadget atau HP mereka sendiri.

Minikino Film Week 7 ditutup dengan International Awarding Event, pada (11/9/2021). Dalam kegiatan ini, MFW mengumumkan berbagai penghargaan baik Internasional dan juga penghargaan Nasional.
Peraih penghargaan Internasional dan Nasional Award untuk masing-masing kategori, adalah sebagai berikut:
MFW7 Best Animation Short
Thorns and Fishbones” (sutradara: Natália Azevedo Andrade, Hungaria, 2020);
MFW7 Best Audio Visual Experimental Short
“Inside”
(sutradara: Yann Chapotel, Perancis, 2020);
MFW7 Best Children Short
“Girlsboysmix”
(sutradara: Lara Aerts, Belanda, 2020);
MFW7 Best Documentary Short
“Why Didn’t You Stay For Me”
(sutradara: Gevers Milou, Belanda, 2020);
MFW7 Best Fiction Short
“Makassar Is A City For Football Fans” (sutradara: Khozy Rizal, Indonesia, 2020);
MFW7 Programmer’s Choice
"A Lonely Afternoon”
(sutradara: Kyle Credo, Kanada, 2020). Sedangkan penghargaan tertinggi, yakni
MFW Best Short Film of the Year 2021
“I Am Afraid to Forget Your Face”
(sutradara: Sameh Alaa, Mesir, Prancis, Belgia, Qatar, 2020).
Begadang Filmmaking Competition 2021
"Pro Cast"
(sutradara: Immanuel Kurniawan, Victoria Film, Malang, Jawa Timur, 2021).
MFW National Competition 2021
“Masa Depan Cerah 2040”
(sutradara: Winner Wijaya, Fiksi, 2020)
Special Jury Mention
“Chintya”
(sutradara: Sesarina Puspita, Fiksi, 2019)
“Salmiyah”
(sutradara: Harryaldi Kurniawan, Dokumenter, 2019)
Raoul Wallenberg Institute Asia Pacific Award at MFW7
“The Last Breath of the Tonle Sap”
(sutradara: Thomas Cristofoletti, Robin Narciso, Kamboja, 2020).
Pada Minggu (5/9/2021), Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Desa Tukadaya, Makata, bersama Sanggar Bali Tersenyum mengadakan kegiatan pengenalan dan pelatihan yang bertajuk “Bercerita Menggunakan Kamera HP”. Kegiatan ini bertempat di Pangkung Jaka, lokasi yang sedang digarap oleh Pokdarwis West di Banjar Sarikuning, Desa Tukadaya. Kegiatan tersebut terselenggara atas kerjasama dengan Minikino Film Week (MFW) 7 – International Short Film Festival yang diselenggarakan oleh Minikino – Yayasan Kino Media.
Pelatihan yang diikuti oleh belasan remaja dari banjar-banjar yang ada di Desa Tukadaya, dibimbing oleh relawan-relawan MFW7. Ada Kak Aal seorang produser film yang berbagi tentang proses pembuatan film pendek berjudul Rangkul, Kak Vifick seorang fotografer yang berbagi tentang bercerita dengan gambar, dan Made Birus Direktur Traveling Festival MFW7 yang membimbing para peserta untuk menulis ide cerita, merekam dan mengedit video menggunakan kamera HP.
Pelatihan selama kurang lebih empat jam tersebut, menghasilkan lima karya video pendek yang menceritakan keseharian para peserta. Semua cerita datang dari ide mereka sendiri, diperankan oleh mereka sendiri, pengambilan gambar dan editing juga dilakukan sendiri, di bawah bimbingan teman-teman dari Minikino.
Selain workshop atau pelatihan, kegiatan bersama Minikino Film Week dilanjutkan dengan sesi layar tancap yang dimulai pada pukul 18:30 Wita. Selain memutar program-program film pendek yang merupakan pilihan festival, di akhir acara, hasil karya remaja Tukadaya dari pelatihan Bercerita Menggunakan Kamera HP pun ditayangkan.
Kemeriahan sangat terasa ketika para penonton yang sebagian besar adalah keluarga dan tetangga para peserta pelatihan, mulai melihat wajah-wajah yang mereka kenal tampil di layar lebar. Ini adalah pengalaman luar biasa, membuat karya dengan HP yang sudah sangat akrab dan berkesempatan menonton hasilnya bersama-sama di layar lebat yang sangat jarang ditemukan terutama di desa. Ruang kolektif seperti ini sangat sulit ditemukan ketika karya dari HP kemudian didistribusikan di kanal online dan ditonton melalui layar HP yang terbatas, dan sendirian saja.
Kegiatan pelatihan dan layar tancap ini terselenggara dengan menerapkan protokol kesehatan ketat, dengan mewajibkan peserta mengenakan masker, suhu badan diperiksa di lokasi dan dalam keadaan normal, serta disediakan hand sanitizer. Sebagai komitmen untuk saling menjaga, seluruh rangkaian acara diselenggarakan secara luring (fisik) dan daring (online) yang dibarengi dengan komitmen penerapan protokol kesehatan bagi penonton maupun penyelenggara yang bertugas.
Di tengah terpaan pandemi COVID-19, Festival film pendek Minikino Film Week 7 (MFW7) – Bali International Short Film Festival, diadakan pada 3-11 September 2021. Tahun ini MFW7, hadir di 15 titik yang tersebar di seluruh Bali. Festival Lounge atau tempat titik temu festival berada di MASH Denpasar. Selebihnya lokasi tersebar di kota Denpasar (Antida Sound Garden, Alliance Française Bali, Irama Indah Mini Hall, CushCush Gallery, Rumah Sanur Creative Hub, Men Brayut), kabupaten Badung (Uma Seminyak), kabupaten Buleleng (Rumah Film Sang Karsa), dan kabupaten Gianyar (Omah Apik Pejeng). Layar tancap tahun ini akan diadakan di kabupaten Buleleng (Desa Pedawa), kabupaten Jembrana (Pangkungjaka, Desa Tukadaya) dan kota Denpasar (Kebun Berdaya Kampung Hijau, Desa Tegeh Sari).
Semoga ini adalah awal dari kerjasama dengan Minikino dan membuka kerjasama-kerjasama baru dengan pihak lain yang bersedia berbagi ilmu dan pengetahuan dengan warga Desa Tukadaya.
KIM Makata mengharapkan, bahwa teman remaja, anak-anak dan masyarakat secara umum untuk sedia bekerjasama dalam meningkatkan kapasitas diri. KIM yang saat ini telah meluncurkan portal media online Makata media dotcom, berharap dapat menyelenggarakan berbagai pelatihan termasuk pelatihan menulis cerita dan berita, membuat video/ film, belajar fotografi, digital marketing, dan sebagainya. Tentu saja, sebuah kegiatan membutuhkan dukungan penuh dari masyarakat dan pemerintah Desa.
Masih di tengah terpaan pandemi COVID-19. Festival film pendek internasional Minikino Film Week 7 (MFW7), hadir pada 3-11 September 2021 di Bali. Sebagai komitmen untuk saling menjaga, seluruh rangkaian acara diselenggarakan secara luring (fisik) dan daring (online) yang dibarengi dengan komitmen penerapan protokol kesehatan bagi penonton maupun penyelenggara yang bertugas.
“Festival di tengah pandemi tetap perlu memperhatikan protokol kesehatan. Tahun ini ada syarat tambahan bagi seluruh relawan festival dan penonton. Mereka wajib memiliki bukti vaksin minimal satu kali atau hasil negatif rapid test antigen swab di bulan September 2021.” ujar Direktur Festival, Edo Wulia.
Tercatat 925 judul film pendek yang masuk melalui kanal online Short Film Depot dan Filmfreeway. Film maker dari seluruh dunia, termasuk Indonesia memiliki kesempatan yang sama memanfaatkan kanal tersebut. Seluruh film yang masuk kemudian melalui proses seleksi. 214 film internasional terpilih dan dikemas dalam 36 program.
Selain itu MFW7 akan menampilkan program film pendek dari festival tamu yaitu Image Forum Festival (Jepang), In-Docs (Indonesia), Seoul Yeongdeungpo International Extreme Short Image & Film Festival (Korea), Reel Asian (Canada), dan Clermont-Ferrand International Short Film Festival (Prancis). Kehadiran program tamu dari berbagai festival di dunia tersebut, merupakan konsep pertukaran program film pendek, dari kerja berjejaring dengan festival di dalam dan luar Indonesia.
Selain berhasil mendatangkan program dari luar, Minikino juga berhasil membawa program film pendek Indonesia untuk tampil di berbagai festival film internasional sepanjang tahun. Tahun ini kerjasama seleksi dan kurasi dilakukan untuk KAUM Alternative Indonesian Performance and Film Festival (Jerman) pada 8-21 Agustus 2021, Nòt Film Festival (Italia) pada 24-29 Agustus 2021, dan Seoul Yeongdeungpo International Extreme-Short Image & Film Festival (SESIFF, Korea Selatan) pada 7-12 September 2021 dan Image Forum Festival di Tokyo dan Nagoya, Jepang pada 25 September - 3 Oktober 2021.
“Berjejaring merupakan kunci. Minikino Film Week adalah jembatan sekaligus pintu yang membuka lebar potensi kerjasama serta apresiasi terhadap film-film pendek terbaik Indonesia, Asia Tenggara dan internasional,” papar Fransiska Prihadi, Direktur Program Minikino.
Selain pertukaran program film pendek, Minikino juga melakukan pertukaran sumber daya manusia, seperti bisa dilihat dalam deretan nama-nama dewan juri penghargaan Minikino Film Week 7. Demikian halnya tim Minikino yang diwakili Fransiska Prihadi berkesempatan diundang menjadi bagian komite juri dalam ReelOzInd! Australia Indonesia Short Film Competition dan SESIFF Korea Selatan. Selain itu, diundang pula sebagai pembicara dalam workshop film fiksi pendek yang diselenggarakan AKATARA, mempresentasikan program Minikino di Image Forum Festival Jepang mengenai Film in Shelter, dan Short Film Forum: How To Make The Most Of Film Festival yang diselenggarakan oleh Objectifs Centre for Photography and Film, Singapura.
Berbagai acara pra-festival sudah terlaksana sejak bulan Juni 2021. Program Hybrid Writer Internship mengawali di bulan Juni dan berlangsung hingga November 2021. Kompetisi produksi film pendek nasional tahunan, Begadang Filmmaking Competition berlangsung pada 23-24 Juli lalu.
Kisahpedia mendukung kegiatan Minikino tahun ini. Kisahpedia adalah lembaga akuisisi film yang menaruh perhatian pada isu keragaman dan toleransi dalam penyelenggaraan Begadang Filmmaking Competition. 39 tim produksi dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti kompetisi ini. Namun hanya 29 tim yang berhasil menyelesaikan produksi sesuai batas waktu 34 jam.
Selain lebih dari 150 kali pemutaran film di berbagai lokasi selama sepekan. MFW7 juga memberikan fasilitas bagi para pegiat film untuk bertemu, berjejaring, hingga mempromosikan karya mereka lewat Short Film Market. Terdapat kegiatan forum diskusi Kopi Selem, Nurturing FIlm Festival Writers dan Toast Your Short, workshop bedah film, Open Screen, Short Film Library, Open Screen Event, Begadang 2021 Official Selection, dan RWI Asia Pacific Award Nominees at MFW7 dengan Audio Description dan Closed Caption yang dapat dinikmati bersama teman-teman tuna netra dan tuli.
Untuk pertama kalinya tahun ini MFW7 akan menghadirkan pengalaman menikmati film virtual reality (VR) berjudul “Penggantian” karya Jonathan Hagard, seorang sutradara Indonesia-Prancis. Film ini menggambarkan akar identitas budaya, perubahan sosial, politik dan lingkungan hidup. Sebelum hadir di Minikino Film Week, “Penggantian” sudah lebih dulu tampil di berbagai festival internasional. Film ini meraih penghargaan di Venice International Film Festival, Annecy Festival dan Siggraph.
Tahun ini MFW7, Bali International Short Film Festival hadir di 15 titik yang tersebar di seluruh Bali. Festival Lounge atau tempat titik temu festival berada di MASH Denpasar. Selebihnya lokasi tersebar di kota Denpasar (Antida Sound Garden, Alliance Française Bali, Irama Indah Mini Hall, CushCush Gallery, Rumah Sanur Creative Hub, Men Brayut). Kabupaten Badung (Uma Seminyak). Kabupaten Buleleng (Rumah Film Sang Karsa), dan kabupaten Gianyar (Omah Apik Pejeng). Layar tancap tahun ini akan diadakan di kabupaten Buleleng (Desa Pedawa). Kabupaten Jembrana di Pangkungjaka, Desa Tukadaya. Kota Denpasar di Kebun Berdaya Kampung Hijau, Desa Tegeh Sari.
Made Suarbawa, Direktur Traveling Cinema mengatakan bahwa, bertemu dengan penonton di desa dalam program layar tancap selalu memberikan gairah baru. Pandemi ini membuat komunikasi dengan kolaborator menjadi semakin erat, selain untuk berkoordinasi, juga untuk saling bertukar informasi dan dukungan dalam beraktivitas dan mempersiapkan MFW7.
Buku program digital dan jadwal festival tersedia di situs minikino.org/filmweek. Semua program gratis dan terbuka untuk umum, sesuai dengan pedoman usia. Calon penonton diwajibkan mendaftar terlebih dahulu sebelum datang ke lokasi acara untuk mendapatkan festival pass. Formulir festival pass dapat diisi secara daring di minikino.org/mfw7pass.
Festival film pendek internasional Minikino Film Week (MFW) kembali hadir di tahun ke-7, pada 3-11 September 2021. Dari siaran media yang diterima Mipmap, MFW7 mencatat 925 judul film pendek yang masuk, melalui kanal online Short Film Depot dan Filmfreeway. Penerimaan film ini dibuka untuk film maker dari seluruh dunia, termasuk Indonesia. Seluruh film yang masuk kemudian melalui proses seleksi dan terpilih 214 film. Film-film yang masuk baik dari Indonesia maupun luar negeri tersebut, dikemas dalam 36 program dan akan diputar di layar-layar di seantero pulau Bali.
Tahun 2021 ini, Minikino Film Week memberikan penganugerahan penghargaan untuk film-film pendek terbaik dalam beberapa kategori, antara lain; Best Animation Short, Best Audio Visual Experimental Short, Best Children Short, Best Documentary Short, Best Fiction Short, Programmer’s Choice, dan Best Short Film of The Year 2021.
Juri untuk penghargaan kompetisi internasional tahun ini ialah Asako Fujioka (Yamagata International Documentary Film Festival, Jepang) , Lucky Kuswandi (sutradara dan penulis film, Indonesia), Kelly Lui (Reel Asian, Canada), dan Monez Gusmang (ilustrator, Indonesia).
Penghargaan terbaru adalah National Competition Award, yang ditujukan khusus bagi film pendek Indonesia. Nominasi penerima penghargaan MFW National Competition Award diseleksi oleh juri tahap pertama yang merupakan programmer Indonesia Raja 2021 yaitu Akbar Rafsanjani (Aceh), Kardian Narayana (Bali), Kemala Astika (Cirebon), Nosa Normanda (Jakarta), Sazkia Noor Anggraini (Yogyakarta).
Lima nominasi pada kategori ini ialah tiga karya film pendek fiksi berjudul Angpao (sutradara Stefanus Cancan), Chintya (sutradara Sesarina Puspita), Masa Depan Cerah (sutradara Winner Wijaya) dan dua film pendek dokumenter yaitu Shin Hua (sutradara Erick Sutanto), Salmiyah (sutradara Harryaldi Kurniawan).
Untuk penentuan pemenang yang berhak menerima National Competition Award, ditentukan oleh final round juri yang terdiri dari Anom Darsana (produser musik dan teknisi suara, Indonesia), John Badalu (produser film, Indonesia) dan Sanchai Chotirosseranee (Thai Film Archive, Tahiland).
Tahun ini Minikino Film Week juga bekerjasama dengan The Raoul Wallenberg Institute Humanitarian Rights and Law yang berbasis di Lund, Swedia, untuk memberikan perhatian pada film-film pendek yang berurusan dengan serangkaian masalah kesetaraan, keragaman, dan lingkungan. Satu film pendek akan terpilih untuk mendapatkan gelar The RWI Asia Pacific Award at MFW7 dengan hadiah uang tunai sebesar sepuluh juta rupiah.
Ada pun film-film yang masuk nominasi untuk memperebutkan gelar tersebut adalah Citarum (sutradara Ali Satri Efendi, Indonesia, 2020), God’s Daughter Dances (sutradara Sungbin Byun, Korea Selatan, 2020), Gold is Eating People (sutradara Su Xia, Cina, 2020), The Last Breath of Tonle Sap. (sutradara Thomas Cristofoletti, Robin Narciso, Kamboja, 2020), dan The Execution (sutradara Jeroen Van der Stock, Jepang, 2019).
Tentu saja tidak lupa, pemenang kompetisi membuat film pendek dalam waktu 34 jam, Begadang Filmmaking Competition juga ditentukan dari 4 nominasi yang terpilih yaitu, Makasih, Mbak Anggun (dir. Dimas Adiputro, Suka Films), Selamat Datang di Indonesia (dir. Azalia Muchransyah, CATastrophe Productions), Pro Cast (dir. Immanuel Kurniawan, Victoria Film / Malang, Jawa Timur), dan From Mars For England (dir. Mochamad Rizky Fauzy, KMTF).
Tahun 2021 Begadang Filmmaking Competition didukung oleh Kisahpedia, lembaga akuisisi film yang menaruh perhatian pada isu keragaman dan toleransi. Begadang diikuti oleh 39 tim produksi dari berbagai daerah di Indonesia, namun hanya 29 tim yang berhasil menyelesaikan produksi sesuai batas waktu. Kemudian, dari 29 film yang masuk diseleksi kembali hingga terpilih 10 film yang ditayangkan selama MFW7. Dari 10 film pilihan tersebutlah terpilih 4 (empat) film nominasi yang akan melalui proses penjurian akhir untuk menentukan pemenang utama.
Seluruh penghargaan yang dianugrahkan Minikino Film Week 7, diumumkan dan diserahkan dalam acara penutupan dan awarding events, pada tanggal 13 September 2021.
Untuk menjadi perhatian para peminat film, bahwa seluruh rangkaian Minikino Film Week 7 adalah bebas biaya dan terbuka untuk umum, dengan memperhatikan rating usia. Selain itu, panitia juga penerapkan protokol kesehatan yang ketat, dengan mewajibkan para penonton untuk melakukan registrasi awal, untuk mendapatkan festival pass.
“Festival di tengah pandemi tetap perlu memperhatikan protokol kesehatan dan tahun ini ada syarat tambahan bagi seluruh pekerja festival dan penonton untuk memiliki bukti vaksin minimal satu kali atau hasil negatif rapid test antigen swab di bulan September 2021,” ujar Direktur Festival, Edo Wulia dalam siaran persnya.
“Belajar tidak mengenal usia”, katanya. Apalagi yang masih muda; yang masih punya kesempatan belajar lebih banyak; yang lahir dan bersentuhan dengan teknologi sejak dalam kandungan, jika dibandingkan dengan generasi sebelumnya, ayah dan kakeknya yang ketika lahir masih diterangi damar sentir.
Sabtu lalu, 19 Juni 2021, muda-mudi Banjar Kembangsari, Desa Tukadaya, berkesempatan menerima kunjungan dan ilmu dari kawan-kawan Minikino (Yayasan Kino Media), yang berbagi tentang sejarah gambar bergerak (moving image), yang saat ini kita kenal dan nikmati sebagai video atau film.
Dalam sesi pelatihan 2 jam tersebut, muda-mudi menerima pemaparan dan praktek menciptakan gambar-gambar yang kemudian dipasang pada alat yang bernama #Zoetrope.
Zoetrope merupakan alat yang digunakan untuk mengerakan gambar; alat yang dapat menciptakan ilusi gerak dari rangkaian gambar yang dipasang di dalamnya. Zoetrope adalah alat pra-film animasi, yang ditemukan oleh William George Horner pada tahun 1834.
Gambar bergerak adalah sebuah seni untuk menggerakan objek, menciptakan ilusi gerak dari serangkaian gambar. Selanjutnya gambar bergerak berkembang menjadi lebih menarik, dimana fungsi kreativitas melahirkan karya seni yang melibatkan imajinasi. Konsep dasar gambar bergerak kemudian melahirkan animasi, yang berasal dari bahasa latin, anima, yang artinya jiwa, hidup, nyawa dan semangat.
Animasi adalah gambar dua dimensi yang seolah-olah bergerak. Animasi merupakan seni untuk memanipulasi gambar menjadi seolah-olah hidup dan bergerak. Lembaran-lembaran kertas yang digabungkan menceritakan gerakan seorang tokoh di setiap sekuensinya. Sebelum kelahiran komputer sebagai alat bantu, maka gambar dibuat sendiri oleh pelukisnya dengan membayangkan setiap gerakan secara detail. (dikutip dari wikipedia)
Minikino adalah sebuah organisasi nirlaba yang menyatakan fokus pada gerakan literasi audio visual melalui film pendek. Kegiatan yang dilakukan meliputi pemutaran dan diskusi film pendek, pelatihan-pelatihan, pengembangan jejaring budaya sinema, serta kompetisi dan festival film pendek.
Dalam pengembangan jejaring budaya sinema, Minikino terhubung dan bekerjasama dengan berbagai lembaga dan individu dari berbagai negara. Dalam jejaring ini termasuk komunitas masyarakat di penjuru pulau Bali, dan tentu saja desa-desa di Jembrana menjadi bagian yang tidak terpisahkan.
Minikino memiliki berbagai program menarik yang siap dilaksanakan, tinggal bagaimana komunitas masyarakat di Jembrana atau Tukadaya menyambutnya. Ibarat mata airnya sudah siap, tinggal komunitas menyiapkan gelas untuk menampung airnya agar bisa dimanfaatkan.
Setelah sesi pelatihan ini, semoga ada minat lagi untuk menimba ilmu lebih lanjut: apakah tertarik belajar membuat film animasi, belajar video, film atau fotografi dan sebagainya. Kami Rumah Baca Bali Tersenyum bersama Makata – KIM Tukadaya siap memfasilitasi, di bawah arahan pemerintah desa.
COVID-19 menunda berbagai event festival film di berbagai negara. Namun Minikino Film Week terus melangkah dengan berbagai penyesuaian dan inovasi. Seluruh rangkaian kegiatan disesuaikan dengan protokol kesehatan dan berbagai pembatasan era New Normal di masa pandemi ini.
Di tengah terpaan pandemi COVID-19, Minikino Film Week (MFW), Bali International Short Film Festival menyelenggarakan edisi ke-enamnya pada 4-12 September 2020. Seluruh rangkaian acara ini tentunya dibarengi dengan komitmen melaksanakan protokol kesehatan bagi penonton maupun penyelenggara yang bertugas. Penyelenggaraan MFW6 kali ini turut didukung oleh Fasilitasi Bidang Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan serta Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
“Tiap tahunnya, MFW selalu menghadirkan kolaborasi baru hasil dari jaringan kerja Minikino dengan berbagai festival film pendek maupun para profesional lainnya. Sebuah festival film pendek sejatinya adalah ruang untuk eksibisi, edukasi, dan networking, sehingga memperluas jaringan kerja menjadi kunci utamanya.” papar Direktur Travelling Festival I Made Suarbawa.
Menjelang terselenggaranya MFW6, telah terlaksana pula berbagai acara pra-festival yang dimulai sejak bulan Juli lalu. Diawali dengan Youth Jury Online Camp pada 20-24 Juli 2020, kemudian dilanjutkan dengan kompetisi produksi film pendek nasional tahunan Begadang Filmmaking Competition pada 25-26 Juli 2020 lalu.
Direktur Festival Edo Wulia menjelaskan, film-film pendek internasional yang akan tayang di MFW6 merupakan film pendek yang dipilih dari pengajuan terbuka melalui platform online. Tahun ini, MFW menerima pengajuan film pendek melalui 2 (dua) platform, yakni Short Film Depot (https://minikino.org/shortfilmdepot) dan Filmfreeway (https://filmfreeway.com/MINIKINOFILMWEEK).
“Di tahun keenam ini ada 198 film pendek dari 79 negara yang terpilih sebagai Official Selection akan tayang di layar MFW6. Jumlah ini terpilih dari total 903 film pendek yang masuk lewat pendaftaran seleksi Minikino Film Week. Seluruh film terpilih tersebut kemudian dikemas menjadi berbagai program.” lanjut Edo Wulia.

Jackson Segars Sutradara Film “Kimchi” Saat Menerima Penghargaan (foto: wayan martino #sayabercerita)
Diakhir pelaksanaan MFW6 pada 12 September nanti, akan ada penganugerahaan bagi film-film pendek terbaik dalam beberapa kategori, antara lain; MFW Best Short Film of the Year 2020, MFW6 Best Animation Short, MFW6 Best Audio Visual Experimental Short, MFW6 Best Children Short, serta MFW6 Best Documentary Short. Dan untuk pertama kalinya pada tahun ini, MFW6 akan memberikan penganugerahaan khusus untuk film-film pendek Indonesia dalam kategori MFW National Competition Award 2020.
MFW6 juga menghadirkan Short Film Market Events yang berisikan Short Film Library, MFW6 Open Screen Event, Forum dan Talks, Fringes, serta Workshop. Dengan berlakunya pembatasan jumlah penonton dan ketatnya prosedur bepergian, sejumlah pembicara dalam Forum dan Talks akan tampil secara online (daring) dan penyelenggaraannya akan disiarkan secara langsung melalui minikino.org/live dengan menghadirkan juru bahasa isyarat pada seluruh sesi.
“Secara umum, akan ada 31 program internasional, 8 program S-Express 2020 dengan fokus Asia Tenggara, 3 program Indonesia Raja 2019, 3 program tamu dan Begadang 2020 Official Selection. Lalu, untuk Short Film Market Events 2020, ada 4 (empat) topik Forum, 3 (tiga) Talks, 1 (satu) Fringes, dan 2 (dua) Workshop.” Ungkap Direktur Program Fransiska Prihadi.
Para pembicara dalam Short Film Market MFW6 menghadirkan Forum berupa diskusi panel dengan berbagai topik diskusi. “Why Film Festival Matters Beyond 2020” menghadirkan Jukka Pekka Laakso (Finlandia), Gina Dellabarca (New Zealand), Kelly Lui (Kanada) dan Koyo Yamashita (Jepang). “Future Cinema Audience: The Youth” akan dihadiri oleh Tomy W. Taslim (Indonesia), Sébastien Simon (Prancis, Korea Selatan) dan Tim Redford (Prancis) serta MFW6 Youth Juries Kayla Amare Budiwarman, Qiu Mattane Lao, Seika Cintanya Sanger, Sophie Louisa & Stella Melody Winata. Para profesional dari industri film pendek dunia juga akan menambah wawasan tentang nilai ekonomi film pendek menghadirkan Ho Hock Doong (Malaysia), Jaime E. Manrique (Kolombia), Sabrina Spence (Kanada) dan Vivian Idris (Indonesia).
Anggun Pradesha, seorang aktivis transpuan, bersama ibunya dari Jambi juga akan hadir secara langsung mengisi program MFW6 Talks tentang keberagaman dan penerimaan orang tua. Lalu ada Asako Fujioka (Jepang) yang akan memaparkan program kolaborasi Yamagata Documentary Dojo dengan Minikino berupa pertukaran pembuat film pendek dalam sesi “Breathing The Same Air”. Selain itu Ade Wirawan, pendiri Bali Deaf Community akan membahas topik Film, Orang Tuli, dan Bahasa Isyarat.
Workshop akan diisi dengan perkenalan produksi film dengan ponsel pintar oleh Mondiblanc Workshop. Ada pula workshop gambar gerak untuk anak-anak yang akan mengiringi layar tancap di 3 (tiga) desa. Kolaborasi tahun ini juga dilakukan bersama Nosa Normanda untuk memproduksi serial podcast minikino dengan fokus dunia film pendek.
Seluruh film pendek yang diputar memiliki teks Bahasa Indonesia. Menambah keistimewaan tahun ini, MFW6 merambah jangkauan penonton tuna netra dan tuli agar dapat menikmati festival film pendek ini. Bekerja sama dengan Teater Kalangan, untuk pertama kalinya dibuat deskripsi audio untuk 5 (lima) film pendek Indonesia dalam program S-Express 2020: Indonesia yang dapat dinikmati penonton tuna netra.

Masih dengan format yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya, kali ini MFW 6, Bali International Short Film Festival hadir di 10 titik yang tersebar di seluruh Pulau Bali. Festival Lounge atau titik temu utama festival akan berada di MASH Denpasar. Selebihnya akan ada di Irama Indah, MASH Denpasar, Rumah Sanur Creative Hub, Antida Sound Garden, Uma Seminyak, Omah Apik Pejeng, dan Rumah Film Sang Karsa Buleleng. Lalu MFW6 juga akan buka layar di Desa Pedawa, Buleleng; Selat Karangasem, dan Tegeh Sari Denpasar.
Acara akan berlangsung secara bersamaan selama 1 minggu (4-12 September) di titik-titik tersebut. Hanya terkecuali Pop Up Cinema (layar tancap) yang akan ada selama 3 (tiga) hari saja secara bergiliran di masing-masing desa. Seluruh calon penonton diwajibkan mendaftar terlebih dahulu sebelum datang ke lokasi acara dengan festival pass yang dapat diperoleh tanpa dikenakan biaya. Formulir festival pass dapat diisi secara daring di minikino.org/festivalpass.
Menonton adalah aktivitas dengan indra pengelihatan. Bagaimana caranya jika ingin mengajak Tuna Netra (Orang Buta) untuk menonton film pendek? Inovasi untuk memberikan akses pada tuna netra terhadap tontonan film pendek dilakukan oleh Minikino dalam ajang tahunan Minikino Film Week 6. Film-film yang disediakan untuk tontonan penyandang Tuna Netra, diambil dari program S-Express 2020: Indonesia, yang merupakan bagian dari program pertukaran film pendek dari negara-negara Asia Tenggara yang telah berjalan sejak tahun 2003.
S-Express 2020: Indonesia terdiri atas 5 (lima) film pendek yang dikurasi oleh Direktur Program Minikino, Fransiska Prihadi. Kelima film pendek tersebut ialah, Sunyi (sutradara Riani Singgih, Dokumenter, 2018) Joko & Bowo Reading Vol. 1 (sutradara: I Kadek Jaya Wiguna, Fiksi, 2019), Omah Njero (sutradara: Gelora Yudhaswara, Fiksi, 2019), Jemari Yang Menari di Atas Luka-Luka (sutradara: Putri Sarah Amelia, Fiksi, 2019) dan Bura (sutradara: Eden Junjung, Fiksi, 2019).
“Kelimanya memiliki cerita yang patut disuarakan di tahun 2020 ini. Harapannya film-film pendek ini dapat menggugah diskusi yang menarik.” Ungkap Fransiska Prihadi.
Menambah keistimewaan S-Express 2020: Indonesia, tahun ini Minikino bekerjasama dengan kelompok seni pertunjukan ternama di Bali, Teater Kalangan untuk membuat deskripsi audio untuk seluruh film pendek S-Express 2020: Indonesia. Audio Description ini bermanfaat untuk memberi akses pada tuna netra agar turut bisa menikmati film.
“Biasanya kegiatan menonton untuk tuna netra didampingi oleh seseorang yang akan membisikkan adegan-adegan dalam film. Metode ini memerlukan relawan dengan jumlah memadai. Pendekatan pembisik ini memiliki kendala deskripsi adegan yang belum tentu sesuai dengan maksud sinematografer. Penyampaian antara satu relawan dengan yang lain juga bisa saja berbeda dan mengubah nuansa film. Dengan Audio Description pengalaman menonton film bisa makin menyenangkan tanpa mengubah kualitas film yang dibuat oleh pembuatnya.” Terang Fransiska Prihadi.
Teater Kalangan bergerak dalam membuat naskah deskripsi audio sekaligus menarasikannya. Sebagai Koordinator Deskripsi Audio untuk kelimat film pendek dalam program S-Express 2020: Indonesia ialah Agus Wiratama. Deskripsi audio film Sunyi ditulis dan dinarasikan oleh Manik Sukadana, Joko & Bowo Reading Vol. 1 oleh Wayan Sumahardika dan dinarasikan oleh Iin Valentine, Omah Njero ditulis oleh Jong Santiasa Putra dan dinarasikan oleh Dedek Surya Mahadipa, Jemari Yang Menari di Atas Luka-Luka ditulis oleh Juli Sastrawan dan dinarasikan oleh Iin Valentine, dan Bura ditulis dan dinarasikan oleh Agus Wiratama.
S-Express 2020: Indonesia dengan deskripsi audio ini dapat disaksikan dalam Minikino Film Week 6 – Bali International Short Film Festival pada tanggal 5, 6, dan 10 September. Lokasinya, secara berturut-turut, dapat ditemui di Minihall Irama Indah, Rumah Sanur Creative Hub, dan Antida Sound Garden.
Program pertukaran film pendek se-Asia Tenggara, S-Express tahun ini menapaki edisi ke-18. Sejak 2002 S-Express masih menjadi satu-satunya program pertukaran film pendek yang menghubungkan sejumlah negara di Asia Tenggara dan menjadi bagian penting dalam sejarah perkembangan film pendek di negara-negara yang terlibat.
Minikino bergabung dalam jejaring S-Express pada tahun 2003 dan hingga saat ini terus aktif mendistribusikan film-film pendek Indonesia ke negara-negara Asia Tenggara dalam jejaring S-Express. Negara-negara tersebut antara lain, Malaysia, Myanmar, Filipina, Kamboja, Singapura, Thailand, dan Vietnam. Di Indonesia sendiri, S-Express telah menjadi bagian dari festival film pendek tahunan Minikino Film Week yang tahun ini akan terlaksana mulai 4-12 September 2020 di Bali.