Permakultur diobrolkan di Kulidan Space pada Sabtu 18 Februari 2023, menghadirkan Sayu seorang spesialis permakultur dan agroforestry. Obrolan dimulai pukul 17.00 wita, menjelang pembukaan pameran karya lukis Gus West, seniman asal Jembrana yang punya perhatian pada lingkungan. Karena saya datang terlambat sekali, jadi hanya mendengar ujung obrolan yang diseting di depan Kulitan Kitchen & Coffee.

Dari meja paling belakang di bawah pohon kamboja, saya mendengarkan Sayu menjawab pertanyaan, bagaimana cara bertahan dan konsisten di jalur perjuangan lingkungan dan kehidupan berkelanjutan. Sayu menyampaikan bahwa dia menyiapkan diri menjadi gila di lingkungan yang "waras" untuk bisa bertahan. Ketika orang memasak memakai penyedap, makan makanan instan dan kita tidak, itu sudah memisahkan diri dari arus utama. Dalam perjalanannya, Sayu berpikir bahwa berusaha menggali masalah akan menimbulkan pesimis. Maka temukan satu masalah dan gali solusi sebanyak-banyaknya, itu yang akan membuat kita optimis dan terus berjalan.

Sayu juga menceritakan bagaimana orang tuanya dulu yang awalnya menggunakan kotoran ternak sebagai pupuk. Kemudian beralih ke ponska, urea dan sebagainya, yang kemudian mengubah situasi sosial ekonomi dalam keluarga. Uang habis untuk membeli pupuk, dan yang tersisa hanya bisa untuk membeli garam dapur.

Selesai Dengan Diri Sendiri

Berbicara tentang tips masuk ke komunitas membawa ide permakultur atau kehidupan berkelanjutan, Sayu menyampaikan bahwa sebelum mengajak orang diluar lingkungan kita, maka kita harus selesai dengan diri kita dulu. Seperti permakultur, kita mulai dari zona 0 dan zona 1, yaitu diri kita, rumah kita dan halaman rumah kita.

Ketika kita keluar dari zona kita sendiri, masalah pasti akan lebih banyak. Memulai konsep permakultur tidak terlalu sulit, tapi keberlanjutannya ternyata lebih sulit. Apalagi di kalangan anak muda yang sudah terbiasa dengan budaya instan. Subsidi pupuk ternyata tidak mendidik karena menimbulkan banyak mafia pupuk sehingga harga beli petani jadi lebih tinggi. Namun solusi dalam hal ini adalah mengikuti alur anak muda itu sendiri. Membuat "mainan baru" membuat anak muda jadi lebih tertarik mengikuti permakultur dan permasalahannya.

Seorang peserta diskusi menyampaikan - saya tidak ingat namanya - dalam prakteknya kegiatan terkait lingkungan menjadi trend instan. Ikut meramaikan tapi tidak paham esensinya. Pegang cangkul, berfoto lalu sibuk dengan hp untuk bikin caption. Kadang segala sesuatunya tidak perlu dilaporkan atau dikatakan. Lakukan saja dan saat ada hasil baru laporkan pada dunia.

Bertemu Permakultur dan Berusaha Memahaminya

Pertama kali saya bertemu permakultur adalah di Omah Apik, kalau tidak salah tahun 2020. Secara kebetulan memergoki Sayu sedang berbagi tentang permakultur yang merupakan proyek lanjutan alih fungsi kebun-kebun indah Omah Apik Pejeng menjadi kebun-bekun sayur yang produktif. Saat itu saya hanya mendengarkan dan berusaha memahaminya, dan bercita-cita untuk menulisnya sebagai bahan ingatan. Tapi baru sekarang saya menulisnya, setelah ketemu obrolan permakultur di Kulidan. Jangankan mempraktekan permakultur, menulisnyapun baru saya praktekan sekarang.

Saya baca wikipedia untuk mendapat sedikit gambaran apa itu permakultur. Ternyata permakultur bukan sekedar mempetak-petakkan kebun agar terlihat cantik untuk selfie. Permakultur sendiri merupakan cabang ilmu desain ekologis, teknik ekologis, dan desain lingkungan yang mengembangkan arsitektur berkelanjutan dan sistem pertanian swadaya berdasarkan ekosistem alam. Kalau disimak, permakultur akan merekam situasi lingkungannya dan dirancang menyesuaikan situasi manusia dan lingkungannya.

Ada zonasi yang dirancang dalam praktek permakultur. Zonasi ini mengacu pada pergerakan manusinya. Zona 1 dan 2 merupakan area terdekat pusat hidup si manusianya, membutuhkan perhatian dan kunjungan paling sering. Sementara zona 3, 4 dan 5 merupakan zona kerja lebih jauh yang umumnya mendapat lebih sedikit kunjungan atau kebutuhan perawatan. Pembagian zona ini berkaitan dengan efektifitas energi yang dibutuhkan dari manusia.

Zonasi Permakultur

Zona 0
Merupakan pusat aktivitas, rumah atau rumah utama. Disini dilakukan praktek-praktek keberlanjutan. Prinsip penggunaan energi terbarukan, tanpa limbah, penghematan air dapat diterapkan di zone ini.

Zona 1
Merupakan zona yang paling dekat dengan rumah atau yang paling sering dilalui. Sesuatu yang membutuhkan perhatian harian, observasi, dan pemeliharaan rutin. Kebun herbal dan sayur, atau tong sampah untuk dapur baik ditempatkan di area ini untuk kecapatan akses.

Zona 2
Zona ini adalah kawasan yang membutuhkan frekuensi perawatan yang lebih jarang, dikunjungi beberapa hari sekali. Penetapan zona dan bagaimana dimanfaatkan akan berbeda tergantung lingkungannya, urban atau di pedesaan. Kebun yang membutuhkan pemangkasan seminggu dua kali, kebun yang memuiliki irigasi terkontrol, tempat komposting, bisa menjadi zona 2.

Zona 3
Bagian ini dikenal sebagai kawasan pertanian atau kawasan produksi. Di zone 3 menjadi kawasan bercocok tanam untuk kebutuhan domestik atau untuk dijual, yang membutuhkan lebih sedikit intensitas perawatan. Di pedesan misalnya kebun pisang, jagung, atau padi. Di area urban tentu akan beda lagi, atau bahkan jarang yang memenuhi sebagai kawasan zone 3 karena keterbatasan lahan.

Zona 4
Bagian 4 dari pembagian wilayah permakultur sudah mulai bergerak lebih jauh dari kawasan utama. Kawasan ini menjadi penyangga antara zona sebelumnya dengan zona selanjutnya yang merupakan zona “liar”. Kawasan ini terutama digunakan untuk mencari bahan makan yang tumbuh liar serta produksi kayu untuk konstruksi atau kayu bakar.

Zona 5
Kawasan ini adalah area yang dibiarkan liar. Kalau di kawasan hutan, ini adalah hutan lindung. Dimana tidak dibutuhkan intervensi manusia. Semuanya dibiarkan liar, baik itu tumbuhan dan habitat lain yang nantinya berguna menyokong zonasi lainnya.

Prinsip Permakultur

  1. Amati dan Berinteraksi

Ini adalah prinsip pembelajaran. Kesediaan kita untuk mengamati dan berinteraksi dengan sekitar kita, apakah itu alam, tumbuhan, tanah, dan manusia. Belajar dari alam dan melihat bagaimana orang lain menerapkan prinsip-prinsip berkelanjutan. Yang nantinya bisa diadopsi kedalam konsep dan desain permakultur di lingkungan kita sendiri.

  1. Menangkap dan Menyimpan Energi

Energi berlimpah di alam ini perlu kita manfaatkan. Angin dan sinar matahari banyak dan gratis. Perlu mengamati dan mempelajari bagaimana itu bisa dimanfaatkan. Sesederhana cukupnya cahaya masuk ke dalam rumah atau kantor, sehingga tidak lagi membutuhkan lampu saat siang hari.

  1. Dapatkan Hasil

Mulailah memikirkan hasil apa yang bisa dituai. Kita bisa menghasilkan sayuran, cabe, tomat untuk kebutuhan dapur. Tahu sesuatu yang non materiil, misalnya kesenangan dan kesehatan berkat apa yang kita praktekkan.

  1. Terapkan Regulasi Diri dan Terima Umpan Balik

Menerapkan aturan diri berdasarkan target-target kehidupan berkelanjutan dalam diri kita. Disini juga bicara tentang swakelola dan penataan mandiri. Kita bisa melakukan analisa internal, apakah kita sudah bisa memilih barang apa yang kita konsumsi, beli dan bawa pulang ke rumah. Dengan menganalisa, mungkin ada yang bisa kita perbaiki lagi.

  1. Pergunaan dan Hargai Energi Terbarukan

Dengan menggunakan kekuatan matahari, angin, atau air, kita dapat menggerakkan rumah kita, menumbuhkan makanan kita, dan meregenerasi lingkungan kita. Beralih ke pemasok energi ramah lingkungan (di Indonesia masih monopoli) – atau bahkan menghasilkan listrik sendiri dengan panel surya atau infrastruktur terbarukan lainnya di rumah – adalah sesuatu yang kita dapat lakukan untuk menuju gaya hidup yang lebih berkelanjutan.

  1. Tidak Menghasilkan Limbah

Bicara konsep tanpa limbah / sampah, maka kita bisa bergerak dari menguranginya. Reuse, reduce, recycle menjadi langkah yang bisa kita terapkan. Selalu membawa tas belanja sehingga mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Melakukan komposting juga salah satu langkah. Meimilih alat-alat jangka panjang juga merupakan langkah pengurangan sampah.

  1. Desain dari Pola Hingga Detailnya

Mendesain dengan membaca pola yang ada disekitar merupakan hal yang baik. Suatu rancangan yang bersifat universal, bisa diterapkan di berbagai situasi. Berpikir secara menyeluruh, tentang semua bidang kehidupan kita, dapat membantu kita bergerak maju ke arah yang positif.

  1. Integrasikan Jangan Pisahkan

Kita mempelajari tentang simbiosis mutualistis, rantai makanan, yang mana setiap unsur alam saling menopang satu dengan yang lainnya. Unsur-unsur itu memiliki hubungan saling memberi manfaat. Saling keterkaitan satu dengan yang lain menjadi prinsip penting permakultur. Keberlanjutan adalah sesuatu yang kita capai bersama – melalui kolaborasi dan kerja sama – bukan sesuatu yang kita lakukan sendiri.

  1. Gunakan Solusi Kecil dan Lambat

Mulai dari nol, mulai dari satu langkah kecil menuju langkah yang lebih besar. Jika memaksakan langsung dihajar dengan kerja besar, tenaga akan cepat habis, kemudian menyerah. Mulai dari yang kecil. Mengubah gaya hidup secara ekstrim, mungkin bisa dimulai dari mengubah satu kebiasaan kecil namun konsisten dan dimulai dari sekarang.

  1. Manfaatkan dan Hargai Keanekaragaman

Keberagaman atalah kunci keindahan. Representasi keaneka-ragaman dalam satu ekosistem akan membuat lingkungan tersebut bekerja lebih baik. Dalam pertanian dikenal istilah polikultur, dimana ditanam berbagai jenis tanaman yang saling mendukung. Bukan sekedar ingin mendapat hasil dari berbagai tanaman sepanjang tahun. Tetapi pola non-monokultur ini juga dikenal mampu mengendalikan hama tanaman, dengan istilah ‘pengendalian hama terpadu’.

  1. Manfaatkan Sisa dan Hargai Hal Marjinal

Keberlanjutan adalah tentang memanfaatkan semua sumber daya yang kita miliki. Memanfaatkan barang sisa, memanfaat lahan sisa dan memberi nilai pada ruang-ruang antara yang akan menjadi nuansa dukungan bagi pertemuan habitat atau ekosistem.

  1. Manfaatkan dan Tanggapi Perubahan Secara Kreatif

Perubahan tidak bisa kita bendung. Semuanya terjadi lebih cepat dari apa yang kita bayangkan. Bisa dikatakan kita tidak punya kuasa untuk membendungnya. Namun sikap kita terhadap perubahan tersebutlah yang bisa kita kontrol. Sikap dan gaya hidup yang berkelajutan, menyikapi perubahan secara kreatif, merupakan pilihan yang bisa kita kendalikan.

 

Daur ulang logam. Membaca tiga kata itu, kita akan langsung berpikir tentang besi rongsokan. Barang-barang tidak terpakai yang biasanya teronggok dan membuat salah tingkah. Mau buang, buang kemana? Tukang rongsokan jarang lewat. Kalaupun lewat, rumah lagi kosong atau kita sedang tidur siang. Mau kirim ke gudang rongsokan terdekat, susah angkutnya, ditambah ada kerjaan lain yang lebih penting.

Daur ulang. Sekarang kita potong menjadi dua kata saja. Frase ini saya rasa sangat menggugah banyak orang untuk mulai peduli. Bahwa bertanggung jawab atas sisa pakai yang tidak berguna bagi kita adalah mutlak. Sesederhana benda kecil dari logam seperti potongan kabel listrik, mata kater yang sudah karatan atau kunci yang tidak terpakai lagi. Receh, tapi itu tetap benda yang perlu diperhatikan perjalanan selanjutnya.
Kalau bicara benda besar seperti bekas mesin cuci, rongsokan sepeda, rongsokan bus, rongsokan kereta api; dengan mudah rasanya menemukan mereka yang bersedia datang untuk mengambilnya. Lengkap dengan hitungan harga per kilogramnya.

Tapi sebenarnya tidak peduli ukuran besar atau kecil, nyaris semua jenis logam di kehidupan sehari-hari kita bisa didaur ulang. Ketika produk berbahan logam yang kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari tidak lagi berguna, mereka akan dibuang. Dibuang dalam hal ini tentu saja bukan dibuang sembarangan, namun bagaimana logam-logam tersebut masuk dalam siklus daur ulang, sehingga tidak tercecer dan mencemari lingkungan.

Daur ulang logam bertujuan untuk digunakan dalam bentuk, produk atau proyek lain. Logam adalah sumber daya yang dapat didaur ulang berulang kali tanpa kehilangan kualitas. Produk dari proses daur ulang logam, memiliki manfaat yang sama bagi industry, seperti halnya logam yang baru.

Jenis Logam Daur Ulang dan Penggunaannya

Mengutip dari thebalancesmb.com, logam yang dapat didaur ulang terbagi menjadi dua, yaitu Ferrous (Fero) and Non-Ferrous (Non-Fero). Logam jenis Fero merupakan logam yang memiliki kandungan besi (Fe), biasanya bisa lengket dengan magnet. Sedangkan logam non-fero adalah logam yang tidak mengandung besi, sehingga tidak terlalu padat.
Logam Jenis Fero diantaranya baja paduan, besi stainless, baja karbon, besi tempa dan besi cor. Logam Jenis Non-Fero diantaranya: aluminium, kuningan, tembaga, emas, iridium, timbal, magnesium, palladium, platinum, perak, timah, dan seng.

Sebagai material yang paling dibutuhkan industri dunia, baja menjadi bahan yang paling banyak didaur ulang. Logam lain yang juga menduduki peringkat atas dalam industri daur ulang adalah termasuk tembaga, aluminium, kuningan, perak, dan tentu saja emas.

Penggunaan Industri

Mobil keluaran terbaru yang kita beli di dealer kemarin pagi, kita sebut sebagai barang baru. Tapi pernahkah terbayang bahwa sebagian dari bahan pembentuknya adalah berasal dari besi tua yang didaur ulang. Bahkan dalam bertahun-tahun kedepan, semua bahan logam yang membentuk mobil akan berasal dari logam tua yang didaur ulang berkali-kali.

Mengutip dari artikel berjudul Teknologi daur ulang skrap besi baja menyelamatkan industri baja nasional, disebutkan bahwa pada tahun tahun 2015 Uni Eropa telah menetapkan pelarangan impor mobil dari industri yang tidak menerapkan sistem daur ulang pada keseluruhan proses produksinya. Oleh karenanya, Jepang segera melakukan daur ulang baja bekas dari industri otomotifnya dan diprediksi di tahun 2050 Jepang tidak memerlukan bahan baku baja baru lagi.

Industri mobil atau otomotif hanya salah satu contoh saja. Industri lain seperti pesawat terbang, kapal laut, kereta api, peti kemas dan tentu saja konstruksi juga akan melakukan hal yang sama. Penggunaan logam bekas oleh semakin banyak industri, akan membantu lingkungan dengan berkurangnya kebutuhan SDA pertambangan yang semakin langka.

Produk Logam Baru Yang Lebih Berkualitas

Perkembangan teknologi pengolahan logam bekas yang terus berkembang tentu akan menjanjikan output yang lebih berkualitas. Ambil contoh besi baja yang katanya memiliki tingkatan hingga ribuan jumlahnya, tentu karena campur tangan riset dan teknologi yang terus berkembang. Dan katanya, baja yang ada saat ini memiliki bobot tiga kali lebih ringan dari jenis baja yang diproduksi 20 tahun yang lalu. Mungkin salah satunya, seperti yang kita kenal sekarang ada istilah baja ringan.

Perabotan Rumah Tangga

Perabotan tangga yang terbuat dari logam, rasanya banyak yang terbuat dari logam daur ulang. Misalnya plat-plat yang membentuk kulkas atau mesin cuci. Penggunaan logam bekas untuk furniture tanpa proses peleburan juga cukup banyak. Mungkin ini bisa disebut reuse atau upcycle. Besi-besi tua menjadi kaki meja, digunakan sebagai teraslis, lampu dan sebagainya.

Walaupun sudah banyak yang memanfaatkan logam daur ulang dalan produk prabot rumah tangga, namun belum ada perusahaan yang secara terbuka menggunakan isu daur ulang itu sebaga bahan kampanye penjualan produknya. Misalnya, mesin cuci dengan teknologi terbaru, hemat listrik, hemat air dan terbuat dari besi bekas.

Benda Artistik

Sekarang ini sudah banyak seniman, yang secara sadar mengusung daur ulang dalam karyanya. Misalnya karya menggunakan limbah plastik, karya menggunakan botol bekas, atau karya instalasi menggunakan besi bekas potongan-potongan sepeda motor.

Bertahun-tahun yang lalu, rasanya saya pernah membaca berita, seorang seniman Indonesia yang memproduksi karya-karyanya dari barang bekas, mengalami kesulitan memasukan kembali karyanya ke Indonesia setelah pulang dari pameran di Singapura. Karena di pelabuhan, benda-benda itu hanya dianggap barang rongsokan.

Karya artistik logam daur ulang yang paling menarik perhatian adalah ketika logam bekas bukan perak atau emas, dibuat menjadi perhiasan seperti anting, gelang, bros, kalung atau medali.

Membantu Melestarikan Lingkungan

Penting untuk dicatat seberapa besar penghematan yang ada untuk lingkungan kita. Industri logam bekas dipercaya membutuhkan konsumsi energy yang lebih kecil, karena pengolahan logam bekas, misalnya aluminium bisa dilebur dengan suhu yang lebih rendah dibandingkan proses menggunakan aluminium murni. Hal ini tentu saja tidak hanya menghemat energi tetapi juga mengurangi emisi gas berbahaya.

Yang paling mudah dilihat adalah, dengan mendaur ulang besi tua, akhirnya mengurangi tumpukan rongsokan di sudut-sudut rumah dan tong sampah.

Karena industri daur ulang logam terus berkembang, saya yakin akan ada lebih banyak lagi kegunaan yang ditemukan untuk besi tua di masa depan. Daur ulang adalah hal yang cerdas untuk dilakukan.

Orang tuaku pindah ke rumah kami yang sekarang saat umurku baru tiga tahun jalan, sehingga ingatan yang kupunya hanya potongan-potongan yang acak. Kelebat bayang aku kecil yang jatuh terpeleset di ruang tunggu bidan saat diajak Ibuku memeriksakan kandungan, kemeriahan pergi melasti dan mendapat hadiah gula kapas, jatuh ke dalam sungai saat melintas di jembatan bambu dan yang membuatku ingin menulis tentang rumah adalah ingatan tentang sumur.

Sumur Sumber Air Kehidupan

Saat baru pindah, kami tidak memiliki sumur. Untuk pemenuhan kebutuhan air bersih konsumsi, kami mengambil air dari sumur milik tetangga. Ibuku memilih beberapa rumah tetangga yang dikunjungi secara bergiliran, dengan kriteria; terdekat, sumur tidak terlalu dalam dan tidak ada anjing galak. Sedangkan untuk mandi dan mencuci, kami memilih sumur yang ada di tengah sawah yang juga menjadi titik temu belasan orang tetangga, terutama saat waktu mandi sore.

Menurut cerita, sumur itu dibangun oleh orang proyek yang mengerjakan salurun irigasi bendungan Palasari yang melintasi desa kami. Saat sudah bersekolah, selain mandi sore di lokasi sumur itu, kami juga membawa masing-masing satu ember air untuk kebutuhan mandi pagi sebelum berangkat ke sekolah. Tentu saja selain Ibuku, karena setelah selesai memasak setiap pagi, dia akan pergi ke sumur untuk mencuci dan mandi.

Pada musim kemarau panjang, seringkali semua sumur di sekitar rumah kami akan kekeringan sehingga kami akan meminta air ke sumur yang ada di Pura Taman, yang juga terletak di tengah persawahan. Menurutku sumur di pura itu ajaib, karena sepengetahuanku sumur itu tidak pernah kering dan ketinggian airnya sangat stabil seberapapun kemarau melanda. Tentu saja kami tidak mandi dan mencuci di sana, hanya mengambil air dan dibawa pulang.

Kira-kira di akhir tahun 80, kami memiliki sumur. Aku yakin Ayahku yang guru sekolah dasar kala itu, menabung cukup rajin untuk kemudian bisa membayar tukang gali sumur. Sumur milik kami termasuk paling dalam dibandingkan dengan sumur-sumur milik tetangga, apalagi dengan sumur yang ada di tengah sawah. Kedalaman sumur kami sebelas depa untuk mendapatkan air yang stabil. Proses penggalian yang memakan waktu dan begitu dalam, kelihatannya membuat Ibuku khawatir sehingga berkaul memotong ayam jago dan membuat cendol daluman kalau penggali sumur mulai menemukan air.

Sebagai anak kecil, aku lebih bahagia karena makan kuah ayam dan minum cendol daluman dibandingkan merayakan fakta bahwa sumur sudah ada airnya. Sumur kami yang begitu dalam, menjadi penyesalan kecil bagi Ayauhku karena memindahkan titik sumur beberapa meter ke arah barat daya dari yang seharusnya.

Menurut Ayah, sebelumnya dia sudah meminta petunjuk pada orang pintar yang memberi titik sumur persis di pohon belimbing, tapi Ayahku sayang pada pohon belimbing itu. Misterius, bagaimana kakek itu tau tentang pohon belimbing itu, padahal dia belum pernah ke rumah kami? Dan menurut para penggali sumur, sumber air di dalam sumur kami asalnya dari arah timur laut, persis arah pohon belimbing itu.

Bertahun-tahun kami bahagia memiliki sumur itu. Bergiliran menimba air untuk mengisi bak mandi dan gentong di dapur adalah rutinitas yang menyenangkan awalnya, tapi kemudian terasa menyebalkan. Setelah itu aku mulai menyadari kekhawatiran Ibuku saat penggalian sumur begitu dalam dan memilih mengambil air di sumur dangkal milik tetangga ketika itu.

Sumpah, bagiku yang waktu itu belum genap sepuluh tahun, menimba air dari kedalaman sebelas depa, sangat menguras tenaga dan emosi. Itu sebabnya, dimusim hujan, aku dan kakakku sering memilih mandi di saluran irigasi yang kami anggap lebih mudah dan menyenangkan, tapi menjadi tidak menyenangkan kalau kepergok Ayah kami karena kami tetap harus mandi lagi dan menimba lagi, karena dianggap mandi tidak bersih dan berenang dengan bebek. Ibuku juga sering mencuci di saluran irigasi, tentu untuk alasan menimba air yang melelahkan.

Air PAM Dimana Mata Airnya?

Pada awal tahun 2000, PAM (Perusahaan Air Minum) mulai memasang pipa di depan rumah kami dan tentu saja Ayahku mendapat tawaran untuk memasang air PAM. Aku senyum-senyum dalam hati mengingat pikiran masa kecilku yang menganggap punya keran itu keren, seperti yang sesekali aku nikmati saat berkunjung ke rumah paman yang tinggal di pinggir jalan raya Denpasar-Gilimanuk.

Ayahku baru memasang air PAM dua tahun kemudian, sebagai hadiah bagi Ibuku yang telah tegar menghadapi proses operasi tumor yang menjangkiti kandungannya. Dengan mengucurnya air dari keran, sangat memudahkan aktivitas Ibuku pada tahun-tahun pertama paska operasi yang tentu tidak sanggup jika harus menimba air dari sumur, sementara kami anak-anaknya yang sudah keluar dari rumah untuk sekolah dan bekerja tidak bisa membantunya.

Sudah dua minggu aku tinggal di rumah ini lagi, untuk memenuhi anjuran pemerintah mengisolasi diri karena kasus virus covid-19 yang mewabah di penjuru dunia, termasuk Indonesia. Dua minggu, waktu tinggal terpanjang semenjak lepas sekolah dan mulai bekerja, waktu yang panjang untuk membuat otak terbengong-bengong dan mulai mengulik apa-apa yang selama ini tidak pernah terpikirkan, detail yang tidak penting mulai terasa penting, seperti halnya sumur dan air PAM.

Sejak sumur-sumur digali di setiap rumah, sumur ditengah sawah tidak lagi digunakan walau tetap setia menampung air. Sejak air disalurkan melalui pipa-pipa kemudian begitu mudah mengucur dari keran, sumur di rumah-rumah mulai dilupakan walau tetap setia dengan misteri dikedalamannya. Sejak air tinggal klecek di keran, rasanya mewah penuh kemanjaan. Tidak ada lagi air yang diangkut dengan ember, tidak ada lagi ember yang dikerek kepermukaan dari kegelapan perut bumi.

Setelah merasakan kemewahan dan kemanjaan, rasanya mulai muncul sikap kurang ajar. Makian ketika air keran mati beberapa jam, atau ketika mati beberapa hari maka sumpah serapah akan ditujuakan pada perusahana-perusahaan yang mengelola pipa-pipa itu.

Saya merasa mewah, merasa dimanjakan dan juga mulai kurang ajar, tanpa pernah peduli atau sekedar bertanya siapakah yang merawat sumber-sumber air yang diangkut dengan pipa-pipa itu ke rumah dan mengucur tiap saat ketika keran dibuka? Saya jadi ingat ungkapan seorang petani ketika pipa-pipa dipasang dari mata air di hulu sungai desa kami menuju rumah-rumah penduduk, “Gendok bek, pulu puyung”. Gentong air penuh, gentong beras kosong.

Dumuat di tatkala dot co (28/3/2020)