Masih di tengah terpaan pandemi COVID-19. Festival film pendek internasional Minikino Film Week 7 (MFW7), hadir pada 3-11 September 2021 di Bali. Sebagai komitmen untuk saling menjaga, seluruh rangkaian acara diselenggarakan secara luring (fisik) dan daring (online) yang dibarengi dengan komitmen penerapan protokol kesehatan bagi penonton maupun penyelenggara yang bertugas.
“Festival di tengah pandemi tetap perlu memperhatikan protokol kesehatan. Tahun ini ada syarat tambahan bagi seluruh relawan festival dan penonton. Mereka wajib memiliki bukti vaksin minimal satu kali atau hasil negatif rapid test antigen swab di bulan September 2021.” ujar Direktur Festival, Edo Wulia.
Tercatat 925 judul film pendek yang masuk melalui kanal online Short Film Depot dan Filmfreeway. Film maker dari seluruh dunia, termasuk Indonesia memiliki kesempatan yang sama memanfaatkan kanal tersebut. Seluruh film yang masuk kemudian melalui proses seleksi. 214 film internasional terpilih dan dikemas dalam 36 program.
Selain itu MFW7 akan menampilkan program film pendek dari festival tamu yaitu Image Forum Festival (Jepang), In-Docs (Indonesia), Seoul Yeongdeungpo International Extreme Short Image & Film Festival (Korea), Reel Asian (Canada), dan Clermont-Ferrand International Short Film Festival (Prancis). Kehadiran program tamu dari berbagai festival di dunia tersebut, merupakan konsep pertukaran program film pendek, dari kerja berjejaring dengan festival di dalam dan luar Indonesia.
Selain berhasil mendatangkan program dari luar, Minikino juga berhasil membawa program film pendek Indonesia untuk tampil di berbagai festival film internasional sepanjang tahun. Tahun ini kerjasama seleksi dan kurasi dilakukan untuk KAUM Alternative Indonesian Performance and Film Festival (Jerman) pada 8-21 Agustus 2021, Nòt Film Festival (Italia) pada 24-29 Agustus 2021, dan Seoul Yeongdeungpo International Extreme-Short Image & Film Festival (SESIFF, Korea Selatan) pada 7-12 September 2021 dan Image Forum Festival di Tokyo dan Nagoya, Jepang pada 25 September - 3 Oktober 2021.
“Berjejaring merupakan kunci. Minikino Film Week adalah jembatan sekaligus pintu yang membuka lebar potensi kerjasama serta apresiasi terhadap film-film pendek terbaik Indonesia, Asia Tenggara dan internasional,” papar Fransiska Prihadi, Direktur Program Minikino.
Selain pertukaran program film pendek, Minikino juga melakukan pertukaran sumber daya manusia, seperti bisa dilihat dalam deretan nama-nama dewan juri penghargaan Minikino Film Week 7. Demikian halnya tim Minikino yang diwakili Fransiska Prihadi berkesempatan diundang menjadi bagian komite juri dalam ReelOzInd! Australia Indonesia Short Film Competition dan SESIFF Korea Selatan. Selain itu, diundang pula sebagai pembicara dalam workshop film fiksi pendek yang diselenggarakan AKATARA, mempresentasikan program Minikino di Image Forum Festival Jepang mengenai Film in Shelter, dan Short Film Forum: How To Make The Most Of Film Festival yang diselenggarakan oleh Objectifs Centre for Photography and Film, Singapura.
Berbagai acara pra-festival sudah terlaksana sejak bulan Juni 2021. Program Hybrid Writer Internship mengawali di bulan Juni dan berlangsung hingga November 2021. Kompetisi produksi film pendek nasional tahunan, Begadang Filmmaking Competition berlangsung pada 23-24 Juli lalu.
Kisahpedia mendukung kegiatan Minikino tahun ini. Kisahpedia adalah lembaga akuisisi film yang menaruh perhatian pada isu keragaman dan toleransi dalam penyelenggaraan Begadang Filmmaking Competition. 39 tim produksi dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti kompetisi ini. Namun hanya 29 tim yang berhasil menyelesaikan produksi sesuai batas waktu 34 jam.
Selain lebih dari 150 kali pemutaran film di berbagai lokasi selama sepekan. MFW7 juga memberikan fasilitas bagi para pegiat film untuk bertemu, berjejaring, hingga mempromosikan karya mereka lewat Short Film Market. Terdapat kegiatan forum diskusi Kopi Selem, Nurturing FIlm Festival Writers dan Toast Your Short, workshop bedah film, Open Screen, Short Film Library, Open Screen Event, Begadang 2021 Official Selection, dan RWI Asia Pacific Award Nominees at MFW7 dengan Audio Description dan Closed Caption yang dapat dinikmati bersama teman-teman tuna netra dan tuli.
Untuk pertama kalinya tahun ini MFW7 akan menghadirkan pengalaman menikmati film virtual reality (VR) berjudul “Penggantian” karya Jonathan Hagard, seorang sutradara Indonesia-Prancis. Film ini menggambarkan akar identitas budaya, perubahan sosial, politik dan lingkungan hidup. Sebelum hadir di Minikino Film Week, “Penggantian” sudah lebih dulu tampil di berbagai festival internasional. Film ini meraih penghargaan di Venice International Film Festival, Annecy Festival dan Siggraph.
Tahun ini MFW7, Bali International Short Film Festival hadir di 15 titik yang tersebar di seluruh Bali. Festival Lounge atau tempat titik temu festival berada di MASH Denpasar. Selebihnya lokasi tersebar di kota Denpasar (Antida Sound Garden, Alliance Française Bali, Irama Indah Mini Hall, CushCush Gallery, Rumah Sanur Creative Hub, Men Brayut). Kabupaten Badung (Uma Seminyak). Kabupaten Buleleng (Rumah Film Sang Karsa), dan kabupaten Gianyar (Omah Apik Pejeng). Layar tancap tahun ini akan diadakan di kabupaten Buleleng (Desa Pedawa). Kabupaten Jembrana di Pangkungjaka, Desa Tukadaya. Kota Denpasar di Kebun Berdaya Kampung Hijau, Desa Tegeh Sari.
Made Suarbawa, Direktur Traveling Cinema mengatakan bahwa, bertemu dengan penonton di desa dalam program layar tancap selalu memberikan gairah baru. Pandemi ini membuat komunikasi dengan kolaborator menjadi semakin erat, selain untuk berkoordinasi, juga untuk saling bertukar informasi dan dukungan dalam beraktivitas dan mempersiapkan MFW7.
Buku program digital dan jadwal festival tersedia di situs minikino.org/filmweek. Semua program gratis dan terbuka untuk umum, sesuai dengan pedoman usia. Calon penonton diwajibkan mendaftar terlebih dahulu sebelum datang ke lokasi acara untuk mendapatkan festival pass. Formulir festival pass dapat diisi secara daring di minikino.org/mfw7pass.
Festival film pendek internasional Minikino Film Week (MFW) kembali hadir di tahun ke-7, pada 3-11 September 2021. Dari siaran media yang diterima Mipmap, MFW7 mencatat 925 judul film pendek yang masuk, melalui kanal online Short Film Depot dan Filmfreeway. Penerimaan film ini dibuka untuk film maker dari seluruh dunia, termasuk Indonesia. Seluruh film yang masuk kemudian melalui proses seleksi dan terpilih 214 film. Film-film yang masuk baik dari Indonesia maupun luar negeri tersebut, dikemas dalam 36 program dan akan diputar di layar-layar di seantero pulau Bali.
Tahun 2021 ini, Minikino Film Week memberikan penganugerahan penghargaan untuk film-film pendek terbaik dalam beberapa kategori, antara lain; Best Animation Short, Best Audio Visual Experimental Short, Best Children Short, Best Documentary Short, Best Fiction Short, Programmer’s Choice, dan Best Short Film of The Year 2021.
Juri untuk penghargaan kompetisi internasional tahun ini ialah Asako Fujioka (Yamagata International Documentary Film Festival, Jepang) , Lucky Kuswandi (sutradara dan penulis film, Indonesia), Kelly Lui (Reel Asian, Canada), dan Monez Gusmang (ilustrator, Indonesia).
Penghargaan terbaru adalah National Competition Award, yang ditujukan khusus bagi film pendek Indonesia. Nominasi penerima penghargaan MFW National Competition Award diseleksi oleh juri tahap pertama yang merupakan programmer Indonesia Raja 2021 yaitu Akbar Rafsanjani (Aceh), Kardian Narayana (Bali), Kemala Astika (Cirebon), Nosa Normanda (Jakarta), Sazkia Noor Anggraini (Yogyakarta).
Lima nominasi pada kategori ini ialah tiga karya film pendek fiksi berjudul Angpao (sutradara Stefanus Cancan), Chintya (sutradara Sesarina Puspita), Masa Depan Cerah (sutradara Winner Wijaya) dan dua film pendek dokumenter yaitu Shin Hua (sutradara Erick Sutanto), Salmiyah (sutradara Harryaldi Kurniawan).
Untuk penentuan pemenang yang berhak menerima National Competition Award, ditentukan oleh final round juri yang terdiri dari Anom Darsana (produser musik dan teknisi suara, Indonesia), John Badalu (produser film, Indonesia) dan Sanchai Chotirosseranee (Thai Film Archive, Tahiland).
Tahun ini Minikino Film Week juga bekerjasama dengan The Raoul Wallenberg Institute Humanitarian Rights and Law yang berbasis di Lund, Swedia, untuk memberikan perhatian pada film-film pendek yang berurusan dengan serangkaian masalah kesetaraan, keragaman, dan lingkungan. Satu film pendek akan terpilih untuk mendapatkan gelar The RWI Asia Pacific Award at MFW7 dengan hadiah uang tunai sebesar sepuluh juta rupiah.
Ada pun film-film yang masuk nominasi untuk memperebutkan gelar tersebut adalah Citarum (sutradara Ali Satri Efendi, Indonesia, 2020), God’s Daughter Dances (sutradara Sungbin Byun, Korea Selatan, 2020), Gold is Eating People (sutradara Su Xia, Cina, 2020), The Last Breath of Tonle Sap. (sutradara Thomas Cristofoletti, Robin Narciso, Kamboja, 2020), dan The Execution (sutradara Jeroen Van der Stock, Jepang, 2019).
Tentu saja tidak lupa, pemenang kompetisi membuat film pendek dalam waktu 34 jam, Begadang Filmmaking Competition juga ditentukan dari 4 nominasi yang terpilih yaitu, Makasih, Mbak Anggun (dir. Dimas Adiputro, Suka Films), Selamat Datang di Indonesia (dir. Azalia Muchransyah, CATastrophe Productions), Pro Cast (dir. Immanuel Kurniawan, Victoria Film / Malang, Jawa Timur), dan From Mars For England (dir. Mochamad Rizky Fauzy, KMTF).
Tahun 2021 Begadang Filmmaking Competition didukung oleh Kisahpedia, lembaga akuisisi film yang menaruh perhatian pada isu keragaman dan toleransi. Begadang diikuti oleh 39 tim produksi dari berbagai daerah di Indonesia, namun hanya 29 tim yang berhasil menyelesaikan produksi sesuai batas waktu. Kemudian, dari 29 film yang masuk diseleksi kembali hingga terpilih 10 film yang ditayangkan selama MFW7. Dari 10 film pilihan tersebutlah terpilih 4 (empat) film nominasi yang akan melalui proses penjurian akhir untuk menentukan pemenang utama.
Seluruh penghargaan yang dianugrahkan Minikino Film Week 7, diumumkan dan diserahkan dalam acara penutupan dan awarding events, pada tanggal 13 September 2021.
Untuk menjadi perhatian para peminat film, bahwa seluruh rangkaian Minikino Film Week 7 adalah bebas biaya dan terbuka untuk umum, dengan memperhatikan rating usia. Selain itu, panitia juga penerapkan protokol kesehatan yang ketat, dengan mewajibkan para penonton untuk melakukan registrasi awal, untuk mendapatkan festival pass.
“Festival di tengah pandemi tetap perlu memperhatikan protokol kesehatan dan tahun ini ada syarat tambahan bagi seluruh pekerja festival dan penonton untuk memiliki bukti vaksin minimal satu kali atau hasil negatif rapid test antigen swab di bulan September 2021,” ujar Direktur Festival, Edo Wulia dalam siaran persnya.
COVID-19 menunda berbagai event festival film di berbagai negara. Namun Minikino Film Week terus melangkah dengan berbagai penyesuaian dan inovasi. Seluruh rangkaian kegiatan disesuaikan dengan protokol kesehatan dan berbagai pembatasan era New Normal di masa pandemi ini.
Di tengah terpaan pandemi COVID-19, Minikino Film Week (MFW), Bali International Short Film Festival menyelenggarakan edisi ke-enamnya pada 4-12 September 2020. Seluruh rangkaian acara ini tentunya dibarengi dengan komitmen melaksanakan protokol kesehatan bagi penonton maupun penyelenggara yang bertugas. Penyelenggaraan MFW6 kali ini turut didukung oleh Fasilitasi Bidang Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan serta Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
“Tiap tahunnya, MFW selalu menghadirkan kolaborasi baru hasil dari jaringan kerja Minikino dengan berbagai festival film pendek maupun para profesional lainnya. Sebuah festival film pendek sejatinya adalah ruang untuk eksibisi, edukasi, dan networking, sehingga memperluas jaringan kerja menjadi kunci utamanya.” papar Direktur Travelling Festival I Made Suarbawa.
Menjelang terselenggaranya MFW6, telah terlaksana pula berbagai acara pra-festival yang dimulai sejak bulan Juli lalu. Diawali dengan Youth Jury Online Camp pada 20-24 Juli 2020, kemudian dilanjutkan dengan kompetisi produksi film pendek nasional tahunan Begadang Filmmaking Competition pada 25-26 Juli 2020 lalu.
Direktur Festival Edo Wulia menjelaskan, film-film pendek internasional yang akan tayang di MFW6 merupakan film pendek yang dipilih dari pengajuan terbuka melalui platform online. Tahun ini, MFW menerima pengajuan film pendek melalui 2 (dua) platform, yakni Short Film Depot (https://minikino.org/shortfilmdepot) dan Filmfreeway (https://filmfreeway.com/MINIKINOFILMWEEK).
“Di tahun keenam ini ada 198 film pendek dari 79 negara yang terpilih sebagai Official Selection akan tayang di layar MFW6. Jumlah ini terpilih dari total 903 film pendek yang masuk lewat pendaftaran seleksi Minikino Film Week. Seluruh film terpilih tersebut kemudian dikemas menjadi berbagai program.” lanjut Edo Wulia.

Jackson Segars Sutradara Film “Kimchi” Saat Menerima Penghargaan (foto: wayan martino #sayabercerita)
Diakhir pelaksanaan MFW6 pada 12 September nanti, akan ada penganugerahaan bagi film-film pendek terbaik dalam beberapa kategori, antara lain; MFW Best Short Film of the Year 2020, MFW6 Best Animation Short, MFW6 Best Audio Visual Experimental Short, MFW6 Best Children Short, serta MFW6 Best Documentary Short. Dan untuk pertama kalinya pada tahun ini, MFW6 akan memberikan penganugerahaan khusus untuk film-film pendek Indonesia dalam kategori MFW National Competition Award 2020.
MFW6 juga menghadirkan Short Film Market Events yang berisikan Short Film Library, MFW6 Open Screen Event, Forum dan Talks, Fringes, serta Workshop. Dengan berlakunya pembatasan jumlah penonton dan ketatnya prosedur bepergian, sejumlah pembicara dalam Forum dan Talks akan tampil secara online (daring) dan penyelenggaraannya akan disiarkan secara langsung melalui minikino.org/live dengan menghadirkan juru bahasa isyarat pada seluruh sesi.
“Secara umum, akan ada 31 program internasional, 8 program S-Express 2020 dengan fokus Asia Tenggara, 3 program Indonesia Raja 2019, 3 program tamu dan Begadang 2020 Official Selection. Lalu, untuk Short Film Market Events 2020, ada 4 (empat) topik Forum, 3 (tiga) Talks, 1 (satu) Fringes, dan 2 (dua) Workshop.” Ungkap Direktur Program Fransiska Prihadi.
Para pembicara dalam Short Film Market MFW6 menghadirkan Forum berupa diskusi panel dengan berbagai topik diskusi. “Why Film Festival Matters Beyond 2020” menghadirkan Jukka Pekka Laakso (Finlandia), Gina Dellabarca (New Zealand), Kelly Lui (Kanada) dan Koyo Yamashita (Jepang). “Future Cinema Audience: The Youth” akan dihadiri oleh Tomy W. Taslim (Indonesia), Sébastien Simon (Prancis, Korea Selatan) dan Tim Redford (Prancis) serta MFW6 Youth Juries Kayla Amare Budiwarman, Qiu Mattane Lao, Seika Cintanya Sanger, Sophie Louisa & Stella Melody Winata. Para profesional dari industri film pendek dunia juga akan menambah wawasan tentang nilai ekonomi film pendek menghadirkan Ho Hock Doong (Malaysia), Jaime E. Manrique (Kolombia), Sabrina Spence (Kanada) dan Vivian Idris (Indonesia).
Anggun Pradesha, seorang aktivis transpuan, bersama ibunya dari Jambi juga akan hadir secara langsung mengisi program MFW6 Talks tentang keberagaman dan penerimaan orang tua. Lalu ada Asako Fujioka (Jepang) yang akan memaparkan program kolaborasi Yamagata Documentary Dojo dengan Minikino berupa pertukaran pembuat film pendek dalam sesi “Breathing The Same Air”. Selain itu Ade Wirawan, pendiri Bali Deaf Community akan membahas topik Film, Orang Tuli, dan Bahasa Isyarat.
Workshop akan diisi dengan perkenalan produksi film dengan ponsel pintar oleh Mondiblanc Workshop. Ada pula workshop gambar gerak untuk anak-anak yang akan mengiringi layar tancap di 3 (tiga) desa. Kolaborasi tahun ini juga dilakukan bersama Nosa Normanda untuk memproduksi serial podcast minikino dengan fokus dunia film pendek.
Seluruh film pendek yang diputar memiliki teks Bahasa Indonesia. Menambah keistimewaan tahun ini, MFW6 merambah jangkauan penonton tuna netra dan tuli agar dapat menikmati festival film pendek ini. Bekerja sama dengan Teater Kalangan, untuk pertama kalinya dibuat deskripsi audio untuk 5 (lima) film pendek Indonesia dalam program S-Express 2020: Indonesia yang dapat dinikmati penonton tuna netra.

Masih dengan format yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya, kali ini MFW 6, Bali International Short Film Festival hadir di 10 titik yang tersebar di seluruh Pulau Bali. Festival Lounge atau titik temu utama festival akan berada di MASH Denpasar. Selebihnya akan ada di Irama Indah, MASH Denpasar, Rumah Sanur Creative Hub, Antida Sound Garden, Uma Seminyak, Omah Apik Pejeng, dan Rumah Film Sang Karsa Buleleng. Lalu MFW6 juga akan buka layar di Desa Pedawa, Buleleng; Selat Karangasem, dan Tegeh Sari Denpasar.
Acara akan berlangsung secara bersamaan selama 1 minggu (4-12 September) di titik-titik tersebut. Hanya terkecuali Pop Up Cinema (layar tancap) yang akan ada selama 3 (tiga) hari saja secara bergiliran di masing-masing desa. Seluruh calon penonton diwajibkan mendaftar terlebih dahulu sebelum datang ke lokasi acara dengan festival pass yang dapat diperoleh tanpa dikenakan biaya. Formulir festival pass dapat diisi secara daring di minikino.org/festivalpass.
Menonton adalah aktivitas dengan indra pengelihatan. Bagaimana caranya jika ingin mengajak Tuna Netra (Orang Buta) untuk menonton film pendek? Inovasi untuk memberikan akses pada tuna netra terhadap tontonan film pendek dilakukan oleh Minikino dalam ajang tahunan Minikino Film Week 6. Film-film yang disediakan untuk tontonan penyandang Tuna Netra, diambil dari program S-Express 2020: Indonesia, yang merupakan bagian dari program pertukaran film pendek dari negara-negara Asia Tenggara yang telah berjalan sejak tahun 2003.
S-Express 2020: Indonesia terdiri atas 5 (lima) film pendek yang dikurasi oleh Direktur Program Minikino, Fransiska Prihadi. Kelima film pendek tersebut ialah, Sunyi (sutradara Riani Singgih, Dokumenter, 2018) Joko & Bowo Reading Vol. 1 (sutradara: I Kadek Jaya Wiguna, Fiksi, 2019), Omah Njero (sutradara: Gelora Yudhaswara, Fiksi, 2019), Jemari Yang Menari di Atas Luka-Luka (sutradara: Putri Sarah Amelia, Fiksi, 2019) dan Bura (sutradara: Eden Junjung, Fiksi, 2019).
“Kelimanya memiliki cerita yang patut disuarakan di tahun 2020 ini. Harapannya film-film pendek ini dapat menggugah diskusi yang menarik.” Ungkap Fransiska Prihadi.
Menambah keistimewaan S-Express 2020: Indonesia, tahun ini Minikino bekerjasama dengan kelompok seni pertunjukan ternama di Bali, Teater Kalangan untuk membuat deskripsi audio untuk seluruh film pendek S-Express 2020: Indonesia. Audio Description ini bermanfaat untuk memberi akses pada tuna netra agar turut bisa menikmati film.
“Biasanya kegiatan menonton untuk tuna netra didampingi oleh seseorang yang akan membisikkan adegan-adegan dalam film. Metode ini memerlukan relawan dengan jumlah memadai. Pendekatan pembisik ini memiliki kendala deskripsi adegan yang belum tentu sesuai dengan maksud sinematografer. Penyampaian antara satu relawan dengan yang lain juga bisa saja berbeda dan mengubah nuansa film. Dengan Audio Description pengalaman menonton film bisa makin menyenangkan tanpa mengubah kualitas film yang dibuat oleh pembuatnya.” Terang Fransiska Prihadi.
Teater Kalangan bergerak dalam membuat naskah deskripsi audio sekaligus menarasikannya. Sebagai Koordinator Deskripsi Audio untuk kelimat film pendek dalam program S-Express 2020: Indonesia ialah Agus Wiratama. Deskripsi audio film Sunyi ditulis dan dinarasikan oleh Manik Sukadana, Joko & Bowo Reading Vol. 1 oleh Wayan Sumahardika dan dinarasikan oleh Iin Valentine, Omah Njero ditulis oleh Jong Santiasa Putra dan dinarasikan oleh Dedek Surya Mahadipa, Jemari Yang Menari di Atas Luka-Luka ditulis oleh Juli Sastrawan dan dinarasikan oleh Iin Valentine, dan Bura ditulis dan dinarasikan oleh Agus Wiratama.
S-Express 2020: Indonesia dengan deskripsi audio ini dapat disaksikan dalam Minikino Film Week 6 – Bali International Short Film Festival pada tanggal 5, 6, dan 10 September. Lokasinya, secara berturut-turut, dapat ditemui di Minihall Irama Indah, Rumah Sanur Creative Hub, dan Antida Sound Garden.
Program pertukaran film pendek se-Asia Tenggara, S-Express tahun ini menapaki edisi ke-18. Sejak 2002 S-Express masih menjadi satu-satunya program pertukaran film pendek yang menghubungkan sejumlah negara di Asia Tenggara dan menjadi bagian penting dalam sejarah perkembangan film pendek di negara-negara yang terlibat.
Minikino bergabung dalam jejaring S-Express pada tahun 2003 dan hingga saat ini terus aktif mendistribusikan film-film pendek Indonesia ke negara-negara Asia Tenggara dalam jejaring S-Express. Negara-negara tersebut antara lain, Malaysia, Myanmar, Filipina, Kamboja, Singapura, Thailand, dan Vietnam. Di Indonesia sendiri, S-Express telah menjadi bagian dari festival film pendek tahunan Minikino Film Week yang tahun ini akan terlaksana mulai 4-12 September 2020 di Bali.
Film Pendek Indonesia wajib diusahakan agar ditonton oleh lebih banyak orang dalam jaringan festival-festival film pendek di penjuru dunia. Hal ini mungkin terjadi jika film tersebut masuk dalam radar jaringan kerja festival-festival film dunia, seperti jejaring yang dibangun oleh Minikino. Lengan distribusi dalam organisasi Minikino secara efektif membuka celah diseminasi film pendek secara luas.
Minikino dan para pembuat film Indonesia kembali menambahkan daftar panjang kerjasama internasional dalam promosi seni dan budaya dalam bentuk film pendek. Kali ini kerjasama pertukaran program terjalin antara Minikino dengan Show Me Shorts, sebuah festival film pendek yang berbasis di New Zealand. Film-film pendek Indonesia pilihan Direktur Program Minikino Fransiska Prihadi akan diputar dalam salah satu program bulanan Show Me Shorts. Sebaliknya, beberapa film pendek dari New Zealand akan diputar dalam Minikino Film Week - Bali International Short Film Festival tahun keenam yang akan diadakan di Bali, 4-12 September 2020 mendatang.
“Diputarnya film-film pendek Indonesia dalam program bulanan Show Me Shorts adalah langkah awal dari kerjasama kami dengan festival film pendek internasional terdepan di New Zealand tersebut. Ini merupakan kesempatan yang istimewa mengingat Show Me Shorts Film Festival telah memiliki kualifikasi Oscar dan terakreditasi oleh Academy Awards,” terang Fransiska Prihadi.
Awalnya, Fransiska Prihadi mengkurasi 12 film pendek Indonesia yang kemudian dikirimkan ke Show Me Shorts. Selanjutnya, Gina Dellabarca selaku Direktur Festival dan Co-Founder Show Me Shorts sekaligus Vice Chair of the Board dari asosiasi internasional, Short Film Conference, menyeleksi kembali film-film pendek tersebut hingga akhirnya terpilihlah 6 (enam) film pendek Indonesia yang akan diputar di New Zealand.
berikut dafrat film terpilih yang diputar di Festival Film Pendek Show Me Shorts New Zealand, antara lain:
Keenam film tersebut sebelumnya dijadwalkan akan diputar dengan tajuk “Indonesian Short Film Night” pada Selasa, 18 Agustus 2020 pukul 19.00 waktu setempat di The Kingslander, 470 New North Road, Kingsland, Auckland dan Rabu, 19 Agustus 2020 pada jam yang sama di Third Eye Tuatara Bar, 30 Arthur St, Te Aro, Wellington. Kemudian dilanjutkan dengan geo-blocked online-event yang hanya bisa diakses di New Zealand selama dua hari saja yaitu pada tanggal 20-21 Agustus 2020. Namun, akibat adanya penambahan kasus COVID-19 baru di New Zealand per tanggal 11 Agustus lalu, seluruh pemutaran disiarkan secara online dengan geo-blocked New Zealand bagi penonton yang sudah membeli tiket. Show Me Shorts juga merangkul KBRI Wellington, New Zealand untuk mendukung berlangsung acara ini.
Direktur Program Minikino Fransiska Prihadi berharap kedepannya film pendek Indonesia mendapat perhatian dan diikutsertakan dalam festival tahunan Show Me Shorts.
Gelaran acara akhir tahun Minikino, yakni Open December telah memasuki kali ke-17 diselenggarakan Sabtu, 21 Desember 2019. Yang istimewa tahun ini adalah kerjasama dengan pemerintah desa Padangsambian Kaja mengadakan acaranya di Balai Pertemuan Karang Sari, Jalan Gunung Sari, Padangsambian Kaja, Denpasar dalam bentuk Pop-Up Cinema atau layar tancap. “Ini adalah pertama kalinya dalam 17 tahun Open Desember diadakan dalam bentuk layar tancap di tempat terbuka.” demikian I Made Suarbawa selaku koordinator teknis menegaskan.
Para pembuat film dari berbagai penjuru satu-persatu berdatangan ke Balai Pertemuan Karang Sari sejak pukul 18.00 WITA. Sesuai aturan unik Open December, pembuat atau penanggung jawab film memang wajib hadir kalau ingin filmnya diputar. Pendaftaran hanya bisa dilakukan di lokasi acara. Semua jenis film pendek diterima tanpa pilih-pilih dan urutan film terpendek yang akan diputar lebih dahulu.
“Ini festival unik, karena kami sebagai penyelenggara tidak pernah mengetahui siapa yang datang dan film apa yang akan didaftarkan. Kami hanya menyebarkan publikasi seluas-luasnya, menyiapkan tempat dan menunggu.” Edo melanjutkan, ”Acara juga dibatasi hanya 2 (dua) jam saja, sehingga kalau kebanjiran pendaftaran film, maka ada resiko film yang urutannya geser ke belakang melebihi jam acara terpaksa tidak bisa terputar.” terang Edo Wulia, Direktur Minikino.
Pada pukul 18:00 para filmmaker sudah mulai berdatangan mendaftarkan filmnya. Pukul 18.50 WITA pendaftaran ditutup dan layar telah siap. Film yang diputar pada malam itu secara berurut antara lain, “TITIK AKHIR” oleh sutradara Medy Mahasena, dengan durasi 01:16, “BREAKFAST” oleh Sally Halstead 02:50, “DUETRIP WITH SIDE PROJECT” oleh Pool Moon Elephant & Andy 03:00, “BEHIND THE SCENE FILM 12.00” oleh Wira Arya Dharma dan peserta Workshop 04:28, “SEPATU” oleh RJ Damayanti dan Irfan Thamrin 05:44, “12.00” oleh Wira Arya Dharma 05:49, “HARI LAHIR” oleh Imam Ghitrif Yuniandri dan Jaggro Jingga Muhammad 12:14, “TAPI BOHONG” oleh Ivan Surya Nugraha 15:00, dan “TERGILA-GILA” oleh Nirartha B. Diwangkara 15:00. Kesembilan film tersebut berhasil diputar dalam waktu kurang dari 2 jam yang ditentukan, sehingga tidak ada yang tertinggal karena kehabisan waktu.
Sebelum film mulai diputar, Kepala Desa Padangsambian Kaja, I Made Gede Wijaya, S.Pt., M.Si.memberikan sambutan pembuka ke penonton. “Biasanya kami di Desa Padangsambian Kaja hanya mengurusi masalah jalan rusak, selokan tersendat, kerja bakti bersih lingkungan. Kali ini kami merasa selangkah lebih maju dengan mengadakan pelatihan dalam bidang seni kreatif seperti film ini. Mudah-mudahan ini menjadi wadah kreatifitas yang bagus bagi anak-anak muda di lingkungan desa kami.” ucap pak Kepala Desa.
Kesembilan film yang diputar pada malam itu sangat bervariasi, mulai dari tema horor, video musik, dokumentasi kegiatan, komedi, hingga drama kejiwaan. Para filmmaker dan penonton yang hadir pun secara latar belakang sangat beragam. Ada yang filmnya telah memiliki reputasi dan telah diputar di festival se-Asia Tenggara serta mendapatkan berbagai penghargaan, sampai pada film yang benar-benar baru pertama kali ditayangkan ke publik.

Open December ke-17 ini juga menjadi momen istimewa bagi para peserta Workshop Literasi Film dan Produksi Film Pendek Desa Padangsambian Kaja dan Minikino. Sebab, film pendek mereka berjudul “12.00” yang diproduksi pada Minggu, 8 Desember 2019 lalu ditayangkan perdana kepada umum pada acara ini.
“Sebetulnya masih ada beberapa skenario lain yang siap, hasil dari workshop, namun kisah film “12.00” ini yang dipilih untuk produksi karena mempertimbangkan berbagai tantangan teknis. Idenya mengambil mitos tentang mimpi di siang bolong.” kata Aryanthi Suastika dan Wira Arya Dharma mewakili teman-temannya.
Di akhir pemutaran, sudah menjadi kebiasaan, seluruh pembuat film diundang tampil ke depan dan berbagi cerita mengenai filmnya dan menerima pertanyaan-pertanyaan dari penonton yang penasaran. Open December ke-17 pada malam minggu itu pun ditutup dengan foto bersama seluruh penonton yang masih tinggal sampai akhir acara.
Cara menulis skenario, tidak ada cara yang peling tepat dari sekian banyak panduan menulis skenario film yang pernah dilakukan orang. Cara terbaik adalah cara yang paling nyaman bagi kita, mau mulai dari manapun, ya terserah. Satu lagi cara yang terbaik adalah teknik yang praktis untuk diterapkan dan membantu cerita dan skenario film kita selesai dan siap di produksi dan mudah dimengerti oleh seluruh tim kerja, mulai dari produser, soundman, gaffer hingga anak artistik.
Pada poin mudah dimengerti inilah kita berhenti sejenak. Standar atau bentuk baku sebuah skenario telah ada dan disepakati sebagai konsensus internasional, sehingga ketika sebuah sekenario final disodorkan pada seseorang dalam tim kerja - yang paham standar kerja - maka orang tersebut langsung dapat memahami isi dan maksud skenario tersebut.
Tidak ada aturan hukum yang mengatakan berapa seharusnya durasi sebuah film pendek. Secara umum, film pendek adalah film dengan durasi kurang dari 60 menit. Yang menentukan berapa durasi film pendek yang tepat adalah ruang putarnya, seperti Festival Film, platform streaming, Televisi dan sebagainya.
Penghargaan Oscar mensyaratkan film pendek yang berhak ikut berkompetisi adalah 40 menit atau kurang. Festival Film Pendek Internasional di Bali – Minikino Film Week mensyaratkan 25 menit atau kurang. Begadang Film Making Competition mensyaratkan durasi 5 menit, dan ada juga festival the one minute di Belanda yang mensyaratkan film pendek wajib hanya 1 menit.
Secara umum, rata-rata durasi film pendek yang paling banyak dibuat dan ditayangkan di berbagai festival adalah kisaran durasi 10 – 20 menit.
Sebuah film pendek dapat berupa live-action, animasi, atau kombinasi keduanya. Film pendek memiliki keterbatasan durasi, sehingga struktur berceritanya sangat berbeda dengan film panjang yang sering ditayangkan di bioskop. Bercerita dengan awal, tengah, dan akhir yang berbeda, yang sangat bebas dan terbuka untuk bereksperimen. Film pendek yang baik memiliki fokus yang jelas dan sangat ekonomis dengan cara bertutur mereka, kadang hanya menggunakan satu atau dua lokasi dan sedikit karakter.
Ide bisa didapatkan dari lingkungan terdekat kita, pengalaman pribadi, lingkungan keluarga, sekolah, pergaulan di luar rumah atau tempat kerja. Media bacaan seperti koran, majalah, buku; seringkali memberi ide mengenai isu yang menjadi ketertarikan kita. Bahkan setelah menonton film tertentu, kita sering terganggu dengan ide baru, sudut pandang lain yang ingin kita ungkapkan.
Kita harus peka, punya daya kagum dan selalu mencatat hal-hal menarik dari tiap aktivitas sehari-hari, yang nantinya dapat dikeluarkan ketika dibutuhkan sebuah ide untuk suatu karya, katakanalah ingin membuat film pendek.
Ide terbaik adalah sesuatu yang dekat dengan kita, sehingga dengan mudah bisa kita ceritakan kembali.
Setiap ide yang terlontar umumnya masih sangat dini, mentah dan masih jauh dari kenyataan. Yang dibutuhkan selanjutnya adalah menggali wawasan mengenai ide yang terlontar.
Jika ingin berbicara mengenai “Fakta ketergantungan pada HP”, maka kita butuh data pendukung, bertanyalah dan kemudian cari jawabannya.
Bagaimana jika? Apa yang? Siapa? Dimanakah? Mengapa? Lalu…?
Riset suara dan visual juga menjadi syarat utama, karena film adalah media audio visual. Bagaimana tingkah seorang yang panik karena lupa membawa charger? Bagaimana Reaksi saat kalah main ML? Bagaimana suara HP saat menerima panggilan? Apa yang dibicarakan mengenai teknologi HP? Bahan-bahan ini akan membantu kita menggarap ide menuju tahap selanjutnya.
Film pendek adalah cara bertutur yang ringkas, cepat, tajam dan jelas.
Dari ide dan hasil riset, maka dibutuhkan waktu, kerjernihan pikiran dan niat kuat untuk memeras ide sehingga mendapatkan sari pati, inti dari inti, core dari core sebuah cerita. Kita tempatkan ide besar yang kita miliki kemudian tarik ke bawah, ke unsur paling kecil, dekat dengan kita dan intim dengan kehidupan sehari-hari.
Ide “Fakta ketergantungan pada HP”, kita tau, pengguna HP memiliki ketertarikan yang berbeda-beda, maka kita harus pilih satu jenis; misalnya ketertarikan paga game. Dari game, pasti bisa ditarik lagi, satu game apa yang akan kita bahas dalam ide ini? Jenis HP yang digunakan? Dimana tempat kejadiannya? Dan sebagainya.
Ketika kita sudah memiliki ide yang tajam, terfokus pada suatu kejadian atau peristiwa, maka kita bisa menciptakan karakter yang cocok. Sesuai dengan dunia yang ingin kita ciptakan dalam film pendek kita.
Karakter Utama: Temukan Namanya, jenis kelaminnya, usia, pendidikan, gaya berpakaiannya, strata sosial, sifatnya; terbuka, tertutup, pendiam, suka ngobrol, suka pamer?
Karakter Pendukung: Ciptakan tokoh yang sesuai dengan ide cerita, menjadi teman atau lawan dari tokoh utama; dimensi kehidupan karakter pendukung bisa dibangun agar sesuai dengan kebutuhan dan mendukung cerita, dan pastikan ia penting bagi tokoh utama.
Kalimat logline ada yang dibuat sebelum naskah ditulis, ada juga logline yang dibuat setelah film selesai sebagai sarana promosi; logline ini umumnya ditulis di poster film.
Disini kita berbicara premis cerita, saat kita mulai menulis cerita, sebuah kalimat yang menyatakan cerita dan masalah yang akan menggerakkan cerita. Dalam premis terdapat beberpa elemen, yaitu karakter dan atributnya, tindakan, dan situasi yang dihadapi sang karakter.
Contoh Premis:
Seorang anak laki-laki gemuk berusia 6 tahun, hendak tidur di kamarnya namun berteriak ketakutan memanggil ayahnya, dia merasa ada monster di bawah tempat tidurnya.
Atribut karakter: Seorang anak laki-laki, gemuk, usia 6 tahun.
Tindakan: Hendak tidur di kamarnya, berteriak ketakutan memanggil ayahnya.
Situasi: Dia merasa ada monster di bawah tempat tidurnya.
Sinopsis adalah cerita singkat tentang kisah film dalam bentuk tertulis. Sinopsis berisi semua elemen penting – karakter, alur cerita, tindakan, reaksi dan insiden besar – dari awal hingga akhir dalam urutan kronologis.
Contoh Sinopsis:
Suatu malam, Dito, anak laki-laki gemuk berusia 6 tahun bersiap untuk tidur dikamarnya. Saat masuk ke bawah selimut dan memejamkan mata, Dito mendengar suara dari bawah tempat tidurnya, dia terkejut dan yakin ada monster di bawah tempat tidurnya, dia segera berteriak memanggil ayahnya. Ayahnya masuk kamar untuk memeriksa dan menemukan Dito di bawah tempat tidur.
Storyline kadang disebut juga sinopsis panjang, yang umumnya terdiri dari alur cerita yang lebih lengkap dari sinopsis pendek. Storyline dibagi dalam paragraf-paragraf yang menjadi poin penting tiap babak, dengan keterangan dan deskripsi yang lebih lengkap.
Sebuah storyline terdiri dari 3 paragraf yang menjadi awal, tengah dan akhir film.
Contoh Storyline
Jam 9 malam, Dito diantar ayahnya masuk kedalam kamar tidurnya. Dito naik ketempat tidur dan mengucapkan selamat malam. Ayahnya kemudian mematikan lampu kamar dan menutup pintu.
Dito masuk ke balik selimut tebal, merebahkan kepalanya di atas bantal, dan saat itulah terdengar suara dari bawah tempat tidur, Dito terkejut dan segera berteriak memanggil ayahnya. Ayah segera datang dan masuk mendekati Dito yang ketakutan. Dito menjelaskan bahwa ada monster di bawah tempat tidurnya dan meminta ayahnya memeriksa.
Ayah memeriksa dan menyingkap seprai tempat tidur Dito, saat melongo ke bawah tempat tidur, Ayah menemukan Dito yang sedang ketakutan.
Pada tahap ini, kita akan mulai mengarang lebih detail. Seperti menulis sebuah cerpen, tetapi wajib menggunakan kalimat-kalimat yang visual, kalimat yang bisa ditangkap oleh kamera, kalimat yang bisa di bayangkan akan tampil di layar.
Contoh Treatmen
Jam di ruang tamu menunjukan pukul 9 malam. Dito diantar ayahnya masuk kedalam kamar tidurnya. Dito naik ketempat tidur dan mengucapkan selamat malam pada ayahnya. Ayahnya membalas, kemudian mematikan lampu kamar dan menutup pintu.
Kamar Dito diterangi lampu tidur berwarna biru yang remang-remang. Dito masuk ke balik selimut tebal, merebahkan kepalanya di atas bantal dan memeluk boneka beruang. Saat mata Dito terpejam, terdengar suara dari bawah tempat tidur, Dito terkejut dan membuka matanya, memasang telinganya lebih baik. Suara itu terdengar lagi dan Dito segera berteriak memanggil ayahnya.
Ayah segera datang dan masuk mendekati Dito yang ketakutan memeluk bonekanya. Dito menjelaskan bahwa dia yakin ada monster di bawah tempat tidurnya dan meminta ayahnya memeriksa. Ayah berusaha meyakinkan bahwa tidak ada monster, namun Dito memaksa. Ayah meminta Dito berjanji akan segera tidur, jika tidak ada monster di bawah tempat tidurnya, kemudian ayah memeriksa ke bawah tempat tidur.
Ayah menyingkap seprai tempat tidur Dito, saat melongo kebawah tempat tidur, Ayah menemukan Dito yang sedang ketakutan memeluk boneka, dan meminta ayah memeriksa monster di atas tempat tidurnya.
Sekenario adalah proses penulisan yang bisa dikatakan adalah persoalan teknis, karena cerita yang sesungguhnya sudah selesai pada treatmen. Sekenario adalah Bahasa teknis yang memecah cerita dalam scene-scene secara detail, yang berisikan:
Teknis cara menulis skenario ini sudah menjadi standar kerja secara internasional. Dengan mengikuti teknis ini, akan membantu komunikasi antara penulis dengan sutradara, pemain dan crew pendukung film.
Contoh Skenario
BLACK SCREEN
Film Title
FADE IN
INT. RUANG TAMU – MALAM
Jam menunjukan pukul 9 malam. Dito (laki-laki, 6 tahun, gemuk) berjalan diantar ayahnya (laki-laki, 38 tahun, kurus) masuk kedalam kamar tidurnya.
CUT TO
INT. KAMAR DITO – MALAM
Dito naik ketempat tidur.
DITO
Selamat malam ayah.
AYAH
Selamat tidur sayang.
Ayahnya mematikan lampu kamar dan menutup pintu.
Kamar Dito menjadi remang-remang diterangi lampu tidur berwarna biru. Dito masuk ke balik selimut tebal, merebahkan kepalanya di atas bantal dan memeluk boneka beruang, mata Dito terpejam.
SUARA: Gedoran pelan dan garukan.
Dito terkejut dan membuka matanya, memasang telinganya lebih baik.
SUARA: Gedoran lebuh keras dan garukan.
DITO
Ayah….!! Tolong Ayah…!!
Dito ketakutan memeluk bonekanya. Ayah masuk kamar dan mendekat Dito
DITO
Ayah….!!
(berbisik pelan)
Tolong periksa, ada monster di bawah tempat tidurku.
Ayah tersenyum, kemudian berjongkok menyingkap seprai tempat tidur Dito, saat melongo kebawah tempat tidur, Ayah melihat Dito yang sedang ketakutan memeluk boneka.
DITO
Sesssttt… Ayah, tolong periksa,
ada monster di atas tempat tidurku.
FADE OUT
BLACK SCREEN
Credit title
The end
Minikino bersama kantor Desa Padangsambian, Denpasar Barat menyelenggarakan rangkaian pelatihan Literasi Film Dan Produksi Film selama 3 hari. Dimulai Jumat 6 Desember dan berlangsung setiap hari sampai Minggu 8 Desember 2019. Seluruh rangkaian workshop diadakan di Balai Desa Padangsambian Kaja, Jl. Kebo Iwa No.35.
Pelatihan dibuka Perbekel Padangsambian Kaja, I Made Gede Wijaya, S.Pt., M.Si. yang pada sambutannya menyatakan “Pelatihan semacam ini diharapkan bermanfaat bagi generasi muda desa untuk memanfaatkan teknologi, media film serta industri kreatif yang dapat menjadi kekuatan desa supaya tidak ketinggalan jaman.”
Modul workshop film pendek ini disusun oleh tim kerja Minikino dengan silabus yang padat. Para peserta remaja dari desa Padangsambian Kaja dilibatkan secara aktif mulai dari menonton dan berdiskusi dengan para profesional di bidangnya, mengikuti seminar tentang sejarah, dari sisi perkembangan kebudayaan serta teknologinya. Mereka juga mendapatkan pembekalan pemahaman kekuatan visual dan materi suara dalam film, hingga akhirnya mempraktekkan seluruh rangkaian proses produksi sebuah film; mulai dari pengembangan ide, penulisan cerita, desain produksi dan produksinya sendiri.
Pra-aktifitas untuk pemanasan dilakukan Kamis, 5 Desember 2019. Seluruh peserta dan pengurus Desa Padangsambian Kaja diundang untuk terlibat dalam pemutaran dan diskusi program ReelOzInd! Award Winners di Art-House Cinema MASH Denpasar. Selain menonton program film pendek, acara ini menghadirkan diskusi online melalui skype dengan narasumber Jemma Purdey (Australia) selaku direktur ReelOzInd! & Melanie Filler, produser film “Posko Palu’. Dipandu moderator, keduanya narasumber melakukan tanya jawab langsung dengan penonton. Sesi diskusi berlangsung lancar selama 30 menit antara Denpasar, Melbourne dan Sydney di Australia.

Sesi pertama setelah pembukaan, dimulai dengan materi Sejarah Film Pendek di Dunia dan di Indonesia disampaikan oleh Edo Wulia, direktur Minikino yang sekaligus menjadi mentor pelatihan. Edo memberikan informasi sejarah film dunia dan memberi gambaran luas tentang bagaimana industri film di dunia berkembang seiring kemajuan teknologi. Edo Wulia juga menghubungkannya dengan Bali melalui film “Legong, Dance of the Virgins” yang diproduksi tahun 1935, yang ternyata merupakan salah satu film bisu produksi terakhir di Hollywood.
Selanjutnya, sesi “Visual Storytelling” yang disampaikan oleh I Made Suarbawa, sebagai sebuah pondasi bagi peserta dalam menyusun cerita. Peserta secara perlahan dipandu untuk mulai mengembangkan ide dan mencari fokus alur cerita, sehingga sebuah ide besar bisa dikerucutkan menjadi sebuah cerita yang tajam. Sesi ini menghasilkan logline, sinopsis dan storyline, yang akan dikembangkan pada hari selanjutnya.
Hari Kedua: Literasi Film, Suara, Tim Kerja, Skenario dan Desain Produksi
Seminar “Literasi Film Dan Media Untuk Berpikir Kritis” menjadi tema pembuka di pagi hari. Materi ini disampaikan oleh Nurafida Kemala Hapsari dan Saffira Nusa Dewi. Diskusi menjadi lebih hangat ketika menyentuh topik pengaruh publikasi dan persepsi penonton bahkan tentang film yang belum ditonton. Modul dilanjutkan dengan presentasi mengenai “Kerjasama Tim Dalam Produksi” disampaikan oleh Inez Peringga. Studi kasus disampaikan dari pengalaman pribadi Inez saat membuat film pendek pertama di masa kuliahnya di sekolah film.
Materi berikutnya “Suara dalam Film” menerangkan sisi audio pada film, diawali dari sejarah film bisu yang hampir selalu ditampilkan dengan iringan musik. Materi ini diberikan untuk membangun pemahaman tentang kekuatan audio dan pengaruhnya pada visual. Pengenalan teknis diiringi berbagai contoh dan praktek, serta berbagi pengalaman tim minikino melakukan audio dubbing untuk keperluan festival internasionalnya.
Hari kedua diakhiri dengan pembahasan cerita para peserta serta desain produksi meliputi pembedahan naskah termasuk lokasi, properti, pemain, dari ide cerita peserta di hari pertama. Para mentor dan fasilitator mengarahkan peserta untuk melakukan analisis mandiri ide cerita mana yang paling memungkinkan untuk diproduksi pada hari ketiga. Sesi terakhir namun yang paling panjang ini dipandu oleh I Made Suarbawa sebagai pendamping utama produksi.
Dari berbagai ide cerita yang dikembangkan hingga menjadi storyline, dipilih satu cerita yang kemudian ditulis menjadi skenario, yang kemudian dibedah dalam sesi desain produksi. Sesi ini mempersiapkan hari terakhir, di mana semua peserta akan mengambil peran masing-masing dalam sesi produksi.
Paket Lengkap Teori dan Praktek

Proses pengambilan gambar dan suara dimulai sejak pukul 8 pagi dan berlangsung secara intensif sampai 4 sore. Produksi ditutup dengan sesi evaluasi di akhir hari, para peserta secara umum merasakan ini pengalaman baru walaupun mereka sudah pernah membuat online konten sebelumnya.
Ngurah Ketut Hariadi, S.Kom selaku sekretaris Desa Padangsambian Kaja menyampaikan apresiasi positif tentang pelatihan ini, “Melihat antusiasme peserta saya berharap apa yang difasilitasi desa dapat dimanfaatkan para peserta. Bila 10 persen saja dari para peserta dapat memanfaatkan dengan baik, kegiatan ini dapat dinilai sukses.” Sambungnya “Pelatihan diberikan dengan profesional, awalnya saya tidak membayangkan bahwa dalam tiga hari pelatihan bisa benar-benar menghasilkan produk sampai film. Semoga minat dari masyarakat makin tinggi setelah nanti melihat hasilnya.”
Menurut Cika selaku fasilitator acara, “Berkegiatan dengan peserta di Padangsambian Kaja sangat menggairahkan secara kreatif, karena mereka antusias dan penuh perhatian. Para peserta sudah dekat secara keseharian dengan media audio visual serta dunia digital. Sebagian peserta sudah terbiasa dengan konten online, bahkan ada yang sudah menjadi idola milenial dengan 1 juta subscriber @aryanthisuastika dengan kanal @ricaricaa96 .
Film pendek hasil pelatihan di Desa Padangsambian Kaja ini direncanakan akan tayang perdana dalam acara tahunan MINIKINO OPEN DESEMBER ke 17, di Desa Padangsambian Kaja. Edo Wulia selaku direktur Minikino menyampaikan, “Atas nama organisasi kami mengucapkan terima kasih atas dukungan segenap masyarakat dan pegawai di kantor desa Padangsambian Kaja. Walaupun sudah diadakan tahunan sejak tahun 2003, untuk pertama kalinya acara Open Desember hadir dalam format layar tancap pada hari Sabtu tanggal 21 Desember 2019, mulai pukul 19:00 di Balai Pertemuan Dukuh Sari, Padangsambian Kaja; jalan Gunung Sari.” Selengkapnya mengenai Open December dapat di baca di https://minikino.org/minikinoopendecember17
MINIKINO FILM WEEK (MFW) 4, Bali International Short Film Festival telah berlangsung pada 6 – 13 Oktober 2018. Festival film pendek internasional terbesar di Indonesia ini, melibatkan 10 venues yang menjangkau hampir seluruh Pulau Bali, meliputi Kota Denpasar, Kabupaten Badung, Tabanan, Gianyar, Buleleng, Jembrana dan Klungkung, yang berlangsung secara serentak.
Selama delapan hari berlangsungnya MFW 4, terdapat 92 acara pemutaran film yang menghadirkan lebih dari 200 film pendek dari 60 negara, yang dikemas dalam berbagai program yang menarik. Selain pemutaran film, MFW 4 juga menyuguhkan 12 acara talks dan workshop yang menghadirkan pembicara Nasional dan Internasional. Tema yang diangkat dalam talks dan workshop MFW 4 diantaranya akting, script writing, kolaborasi dan kreatifitas produksi film, hingga presentasi repatriasi Bali tempo dulu.

Pengisi Suara Film 'Be The Red' dari Sanggar Anak Tangguh (foto: vifick Bolang #sayabercerita)
Ketika festival film identik dengan kegiatan menonton film, MFW membuka kemungkinan baru dengan menghadirkan sebuah festival film pendek yang sekaligus menjadi ajang kolaborasi kreatif lintas disiplin dan budaya.
Dapat disimak saat acara pembukaan MFW 4 pada hari Sabtu, 6 Oktober 2018, menghadirkan pertunjukan kolaborasi antara Melati Dance Studio dan kelompok pemusik gamelan Narwastu Art Community yang terdiri atas musisi lintas negara. Mereka mempersembahkan tarian Rejang Purwa Siddhi serta tari Condong yang dikomposisikan khusus untuk malam pembukaan MFW 4.
MFW 4 juga menghadirkan proyek kolaborasi antara Teater Kalangan dan Sanggar Anak Tangguh. Anak-anak kelas 5 SD dari Sanggar Anak Tangguh tampil secara langsung (live) melakukan sulih suara (voice-dubbing), menerjemahkan bahasa Korea ke dalam bahasa Bali dari sebuah film pendek Korea Selatan berjudul ‘Be The Reds’ karya sutradara Kim Yoongi, yang juga berkesempatan hadir menyaksikan untuk pertama kali filmnya dialihsuarakan ke dalam bahasa lain. Selain tampil dalam acara pembukaan festival, proyek kolaborasi ini juga di bawa ke Desa Nyambu Tabanan dalam program Pop-Up Cinema (Layar Tancap).
Dengan melibatkan sepuluh venues di seluruh Pulau Bali yang aktif secara serentak selama delapan hari, Minikino Film Week 4 membuka kesempatan bagi masyarakat untuk menikmati suguhan program film pendek di lokasi yang paling dekat dengan tempat tinggal mereka. Selama delapan hari ini pula menjadi kesempatan menarik untuk menyaksikan festival film pendek sekaligus melakukan wisata keliling Bali.
Sebagai festival film pendek yang baru memasuki tahun ke-4, Minikino Film Week mulai mendapat perhatian dari berbagai pihak baik dari dalam dan luar negeri. Hal ini tentu saja menjadi sebuah gambaran positif bahwa event festival seperti ini akan menjadi produk penting bagi dunia pariwisata Bali kedepannya, selain tetap menjaga produk wisata budaya dan wisata alam yang sudah mendunia.
Selama berlangsungnya MFW 4, terhitung lebih dari 3500 penonton meramaikan berbagai program pemutaran, talks dan workshop. Tercatat pula lebih dari 40 sutradara, penulis dan produser serta aktris film dari 11 negara berkesempatan hadir, termasuk dari Indonesia sendiri.

Salah satu sesi diskusi dengan filmmaker di Rumah Sanur (foto: vifick Bolang #sayabercerita)
Rangkaian acara MFW 4 selama delapan hari ditutup dengan malam penganugerahan internasional, mempersembahkan penghargaan berupa pengakuan prestasi hasil penjurian dari tiga juri utama dan tim juri muda (Youth Jury).
Festival Film Pendek Internasional Bali, Minikino Film Week (MFW) hadir kembali di tahun ke-4 yang akan berlangsung selama delapan hari mulai tanggal 6 hingga 13 Oktober 2018. Festival Film Pendek Internasional terbesar di Indonesia yang mengusung slogan your healthy dose of short film ini, menghadirkan dua kategori acara pemutaran film pendek, yaitu Micro Cinema dan Popup Cinema yang tersebar di berbagai tempat di Bali.
Untuk Micro Cinema berlokasi di Rumah Sanur, Irama Indah – Denpasar, Uma Seminyak, Omah Apik - Pejeng, Rompyok Kopi – Jembrana, Rumah Film Sang Karsa - Buleleng, dan Danes Art Veranda - Denpasar. Sedangkan untuk Popup Cinema akan diadakan di Desa Nyambu – Tabanan, Desa Pedawa – Buleleng, dan Puri Agung – Klungkung.

Suasana Layar tancap 3rd Minikino Film Week 2017 (foto: #sayabercerita)
Mata acara Popup Cinema atau layar tancap Minikino Film Week merupakan pemutaran program film pendek untuk menjangkau masyarakat Bali yang selama ini tidak mendapat akses tontonan layar lebar. Selain menonton film pendek, dalam acara Popup Cinema atau layar tancap ini juga diadakan workshop atau pelatihan yang berkaitan dengan film pendek dan media audio visual.
“Popup Cinema selalu diiringi oleh pelatihan singkat sesuai dengan kebutuhan atau permintaan rekan-rekan di lokasi layar tancap yang kami tuju, sehingga apa yang disajikan akan memberikan manfaat yang berarti bagi mereka.” kata Direktur Eksekutif Minikino Film Week 4 I Made Suarbawa saat ditemui di sela-sela jumpa awak media di Denpasar, Rabu, 26 September 2018.
Sesuatu yang spesial dihadirkan dalam perhelatan Mikino Film Week kali ini, yaitu hadirnya sebuah film pendek produksi Korea Selatan yang akan diputar dan secara khusus disulihsuarakan (dubbing) dalam Bahasa Bali. Film berjudul Be the Reds karya sutradara Kim Yoon-gi secara khusus diundang untuk diputar dalam rangkaian pembukaan Minikino Film Week dan di lokasi layar tancap Desa Nyambu, Kediri, Tabanan.
“Proses dubbing dalam Bahasa Bali dilakukan secara langsung bukan direkam, dimana kami bekerjasama dengan sanggar Anak Tangguh dan Teater Kalangan yang telah mulai berlatih sejak bulan Agustus lalu.” ungkap Fransiska Prihadi Direktur Program Minikino Film Week 4 dalam sambutannya.
Sebagai Festival Film Pendek Internasional, Minikino Film Week 4 menghadirkan film pendek berkualitas dari berbagai belahan dunia, yang diseleksi secara khusus oleh tim programming serta melalui kerjasama antar lembaga festival.
Fransiska Prihadi juga menyampaikan bahwa Minikino Film Week tahun ini menghadirkan program film pendek dari Austin Film Festival – Amerika Serikat, yang merupakan buah manis dari kunjungan Minikino ke Austin, Texas bulan Maret 2018 atas dukungan Bekraf RI. Selain itu ada juga program khusus dari Image Forum Jepang, yang telah berlangsung sejak 2017.
Program film pendek lain yang merupakan program kerjasama dalam jejaring Minikino adalah S-Express yang merupakan kerjasama pertukaran program film pendek di Asia Tenggara dan Indonesia Raja sebuah gerakan pertukaran program film pendek antar wilayah di Indonesia.

Q & A Filmmaker dan Komite MFW 4 dengan Awak Media (foto: #sayabercerita)
Di luar program pemutaran film dalam Micro Cinema dan Popup Cinema, Minkino Film Week menghadirkan tamu dari berbagai latar belakang yang menjadi narasumber dalam MFW Talk yang akan berlokasi di Omah Apik – Pejeng dan Rumah Sanur.
Narasumber Internasional yang hadir diantaranya, Aurélian Michon dari Perancis yang akan berbagi cerita tentang atmosfer produksi, distribusi dan eksibisi film pendek di Perancis dan Eropa. Ada pula Liew Seng Tat, sutradara muda dari Malaysia yang akan berbagi pengalaman dalam menulis film panjang pertamanya setelah membuat banyak film pendek. Kemudian ada Koyo Yamashita dari Image Forum yang akan berbicara mengenai film eksperimental dan pengaruhnya.
Dari Indonesia akan hadir sutradara dan penulis Paul Agusta yang akan berbagi mengenai kolaborasi dalam produksi film. Ada juga Putri Ayudya, Aktris Indonesia yang akan berbagi cerita mengenai pengalaman pribadinya dalam menekuni dunia akting, baik dalam hidup nyata maupun untuk seni peran. Hadir pula Nia Dinata produser dan sutradara papan atas Indonesia yang akan membuka kisah pribadi, kenapa menaruh hati untuk menjadi produser film Indonesia. Selain itu akan hadir pula tim Seruni Audio yang akan bercerita dan merekam suara bersama penonton dengan mikrofon clip-on buatan tangan mereka sendiri yang telah dipasarkan ke berbagai negara.
Sedangkan dari Bali sendiri akan hadir Marlowe Bandem yang akan memperkenalkan proyek Bali 1928, proyek repatriasi internasional yang bekerja sama dengan Dr. Edward Herbst, di mana catatan dan film Bali tahun 1920 dipulangkan dari beberapa negara. Hadir juga DrEAD TEAM yang akan berkisah mengenai kecintaan dan pengalaman saat membuat film horor serta tips trik mengelola cerita yang ingin dijadikan film horor.
Tahun ini Mikino Film Week mulai memberlakukan Festival Pass atau tiket terusan bagi para penonton yang berminat untuk menghadiri dan menyaksikan berbagai mata acara festival film pendek internasional ini.
Minikino Film Week 4 memiliki beberapa jenis pass, yaitu Mezzo Pass untuk umum, Student Pass untuk pelajar yang dapat mengakses semua kegiatan program pemutaran film pendek dan MFW Talk. Ada juga Supreme Pass yang bisa mengakses semua kegiatan termasuk opening, Awarding Night dan closing. Mezzo Pass dan Supreme Pass dikenakan biaya tertentu sedangkan Student Pass gratis, dengan mengisi formulir dan menunjukan kartu pelajar atau mahasiswa.
Bagi yang ingin mendapatkan MFW Festival Pass bisa segera mengakses website minikino.org/filmweek, sehingga tidak akan kerepotan saat ingin menonton, karena bagi penonton yang tidak memiliki festival pass akan dikenakan donasi di tiap pintu masuk acara.