Rekam matahari, adalah sebuah proyek merekam lintasan ekuator matahari katulistiwa yang dilakukan oleh Indonesian Pinhole, sebuah gerakan pendokumentasian dan pengarsipan semua hal tentang fotografi lubang jarum di Indonesia. Kegiatan ini dilakukan secara serentak di berbagai tempat di Indonesia, dengan target 500 kamera terpasang di 500 titik yang berbada.
Dalam sebuah obrolan di Mash Denpasar bersama teman-teman Minikino, Vifick dari Indonesian foto menyampaikan bahwa perekaman lintasan matahari secara serentak tersebut dilakukan sejak 18 Februari hingga 25 Maret 2023. Hasil pemotretan dari 500 titik tersebut akan dipameran di NTT. Untuk mengiringi pameran yang didedikasikan menyambut momen gerhana matahari total 20 April dan Hari Internasional Kamera Lubang Jarum 30 April, Vifick mengundang Minikino untuk membuat sebuah program film pendek yang merespon tema matahari, cahaya dan gerhana matahari.

Kamera Pinhole menjadi sesuatu yang menarik bagi saya, sejak pertama membaca sebuah buku fotografi di perpustakaan STM Singaraja, nyaris 30 tahun silam. Kemudian pertama kali melihat pameran hasil kamera lubang jarum, karya komunitas Semut Ireng tahun 2010 dalam acara Bali Creative Festival.
Tahun 2019 saya memiliki niat besar untuk menggunakan metode lubang jarum dalam merekam objek. Saya menyiapkan bahan-bahan. Kaleng, kertas foto dan bahan kimia pemroses kertas foto. Namun sampai saat ini, baru berhasil sampai tahap menyiapkan kaleng dengan lubang besar dan cat hitam di bagian dalam kaleng. Kelihatanya saya harus belajar lebih rajin dan giat, seperti yang saya sarankan pada anak saya.
Kemudian kesempatan berpraktek menggunakan Kamera Lubang Jarum (KLJ), terjadi berkat program Rekam Matahari dan kebaikan Vifick dan Holly teman saya yang berbagi KLJ kiriman Indonesian Pinhole. Holly mendapat kiriman 3 buah KLJ dan salah satunya diberikan pada saya untuk dipasang di Jembrana.
Saya memilih sawah sebagai lokasi pemasangan kamera. Karena dari tengah sawah, saya bisa melihat langit lebih luas, dengan harapan dapat merekam jalur lewat matahiri lebih panjang. Kamera diarahkan ke timur, menghadap sebuah bangunan tempat sembahyang dan sebuah orang-orangan sawah. Saya berharap akan mendapat siluet dua objek itu di bagian bawah frame, sementara jalur matahari akan terekam naik ke atas diantara dua objek tersebut.
Saya memasang KLJ di tengah sawah pada batang turus yang ditancapkan cukup dalam, yang akan menyangga kamera untuk waktu sedikitnya 2 - 3 minggu. Kondisi tanaman padai saat pemasangan pada tanggal 5 Maret 2023, kurang lebih setingngi 25 cm pada umur sekitar 3 minggu. Menurut pak tani setempat, dalam 20 hari padi akan meninggi kurang lebih hingga 60 - 70 cm. Ini menjadi pertimbangan ketinggian pemasangan kamera, agar tidak tertutup rumpun padi terlalu cepat.
Sawah lokasi pemasangan kamera adalah wilayah subak Pangkung Jajang, Desa Tukadaya, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, Bali, pada koordinat -8.315964, 114.554376. Lokasi ini dipilih untuk segala kemudahan ijin dan koordinasi, sekaligus memastikan keamanan kamera selama dipasang.

Saya telah membaca cukup banyak referensi tentang KLJ, namun seperti saya tulis di atas, saya belum pernah mempraktekannya, atau melihat prakteknya secara langsung. Sehingga saat pemasangan kamera ini, ada pertanyaan-pertanyaan kunci yang saya konsultasikan ke Vifick.
Pertanyaan saya terutama bagaimana menetukan jarak kamera terhadap objek agar objek mendapat porsi yang baik dalam frame, tidak terlalu besar ataupun tidak terlalu jauh. Dari satu pertanyaan itu, beberapa penjelasan juga diberikan.
Akhirnya saya bisa yakin memasang kamera ke arah timur, pada ketinggian sekitar 70 cm dari permukaan lumpur sawah, dengan kemiringan sekitar 130 derajat, dan jarak dari objek sasaran sekitar 4 - 5 meter.
Setelah pemasangan selesai, yang tertinggal bersama kamera di tengah sawah itu adalah sepenuhnya misteri. Rahasia antara cahaya yang menusuk melalui lubang jarum dan bergulat bersama rekayasa kimia yang membentuk lapisan pada permukaan kertas foto yang terpasang dalam kaleng. Ini bukan kaleng-kaleng, ini kamera kaleng.
Hasil rekam matahari dari balik lubang jarum di Bali Barat.

Pelatihan fotografi untuk remaja dihadirkan di Cerita Rasa Festival 2022, untuk memperkenalkan fotografi dasar dan profesi fotografer. Program ini ditujukan bagi remaja pedesaan yang mulai tertarik dengan fotografi ataupun mereka yang sudah mempraktekkan fotografi, namun ingin belajar bersama.
Setiap pemilik smartphone berkamera akan otomatis segera menjadi pemotret. Mereka akan menggunakan fasilitas kamera di gadget mereka sebagai sebuah hal yang biasa saja, serupa dengan berbagai aplikasi yang ada di dalam smartphone
mereka. Mengambil foto hanya untuk bersenang-senang, terutama ketika wajah mereka ada di dalam foto. Karena itu, swafoto menjadi favorit walaupun masih banyak yang malu-malu. Foto-foto itu kemudian dibagikan untuk mendapatkan perhatian dari teman-teman maya mereka di media sosial.
Dalam pelatihan fotografi Cerita Rasa yang berlangsung pada tanggal 30 Juli 2022 di Rumah Baca Bali Tersenyum Jembrana, para peserta dihantarkan untuk mengetahui unsur-unsur yang membuat fotografi itu ada. Peserta diperkenalkan pada prinsip dasar fisika yang membentuk kamera hingga menghasilkan gambar dan sisi estetik yang menjadi sisi indah dari fotografi.
Kemudahan yang disuguhkan teknologi digital, seringkali membuat kita memotret tanpa pertimbangan terlebih dahulu, apa hasil yang diinginkan. Memotret apa saja, kemudian dihapus atau mengeluh memori handphone penuh.
Sebagai pemantik kesadaran visual, peserta diajak untuk belajar mengamati dan membaca sebuah foto kemudian mengungkapkan rekaman visual yang mereka temukan. Selain itu, peserta melakukan observasi objek foto dan melakukan pemotretan tanpa kamera, untuk kemudian melakukan presentasi kecil tentang foto imajiner yang mereka buat.
Untuk memberikan pengalaman praktis, peserta diberikan kesempatan mengeksplorasi kamera DSLR. Mereka mengalami gambar under dan over exposure, melihat arah cahaya, mencoba komposisi dan framing.
Persoalan paling banyak yang ditemukan dari peserta adalah rasa khawatir bahwa mereka tidak bisa, tidak mengerti yang akhirnya tidak bersedia mencoba sesuatu yang baru. Hal ini kelihatannya menjadi sesuatu yang lebih penting untuk dipecahkan, ketimbang mempelajari cara menggunakan gadget canggih.
Beruntunglah ada dua narasumber yang memberikan pandangan dan pengalaman, bagaimana mereka memulai masuk ke dunia fotografi dan membuka usaha foto dan video mulai dari nol. Mereka adalah Dwi Artawan pemilik Relief Studio dan Komang Triadi pemilik Chandra Photography.
Dwi menceritakan bahwa masuk ke dunia foto dan video bukan cita-cita atau tujuan. Dia pergi merantau ke Denpasar dengan tujuan pasti mencari pekerjaan, tapi entah pekerjaan apa. Kemudian dia diterima bekerja di sebuah studio jasa foto dan video sebagai crew. Atas dorongan pemilik studio akhirnya Dwi “terpaksa” belajar di lapangan.
Membuka usaha jasa foto dan video di Jembrana juga bukan sebuah cita-cita. Hanya merasa tidak punya keterampilan lain ketika diwajibkan pulang kampung, akhirnya memberanikan diri menjual jasa foto dan video di seputaran Kota Negara.
“Beruntung sampai saat ini, masih mendapat kepercayaan dari banyak pihak di Jembrana”. kata Dwi.
Cerita lain dari Komang Triadi, atau biasa dikenal sebagai Mang Tri. Dia menceritakan pengalamannya belajar fotografi sejak jaman analog. Untuk belajar fotografi ketika itu, dibutuhkan serangkaian training khusus hingga memperoleh sertifikat dan berhak menyandang “gelar” fotografer. Dalam training tersebut, dia harus mempelajari teknik kamera, tata cahaya, hingga teknik kimia cuci-cetak foto.
Menurut Mang Tri, dalam era foto digital saat ini kita cukup menguasai prinsip dasar kamera, dan hendaknya lebih banyak melakukan praktek dan diskusi karya. Setiap jepretan sudah bisa langsung dilihat dan dibahas bersama komunitas.
“Tidak seperti jaman dulu harus menunggu antri cuci film dan membuat contact print dulu, baru bisa tahu hasil fotonya.” ungkap Mang Tri.
Sebuah keyakinan mesti ditumbuhkan, bahwa pembelajaran tidak boleh berhenti ketika sesi pelatihan selesai. Cerita Rasa menawarkan pada para peserta untuk melanjutkan masa belajar, dalam sebuah proyek fotografi bersama, satu tahun ke depan.
Selain melibatkan peserta yang telah hadir dalam pelatihan, Cerita Rasa juga mengundang peminat fotografi khususnya di Jembrana untuk menerjunkan diri dalam proyek ini. Proyek untuk membuat sebuah cerita foto di desanya masing-masing, dengan target bisa dipamerkan dalam Cerita Rasa Festival 2023.
Sebelumnya diterbitkan di tatkala.com
Delapan tahun yang lalu, di rumah seorang kawan di daerah Sanur saya menulis beberapa mimpi di sebuah kertas. Salah satunya saya menulis berkeinginan menjadi fotografer. Waktu itu saya belum memiliki kamera, memotret hanya menggunakan HP, kalau ada suatu acara misalnya, biasanya teman meminjamkan saya kamera digital miliknya lalu meminta saya bantu mendokumentasikan. Ini menyenangkan, saya selalu antusias ketika sedang memegang kamera.
Saya punya ketertarikan dengan orang-orang yang menekuni dunia fotografi, entah mengapa saya selalu penasaran dengan ide dan cara mereka bertutur dengan media foto. Sepertinya keren jika bisa melakukan hal yang serupa, bercerita dari sudut pandang sendiri menggunakan medium visual.
Lanjut cerita, kertas yang saya telah tulis dengan beberapa mimpi itu saya simpan di tempat yang tersembunyi dan sulit bisa dilihat orang. Saya melipat kertas itu menjadi sangat kecil lalu memasukkannya di tembok yang berlubang karena retak. Hal yang saya lakukan tersebut terinspirasi dari beberapa buku tentang teori-teori Law of Attraction. Lambat laun saya tak lagi mengindahkan apa hal itu, sampai lupa dengan apa yang saya lakukan itu.
Kemudian awal tahun 2016 saya memiliki kamera pertama, yang saya beli dalam kondisi bekas lewat OLX. Karena saya pikir harus dapat cepat, saya meminjam uang teman untuk memiliki kamera tersebut, Nikon D5200 dalam kondisi bekas, kala itu harganya 4,5 juta termasuk lensa Kit 18-55mm. Kamera ini baru dibeli oleh pemilik pertama tidak lebih dari sebulan, kondisinya seperti baru dan masih memiliki garansi.
Kemudian saya mempelajari tentang kamera dan lensa lewat internet, dan menemukan ada lensa bagus dengan harga yang masih terjangkau, lensa yang katanya mumpuni untuk belajar foto portrait. Lensa Nikkor AF-S 50mm dengan bukaan F1,8, saya memilikinya setelah beberapa bulan. Lensa yang membuat saya sering memotret orang-orang dan lingkungannya, kemanapun saya selalu memasukkan kamera dalam tas, membawanya baik saat kerja ataupun di jalanan. Kala itu saya masih bekerja di Mitra Bali Fair Trade, perusahaan ekspor kerajinan yang mempraktekkan prinsip-prinsip perdagangan adil.
Sampai saat ini pun Lensa Nikkor 50mm saya selalu pakai, meski kamera pertama itu telah diganti dengan kamera yang memiliki sensor lebih lebar menjelang akhir tahun 2016, setelah mendapat saran dari teman, Vifick Bolang. Saya masih ingat kata Vifick, kira-kira seperti ini "jika kamu ingin secara profesional bekerja di bidang fotografi sebaiknya upgrade kamera mu Mar, dengan kamera Full Frame." Saat itu kami mengobrol bertiga, Vifick, Dodik dan Saya. Dan kamera kedua itu saya dapatkan setelah menggadaikan BPKB motor di Koperasi sebalah barat rumah.
Kembali ke cerita awal 2016, beberapa minggu setelah memiliki kamera pertama, sangat kebetulan saya melihat ada informasi workshop photo di instagram yang diadakan oleh Denpasar Film Festival bekerjasama dengan Bali Photo Forum. Mereka mengadakan workshop "Bertutur Visual" dengan tema Air dan Kehidupan, yang juga merupakan lanjutan dari Project 88, kalau tidak salah waktu itu adalah tahun yang ke-tiga. Fasilitatornya adalah Anggara Mahendra, Vifick, Agung Parameswara dari Bali Photo Forum kemudian pesertanya ada 5 orang. Dodik Cahyendra, Pande Parwata, Wira Sathya, Ote Tatsuya dan saya.
Pengalaman ini membuat saya belajar sangat banyak, dari tehnik sampai pada penerapannya agar bisa menghasilkan karya essay photo. Saat itu saya baru mengenal dan belajar tentang exposure, Diafragma dan ISO, lalu bagaimana hubungan ketiga ini. Rasanya kala itu saya yang paling awam soal fotografi, karena dasar segitiga exposure saya masih belum paham, bahkan tidak tahu. Namun Vifick sangat fokus memfasilitasi saya dan Dodik, memberikan kami banyak referensi dari buku-buku foto dan link di internet. Workshop dibagi menjadi tiga kelompok. Peserta bebas menentukan siapa fasilitator yang mereka inginkan.
Cerita yang saya angkat pada workshop tentang aktivitas penambangan Batu Paras yang dilakukan di Sungai Petanu, Gianyar. Berawal dari mendapati adanya sesuatu yang rasanya agak bertentangan antara ide dan kenyataan, dimana penghargaan orang Bali sangat tinggi kepada Dewa Wisnu yang dipercaya sebagai Dewa Pemelihara sekaligus sebagai Dewa Penguasa Air. Orang-orang membuat tempat sembahyang, candi-candi dan patung sebagai caranya untuk untuk menghormati Dewa Wisnu, juga Dewa lainnya. Namun bahan-bahan yang dipakai sebagiannya berasal dari penambangan Batu Paras dari Sungai Petanu, yang berpengaruh terhadap rusaknya ekosistem air di sepanjang aliran sungai Petanu.
Saya sangat ingat pada proses belajar itu saya mengambil lebih dari 10,000 foto dan dipilih hanya 8 foto untuk dipresentasikan. Kemudian pada akhir workshop dilakukan pameran bersama untuk karya-karya kami, pada 16 Agustus 2016. Momen pameran ini sekaligus membangkitkan semangat saya untuk terus berkarya dan menekuni lebih dalam tentang essay photo.
Dari apresiasi teman-teman yang datang, kunjungan orang-orang lain yang tidak saya kenal, telah memberikan semangat dan mendorong saya menuju dunia baru yaitu fotografi.
Proses yang tak pernah terpikirkan sebelumnya, mengalir begitu saja yang kemudian menjadi awal saya sampai saat ini menekuni fotografi, dan membuat saya memiliki kepercayaan diri untuk bilang "saya seorang fotografer" ketika berkenalan dengan orang baru.
foto by Baskara Putra