Apa Itu Copywriting? Copywriting adalah seni dan ilmu menulis teks promosi atau iklan yang menarik dan persuasif untuk tujuan mempromosikan produk, layanan, atau merek tertentu. Copywriting sangat penting dalam dunia bisnis karena dapat mempengaruhi keputusan pembelian konsumen dan membantu meningkatkan penjualan.
Internet marketing, di sisi lain, adalah praktik pemasaran yang dilakukan melalui internet untuk mempromosikan produk atau layanan. Internet marketing mencakup berbagai strategi seperti SEO, PPC, email marketing, media sosial, dan banyak lagi.
Copywriting dan internet marketing sangat berkaitan karena copywriting adalah salah satu aspek kunci dari internet marketing. Teknik copywriting digunakan dalam konten yang dibuat untuk kampanye internet marketing seperti iklan PPC, halaman penjualan, email marketing, posting blog, dan lain sebagainya. Tanpa copywriting yang efektif, kampanye internet marketing tidak akan berhasil karena tidak dapat memengaruhi audiens target dan mendorong mereka untuk mengambil tindakan yang diinginkan.
Oleh karena itu, kemampuan menulis copywriting yang baik sangat penting dalam internet marketing. Seorang copywriter yang ahli dapat membantu perusahaan meningkatkan penjualan dan keuntungan mereka dengan menghasilkan konten yang menarik dan persuasif yang akan membuat audiens tertarik dan memilih produk atau layanan perusahaan tersebut.
Untuk menjadi seorang copywriter yang sukses, ada beberapa dasar pembelajaran yang perlu dipelajari, antara lain:
Struktur tulisan yang baik dalam copywriting biasanya terdiri dari beberapa elemen utama, yaitu headline, subheadline, body copy, dan call-to-action. Berikut adalah penjelasan tentang masing-masing elemen tersebut:
Selain empat elemen di atas, copywriting yang baik juga harus memiliki beberapa karakteristik, yaitu:
Dengan memahami struktur tulisan yang baik dalam copywriting dan karakteristik penting lainnya, seorang copywriter dapat menulis teks promosi atau iklan yang menarik dan persuasif untuk tujuan mempromosikan produk, layanan, atau merek tertentu.
Jabatan sebagai Pekaseh1 menjadikan Sadra bukan lagi petani biasa seperti tahun-tahun sebelumnya. Dia memiliki kesibukan menjalankan tugas sebagai tampuk pimpinan tertinggi dalam struktur kepengurusansubak2 di desanya. Dibantu oleh dua orang prajuru3 yang menjadi tangan kanan sekaligus penyambung lidah dengan para petani selaku anggota subak, segala informasi dan kebijakan dapat segera tersampaikan dengan akurat dan tepat pada seluruh anggota subak. Belum lagi sebagian anggota subak tinggal dan berasal dari beberapa desa lain yang kebetulan memiliki sawah di desa itu, sangat menguras tenaganya.
Kesibukan yang didasari sikap ngayah4 untuk kepentingan masyarakat banyak itu, mendapat tentangan luar biasa dari Istri Sadra. Kepolosannya dan keluguan sebagai petani tulen serta sikap yang selalu iklas dan suka-rela tanpa peduli siang atau malam, tidak hirau hujan berangin, membuat jengkel dan geram Konten, istrinya.
Sejak proses pemilihan, ketika nama Sadra mulai masuk dalam bursa desas-desus bakal calon Pekaseh, Konten sudah wanti-wanti agar jabatan itu ditolak saja. Dalam benak Konten, jabatan seperti itu hanya menghabiskan tenaga dan pikiran tanpa memperoleh imbalan yang sepadan. Intinya rugi. Itulah sebabnya sangat sulit untuk mendapatkan orang yang bersedia dan suka rela mengajukan diri untuk mengemban jabatan itu.
“Sudahlah, siapa yang akan memilih orang yang tidak memiliki pengalaman dan petani bodoh seperti Aku?” Ungkap Sadra tenang-tenang saja menanggapi kehawatiran istrinya.
“Ya, karena Bli5 dianggap bodoh, orang-orang akan memilih Bli, makanya belajar sedikit tentang politik, Bliitu sedang dipolitiki”
Sadra tertawa terbahak-bahak mendengar istilah yang dikatakan istrinya. “Apalagi itu dipolitiki?” Sadra terbatuk-batuk.
“Sudah sadar diri bodoh jangan berlagak seperti orang bodoh, itu artinya Bliakan dimanfaatkan, orang-orang akan mengambil keuntungan dari kebodohan itu. Ayo Bli, buka mata sedikit, lihat apa yang sedang terjadi di luar rumah kita. Jangan hanya taunya lumpur, mintur6, kukur7 dan tidur!” Konten semakin sengit.
“Kamu ini kenapa, orang lain makan cabe kenapa harus kita yang kepedasan. Keuntungan apa yang bisa diambil dari kita, kita ini petani, punya apa?”
“Ya itu, karena kita tidak punya apa-apa, hanya punya kebodohan dan keluguan, bersanding dengan mereka maka mereka akan semakin pintar untuk membodohi kita, para petani.”
“Aduh, pusing.”
“Pokoknya jabatan itu harus ditolak, bila perlu, saat sangkepan8nanti jangan datang, biar orang lain yang dipilih!”
Perdebatan di beranda rumah itu berakhir ketika malam semakin larut dan mereka harus memutuskan untuk masuk kamar. Dan selalu seperti itu selama berhari-hari, hingga akhirnya sangkepan subak dilaksanakan dan Sadra terpilih secara musyawarah mufakat sebagai pekaseh baru dan akan memangku jabatan selama lima musim tanam.
Perdebatan berkembang lebih rame, tidak hanya di beranda, kini sampai ke sumur, dapur hingga kasur dan semakin banyak perumpamaan, kemungkinan, kerugian dan bukti-bukti yang di ungkapkan Konten.
“Apa sebenarnya yang Bli cari, apa tidak bisa diurus besok, apa lagi ini sudah malam dan di luar sedang hujan lebat.” Geram Konten suatu malam.
“Kalau tidak sekarang, gorong-gorong itu akan semakin tersumbat oleh sampah, air terus semakin besar dan pasti akan meluap hingga membanjiri seluruh areal persawahan, padi yang baru tanam akan rusak” Sadra mengenakan sepatu karet tinggi yang dia sebut sebagai sepatu selop. Di kepalanya bertengger topi lebar yang terbuat dari anyaman bambu dan berlapis plastik bening.
“Apa orang lain mau peduli? Mereka paling-paling sudah tidur pulas, peluk istri, mimpi indah!”
“Ini giliranku untuk ngayah, giliran mereka ya nanti.” Sadra sudah siap berangkat. Tangannya menenteng senter, caluk9 dan payung yang siap dikembangkan.
“Apa untungnya buat kita, mereka yang enak-enak tidur yang akan menikmatinya. Apa untungnya coba?” Konten menyusul suaminya sampai ke pintu rumah.
“Ngayah ya tidak ada untungnya, kalau mau untung ya bagusnya jadi tengkulak.” Sadra berlalu menembus hujan dikegelapan malam. Cahaya lampu senter yang dibawanya hanya mampu menembus malam dalam jarak satu meter.
Sikap Sadra sebagai seorang pemimpin yang selalu mengutamakan kesejahtraan dan kepentingan anggotanya tetap menjadi poin persoalan dan memancing opini tajam Konten. Bukan hanya persoalan mengurus saluran irigasi yang mampet saat datang hujan dan banjir di malam hari.
Saat musim turun ke sawah dimulai, karena kesibukan mengurus segala keperluan musim tanam bagi anggotanya, sawah Sadra termasuk yang terakhir dijamah bajak. Saat pembagian benih padi pun demikian. Sadra mengambil bagian paling terakhir setelah seluruh anggota yang lain mengambil jatah dan yang tersisa hanya 15,5 kilogram dari seharusnya 25 kilogram yang dia perlukan untuk.
“Kalau begini urusannya, kita benar-benar menelan kerugian.” Pekik Konten saat mengetahui jatah benih padi mereka kurang sekitar 9,5 kilogram. “Bagaimana kalau nanti kita kekurangan saat menanam?”
“Jangan risau, kita bisa ambil di tempat Bli Jantuk atau Bli Kari, pasti ada lebihnya.”
“Bukan persoalan kita bisa ambil sana-sini, tapi asas kebersamaan dan keadilan tidak tegak. Keadilan bukan cuma buat mereka, tapi juga kita. Bagaimana panen kita bisa bagus, jatah benih kurang, pupuk kurang, untuk menyemprot hama tidak sempat. Pikir Bli, jangan hanya mikir mereka!”
“Ya baiklah, sekarang ayo pikirkan diri kita saja.” Sadra menarik tangan istrinya masuk kedalam kamar, karena hanya itu yang bisa menghentikan perdebatan di beranda malam itu.
* * *
Musim panen menjelang, bulir-bulir padi berwarna keemasan terhampar luas menghias seluruh desa. Para tengkulak berkeliaran menaksir tiap petak sawah. Dengan nada merayu dan kata-kata manis mencoba menawar padi-padi milik petani dengan harga miring nyaris jatuh. Tidak luput dengan padi milik Sadra.
Seorang tengkulak baru saja meninggalkan pekarangan rumah Sadra. Perdebatan segera mulai menghangat.
“Ini yang selalu aku takutkan Bli. Padi kita hanya ditawar 8 juta, coba kalau benih kita tidak kurang, pupuk cukup, hama di semprot, burung diusir, kita bisa dapat uang lebih dari 8 juta. Lihat Bli Jantuk, padinya ditawar 15 juta, Bli Kari sudah beli motor baru dari uang panjar saja. Kita dapat apa?” Suara Konten sangat memelas dengan wajah merengut.
“Wee, biar kata suamimu ini bodoh, kalau soal hitung-menghitung masih handal. Sawah kita hanya 50 are ditawar 10 juta, ya untung, sawah BliJantuk 1 hektar, hanya ditawar 18 juta, ya buntung. Kalau Bli Kari bisa beli motor baru, ya karena sawahnya 5 hektar, kalau sawah kita 5 hektar, bukan motor tapi mobil kita beli”
Konten masih diam membisu, tangannya memeluk tiang jineng.
“Kamu tahu kita sedang untung, hutang yang harus kita bayar di KUD berkurang karena jatah benih kita kurang, pupuk juga kurang, pestisida tidak beli. Dan para tengkulak memberi harga tinggi karena melihat jabatanku.”
Perdebatan siang di jineng10 berhenti sampai di situ, dengan kesimpulan dimenangkan oleh Sadra dengan kekalahan diderita oleh Konten yang terpukul telak hingga lidahnya kelu.
* * *
“Bli! gawat Bli!” Teriak Konten suatu petang di tahun ketiga jabatan Sadra sebagai pekaseh. Dia lari tergopoh-gopoh dari jalan menuju rumahnya. Sadra yang sedang sibuk memberi makan burung tekukur peliharaannya hanya menoleh sebentar tanpa komentar.
“Bli harus melawan karena ini sebuah konspirasi jahat!” Konten terengah-engah, berdiri memegang lutut di dekat Sadra.
“Kamu ini kenapa, apa yang harus dilawan, apa yang jahat?”
“Bli, beberapa orang akan berusaha menurunkan Bli dari jabatan Bli saat ini.”
“Bagus itu!”
“Bagus bagaimana? Ini konspirasi jahat, tidak sesuai aturan.”
“Ngomong apa kamu ini!” Sadra beranjak membereskan kaleng pakan tekukurnya.
“Begini Bli…”
“Nanti saja, aku mau mandi dulu…!” Sadra melangkah menuju kamar mandi meninggalkan Konten yang masih mematung di dekat kandang tekukur.
* * *
“Begini Bli…” Konten memulai ceritanya saat Sadra sudah selesai mandi dan mereka duduk di beranda rumah. “Beberapa orang yang tidak perlu aku sebutkan namanya, sedang mengincar jabatan yang Blipegang sekarang. Bli tidak boleh membiarkan ini terjadi.”
“Bukankah itu bagus, selama ini kita ribut terus gara-gara jabatanku ini.”
“Bli, pikiran mereka yang jahat ini yang tidak bisa aku terima, cara-cara tidak konstitusional, tidak sesuai adeaerte!” Konten semakin sengit.
“Mulutmu itu suka melilit kalau ngomong.”
“Bli, mereka hanya memikirkan keuntungan, selama ini tidak ada yang bersedia memangku jabatan ini, tapi begitu terkabar akan ada dana puluhan juta, mereka mulai kasak- kusuk, di mana hati nurani mereka, di mana jiwa mereka untuk ngayah?”
“Kenapa harus dipusingkan, kalau mereka mau, biarlah mereka ambil.”
“Bli…! jangan bodoh lagi, ini ketidak adilan, ini yang aku bilang kita sedang dipolitiki, dimanfaatkan!”
“Kalau kita memang bisa bermanfaat bagi orang lain, bukannya itu bagus? Berarti tidak sia-sia hidup kita di dunia”
“Heeh…! bodoh, bodoh, bodoh…!” Tangan Konten mengepal, giginya gemeretek menahan darah yang mulai naik ke ubun-ubunnya dan membuat mukanya memerah seperti kepiting rebus.
“Siapa yang maksa, kamu sendiri yang mau kawin sama orang bodoh.”
“Jujur saja Bli, aku hawatir dengan nasib uang yang akan turun nantinya, orang-orang itu tidak kredibel sama sekali.”
“Bagaimana kita bisa menilai orang seperti itu?”
“Sudah jelas Bli, sama sekali tidak kredibel,ada uang mereka datang tidak ada uang mereka menghilang, apa uangnya tidak akan ikut menghilang?”
“Sebenarnya uang siapa yang kamu ributkan?”
“Uang kita, uang rakyat.”
“Saat jadi pejabat miskin saja kamu ribut, bagaimana saat aku jadi pejabatyang pegang uang banyak, apa kamu tidak tambah ribut kalau aku mau kawin lagi?” Wajah Konten makin sengit mendengar ucapan suaminya.
“Ini politik kotor Bli, politik busuk!”
“Sudah, kita pikir politik Kasur dan dengkur saja, sudah malam.” Sadra menarik tangan istrinya masuk ke dalam kamar. Lampu depan rumah dipadamkan. Malam mengalir tenang, hawa dingin menyelimuti desa itu. Bulan bopeng di belahan langit barat memendarkan cahaya temaram. Binatang malam menyanyikan lagu cinta.
Denpasar, Agustus 2008
Note:
Hampir selalu terlintas di kepala saya pertanyaan, Siapakah saya? Who am i?. Pertanyaan itu hampir selalu muncul ketika saya dalam kondisi sendiri tanpa beraktivitas. Saking seringnya pertanyaan itu muncul, saya sampai ingin langsung berhadapan kepada sang penanya sambil menyerahkan KTP saya ????.
Akan tetapi, perlahan, sedikit demi sedikt, pertanyaan itu mulai mempengaruhi saya. Bahkan pertanyaannya berkembang menjadi, kenapa nama saya ini, kenapa bapak saya ini, kenapa ibu saya ini, kenapa saya bersaudara 3, kenapa saya dilahirkan di keluarga ini, knapa saya lahir didesa ini, kenapa saya beristri ini, dan masih banyak kenapa kenapa yang lain. Dan itu terus berkembang berkembang, membesar, bahkan dengan liarnya merembet kemana mana, bahkan sampai ke ranah ranah yang bahkan saya sendiri tidak mampu mengimajinasikan.
Karena terlalu sering memikirkan "kenapa" yang tadi, akhirnya singkat saya menjawab "karmapala". Yupp, betul, "Karmapala" berarti buah dari perbuatan.
Apapun kadaan yang saya terima saat ini adalah hasil dari perbuatan saya. Karena Tuhan Maha Hebat yang tidak mungkin salah menentukan apa yang seharusnya terjadi di dunia ini. Beliau Maha Absolut yang tidak akan melakukan kesalahan walau hanya seupil. Akhirnya saya merasa lega, pertanyaan tentang siapakah saya mulai sirna, dan saya mulai bisa menerima situasi dan kondisi saat ini tanpa berusaha menyalahkan dan menghakimi makhluk lain. Saya sebagai manusia tinggal menjalan apa yang sudah digariskan dengan cara terus beikhtiar dan menyerahkan apapun hasilnya kepada Yang Maha Kuasa.
Ternyata sesimpel itu.....
Esai adalah sebuah karangan pendek yang menjadi sarana mengungkapkan sudut pandang atau perspektif dari sang penulis. Artikel cara menulis esai ini, merupakan sudut pandang saya mengenai esai dan bagaimana ia ditulis dan digunakan, mungkin ini juga bisa disebut esai.
Esai memiliki jangkauan yang sangat luas, ditulis untuk banyak tujuan. Bisa jadi sebuah esai ditulis untuk mengkritisi sebuah kebijakan baru, merespon sebuah pertunjukan seni, memperdebatkan suatu isu di masyarakat yang sedang hangat, ataupun topik-topik ringan yang sangat personal.
Penulis Inggris Aldous Huxley mengatakan "the essay is a literary device for saying almost everything about almost anything" – terjemahan bebas: Esai adalah sarana sastra untuk mengungkapkan nyaris segala hal, tentang apapun. [Sumber]
Kata kunci yang saya temukan, bahwa esai memuat pokok pikiran, argumentasi dan simpulan yang ingin disampaikan penulis berdasarkan sudut pandangnya, untuk meyakinkan pembaca. Marilah saya ajak untuk menelaah pokok-pokok bahasan dalam artikel cara menulis esai ini.
Dalam menulis apapun, topik adalah kata kunci pertama yang harus ditemukan, bahkan saat menulis sms sekalipun. Saran yang bijaksana biasanya mengatakan, tulislah topik yang dekat dengan dirimu, isu yang akrab dan datang dari lingkunganmu. Ini benar sekali, ketika kita sudah paham dengan isu-isu terkait topik yang akan kita bahas, maka semuanya serasa dimudahkan oleh alam raya.
Tapi, sesungguhnya memilih topik inilah yang paling sulit, karena alam raya ini memiliki topik yang berserakan untuk dipilih satu. Parasiswa atau mahasiswa, biasanya sudah mendapat topik sesuai mata pelajaran, sehingga bisa langsung masuk ke tahap berikutnya.
Jika kamu sedang belajar secara mandiri dalam menulis esai, mari saya beri satu tugas. Buatlah esai dengan topik umum; Cerita Dari Desa. Kemudian persempit topik itu ke satu hal yang lebih spesifik; sungai, padi, petani, air, budaya, kerajinan, alam dan sebagainya. Lagi-lagi, mari tarik garis lebih tajam lagi, misalnya; Cerita Petani Kopi di Desa A, Cerita Penyelamatan Mata Air di Desa B, Cerita Tradisi Panen Padi di Desa C, Cerita Perjuangan Pokdarwis di Desa D, dan sebagainya.
Setelah memilih satu topik, tentukan tujuan dari esai yang akan kamu tulis. Apakah kamu ingin membujuk orang agar mengkuti apa yang kamu lakukan, mendukung apa yang sedang terjadi, mengambil inspirasi dari sesuatu atau seseorang, menceritakan tempat, mengungkapkan sebuah gagasan, atau sesuatu yang lain sama sekali sesuai dengan harapan yang ingin kamu capai dengan esai yang ditulis.
Kata kunci yang bisa menjadi sebuah tujuan dalam menulis esai, diantaranya; membandingkan Sesutu yang sejenis namun beda waktu, membenturkan sesuatu yang berlawanan, mendiskusikan sebuah isu, menjelaskan sebuah proses, mengevaluasi sesuatu yang sedang/ sudah berjalan atau mengidentifikasi kemungkinan-kemungkinan dari suatu isu.
Satu lagi yang kamu butuhkan sebelum mulai menulis esai adalah menentukan pertanyaan kunci, yang akan kamu jawab tengan paparan dalam esai tersebut. Keberadaan pertanyaan ini, akan memberikan fokus yang lebih tajam pada tulisan kita. Menurut saya, untuk satu esai cukup satu pertanyaan. Jika punya banyak pertanyaan, buatlah peper seminar atau gunakan untuk proposal skripsi.
Sebuah kerangka tulisan, apapun itu, pasti adalah awal, tengah dan akhir, tinggal mengetahui apa yang akan kita tulis sebagai awal, apa yang akan kita bahas sebagai bagian tengah agar tulisan kita meyakinkan dan apa yang akan kita sampaikan sebagai simpulan agar pembaca bersedia sepakat dengan apa yang kita ungkapkan.
Ini adalah cara termudah yang saya rasakan, bagi dalam tiga bagian; Awal (pokok pikiran), Tengah (argumentasi), dan Akhir (simpulan). Simaklah struktur di bawah ini, dan cobalah.
Contoh Kerangka
Saya akan membahas bagian per bagian sesuai dengan kerangka di atas, dari sebuah esai ringan yang saya tulis berjudul 'Sendiri Membunuh Sepi: Remote mana?' Kalau mau baca silahkan klik saja.
Ide atau topik dari esai ini adalah ‘Budaya Menonton TV’. Dari pengamatan dan pengalaman yang saya rasakan, saya memutuskan untuk melakukan komparasi atau memperbandingkan suasana menonton tv jaman saya kecil, dengan suasana menonton tv saat ini. Pertanyaan yang ingin saya jawab dalam esai ini adalah, apa imbas perkembangan teknologi televisi terhadap budaya menonton?
Dalam esai Sendiri Membunuh Sepi: Remote mana?, saya memulai dengan mengungkapkan suasana, tujuan dan perasaan penonton tv pada jaman dulu.
Dari paragraf pertama:
Semua orang bersuka-cita mendukung pahlawan-pahlawan olah raga yang mengharumkan nama Indonesia. Mengagumi penyanyi dan artis-artis televisi, yang semuanya tampak begitu cantik, sempurna dan indah.
Dari penggalan paragraph pertama inilah saya mengungkapkan pernyataan saya; Ada kebersamaan dan suka-cita dalam budaya menonton tv.
Dalam paragraf berikutnya, saya membahas perubahan teknologi, alasan dan perasaan kepemilikan tv disetiap rumah dan menggambarkan perubahan suasana yang terjadi di masyarakat.
Argumentasi kunci dari esai ini saya letakkan pada paragraf keenam:
Kehidupan sepertinya bergerak terbalik. Ketika tv hanya memiliki dua warna, hitam dan putih, ia memiliki penonton yang begitu banyak dan meriah. Namun ketika warna tv hadir lengkap dan tampak semakin indah, suasana menjadi sunyi tanpa gairah. TV sepertinya hanya sebuah pelarian untuk membunuh sepi, menemani kesendirian, menghilangkan kejenuhan, karena tidak ada teman bicara.
Menuju ke simpulan atas pandangan saya pada ‘Budaya Menonton TV’, saya melakukan komparasi akhir pada paragraf ketujuh, dengan memperbandingkan nilai, dari suasana menonton jaman dulu dengan sekarang, yang tidak bisa dibayar dengan uang.
Dalam paragraf akhir, saya melempar simpulan bahwa uang dan ego menjadi pembatas, sehingga kita tidak lagi bisa menikmati suasana menonton yang sarat akan kebersamaan dan suka-cita kolektif.
Ruang Belajar Bersama: Tutorial Menulis
Baiklah para pembaca yang budiman, demikianlah cara menulis esai versi saya. Lain kali saya akan membahas proses kreatif ketika saya menulis esai untuk topik lain, misalnya mengenai ulasan sebuah buku, sebuah pertunjukan dan sebagainya. Pada dasarnya saya ingin berbagi mengenai sesuatu berdasarkan pada sebuah studi kasus, yang mungkin bisa dibilang bedah proses kreatif. Jika berkenan mari bergabung di group WA Belajar Menulis Esai bersama mipmap.id.
Bagi yang sedang menulis cerpen silahkan cek tulisan saya ini, Cara Menulis Cerita Pendek Dalam Beberapa Langkah Sederhana.
Jika sudah ada tulisan yang selesai, langkah berikutnya adalah publikasi, bisa melalui blog pribadi atau memilih media online yang menyediakan ruang seperti mipmap.id; kamu bisa lihat bagaimana mengirimkan tulisan ke mipmap melalui laman menjadi penulis.
Menulis surat adalah cara belajar menulis yang sangat bagus, karena menulis surat cinta yang begitu emosional; melibatkan hati, pikiran dan getaran-getaran fisik. Siapa di antara kalian yang mengalami menulis surat cinta? Menulis surat, menulis dengan tangan bukan mengetik, kemudian dibungkus dalam amplop dan dikirimkan melalui pos atau dititipkan pada seseorang. Kalau kalian mengalami, kiranya kalian adalah anak 70an atau 80an, atau apa mungkin anak 90an masih ada yang bersurat-suratan?
Surat cinta, pernyataan cinta, sebuah karya tulis yang biasanya berisi ungkapan perasaan si penulis kepada pembacanya, sang pujaan hati. Surat itu isinya hanya aku dan kamu, dunia milik berdua sedangkan yang lain hanya numpang lewat. Kadang sialnya, orang lain yang tidak dianggap dalam surat itu malah lebih ingin tau isinya dan kadang melakukan sensor illegal, bahkan kadang mengganti isi surat sebelum sampai di tujuan.
Selain surat cinta, biasanya anak kos belajar menulis surat pada Ibunya, atau sebaliknya, yang biasanya diakhiri dengan proposal anggaran belanja anak kos bulan berikutnya. Sedangkan surat dari orang tua kepada anak kos, umumnya lebih panjang lebar berisi petuah dan peringatan untuk tidak keluyuran dan jangan pacaran melulu. Anak kos biasanya baru membaca surat untuknya sebagai referensi saat menulis proposal anggaran bulan berikutnya. Kualat, makanya ketemunya mie instan mulu.
Kalau mau belajar menulis, kenapa saya bahas surat menyurat? Karena dalam tipe surat menyurat ini yang paling mudah menemukan contoh dari pokok bahasan artikel ini, yaitu sudut pandang bercerita. Marilah saya ceritakan tiga sudut pandang tokoh dalam bercerita.
Karakter utama dalam cerita akan menggunakan kata ganti orang pertama; saya, kita, aku, dan sebutan lain yang menyesuaikan seting tempat, kebiasaan atau asal-usul si tokoh. Bercerita menggunakan perspektif orang pertama mampu mengantarkan kedalaman cerita dari karakter dan nuansa keintiman. Pembaca akan digiring merasakan perasaan Aku, si tokoh yang memposisikan pembaca menjadi teman curhat, teman ngobrol.
“Namaku Ayuniah, terlahir di sebuah desa di tepaian sungai Ayung. Aku selalu bermimpi bisa terbang dan sejak kecil kupikir aku adalah malaikat, padahal bukan. Aku hanya peri yang berumah di lubang pohon besar itu.”
Paragraf di atas adalah contoh penceritaan yang mengambil sudut pandang orang pertama. Ayuniah sedang bercerita pada pendengarnya, pembacanya. Ini seperti kamu menceritakan kejadian yang baru saja menimpamu kepada temanmu. “Aku tadi ketemu cowok, guanteng bingitz. Dadaku sontak bergegup kencang seperti genderang mau perang.”
Untuk bercerita menggunakan sudut pandang orang kedua, penulis akan menggunakan kata ganti Kamu, Anda atau Kalian. Penggunaan sudut pandang orang kedua dalam cerita, akan membuat pembaca merasa ini adalah cerita tentang diri mereka. Pembaca melakukan setiap aksi yang terjadi dalam ceita tersebut.
“Namamu Ayuniah, terlahir di sebuah desa di tepaian sungai Ayung. Kamu selalu bermimpi bisa terbang dan sejak kecil kamu pikir kamu adalah malaikat, padahal bukan. Kamu hanya peri yang berumah di lubang pohon besar itu.”
Kalau kita kembali pada bahasan tentang surat, sudut pandang orang kedu sering digunakan saat mengungkapkan sanjungan atau nasehat. “Kamu adalah rembulan yang bersinar menyibak kegelapan.” Atau, “Nak, kamu adalah harapan keluarga, jagalah sikap di rantau, belajar yang giat untuk mencapai cita-citamu. Masa depanmu ada di tanganmu. Kamulah yang menentukan pilihan, mau jadi apa nantinya. Kamu yang memutuskan nasibmu sendiri.”
Tipe bercerita dengan sudut pandang orang ketiga merupakan pilihan yang paling banyak kita temukan dalam cerpan atau novel, dimana tokoh utama menggunakan kata ganti; mereka, dia, orang itu, lelaki itu, atau nama orang. Ceritanya pasti menceritakan orang lain. Lihat saja mulai dari epos Mahabarata, Ramayana atau karya besar seperti Bumi Manusia karya Pramudya Ananta Toer. Kejadian yang diceritakan adalah tengang orang lain, bukan sang pencerita atau si pembaca, tetapi tokoh-tokoh yang berbeda diluar mereka berdua.
“Namanya Ayuniah, terlahir di sebuah desa di tepaian sungai Ayung. Dia selalu bermimpi bisa terbang dan sejak kecil dia pikir dirinya adalah malaikat, padahal bukan. Dia hanya peri yang berumah di lubang pohon besar itu.”
Ya, sudut pandang adalah pilihan. Ketika Chairil Anwar menulis puisi berjudul Aku, tentu memiliki alasan kuat selain bahwa puisi cenderung personal dan intim. Sudut pandang orang pertama dan orang ketiga merupakan pilihan yang paling banyak digunakan. Saya sendiri belum pernah mencoba menulis cerita fiksi dengan sudut pandang orang kedua secara penuh. Tapi patut dicoba.
Penggunaan sudut pandang tokoh dapat menjadi sebuah eksperimen yang menarik. Saya mencobanya dalam cerpen berjudul Kawan Tiba (Suatu) Senja. Yang merekam sebuah obrolan dua orang yang saling bercerita satu sama lain. Ada kalanya saya sebagai pencerita menggunakan sudut pandang orang ketiga, di saat lain tokoh dalam cerita akan bercerita dengan sudut pandang orang kedua atau juga sudut pandang orang pertama.
Saya rasa pilihan apapun yang kita ambil dalam bercerita, tentunya perpegang pada emosi apa yang ingin kita teruskan pada pembaca. Ketika kita memiliki ide cerita dan memahami dengan baik kedalaman cerita tersebut, secara alamiah kita akan menemukan sudut pandang penceritaan yang tepat. Cerita dengan sudut pandang orang pertama ada dalam cerpen saya berjudul Maaf Untuk May dan beberapa esai ringan seperti Cerita Tentang Rumah, Sumur dan Mata Air.
Untuk contoh cerita dengan sudut pandang orang ketiga, saya rasa sangat mudah untuk ditemukan. Kalau mau membaca cerpen saya, silahkan simak cerpen Kaki Wari. Untuk cerita dengan sudut pandang orang kedua, saya belum menemukan referensinya, kalau kalian punya contoh, mohon kiranya bersedia bagi di komentar. Mari belajar menulis.
Cara menulis skenario, tidak ada cara yang peling tepat dari sekian banyak panduan menulis skenario film yang pernah dilakukan orang. Cara terbaik adalah cara yang paling nyaman bagi kita, mau mulai dari manapun, ya terserah. Satu lagi cara yang terbaik adalah teknik yang praktis untuk diterapkan dan membantu cerita dan skenario film kita selesai dan siap di produksi dan mudah dimengerti oleh seluruh tim kerja, mulai dari produser, soundman, gaffer hingga anak artistik.
Pada poin mudah dimengerti inilah kita berhenti sejenak. Standar atau bentuk baku sebuah skenario telah ada dan disepakati sebagai konsensus internasional, sehingga ketika sebuah sekenario final disodorkan pada seseorang dalam tim kerja - yang paham standar kerja - maka orang tersebut langsung dapat memahami isi dan maksud skenario tersebut.
Tidak ada aturan hukum yang mengatakan berapa seharusnya durasi sebuah film pendek. Secara umum, film pendek adalah film dengan durasi kurang dari 60 menit. Yang menentukan berapa durasi film pendek yang tepat adalah ruang putarnya, seperti Festival Film, platform streaming, Televisi dan sebagainya.
Penghargaan Oscar mensyaratkan film pendek yang berhak ikut berkompetisi adalah 40 menit atau kurang. Festival Film Pendek Internasional di Bali – Minikino Film Week mensyaratkan 25 menit atau kurang. Begadang Film Making Competition mensyaratkan durasi 5 menit, dan ada juga festival the one minute di Belanda yang mensyaratkan film pendek wajib hanya 1 menit.
Secara umum, rata-rata durasi film pendek yang paling banyak dibuat dan ditayangkan di berbagai festival adalah kisaran durasi 10 – 20 menit.
Sebuah film pendek dapat berupa live-action, animasi, atau kombinasi keduanya. Film pendek memiliki keterbatasan durasi, sehingga struktur berceritanya sangat berbeda dengan film panjang yang sering ditayangkan di bioskop. Bercerita dengan awal, tengah, dan akhir yang berbeda, yang sangat bebas dan terbuka untuk bereksperimen. Film pendek yang baik memiliki fokus yang jelas dan sangat ekonomis dengan cara bertutur mereka, kadang hanya menggunakan satu atau dua lokasi dan sedikit karakter.
Ide bisa didapatkan dari lingkungan terdekat kita, pengalaman pribadi, lingkungan keluarga, sekolah, pergaulan di luar rumah atau tempat kerja. Media bacaan seperti koran, majalah, buku; seringkali memberi ide mengenai isu yang menjadi ketertarikan kita. Bahkan setelah menonton film tertentu, kita sering terganggu dengan ide baru, sudut pandang lain yang ingin kita ungkapkan.
Kita harus peka, punya daya kagum dan selalu mencatat hal-hal menarik dari tiap aktivitas sehari-hari, yang nantinya dapat dikeluarkan ketika dibutuhkan sebuah ide untuk suatu karya, katakanalah ingin membuat film pendek.
Ide terbaik adalah sesuatu yang dekat dengan kita, sehingga dengan mudah bisa kita ceritakan kembali.
Setiap ide yang terlontar umumnya masih sangat dini, mentah dan masih jauh dari kenyataan. Yang dibutuhkan selanjutnya adalah menggali wawasan mengenai ide yang terlontar.
Jika ingin berbicara mengenai “Fakta ketergantungan pada HP”, maka kita butuh data pendukung, bertanyalah dan kemudian cari jawabannya.
Bagaimana jika? Apa yang? Siapa? Dimanakah? Mengapa? Lalu…?
Riset suara dan visual juga menjadi syarat utama, karena film adalah media audio visual. Bagaimana tingkah seorang yang panik karena lupa membawa charger? Bagaimana Reaksi saat kalah main ML? Bagaimana suara HP saat menerima panggilan? Apa yang dibicarakan mengenai teknologi HP? Bahan-bahan ini akan membantu kita menggarap ide menuju tahap selanjutnya.
Film pendek adalah cara bertutur yang ringkas, cepat, tajam dan jelas.
Dari ide dan hasil riset, maka dibutuhkan waktu, kerjernihan pikiran dan niat kuat untuk memeras ide sehingga mendapatkan sari pati, inti dari inti, core dari core sebuah cerita. Kita tempatkan ide besar yang kita miliki kemudian tarik ke bawah, ke unsur paling kecil, dekat dengan kita dan intim dengan kehidupan sehari-hari.
Ide “Fakta ketergantungan pada HP”, kita tau, pengguna HP memiliki ketertarikan yang berbeda-beda, maka kita harus pilih satu jenis; misalnya ketertarikan paga game. Dari game, pasti bisa ditarik lagi, satu game apa yang akan kita bahas dalam ide ini? Jenis HP yang digunakan? Dimana tempat kejadiannya? Dan sebagainya.
Ketika kita sudah memiliki ide yang tajam, terfokus pada suatu kejadian atau peristiwa, maka kita bisa menciptakan karakter yang cocok. Sesuai dengan dunia yang ingin kita ciptakan dalam film pendek kita.
Karakter Utama: Temukan Namanya, jenis kelaminnya, usia, pendidikan, gaya berpakaiannya, strata sosial, sifatnya; terbuka, tertutup, pendiam, suka ngobrol, suka pamer?
Karakter Pendukung: Ciptakan tokoh yang sesuai dengan ide cerita, menjadi teman atau lawan dari tokoh utama; dimensi kehidupan karakter pendukung bisa dibangun agar sesuai dengan kebutuhan dan mendukung cerita, dan pastikan ia penting bagi tokoh utama.
Kalimat logline ada yang dibuat sebelum naskah ditulis, ada juga logline yang dibuat setelah film selesai sebagai sarana promosi; logline ini umumnya ditulis di poster film.
Disini kita berbicara premis cerita, saat kita mulai menulis cerita, sebuah kalimat yang menyatakan cerita dan masalah yang akan menggerakkan cerita. Dalam premis terdapat beberpa elemen, yaitu karakter dan atributnya, tindakan, dan situasi yang dihadapi sang karakter.
Contoh Premis:
Seorang anak laki-laki gemuk berusia 6 tahun, hendak tidur di kamarnya namun berteriak ketakutan memanggil ayahnya, dia merasa ada monster di bawah tempat tidurnya.
Atribut karakter: Seorang anak laki-laki, gemuk, usia 6 tahun.
Tindakan: Hendak tidur di kamarnya, berteriak ketakutan memanggil ayahnya.
Situasi: Dia merasa ada monster di bawah tempat tidurnya.
Sinopsis adalah cerita singkat tentang kisah film dalam bentuk tertulis. Sinopsis berisi semua elemen penting – karakter, alur cerita, tindakan, reaksi dan insiden besar – dari awal hingga akhir dalam urutan kronologis.
Contoh Sinopsis:
Suatu malam, Dito, anak laki-laki gemuk berusia 6 tahun bersiap untuk tidur dikamarnya. Saat masuk ke bawah selimut dan memejamkan mata, Dito mendengar suara dari bawah tempat tidurnya, dia terkejut dan yakin ada monster di bawah tempat tidurnya, dia segera berteriak memanggil ayahnya. Ayahnya masuk kamar untuk memeriksa dan menemukan Dito di bawah tempat tidur.
Storyline kadang disebut juga sinopsis panjang, yang umumnya terdiri dari alur cerita yang lebih lengkap dari sinopsis pendek. Storyline dibagi dalam paragraf-paragraf yang menjadi poin penting tiap babak, dengan keterangan dan deskripsi yang lebih lengkap.
Sebuah storyline terdiri dari 3 paragraf yang menjadi awal, tengah dan akhir film.
Contoh Storyline
Jam 9 malam, Dito diantar ayahnya masuk kedalam kamar tidurnya. Dito naik ketempat tidur dan mengucapkan selamat malam. Ayahnya kemudian mematikan lampu kamar dan menutup pintu.
Dito masuk ke balik selimut tebal, merebahkan kepalanya di atas bantal, dan saat itulah terdengar suara dari bawah tempat tidur, Dito terkejut dan segera berteriak memanggil ayahnya. Ayah segera datang dan masuk mendekati Dito yang ketakutan. Dito menjelaskan bahwa ada monster di bawah tempat tidurnya dan meminta ayahnya memeriksa.
Ayah memeriksa dan menyingkap seprai tempat tidur Dito, saat melongo ke bawah tempat tidur, Ayah menemukan Dito yang sedang ketakutan.
Pada tahap ini, kita akan mulai mengarang lebih detail. Seperti menulis sebuah cerpen, tetapi wajib menggunakan kalimat-kalimat yang visual, kalimat yang bisa ditangkap oleh kamera, kalimat yang bisa di bayangkan akan tampil di layar.
Contoh Treatmen
Jam di ruang tamu menunjukan pukul 9 malam. Dito diantar ayahnya masuk kedalam kamar tidurnya. Dito naik ketempat tidur dan mengucapkan selamat malam pada ayahnya. Ayahnya membalas, kemudian mematikan lampu kamar dan menutup pintu.
Kamar Dito diterangi lampu tidur berwarna biru yang remang-remang. Dito masuk ke balik selimut tebal, merebahkan kepalanya di atas bantal dan memeluk boneka beruang. Saat mata Dito terpejam, terdengar suara dari bawah tempat tidur, Dito terkejut dan membuka matanya, memasang telinganya lebih baik. Suara itu terdengar lagi dan Dito segera berteriak memanggil ayahnya.
Ayah segera datang dan masuk mendekati Dito yang ketakutan memeluk bonekanya. Dito menjelaskan bahwa dia yakin ada monster di bawah tempat tidurnya dan meminta ayahnya memeriksa. Ayah berusaha meyakinkan bahwa tidak ada monster, namun Dito memaksa. Ayah meminta Dito berjanji akan segera tidur, jika tidak ada monster di bawah tempat tidurnya, kemudian ayah memeriksa ke bawah tempat tidur.
Ayah menyingkap seprai tempat tidur Dito, saat melongo kebawah tempat tidur, Ayah menemukan Dito yang sedang ketakutan memeluk boneka, dan meminta ayah memeriksa monster di atas tempat tidurnya.
Sekenario adalah proses penulisan yang bisa dikatakan adalah persoalan teknis, karena cerita yang sesungguhnya sudah selesai pada treatmen. Sekenario adalah Bahasa teknis yang memecah cerita dalam scene-scene secara detail, yang berisikan:
Teknis cara menulis skenario ini sudah menjadi standar kerja secara internasional. Dengan mengikuti teknis ini, akan membantu komunikasi antara penulis dengan sutradara, pemain dan crew pendukung film.
Contoh Skenario
BLACK SCREEN
Film Title
FADE IN
INT. RUANG TAMU – MALAM
Jam menunjukan pukul 9 malam. Dito (laki-laki, 6 tahun, gemuk) berjalan diantar ayahnya (laki-laki, 38 tahun, kurus) masuk kedalam kamar tidurnya.
CUT TO
INT. KAMAR DITO – MALAM
Dito naik ketempat tidur.
DITO
Selamat malam ayah.
AYAH
Selamat tidur sayang.
Ayahnya mematikan lampu kamar dan menutup pintu.
Kamar Dito menjadi remang-remang diterangi lampu tidur berwarna biru. Dito masuk ke balik selimut tebal, merebahkan kepalanya di atas bantal dan memeluk boneka beruang, mata Dito terpejam.
SUARA: Gedoran pelan dan garukan.
Dito terkejut dan membuka matanya, memasang telinganya lebih baik.
SUARA: Gedoran lebuh keras dan garukan.
DITO
Ayah….!! Tolong Ayah…!!
Dito ketakutan memeluk bonekanya. Ayah masuk kamar dan mendekat Dito
DITO
Ayah….!!
(berbisik pelan)
Tolong periksa, ada monster di bawah tempat tidurku.
Ayah tersenyum, kemudian berjongkok menyingkap seprai tempat tidur Dito, saat melongo kebawah tempat tidur, Ayah melihat Dito yang sedang ketakutan memeluk boneka.
DITO
Sesssttt… Ayah, tolong periksa,
ada monster di atas tempat tidurku.
FADE OUT
BLACK SCREEN
Credit title
The end
Cara menulis cerpen ini saya tulis sebagai upaya pembelajaran diri, sebuah catatan proses kreatif saya dalam menulis cerpen selama ini. Tentu saja ini bukan cara baku, apalagi kaku. Karena menulis adalah proses kreatif, yang aturan paling mendasar adalah kebebasan berekspresi. Ayo tulislah, jangan ragu.
Cerita bisa disebut cerita pendek atau cerpen, tentu saja ketika dia pendek. Mengukur panjang pendeknya tentu kita butuh parameter. Parameter yang umum adalah ketersediaan ruang untuk penerbitan. Media seperti Koran Kompas, mensyaratkan maksimal panjang cerpen adalah 10.000 karakter, atau kurang lebih 1500 kata, dan jika diketik 1,5 spasi, Time New roman 12 akan tercapai 5 halaman A4. Ada juga media yang hanya menyediakan ruang untuk tulisan sepanjang 700 kata, atau kurang lebih 5000 karakter.
Lalu, apakah boleh menulis cerita lebih pendek dari itu? Tentu saja boleh. Mari kembali pada aturan paling mendasar; kebebasan berekspresi. Untuk cerita-cerita yang lebih pendek, misalnya dibawah 300 hingga Cuma 5 kata; ada beberapa istilah yang digunakan untuk penyebutannya. Misalnya Cermin atau cerita mini, dalam Bahasa inggris ada istilah short-short story, micro fiction dan flash fiction.
Semakin pendek batasan ceritanya, maka semakin padat cerita yang ditulis untuk mengungkapkan sebuah gagasan atau pesan. Dan pasti semakin menantang sebagai sebuah eksperimentasi bertutur.
Menikmati cerpen membutuhkan waktu dan energi yang lebih sedikit dibandingkan membaca karya sastra panjang seperti novel. Sebuah cerpen bisa dibaca hingga selesai, bahkan sebelum nomor antrian dipanggil di ruang tunggu dokter. Cerpen yang ditulis dengan cara bertutur yang baik, biasanya membuat pembacanya enggan berhenti sebelum menemukan endingnya.
Buat saya, cerita pendek yang memberikan kenikmatan adalah cerita yang memberikan daya kejut yang kuat saat kita akan mencapai akhir. Atau cerita yang memiliki lapisan pesan yang kuat di balik kisah yang terkesan biasa, yang biasanya jenis cerpen ini memberikan ruang pikir dan memicu sebuah ide baru untuk diungkapkan. Satu lagi, cerpen yang menarik adalah ketika ia memiliki konteks yang kuat dengan pemikiran saya, atau dekat dengan situasi dan isu terkini; bagusnya lagi ketika gagasannya masih relevan sejak ditulis hingga ketika dibaca lagi sepuluh tahun kemudian.
Karena keterbatasan cerita pendek adalah pada jumlah kata, tentu saja dalam bercerita tidak sebebas menulis novel, yang bisa menulis lebih dari 10.000 kata. Namun bagi saya, apapun formatnya, struktur sebuah cerita tidak bisa lepas dari unsur pembuka, konflik, ketegangan, klimak dan ending. Yang seru dari struktur cerpen adalah, kita bisa memulai paragraf pembuka dengan sebuah konflik atau ketegangan. Kita bisa mengaduk-aduk perasaan pembaca sejak awal.
Baiklah, mari saya bagikan cara atau langkah-langkah, yang saya perbuat ketika hendak menulis sebuah cerpen. Meskipun ini tersusun berurutan dari atas ke bawah, mungkin bukan berarti urutan ini selalu cocok dengan semua orang. Tulisan ini juga hanya membutuhkan beberapa menit untuk dibaca, namun pada kenyataannya, setiap poin yang saya tulis di bawah ini, membutuhkan inkubasi lebih lama dari menghabiskan sebatang rokok.
Hal pertama dari langkah-langkah cara menulis cerpen versi saya, adalah; saya cenderung bergerak dari sebuah gagasan yang emosional, karakter yang melawan atau sedang kontra terhadap sesuatu. Jika sebuah isu dapat menyentuh secara emosional dan terasa intim dengan apa yang saya rasakan, maka saat itulah gagasan awal saya temukan.
Namun harus berhati-hati, apakah gagasan itu cukup layak untuk diceritakan sebagai sebuah karya yang akan dibagikan pada publik, atau hanya emosi curhat yang sangat personal, yang sebaiknya diceritakan pada buku diari saja. Gagasan dasar ini hendaknya bisa lebih universal dan menyentuh orang lain, yang akan membaca tulisan kita.
Ramuan kisah kekerasan politik, kehilangan, perjuangan hidup, cinta tak terbalas; selalu dapat menguras emosi. Dari gagasan dasar ini, bagaimana kemudian kita menariknya pada kehidupan nyata, kehidupan hari ini, membuatnya bersentuhan dengan emosi dasar manusia.
Kisah seorang anak kehilangan mainan, dibandingkan dengan ketika seorang anak kehilangan anjing peliharaannya atau kehilangan Ibunya, tentu akan memberikan emosi yang berbeda.
Ini adalah salah satu cara bagi seorang pemula seperti saya, fokus pada satu kasus khusus, sehingga cerita tidak melebar ke mana-mana. Saking fokusnya, kadang saya membuat sebuah cerita dengan seting waktu yang terjadi hanya dalam rentang satu hari atau beberapa saat saja.
Dalam cerpen Prahara Secangkir Kopi yang menjadi cerpen pembuka dalam buku kumpulan cerpen Politik Kasur, Dengkur dan Kubur, saya berfokus pada perasaan dan gerak-gerik fisik tokoh utama Kayan, bagaimana ia bereaksi terhadap situasi yang dihadapi; berseteru dengan istrinya, sehingga tidak dibuatkan kopi. Saya berfokus pada konflik batin, berusaha terus meningkatkan nuansa depresi, hingga mencapai ending.
Tentu saja bagi yang sudah berpengalaman dan punya kemampuan bercerita dan bahasa yang digjaya, sangat mungkin memasukkan lapisan-lapisan lain, pesan-pesan tersirat, maksud terselubung, simbol-simbol tertentu dalam tiap paragraf ceritanya.
Ada tokoh, ada aksi, ada reaksi dan ada situasi; itulah yang menggerakkan cerita. Tokoh yang meyakinkan adalah tokoh yang masuk akal dan pantas untuk melakukan aksi yang penulis inginkan, dan sanggup bereaksi atas situasi yang menghantamnya.
Tokoh Kayan dalam cerpen Prahara Secangkir Kopi, saya ciptakan sebagai laki-laki cuek, menganggap semuanya akan berjalan baik-baik saja, luka akan sembuh sendiri, berharap semuanya damai apa adanya, sehingga ketika dia dihadapkan pada konflik di rumahnya, dia memilih kabur keluar rumah, dan ketika ada konflik di luar rumah ia memilih kabur, dengan pulang. Sikap cuek inilah yang menjadi prahara dalam cerita ini.
Awal, tengah dan akhir. Lahir, hidup dan mati; menjadi dasar sebuah kehidupan dan cerita adalah replika dari kehidupan nyata yang sangat nyata dengan bumbu fantasi dan kenakalan penciptanya, penulis.
Struktur ini – awal, tengah, akhir – tidak selalu bisa diartikan secara harfiah sebagai urutan waktu atau kejadian yang runut secara kronologis; a, b, c, d, e …, namun sangat mungkin dimulai dari e mundur ke b, maju ke c, mundur ke a, lalu berakhir di d.
Cerpen Prahara Secangkir Kopi adalah contoh cerpen menggunakan struktur kronologis, maju pantang mundur. Dari Kayan bangun tidur pagi itu, berangkat ke kantor, pergi ke taman, pulang dan berakhir di rumah malam itu juga. Walaupun ada paragraf menyinggung kejadian lama, namun tetap ada dalam kerangka perasaan Kayan saat itu, bukan lompatan secara struktur.
Sebuah cerpen dengan struktur yang maju mundur saya ambil contoh, cerpen berjudul Terumbu Tulang Istri karya Made Adnyana Ole, dalam buku kumpulan cerpen Gadis Suci Melukis Tanda Suci Di Tempat Suci. Cerpen ini saya ambil sebagai contoh karena menggunakan nama tokoh yang sama, Kayan.
Di awal cerita, Kayan versi Adnyana Ole ditempatkan pada kisah hari ini, saat ia melakukan ziarah pagi ke dasar laut. Kemudian mundur ke masa Kayan bekerja sebagai guide diving, pada bagian berikutnya digambarkan Kayan entah beberapa tahun sebelumnya ketika ia dipisahkan dari istrinya oleh warga adat, kemudian melompat lagi ke belakang ketika Kayan berusia 13 tahun dan bekerja sebagai pegawai villa, dan cerita ini diakhiri dengan kisah asmara Kayan dengan istrinya yang menjawab kenapa warga adat tega memisahkan mereka. Struktur bercerita yang brilian.
Ketika mulai menulis, mungkin saja kita memiliki struktur yang kronologis, kemudian saat proses editing, eksperimentasi struktur bisa dilakukan untuk mendapatkan emosi tertentu dalam cerita.
Karena cerpen adalah cerita pendek, tidak ada waktu untuk bertele-tele, maka mulailah dengan sesuatu yang mengejutkan. Sebuah pokok pikiran yang menjadi kunci yang bisa nyantol di kepala pembaca, sehingga mereka tidak bisa berpaling ke lain hati.
Cerpen Prahara Secangkir Kopi saya mulai dengan konflik Kayan dengan Istrinya, dan menjadi pembuka yang menggerakkan cerita. Menarik atau tidak, terserah pembaca kemudian menilai setelah membacanya. Masih ada loh bukunya kalau mau.
Pada cerpen Terumbu Tulang Istri, Ole memaparkan dalam empat paragraf, perjalanan Kayan melakukan ziarah ke dasar laut, bercumbu dengan karang yang ternyata adalah tulang istrinya. Siapa yang tidak tersentu dengan pokok pikiran cerita seperti itu?
Satu lagi cerpen renyah yang ingin saya jadikan contoh, cerpen Putu Wijaya berjudul Laila, yang ditulis 12 Oktober 09, dibuka dengan kejadian seorang pembantu yang sedang menangis, dan dalam sebuah paragraf awal terungkaplah situasi yang sedang dihadapi Laila, sang pembantu.
”Dia punya konflik,” kata istri saya kemudian. ”Suaminya kurang ajar. Masak memaksa Laila banting tulang, tapi dianya ngurus anak ogah! Primitif banget! Laki-laki apa itu? Giliran anaknya kena DB dibiarin saja. Coba kalau sampai mati bagaimana? Pasti si Laila lagi yang disalahin! Memangnya perempuan WC untuk nampung kotoran?!” [Sumber]
Setiap bagian dalam cerita hendaknya adalah hal-hal yang penting dan menguatkan cerita. Setiap paragraf haruslah menggambarkan pokok masalah secara jelas dan tuntas, dan sebagiknya tidak lagi mengulangi pokok pikiran tersebut di lain paragraf, kecuali memang sebuah teknik pengulangan yang menguatkan cerita.
Kalimat mesti mampu bercerita dengan lugas, sesederhana mungkin. Menurut saya, berhasil dalam bercerita adalah ketika mampu mencapai puncak cerita dengan cepat dan tepat, kalau ada jalan short cut, ambil jalur itu dan ajak pembaca ke terminal pemberhentian dengan segera, walaupun perjalanan cerita masih akan berlanjut ke pemberhentian selanjutnya, hingga akhir.
Pilihan kata juga menjadi sesuatu yang sangat amat penting, karena sebagai penunjuk jalan cerita, kita bertanggung jawab pada kenyamanan penumpang. Namun tentu saja kita memiliki hak penuh atas kata-kata seperti apa yang ingin digunakan; kadang berikan mereka jalan mulus, sesekali biarkan mereka terguncang dengan menceburkannya ke kubangan di tengah jalan, karena kenakalan ini adalah dinamika perjalanan cerita, sehingga pembaca tidak tidur atau turun di tengah jalan.
Seperti virus, sebuah tulisan membutuhkan masa inkubasi yang cukup agar matang dan bisa menimbulkan penyakit yang menyengat pada pembaca. Berapa lama? Tentu saja tergantung jenis virusnya; kalau jenis virus deadline mungkin hanya punya waktu beberapa jam. Pada pokoknya adalah, sempatkan untuk mebaca ulang dengan suasana jernih, ambil sudut pandang baru sesuai kebutuhan, kemudian rasakan dan mulailah menyunat segala yang dirasa berlebihan dan lakukan tambal sulam pada bagian yang masih compang-camping.
Saya kadang membutuhkan 4 – 5 kali baca ulang dan koreksi, sebelum didiamkan dalam kurun waktu tidak terbatas, sambil melakukan pengayaan wawasan atas topik yang saya bahas. Kendati sedang menulis fiksi, kita membutuhkan pijakan nyata untuk menguatkan. Mencari referensi karya tulisan orang lain juga penting. Tulisan yang membahas topik sejenis, atau menggunakan gaya bercerita serupa dengan yang sedang kita kerjakan, barulah kemudian suatu saat yang tepat, tulisan itu kita baca dan kita koreksi lagi.
Satu langkah yang menjadi bagian penting cara menulis cerpen ini, yang saya anggap baik dan patut untuk selalu dicoba adalah, tunjukan tulisan ini pada orang yang netral, seorang mentor, minta pendapatnya; dan pastikan hati dan pikiran kita terbuka menerima segala saran dan kritik yang kemudian muncul. Jangan baper.
Tahap terakhir dari cara menulis cerpen ini, yang sesungguhnya adalah langkah pertama adalah; tulislah, berceritalah. Jika kamu baru mulai belajar menulis, tetapkan waktu menulis secara konsisten, cukup tiga paragraf tiap waktu, jangan pedulikan kualitasnya dulu, fokuslah pada kuantitas dan konsistensi.
Ketika kamu sudah memiliki tradisi menulis dalam dirimu, baru kemudian mulai meningkatkan kualitas dengan mengisi diri, membaca sebanyak mungkin, apakah itu karya sastra sejenis yang ingin kamu tulis, ataupun tulisan atau buku lain dari berbagai bidang keilmuan.
Ruang Belajar Bersama: Tutorial Menulis
Masuklah ke dalam komunitas yang sehat dan mendukung proses pembelajaran kita. Tidak hanya kelompok yang berkaitan dengan tulis-menulis, tapi berbagai kelompok kemasyarakatan yang memancing pemikiran baru, sudut pandang baru dan kemungkinan-kemungkinan baru dalam kehidupan. Jika berkenan mari bergabung di group WA Belajar Menulis Cerpen bersama mipmap.id.
Baiklah, saya sudah menulis lebih dari 10 ribu karakter mengenai cara menulis cerpen, yang tentu saja ini bukan pendek lagi, apalagi dibaca di hand phone. Semoga cukup lugas. Semua yang saya tulis adalah kisah dari sudut pandang diri saya. Tentu saja akan banyak sudut berbeda dengan proses kreatif yang sedang kalian alami. Semoga berkenan.
Jika sudah ada cerpen yang selesai, langkah berikutnya adalah publikasi. Bisa melalui blog pribadi atau memilih media cetak atau online yang menyediakan ruang seperti mipmap.id; kamu bisa lihat bagaimana mengirimkan tulisan ke mipmap melalui laman menjadi penulis.