Cita Rasa Festival Jembrana adalah sebuah cita-cita. Sebuah rintisan festival desa untuk merayakan cerita, cita rasa dan mempromosikan kepedulian lingkungan, budaya dan kemanusiaan. Cerita Rasa Festival Jembrana digagas dan diselenggarakan oleh Bali Tersenyum, sebuah sanggar literasi di banjar Brawantangi Taman, Desa Tukadaya.
Cerita Rasa dilaksanakan selama satu hari, pada Sabtu, 30 Juli 2022 mulai pukul 12:00 hingga 21:00 wita. Event rintisan festival desa ini dijadikan ruang untuk bersama-sama saling mendengar, merasakan, berbagi dan mendokumentasikan cerita, rasa dan peristiwa, bertempat di halaman Rumah Baca Bali Tersenyum.
Ide awal dari rintisan kegiatan festival desa ini, datang dari rencana pemutaran film pendek yang diproduksi Sanggar Bali Tersenyum, untuk ditonton bersama kru dan pemain yang berasal dari desa setempat. Film tersebut berjudul @ItsDekRaaa yang mengambil lokasi syuting di Banjar Pangkung Jajang, Desa Tukadaya pada bulan November 2021. Pemutaran film inilah yang kemudian menjadi puncak acara, yang diawali dengan presentasi kuliner, pelatihan fotografi, melukis bersama, dan pentas cerita.
Hal yang khas di Jembrana adalah pemanfaatan sisa pembuatan minyak kelapa menjadi menu masakan yang khas, dan enak. Makanan itu terbuat dari sisa rebusan santan setelah minyaknya dipisahkan, yang disebut roroban. Roroban kemudian ditambahkan dengan bumbu bali dan direbus beberapa saat, maka jadilah kuah kental yang gurih.
Kuah tersebut kemudian dicampur dengan berbagai jenis sayuran rebus, yang kemudian disebut jukut serapah. Lauk ini umumnya disajikan dengan lontong, sehingga dikenal sejagat sebagai lontong serapah khas Jembrana.
Keberadaan lontong serapah sudah mulai jarang ditemukan di Jembrana. Hal ini disebabkan oleh sudah jarangnya pembuatan minyak kelapa tradisional dilakukan oleh masyarakat setempat. Seperti kita tahu, minyak kelapa sudah di gantikan oleh minyak sawit kemasan.
Kamera sudah lekat dengan remaja kita, karena setiap smartphone sudah dilengkapi dengan kamera yang bagus. Hal itu mendorong pelaksanaan pelatihan fotografi bagi remaja, guna memperkenalkan dasar-dasar fotografi, memperkenalkan profesi fotografer dan bagaimana usaha foto & video itu berjalan.
Yang unik dari program pelatihan fotografi di Cerita Rasa Festival adalah, peserta diajak untuk memotret tanpa kamera. Aktifitas ini adalah untuk mengasah kesadaran visual, mengenai apa yang dilihat, apa yang menarik dan bagian mana dari objek foto yang akan diambil. Kesadaran visual inilah yang akan menjadikan foto yang diambil memiliki makna dan cerita, dan menjadi jalan menuju jenjang dari sekedar “tukang cekrek aplud” menjadi fotografer.
Selain itu, peserta juga mendapat cerita dari dua orang pengusaha foto dan video di Jembrana, yaitu Dwi Artawan pemilik Relief Studio dan Komang Triadi pemilik Candra Photography studio. Mereka berdua memberi semangat pada peserta, bahwa segala sesuatu harus dimulai dari nol. Dan jika memiliki semangat, maka nol akan bergerak menjadi satu, dua, dan seterusnya, tergantung pada semangat belajar masing-masing.
Menggambar bersama dalam Cerita Rasa kali ini, diikuti oleh tidak kurang dari tiga puluhan anak. Mereka datang dari beberapa banjar di Desa Tukadaya, dan ada juga dari desa sekitarnya. Program melukis ini merupakan ruang bermain dan belajar bagi anak-anak. Kegiatan ini, lebih ditujukan sebagai momen beraktivitas bersama, baik itu kerjasama antar anak-anak dan juga pendampingan oleh orang tua.
Setelah kurang lebih dua jam, karya anak-anak kemudian dipajang sebagai sebuah pameran bersama. Setiap anak kemudian bertindak sebagai juri, bagi lukisannya sendiri dan lukisan kawan lainnya. Mereka berhak memilih tiga lukisan yang menurut mereka terbaik, terbagus, atau yang mereka suka.
Aktivitas menjuri ini, dijadikan ajang bagi anak untuk mepresentasikan karya pada teman-temannya. Di sini anak-anak juga berkesempatan mengapresiasi dan menunjukkan aspirasinya dalam memilih karya terbaik versi mereka sendiri.
Dalam sesi menggambar ini, kami mengundang perupa muda asal desa Tukadaya, Wayan Wasudewa, yang banyak bermain-main di ranah mural dan tato. Kehadiran Wayan yang dikenal dengan sign WSDW menjadi sebuah gambaran tentang jalan berkesenian.
Secara tidak langsung, kehadiran orang dewasa yang melukis bersama anak-anak menjadi role model bagi mereka, yang selama ini hanya mengetahui menggambar adalah sempilan pelajaran di sekolahnya. Di sini mereka akan tahu bahwa seni juga bisa menjadi profesi, dan ada sekolahnya hingga perguruan tinggi. Ada juga orang yang memilih berkesenian sebagai jalan hidupnya.
Mesatua atau mendongeng merupakan pola penanaman nilai-nilai kehidupan yang sangat penting di dalam keluarga. Cerita rasa menghadirkan program pentas cerita, berupa mendongeng dan membaca cerita. Malam itu, tampil Ayu Nila yang membaca cerita dari buku karya Made Taro, sebuah dongeng berjudul Padi dan Hama Wereng, dan juga Melany yang mendongeng tentang balas budi semut pada burung merpati.
Dua konsep bercerita yaitu membacakan cerita dari buku dan bercerita secara hafalan sengaja ditampilkan di Cerita Rasa Festival Jembrana. Hal ini untuk memberi gambaran, bahwa bercerita tidak melulu menghafal diluar kepala, tapi bisa juga dengan membaca dari buku. Program ini ditujukan untuk memancing kembalinya minat orang tua bercerita atau mendongeng untuk anaknya. Yang juga semoga dapat meningkatkan minat baca di dalam keluarga-keluarga pedesaan.
Sebelum memulai mendongeng, Melany sempat memberikan gambaran apa itu dongeng dan bagaimana kemudian ia bekerja mengasah imajinasi anak-anak pendengarnya. Dengan mendongeng bagi anak-anak, kita juga sedang merangsang minat baca mereka.
Ketika imajinasi anak-anak mulai tumbuh, maka minat mencari tahu akan tumbuh. Lalu ke mana mereka akan mencari selain dengan membaca? Maka ada kewajiban lain, yaitu memberi contoh dan memberi fasilitas berupa buku bacaan yang cukup dan layak sesuai perkembangan usia anak-anak.
Film pertama yang diputar yaitu Pekak Kukuruyuk, sebuah film dokumenter berdurasi dua puluh menit, yang merupakan produksi program Eagle Award Metro TV. Pekak Kukuruyuk berkisah tentang kehidupan Pak Made Taro, seorang pelestari dongeng dan permainan tradisional. Karya Agung Yudha ini dipilih, karena berkaitan dengan program pentas cerita, yang mengangkat dongeng dan bercerita sebagai sebuah aktifitas yang perlu tetap dilakukan disetiap rumah orang tua bagi anak-anaknya.
Film selanjutnya adalah film berjudu Besok Saya Tidak Masuk Sekolah karya Oka Sudarsana. Fiksi pendek berdurasi enam belas menit ini berkisah tentang Ginar, seorang anak SD di pelosok Kintamani yang berjuang menempuh pendidikan Sekolah Dasar. Besok Saya Tidak Masuk Sekolah menggambarkan sisi lain dari keindahan dan kemegahan pulau Bali di mata dunia, sekaligus juga menyentil dunia pendidikan di negeri kita tercinta.
Film terakhir adalah @ItsDekRaaa. Film ini bercerita tentang kehidupan remaja di pedesaan yang terpapar oleh smartphone dan media sosial. Dekra, tokoh utama dalam film ini ingin sekali menjadi selebriti Tiktok, namun grup Tiktoknya terancam bubar karena salah satu temannya menghilang secara misterius.
@ItsDekRaaa adalah karya warga desa Tukadaya - Jembrana, Made Suarbawa, yang juga pengasuh Rumah Baca Bali Tersenyum. @ItsDekRaaa bercerita tentang seorang remaja perempuan desa bernama Dekra yang ingin menjadi seleb Tiktok, mendapat ancaman kelompoknya akan bubar karena salah satu temannya menghilang secara misterius.
Karya film pendek dari Jembrana yang sedang keliling dunia menuju berbagai festival film ini, dibintangi oleh empat remaja Desa Tukadaya, disyuting di desa mereka sendiri dan sebagian kru adalah warga desa setempat. Malam itu, puluhan orang memadati halaman Rumah Baca Bali tersenyum untuk menyaksikan wajah anak mereka, tetangga, dan alam desanya tampil di layar lebar.
Demikian catatan Cerita Rasa Festival Jembrana 2022 yang penuh kesan. Merdesa!
Cerita Rasa Village Festival adalah rintisan festival pedesaan untuk merayakan cerita, cita rasa dan mempromosikan kepedulian lingkungan, budaya dan kemanusiaan. Cerita Rasa digagas dan diselenggarakan oleh Bali Tersenyum, sebuah sanggar literasi di kabupaten Jembrana.
Cerita Rasa dilaksanakan pada hari Sabtu, 30 Juli 2022 mulai pukul 12:00 hingga 21:00 wita, bertempat di Rumah Baca Bali Tersenyum, Banjar Brawantangi Taman, Desa Tukadaya, Jembrana. Kedepannya, kegiatan ini akan dijadikan ruang untuk bersama-sama saling mendengar, merasakan, berbagi dan mendokumentasikan cerita, rasa dan peristiwa.
Pemutaran film inilah yang akan menjadi puncak acara, yang akan diawali dengan presentasi kuliner, pelatihan fotografi, melukis bersama, dan pentas cerita.
Kuliner yang akan dipresentasikan dalam Cerita Rasa adalah olahan kelapa. Yang pertama adalah membuat minyak kelapa dengan cara tradisional, yang sesungguhnya mulai jarang dilakukan jika tujuannya hanya minyak goreng. Seperti kita tahu, minyak kelapa sudah di gantikan oleh minyak sawit kemasan.
Hal yang khas di Jembrana adalah pemanfaatan sisa pembuatan minyak kelapa menjadi menu masakan yang khas, yaitu jukut serapah atau lontong serapah, yang bisa dikatakan hanya ada di Jembrana. Selain jukut serapah, akan ada juga sambal goreng kelapa dan tentunya pesan telengis.
Kamera sudah lekat dengan remaja kita, karena setiap smartphone sudah dilengkapi dengan kamera yang bagus. Hal itu mendorong pelaksanaan pelatihan fotografi bagi remaja, guna memperkenalkan dasar-dasar fotografi, memperkenalkan profesi fotografer dan bagaimana usaha foto & video itu berjalan.
Pelatihan fotografi bekerjasama dengan Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) MAKATA Desa Tukadaya, serta mengundang narasumber dari komunitas dan pelaku usaha fotografi dan video di Jembrana.
Program melukis dan kerajinan ini merupakan ruang bermain dan belajar bagi anak-anak. Dalam program ini, lebih ditujukan sebagai momen beraktivitas bersama, baik itu kerjasama antar anak-anak dan bersama orang tua. Pada sesi melukis, anak-anak akan melukis bersama seniman Wasudewa. Wasudewa dengan sign WSDW banyak bermain di seni tato dan street art.
Selain melukis, akan diperkenalkan kerajinan tradisional kepada anak-anak. Banyak kerajinan yang sejak dulu diturunkan atau diajarkan melalui pergaulan adat dan sosial, seperti kelatkat, wakul, kelabang dan sebagainya. Dalam sesi ini, lebih ingin untuk saling mengingatkan, agar kita punya itikad secara sadar untuk mengajarkan hal-hal yang menjadi tradisi di desa.
Mesatua atau mendongeng merupakan pola penanaman nilai-nilai kehidupan yang sangat penting di dalam keluarga. Cerita rasa menghadirkan program pentas cerita, berupa mendongeng dan membaca cerita. Akan tampil Ayu Nila seorang remaja Tukadaya yang baru menamatkan sekolah menengah atas dan Melany seorang Ibu muda yang juga seorang guru sekolah dasar.
Ayu Nila akan membaca cerita dari buku karya Made Taro, sebuah dongeng berjudul Padi dan Hama Wereng, sedangkan Melany akan mendongeng tentang Semut dan Burung Merpati.
Cerita Rasa akan menampilkan Film @ItsDekRaaa karya Made Suarbawa, yang bercerita tentang seorang remaja desa bernama Dekra yang ingin menjadi artis Tiktok. Saat membuat video Tiktok, salah satu temannya menghilang.
Selain itu, diputar pula film Pekak Kukuruyuk dan Besok Saya Tidak Masuk Sekolah. Pekak Kukuruyuk karya Agung Yudha, bercerita tentang Pak Made Taro, seorang pelestari tradisi lisan atau dongeng dan permainan anak-anak tradisional. Besok Saya Tidak Masuk Sekolah karya Oka Sudarsana, bercerita tentang seorang anak bernama Ginar yang mendapat kejutan di sekolahnya setelah begadang membuat PR.
Cerita rasa akan menjadi ajang pemutaran pertama @ItsDekRaaa di negeri sendiri, setelah pada 23 Juli diputar di Planet 23 Studios, Wheeling, West Virginia, dalam rangka The Fifteen Minute Film Festival. Film @ItsDekRaaa saat ini sedang berkeliling masuk berbagai festival film di berbagai negara. Selain The Fifteen Minute, festival yang telah memilih dan akan memutar film @ItsDekRaaa diantaranya; MiCe Festival di Valencia - Spanyol, Cinemaking International Film Festival - Banglades, DYTIATKO International Children’s Media Festival - Ukraina, dan semoga banyak lagi yang tertarik memutar hingga dua tahun mendatang.
Sampai jumpa di “Cerita Rasa”.
Masih di tengah terpaan pandemi COVID-19. Festival film pendek internasional Minikino Film Week 7 (MFW7), hadir pada 3-11 September 2021 di Bali. Sebagai komitmen untuk saling menjaga, seluruh rangkaian acara diselenggarakan secara luring (fisik) dan daring (online) yang dibarengi dengan komitmen penerapan protokol kesehatan bagi penonton maupun penyelenggara yang bertugas.
“Festival di tengah pandemi tetap perlu memperhatikan protokol kesehatan. Tahun ini ada syarat tambahan bagi seluruh relawan festival dan penonton. Mereka wajib memiliki bukti vaksin minimal satu kali atau hasil negatif rapid test antigen swab di bulan September 2021.” ujar Direktur Festival, Edo Wulia.
Tercatat 925 judul film pendek yang masuk melalui kanal online Short Film Depot dan Filmfreeway. Film maker dari seluruh dunia, termasuk Indonesia memiliki kesempatan yang sama memanfaatkan kanal tersebut. Seluruh film yang masuk kemudian melalui proses seleksi. 214 film internasional terpilih dan dikemas dalam 36 program.
Selain itu MFW7 akan menampilkan program film pendek dari festival tamu yaitu Image Forum Festival (Jepang), In-Docs (Indonesia), Seoul Yeongdeungpo International Extreme Short Image & Film Festival (Korea), Reel Asian (Canada), dan Clermont-Ferrand International Short Film Festival (Prancis). Kehadiran program tamu dari berbagai festival di dunia tersebut, merupakan konsep pertukaran program film pendek, dari kerja berjejaring dengan festival di dalam dan luar Indonesia.
Selain berhasil mendatangkan program dari luar, Minikino juga berhasil membawa program film pendek Indonesia untuk tampil di berbagai festival film internasional sepanjang tahun. Tahun ini kerjasama seleksi dan kurasi dilakukan untuk KAUM Alternative Indonesian Performance and Film Festival (Jerman) pada 8-21 Agustus 2021, Nòt Film Festival (Italia) pada 24-29 Agustus 2021, dan Seoul Yeongdeungpo International Extreme-Short Image & Film Festival (SESIFF, Korea Selatan) pada 7-12 September 2021 dan Image Forum Festival di Tokyo dan Nagoya, Jepang pada 25 September - 3 Oktober 2021.
“Berjejaring merupakan kunci. Minikino Film Week adalah jembatan sekaligus pintu yang membuka lebar potensi kerjasama serta apresiasi terhadap film-film pendek terbaik Indonesia, Asia Tenggara dan internasional,” papar Fransiska Prihadi, Direktur Program Minikino.
Selain pertukaran program film pendek, Minikino juga melakukan pertukaran sumber daya manusia, seperti bisa dilihat dalam deretan nama-nama dewan juri penghargaan Minikino Film Week 7. Demikian halnya tim Minikino yang diwakili Fransiska Prihadi berkesempatan diundang menjadi bagian komite juri dalam ReelOzInd! Australia Indonesia Short Film Competition dan SESIFF Korea Selatan. Selain itu, diundang pula sebagai pembicara dalam workshop film fiksi pendek yang diselenggarakan AKATARA, mempresentasikan program Minikino di Image Forum Festival Jepang mengenai Film in Shelter, dan Short Film Forum: How To Make The Most Of Film Festival yang diselenggarakan oleh Objectifs Centre for Photography and Film, Singapura.
Berbagai acara pra-festival sudah terlaksana sejak bulan Juni 2021. Program Hybrid Writer Internship mengawali di bulan Juni dan berlangsung hingga November 2021. Kompetisi produksi film pendek nasional tahunan, Begadang Filmmaking Competition berlangsung pada 23-24 Juli lalu.
Kisahpedia mendukung kegiatan Minikino tahun ini. Kisahpedia adalah lembaga akuisisi film yang menaruh perhatian pada isu keragaman dan toleransi dalam penyelenggaraan Begadang Filmmaking Competition. 39 tim produksi dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti kompetisi ini. Namun hanya 29 tim yang berhasil menyelesaikan produksi sesuai batas waktu 34 jam.
Selain lebih dari 150 kali pemutaran film di berbagai lokasi selama sepekan. MFW7 juga memberikan fasilitas bagi para pegiat film untuk bertemu, berjejaring, hingga mempromosikan karya mereka lewat Short Film Market. Terdapat kegiatan forum diskusi Kopi Selem, Nurturing FIlm Festival Writers dan Toast Your Short, workshop bedah film, Open Screen, Short Film Library, Open Screen Event, Begadang 2021 Official Selection, dan RWI Asia Pacific Award Nominees at MFW7 dengan Audio Description dan Closed Caption yang dapat dinikmati bersama teman-teman tuna netra dan tuli.
Untuk pertama kalinya tahun ini MFW7 akan menghadirkan pengalaman menikmati film virtual reality (VR) berjudul “Penggantian” karya Jonathan Hagard, seorang sutradara Indonesia-Prancis. Film ini menggambarkan akar identitas budaya, perubahan sosial, politik dan lingkungan hidup. Sebelum hadir di Minikino Film Week, “Penggantian” sudah lebih dulu tampil di berbagai festival internasional. Film ini meraih penghargaan di Venice International Film Festival, Annecy Festival dan Siggraph.
Tahun ini MFW7, Bali International Short Film Festival hadir di 15 titik yang tersebar di seluruh Bali. Festival Lounge atau tempat titik temu festival berada di MASH Denpasar. Selebihnya lokasi tersebar di kota Denpasar (Antida Sound Garden, Alliance Française Bali, Irama Indah Mini Hall, CushCush Gallery, Rumah Sanur Creative Hub, Men Brayut). Kabupaten Badung (Uma Seminyak). Kabupaten Buleleng (Rumah Film Sang Karsa), dan kabupaten Gianyar (Omah Apik Pejeng). Layar tancap tahun ini akan diadakan di kabupaten Buleleng (Desa Pedawa). Kabupaten Jembrana di Pangkungjaka, Desa Tukadaya. Kota Denpasar di Kebun Berdaya Kampung Hijau, Desa Tegeh Sari.
Made Suarbawa, Direktur Traveling Cinema mengatakan bahwa, bertemu dengan penonton di desa dalam program layar tancap selalu memberikan gairah baru. Pandemi ini membuat komunikasi dengan kolaborator menjadi semakin erat, selain untuk berkoordinasi, juga untuk saling bertukar informasi dan dukungan dalam beraktivitas dan mempersiapkan MFW7.
Buku program digital dan jadwal festival tersedia di situs minikino.org/filmweek. Semua program gratis dan terbuka untuk umum, sesuai dengan pedoman usia. Calon penonton diwajibkan mendaftar terlebih dahulu sebelum datang ke lokasi acara untuk mendapatkan festival pass. Formulir festival pass dapat diisi secara daring di minikino.org/mfw7pass.
Festival film pendek internasional Minikino Film Week (MFW) kembali hadir di tahun ke-7, pada 3-11 September 2021. Dari siaran media yang diterima Mipmap, MFW7 mencatat 925 judul film pendek yang masuk, melalui kanal online Short Film Depot dan Filmfreeway. Penerimaan film ini dibuka untuk film maker dari seluruh dunia, termasuk Indonesia. Seluruh film yang masuk kemudian melalui proses seleksi dan terpilih 214 film. Film-film yang masuk baik dari Indonesia maupun luar negeri tersebut, dikemas dalam 36 program dan akan diputar di layar-layar di seantero pulau Bali.
Tahun 2021 ini, Minikino Film Week memberikan penganugerahan penghargaan untuk film-film pendek terbaik dalam beberapa kategori, antara lain; Best Animation Short, Best Audio Visual Experimental Short, Best Children Short, Best Documentary Short, Best Fiction Short, Programmer’s Choice, dan Best Short Film of The Year 2021.
Juri untuk penghargaan kompetisi internasional tahun ini ialah Asako Fujioka (Yamagata International Documentary Film Festival, Jepang) , Lucky Kuswandi (sutradara dan penulis film, Indonesia), Kelly Lui (Reel Asian, Canada), dan Monez Gusmang (ilustrator, Indonesia).
Penghargaan terbaru adalah National Competition Award, yang ditujukan khusus bagi film pendek Indonesia. Nominasi penerima penghargaan MFW National Competition Award diseleksi oleh juri tahap pertama yang merupakan programmer Indonesia Raja 2021 yaitu Akbar Rafsanjani (Aceh), Kardian Narayana (Bali), Kemala Astika (Cirebon), Nosa Normanda (Jakarta), Sazkia Noor Anggraini (Yogyakarta).
Lima nominasi pada kategori ini ialah tiga karya film pendek fiksi berjudul Angpao (sutradara Stefanus Cancan), Chintya (sutradara Sesarina Puspita), Masa Depan Cerah (sutradara Winner Wijaya) dan dua film pendek dokumenter yaitu Shin Hua (sutradara Erick Sutanto), Salmiyah (sutradara Harryaldi Kurniawan).
Untuk penentuan pemenang yang berhak menerima National Competition Award, ditentukan oleh final round juri yang terdiri dari Anom Darsana (produser musik dan teknisi suara, Indonesia), John Badalu (produser film, Indonesia) dan Sanchai Chotirosseranee (Thai Film Archive, Tahiland).
Tahun ini Minikino Film Week juga bekerjasama dengan The Raoul Wallenberg Institute Humanitarian Rights and Law yang berbasis di Lund, Swedia, untuk memberikan perhatian pada film-film pendek yang berurusan dengan serangkaian masalah kesetaraan, keragaman, dan lingkungan. Satu film pendek akan terpilih untuk mendapatkan gelar The RWI Asia Pacific Award at MFW7 dengan hadiah uang tunai sebesar sepuluh juta rupiah.
Ada pun film-film yang masuk nominasi untuk memperebutkan gelar tersebut adalah Citarum (sutradara Ali Satri Efendi, Indonesia, 2020), God’s Daughter Dances (sutradara Sungbin Byun, Korea Selatan, 2020), Gold is Eating People (sutradara Su Xia, Cina, 2020), The Last Breath of Tonle Sap. (sutradara Thomas Cristofoletti, Robin Narciso, Kamboja, 2020), dan The Execution (sutradara Jeroen Van der Stock, Jepang, 2019).
Tentu saja tidak lupa, pemenang kompetisi membuat film pendek dalam waktu 34 jam, Begadang Filmmaking Competition juga ditentukan dari 4 nominasi yang terpilih yaitu, Makasih, Mbak Anggun (dir. Dimas Adiputro, Suka Films), Selamat Datang di Indonesia (dir. Azalia Muchransyah, CATastrophe Productions), Pro Cast (dir. Immanuel Kurniawan, Victoria Film / Malang, Jawa Timur), dan From Mars For England (dir. Mochamad Rizky Fauzy, KMTF).
Tahun 2021 Begadang Filmmaking Competition didukung oleh Kisahpedia, lembaga akuisisi film yang menaruh perhatian pada isu keragaman dan toleransi. Begadang diikuti oleh 39 tim produksi dari berbagai daerah di Indonesia, namun hanya 29 tim yang berhasil menyelesaikan produksi sesuai batas waktu. Kemudian, dari 29 film yang masuk diseleksi kembali hingga terpilih 10 film yang ditayangkan selama MFW7. Dari 10 film pilihan tersebutlah terpilih 4 (empat) film nominasi yang akan melalui proses penjurian akhir untuk menentukan pemenang utama.
Seluruh penghargaan yang dianugrahkan Minikino Film Week 7, diumumkan dan diserahkan dalam acara penutupan dan awarding events, pada tanggal 13 September 2021.
Untuk menjadi perhatian para peminat film, bahwa seluruh rangkaian Minikino Film Week 7 adalah bebas biaya dan terbuka untuk umum, dengan memperhatikan rating usia. Selain itu, panitia juga penerapkan protokol kesehatan yang ketat, dengan mewajibkan para penonton untuk melakukan registrasi awal, untuk mendapatkan festival pass.
“Festival di tengah pandemi tetap perlu memperhatikan protokol kesehatan dan tahun ini ada syarat tambahan bagi seluruh pekerja festival dan penonton untuk memiliki bukti vaksin minimal satu kali atau hasil negatif rapid test antigen swab di bulan September 2021,” ujar Direktur Festival, Edo Wulia dalam siaran persnya.
COVID-19 menunda berbagai event festival film di berbagai negara. Namun Minikino Film Week terus melangkah dengan berbagai penyesuaian dan inovasi. Seluruh rangkaian kegiatan disesuaikan dengan protokol kesehatan dan berbagai pembatasan era New Normal di masa pandemi ini.
Di tengah terpaan pandemi COVID-19, Minikino Film Week (MFW), Bali International Short Film Festival menyelenggarakan edisi ke-enamnya pada 4-12 September 2020. Seluruh rangkaian acara ini tentunya dibarengi dengan komitmen melaksanakan protokol kesehatan bagi penonton maupun penyelenggara yang bertugas. Penyelenggaraan MFW6 kali ini turut didukung oleh Fasilitasi Bidang Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan serta Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
“Tiap tahunnya, MFW selalu menghadirkan kolaborasi baru hasil dari jaringan kerja Minikino dengan berbagai festival film pendek maupun para profesional lainnya. Sebuah festival film pendek sejatinya adalah ruang untuk eksibisi, edukasi, dan networking, sehingga memperluas jaringan kerja menjadi kunci utamanya.” papar Direktur Travelling Festival I Made Suarbawa.
Menjelang terselenggaranya MFW6, telah terlaksana pula berbagai acara pra-festival yang dimulai sejak bulan Juli lalu. Diawali dengan Youth Jury Online Camp pada 20-24 Juli 2020, kemudian dilanjutkan dengan kompetisi produksi film pendek nasional tahunan Begadang Filmmaking Competition pada 25-26 Juli 2020 lalu.
Direktur Festival Edo Wulia menjelaskan, film-film pendek internasional yang akan tayang di MFW6 merupakan film pendek yang dipilih dari pengajuan terbuka melalui platform online. Tahun ini, MFW menerima pengajuan film pendek melalui 2 (dua) platform, yakni Short Film Depot (https://minikino.org/shortfilmdepot) dan Filmfreeway (https://filmfreeway.com/MINIKINOFILMWEEK).
“Di tahun keenam ini ada 198 film pendek dari 79 negara yang terpilih sebagai Official Selection akan tayang di layar MFW6. Jumlah ini terpilih dari total 903 film pendek yang masuk lewat pendaftaran seleksi Minikino Film Week. Seluruh film terpilih tersebut kemudian dikemas menjadi berbagai program.” lanjut Edo Wulia.

Jackson Segars Sutradara Film “Kimchi” Saat Menerima Penghargaan (foto: wayan martino #sayabercerita)
Diakhir pelaksanaan MFW6 pada 12 September nanti, akan ada penganugerahaan bagi film-film pendek terbaik dalam beberapa kategori, antara lain; MFW Best Short Film of the Year 2020, MFW6 Best Animation Short, MFW6 Best Audio Visual Experimental Short, MFW6 Best Children Short, serta MFW6 Best Documentary Short. Dan untuk pertama kalinya pada tahun ini, MFW6 akan memberikan penganugerahaan khusus untuk film-film pendek Indonesia dalam kategori MFW National Competition Award 2020.
MFW6 juga menghadirkan Short Film Market Events yang berisikan Short Film Library, MFW6 Open Screen Event, Forum dan Talks, Fringes, serta Workshop. Dengan berlakunya pembatasan jumlah penonton dan ketatnya prosedur bepergian, sejumlah pembicara dalam Forum dan Talks akan tampil secara online (daring) dan penyelenggaraannya akan disiarkan secara langsung melalui minikino.org/live dengan menghadirkan juru bahasa isyarat pada seluruh sesi.
“Secara umum, akan ada 31 program internasional, 8 program S-Express 2020 dengan fokus Asia Tenggara, 3 program Indonesia Raja 2019, 3 program tamu dan Begadang 2020 Official Selection. Lalu, untuk Short Film Market Events 2020, ada 4 (empat) topik Forum, 3 (tiga) Talks, 1 (satu) Fringes, dan 2 (dua) Workshop.” Ungkap Direktur Program Fransiska Prihadi.
Para pembicara dalam Short Film Market MFW6 menghadirkan Forum berupa diskusi panel dengan berbagai topik diskusi. “Why Film Festival Matters Beyond 2020” menghadirkan Jukka Pekka Laakso (Finlandia), Gina Dellabarca (New Zealand), Kelly Lui (Kanada) dan Koyo Yamashita (Jepang). “Future Cinema Audience: The Youth” akan dihadiri oleh Tomy W. Taslim (Indonesia), Sébastien Simon (Prancis, Korea Selatan) dan Tim Redford (Prancis) serta MFW6 Youth Juries Kayla Amare Budiwarman, Qiu Mattane Lao, Seika Cintanya Sanger, Sophie Louisa & Stella Melody Winata. Para profesional dari industri film pendek dunia juga akan menambah wawasan tentang nilai ekonomi film pendek menghadirkan Ho Hock Doong (Malaysia), Jaime E. Manrique (Kolombia), Sabrina Spence (Kanada) dan Vivian Idris (Indonesia).
Anggun Pradesha, seorang aktivis transpuan, bersama ibunya dari Jambi juga akan hadir secara langsung mengisi program MFW6 Talks tentang keberagaman dan penerimaan orang tua. Lalu ada Asako Fujioka (Jepang) yang akan memaparkan program kolaborasi Yamagata Documentary Dojo dengan Minikino berupa pertukaran pembuat film pendek dalam sesi “Breathing The Same Air”. Selain itu Ade Wirawan, pendiri Bali Deaf Community akan membahas topik Film, Orang Tuli, dan Bahasa Isyarat.
Workshop akan diisi dengan perkenalan produksi film dengan ponsel pintar oleh Mondiblanc Workshop. Ada pula workshop gambar gerak untuk anak-anak yang akan mengiringi layar tancap di 3 (tiga) desa. Kolaborasi tahun ini juga dilakukan bersama Nosa Normanda untuk memproduksi serial podcast minikino dengan fokus dunia film pendek.
Seluruh film pendek yang diputar memiliki teks Bahasa Indonesia. Menambah keistimewaan tahun ini, MFW6 merambah jangkauan penonton tuna netra dan tuli agar dapat menikmati festival film pendek ini. Bekerja sama dengan Teater Kalangan, untuk pertama kalinya dibuat deskripsi audio untuk 5 (lima) film pendek Indonesia dalam program S-Express 2020: Indonesia yang dapat dinikmati penonton tuna netra.

Masih dengan format yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya, kali ini MFW 6, Bali International Short Film Festival hadir di 10 titik yang tersebar di seluruh Pulau Bali. Festival Lounge atau titik temu utama festival akan berada di MASH Denpasar. Selebihnya akan ada di Irama Indah, MASH Denpasar, Rumah Sanur Creative Hub, Antida Sound Garden, Uma Seminyak, Omah Apik Pejeng, dan Rumah Film Sang Karsa Buleleng. Lalu MFW6 juga akan buka layar di Desa Pedawa, Buleleng; Selat Karangasem, dan Tegeh Sari Denpasar.
Acara akan berlangsung secara bersamaan selama 1 minggu (4-12 September) di titik-titik tersebut. Hanya terkecuali Pop Up Cinema (layar tancap) yang akan ada selama 3 (tiga) hari saja secara bergiliran di masing-masing desa. Seluruh calon penonton diwajibkan mendaftar terlebih dahulu sebelum datang ke lokasi acara dengan festival pass yang dapat diperoleh tanpa dikenakan biaya. Formulir festival pass dapat diisi secara daring di minikino.org/festivalpass.
Menonton adalah aktivitas dengan indra pengelihatan. Bagaimana caranya jika ingin mengajak Tuna Netra (Orang Buta) untuk menonton film pendek? Inovasi untuk memberikan akses pada tuna netra terhadap tontonan film pendek dilakukan oleh Minikino dalam ajang tahunan Minikino Film Week 6. Film-film yang disediakan untuk tontonan penyandang Tuna Netra, diambil dari program S-Express 2020: Indonesia, yang merupakan bagian dari program pertukaran film pendek dari negara-negara Asia Tenggara yang telah berjalan sejak tahun 2003.
S-Express 2020: Indonesia terdiri atas 5 (lima) film pendek yang dikurasi oleh Direktur Program Minikino, Fransiska Prihadi. Kelima film pendek tersebut ialah, Sunyi (sutradara Riani Singgih, Dokumenter, 2018) Joko & Bowo Reading Vol. 1 (sutradara: I Kadek Jaya Wiguna, Fiksi, 2019), Omah Njero (sutradara: Gelora Yudhaswara, Fiksi, 2019), Jemari Yang Menari di Atas Luka-Luka (sutradara: Putri Sarah Amelia, Fiksi, 2019) dan Bura (sutradara: Eden Junjung, Fiksi, 2019).
“Kelimanya memiliki cerita yang patut disuarakan di tahun 2020 ini. Harapannya film-film pendek ini dapat menggugah diskusi yang menarik.” Ungkap Fransiska Prihadi.
Menambah keistimewaan S-Express 2020: Indonesia, tahun ini Minikino bekerjasama dengan kelompok seni pertunjukan ternama di Bali, Teater Kalangan untuk membuat deskripsi audio untuk seluruh film pendek S-Express 2020: Indonesia. Audio Description ini bermanfaat untuk memberi akses pada tuna netra agar turut bisa menikmati film.
“Biasanya kegiatan menonton untuk tuna netra didampingi oleh seseorang yang akan membisikkan adegan-adegan dalam film. Metode ini memerlukan relawan dengan jumlah memadai. Pendekatan pembisik ini memiliki kendala deskripsi adegan yang belum tentu sesuai dengan maksud sinematografer. Penyampaian antara satu relawan dengan yang lain juga bisa saja berbeda dan mengubah nuansa film. Dengan Audio Description pengalaman menonton film bisa makin menyenangkan tanpa mengubah kualitas film yang dibuat oleh pembuatnya.” Terang Fransiska Prihadi.
Teater Kalangan bergerak dalam membuat naskah deskripsi audio sekaligus menarasikannya. Sebagai Koordinator Deskripsi Audio untuk kelimat film pendek dalam program S-Express 2020: Indonesia ialah Agus Wiratama. Deskripsi audio film Sunyi ditulis dan dinarasikan oleh Manik Sukadana, Joko & Bowo Reading Vol. 1 oleh Wayan Sumahardika dan dinarasikan oleh Iin Valentine, Omah Njero ditulis oleh Jong Santiasa Putra dan dinarasikan oleh Dedek Surya Mahadipa, Jemari Yang Menari di Atas Luka-Luka ditulis oleh Juli Sastrawan dan dinarasikan oleh Iin Valentine, dan Bura ditulis dan dinarasikan oleh Agus Wiratama.
S-Express 2020: Indonesia dengan deskripsi audio ini dapat disaksikan dalam Minikino Film Week 6 – Bali International Short Film Festival pada tanggal 5, 6, dan 10 September. Lokasinya, secara berturut-turut, dapat ditemui di Minihall Irama Indah, Rumah Sanur Creative Hub, dan Antida Sound Garden.
Program pertukaran film pendek se-Asia Tenggara, S-Express tahun ini menapaki edisi ke-18. Sejak 2002 S-Express masih menjadi satu-satunya program pertukaran film pendek yang menghubungkan sejumlah negara di Asia Tenggara dan menjadi bagian penting dalam sejarah perkembangan film pendek di negara-negara yang terlibat.
Minikino bergabung dalam jejaring S-Express pada tahun 2003 dan hingga saat ini terus aktif mendistribusikan film-film pendek Indonesia ke negara-negara Asia Tenggara dalam jejaring S-Express. Negara-negara tersebut antara lain, Malaysia, Myanmar, Filipina, Kamboja, Singapura, Thailand, dan Vietnam. Di Indonesia sendiri, S-Express telah menjadi bagian dari festival film pendek tahunan Minikino Film Week yang tahun ini akan terlaksana mulai 4-12 September 2020 di Bali.
Film Pendek Indonesia wajib diusahakan agar ditonton oleh lebih banyak orang dalam jaringan festival-festival film pendek di penjuru dunia. Hal ini mungkin terjadi jika film tersebut masuk dalam radar jaringan kerja festival-festival film dunia, seperti jejaring yang dibangun oleh Minikino. Lengan distribusi dalam organisasi Minikino secara efektif membuka celah diseminasi film pendek secara luas.
Minikino dan para pembuat film Indonesia kembali menambahkan daftar panjang kerjasama internasional dalam promosi seni dan budaya dalam bentuk film pendek. Kali ini kerjasama pertukaran program terjalin antara Minikino dengan Show Me Shorts, sebuah festival film pendek yang berbasis di New Zealand. Film-film pendek Indonesia pilihan Direktur Program Minikino Fransiska Prihadi akan diputar dalam salah satu program bulanan Show Me Shorts. Sebaliknya, beberapa film pendek dari New Zealand akan diputar dalam Minikino Film Week - Bali International Short Film Festival tahun keenam yang akan diadakan di Bali, 4-12 September 2020 mendatang.
“Diputarnya film-film pendek Indonesia dalam program bulanan Show Me Shorts adalah langkah awal dari kerjasama kami dengan festival film pendek internasional terdepan di New Zealand tersebut. Ini merupakan kesempatan yang istimewa mengingat Show Me Shorts Film Festival telah memiliki kualifikasi Oscar dan terakreditasi oleh Academy Awards,” terang Fransiska Prihadi.
Awalnya, Fransiska Prihadi mengkurasi 12 film pendek Indonesia yang kemudian dikirimkan ke Show Me Shorts. Selanjutnya, Gina Dellabarca selaku Direktur Festival dan Co-Founder Show Me Shorts sekaligus Vice Chair of the Board dari asosiasi internasional, Short Film Conference, menyeleksi kembali film-film pendek tersebut hingga akhirnya terpilihlah 6 (enam) film pendek Indonesia yang akan diputar di New Zealand.
berikut dafrat film terpilih yang diputar di Festival Film Pendek Show Me Shorts New Zealand, antara lain:
Keenam film tersebut sebelumnya dijadwalkan akan diputar dengan tajuk “Indonesian Short Film Night” pada Selasa, 18 Agustus 2020 pukul 19.00 waktu setempat di The Kingslander, 470 New North Road, Kingsland, Auckland dan Rabu, 19 Agustus 2020 pada jam yang sama di Third Eye Tuatara Bar, 30 Arthur St, Te Aro, Wellington. Kemudian dilanjutkan dengan geo-blocked online-event yang hanya bisa diakses di New Zealand selama dua hari saja yaitu pada tanggal 20-21 Agustus 2020. Namun, akibat adanya penambahan kasus COVID-19 baru di New Zealand per tanggal 11 Agustus lalu, seluruh pemutaran disiarkan secara online dengan geo-blocked New Zealand bagi penonton yang sudah membeli tiket. Show Me Shorts juga merangkul KBRI Wellington, New Zealand untuk mendukung berlangsung acara ini.
Direktur Program Minikino Fransiska Prihadi berharap kedepannya film pendek Indonesia mendapat perhatian dan diikutsertakan dalam festival tahunan Show Me Shorts.
Gelaran acara akhir tahun Minikino, yakni Open December telah memasuki kali ke-17 diselenggarakan Sabtu, 21 Desember 2019. Yang istimewa tahun ini adalah kerjasama dengan pemerintah desa Padangsambian Kaja mengadakan acaranya di Balai Pertemuan Karang Sari, Jalan Gunung Sari, Padangsambian Kaja, Denpasar dalam bentuk Pop-Up Cinema atau layar tancap. “Ini adalah pertama kalinya dalam 17 tahun Open Desember diadakan dalam bentuk layar tancap di tempat terbuka.” demikian I Made Suarbawa selaku koordinator teknis menegaskan.
Para pembuat film dari berbagai penjuru satu-persatu berdatangan ke Balai Pertemuan Karang Sari sejak pukul 18.00 WITA. Sesuai aturan unik Open December, pembuat atau penanggung jawab film memang wajib hadir kalau ingin filmnya diputar. Pendaftaran hanya bisa dilakukan di lokasi acara. Semua jenis film pendek diterima tanpa pilih-pilih dan urutan film terpendek yang akan diputar lebih dahulu.
“Ini festival unik, karena kami sebagai penyelenggara tidak pernah mengetahui siapa yang datang dan film apa yang akan didaftarkan. Kami hanya menyebarkan publikasi seluas-luasnya, menyiapkan tempat dan menunggu.” Edo melanjutkan, ”Acara juga dibatasi hanya 2 (dua) jam saja, sehingga kalau kebanjiran pendaftaran film, maka ada resiko film yang urutannya geser ke belakang melebihi jam acara terpaksa tidak bisa terputar.” terang Edo Wulia, Direktur Minikino.
Pada pukul 18:00 para filmmaker sudah mulai berdatangan mendaftarkan filmnya. Pukul 18.50 WITA pendaftaran ditutup dan layar telah siap. Film yang diputar pada malam itu secara berurut antara lain, “TITIK AKHIR” oleh sutradara Medy Mahasena, dengan durasi 01:16, “BREAKFAST” oleh Sally Halstead 02:50, “DUETRIP WITH SIDE PROJECT” oleh Pool Moon Elephant & Andy 03:00, “BEHIND THE SCENE FILM 12.00” oleh Wira Arya Dharma dan peserta Workshop 04:28, “SEPATU” oleh RJ Damayanti dan Irfan Thamrin 05:44, “12.00” oleh Wira Arya Dharma 05:49, “HARI LAHIR” oleh Imam Ghitrif Yuniandri dan Jaggro Jingga Muhammad 12:14, “TAPI BOHONG” oleh Ivan Surya Nugraha 15:00, dan “TERGILA-GILA” oleh Nirartha B. Diwangkara 15:00. Kesembilan film tersebut berhasil diputar dalam waktu kurang dari 2 jam yang ditentukan, sehingga tidak ada yang tertinggal karena kehabisan waktu.
Sebelum film mulai diputar, Kepala Desa Padangsambian Kaja, I Made Gede Wijaya, S.Pt., M.Si.memberikan sambutan pembuka ke penonton. “Biasanya kami di Desa Padangsambian Kaja hanya mengurusi masalah jalan rusak, selokan tersendat, kerja bakti bersih lingkungan. Kali ini kami merasa selangkah lebih maju dengan mengadakan pelatihan dalam bidang seni kreatif seperti film ini. Mudah-mudahan ini menjadi wadah kreatifitas yang bagus bagi anak-anak muda di lingkungan desa kami.” ucap pak Kepala Desa.
Kesembilan film yang diputar pada malam itu sangat bervariasi, mulai dari tema horor, video musik, dokumentasi kegiatan, komedi, hingga drama kejiwaan. Para filmmaker dan penonton yang hadir pun secara latar belakang sangat beragam. Ada yang filmnya telah memiliki reputasi dan telah diputar di festival se-Asia Tenggara serta mendapatkan berbagai penghargaan, sampai pada film yang benar-benar baru pertama kali ditayangkan ke publik.

Open December ke-17 ini juga menjadi momen istimewa bagi para peserta Workshop Literasi Film dan Produksi Film Pendek Desa Padangsambian Kaja dan Minikino. Sebab, film pendek mereka berjudul “12.00” yang diproduksi pada Minggu, 8 Desember 2019 lalu ditayangkan perdana kepada umum pada acara ini.
“Sebetulnya masih ada beberapa skenario lain yang siap, hasil dari workshop, namun kisah film “12.00” ini yang dipilih untuk produksi karena mempertimbangkan berbagai tantangan teknis. Idenya mengambil mitos tentang mimpi di siang bolong.” kata Aryanthi Suastika dan Wira Arya Dharma mewakili teman-temannya.
Di akhir pemutaran, sudah menjadi kebiasaan, seluruh pembuat film diundang tampil ke depan dan berbagi cerita mengenai filmnya dan menerima pertanyaan-pertanyaan dari penonton yang penasaran. Open December ke-17 pada malam minggu itu pun ditutup dengan foto bersama seluruh penonton yang masih tinggal sampai akhir acara.
MINIKINO FILM WEEK (MFW) 4, Bali International Short Film Festival telah berlangsung pada 6 – 13 Oktober 2018. Festival film pendek internasional terbesar di Indonesia ini, melibatkan 10 venues yang menjangkau hampir seluruh Pulau Bali, meliputi Kota Denpasar, Kabupaten Badung, Tabanan, Gianyar, Buleleng, Jembrana dan Klungkung, yang berlangsung secara serentak.
Selama delapan hari berlangsungnya MFW 4, terdapat 92 acara pemutaran film yang menghadirkan lebih dari 200 film pendek dari 60 negara, yang dikemas dalam berbagai program yang menarik. Selain pemutaran film, MFW 4 juga menyuguhkan 12 acara talks dan workshop yang menghadirkan pembicara Nasional dan Internasional. Tema yang diangkat dalam talks dan workshop MFW 4 diantaranya akting, script writing, kolaborasi dan kreatifitas produksi film, hingga presentasi repatriasi Bali tempo dulu.

Pengisi Suara Film 'Be The Red' dari Sanggar Anak Tangguh (foto: vifick Bolang #sayabercerita)
Ketika festival film identik dengan kegiatan menonton film, MFW membuka kemungkinan baru dengan menghadirkan sebuah festival film pendek yang sekaligus menjadi ajang kolaborasi kreatif lintas disiplin dan budaya.
Dapat disimak saat acara pembukaan MFW 4 pada hari Sabtu, 6 Oktober 2018, menghadirkan pertunjukan kolaborasi antara Melati Dance Studio dan kelompok pemusik gamelan Narwastu Art Community yang terdiri atas musisi lintas negara. Mereka mempersembahkan tarian Rejang Purwa Siddhi serta tari Condong yang dikomposisikan khusus untuk malam pembukaan MFW 4.
MFW 4 juga menghadirkan proyek kolaborasi antara Teater Kalangan dan Sanggar Anak Tangguh. Anak-anak kelas 5 SD dari Sanggar Anak Tangguh tampil secara langsung (live) melakukan sulih suara (voice-dubbing), menerjemahkan bahasa Korea ke dalam bahasa Bali dari sebuah film pendek Korea Selatan berjudul ‘Be The Reds’ karya sutradara Kim Yoongi, yang juga berkesempatan hadir menyaksikan untuk pertama kali filmnya dialihsuarakan ke dalam bahasa lain. Selain tampil dalam acara pembukaan festival, proyek kolaborasi ini juga di bawa ke Desa Nyambu Tabanan dalam program Pop-Up Cinema (Layar Tancap).
Dengan melibatkan sepuluh venues di seluruh Pulau Bali yang aktif secara serentak selama delapan hari, Minikino Film Week 4 membuka kesempatan bagi masyarakat untuk menikmati suguhan program film pendek di lokasi yang paling dekat dengan tempat tinggal mereka. Selama delapan hari ini pula menjadi kesempatan menarik untuk menyaksikan festival film pendek sekaligus melakukan wisata keliling Bali.
Sebagai festival film pendek yang baru memasuki tahun ke-4, Minikino Film Week mulai mendapat perhatian dari berbagai pihak baik dari dalam dan luar negeri. Hal ini tentu saja menjadi sebuah gambaran positif bahwa event festival seperti ini akan menjadi produk penting bagi dunia pariwisata Bali kedepannya, selain tetap menjaga produk wisata budaya dan wisata alam yang sudah mendunia.
Selama berlangsungnya MFW 4, terhitung lebih dari 3500 penonton meramaikan berbagai program pemutaran, talks dan workshop. Tercatat pula lebih dari 40 sutradara, penulis dan produser serta aktris film dari 11 negara berkesempatan hadir, termasuk dari Indonesia sendiri.

Salah satu sesi diskusi dengan filmmaker di Rumah Sanur (foto: vifick Bolang #sayabercerita)
Rangkaian acara MFW 4 selama delapan hari ditutup dengan malam penganugerahan internasional, mempersembahkan penghargaan berupa pengakuan prestasi hasil penjurian dari tiga juri utama dan tim juri muda (Youth Jury).
Festival Film Pendek Internasional Bali, Minikino Film Week (MFW) hadir kembali di tahun ke-4 yang akan berlangsung selama delapan hari mulai tanggal 6 hingga 13 Oktober 2018. Festival Film Pendek Internasional terbesar di Indonesia yang mengusung slogan your healthy dose of short film ini, menghadirkan dua kategori acara pemutaran film pendek, yaitu Micro Cinema dan Popup Cinema yang tersebar di berbagai tempat di Bali.
Untuk Micro Cinema berlokasi di Rumah Sanur, Irama Indah – Denpasar, Uma Seminyak, Omah Apik - Pejeng, Rompyok Kopi – Jembrana, Rumah Film Sang Karsa - Buleleng, dan Danes Art Veranda - Denpasar. Sedangkan untuk Popup Cinema akan diadakan di Desa Nyambu – Tabanan, Desa Pedawa – Buleleng, dan Puri Agung – Klungkung.

Suasana Layar tancap 3rd Minikino Film Week 2017 (foto: #sayabercerita)
Mata acara Popup Cinema atau layar tancap Minikino Film Week merupakan pemutaran program film pendek untuk menjangkau masyarakat Bali yang selama ini tidak mendapat akses tontonan layar lebar. Selain menonton film pendek, dalam acara Popup Cinema atau layar tancap ini juga diadakan workshop atau pelatihan yang berkaitan dengan film pendek dan media audio visual.
“Popup Cinema selalu diiringi oleh pelatihan singkat sesuai dengan kebutuhan atau permintaan rekan-rekan di lokasi layar tancap yang kami tuju, sehingga apa yang disajikan akan memberikan manfaat yang berarti bagi mereka.” kata Direktur Eksekutif Minikino Film Week 4 I Made Suarbawa saat ditemui di sela-sela jumpa awak media di Denpasar, Rabu, 26 September 2018.
Sesuatu yang spesial dihadirkan dalam perhelatan Mikino Film Week kali ini, yaitu hadirnya sebuah film pendek produksi Korea Selatan yang akan diputar dan secara khusus disulihsuarakan (dubbing) dalam Bahasa Bali. Film berjudul Be the Reds karya sutradara Kim Yoon-gi secara khusus diundang untuk diputar dalam rangkaian pembukaan Minikino Film Week dan di lokasi layar tancap Desa Nyambu, Kediri, Tabanan.
“Proses dubbing dalam Bahasa Bali dilakukan secara langsung bukan direkam, dimana kami bekerjasama dengan sanggar Anak Tangguh dan Teater Kalangan yang telah mulai berlatih sejak bulan Agustus lalu.” ungkap Fransiska Prihadi Direktur Program Minikino Film Week 4 dalam sambutannya.
Sebagai Festival Film Pendek Internasional, Minikino Film Week 4 menghadirkan film pendek berkualitas dari berbagai belahan dunia, yang diseleksi secara khusus oleh tim programming serta melalui kerjasama antar lembaga festival.
Fransiska Prihadi juga menyampaikan bahwa Minikino Film Week tahun ini menghadirkan program film pendek dari Austin Film Festival – Amerika Serikat, yang merupakan buah manis dari kunjungan Minikino ke Austin, Texas bulan Maret 2018 atas dukungan Bekraf RI. Selain itu ada juga program khusus dari Image Forum Jepang, yang telah berlangsung sejak 2017.
Program film pendek lain yang merupakan program kerjasama dalam jejaring Minikino adalah S-Express yang merupakan kerjasama pertukaran program film pendek di Asia Tenggara dan Indonesia Raja sebuah gerakan pertukaran program film pendek antar wilayah di Indonesia.

Q & A Filmmaker dan Komite MFW 4 dengan Awak Media (foto: #sayabercerita)
Di luar program pemutaran film dalam Micro Cinema dan Popup Cinema, Minkino Film Week menghadirkan tamu dari berbagai latar belakang yang menjadi narasumber dalam MFW Talk yang akan berlokasi di Omah Apik – Pejeng dan Rumah Sanur.
Narasumber Internasional yang hadir diantaranya, Aurélian Michon dari Perancis yang akan berbagi cerita tentang atmosfer produksi, distribusi dan eksibisi film pendek di Perancis dan Eropa. Ada pula Liew Seng Tat, sutradara muda dari Malaysia yang akan berbagi pengalaman dalam menulis film panjang pertamanya setelah membuat banyak film pendek. Kemudian ada Koyo Yamashita dari Image Forum yang akan berbicara mengenai film eksperimental dan pengaruhnya.
Dari Indonesia akan hadir sutradara dan penulis Paul Agusta yang akan berbagi mengenai kolaborasi dalam produksi film. Ada juga Putri Ayudya, Aktris Indonesia yang akan berbagi cerita mengenai pengalaman pribadinya dalam menekuni dunia akting, baik dalam hidup nyata maupun untuk seni peran. Hadir pula Nia Dinata produser dan sutradara papan atas Indonesia yang akan membuka kisah pribadi, kenapa menaruh hati untuk menjadi produser film Indonesia. Selain itu akan hadir pula tim Seruni Audio yang akan bercerita dan merekam suara bersama penonton dengan mikrofon clip-on buatan tangan mereka sendiri yang telah dipasarkan ke berbagai negara.
Sedangkan dari Bali sendiri akan hadir Marlowe Bandem yang akan memperkenalkan proyek Bali 1928, proyek repatriasi internasional yang bekerja sama dengan Dr. Edward Herbst, di mana catatan dan film Bali tahun 1920 dipulangkan dari beberapa negara. Hadir juga DrEAD TEAM yang akan berkisah mengenai kecintaan dan pengalaman saat membuat film horor serta tips trik mengelola cerita yang ingin dijadikan film horor.
Tahun ini Mikino Film Week mulai memberlakukan Festival Pass atau tiket terusan bagi para penonton yang berminat untuk menghadiri dan menyaksikan berbagai mata acara festival film pendek internasional ini.
Minikino Film Week 4 memiliki beberapa jenis pass, yaitu Mezzo Pass untuk umum, Student Pass untuk pelajar yang dapat mengakses semua kegiatan program pemutaran film pendek dan MFW Talk. Ada juga Supreme Pass yang bisa mengakses semua kegiatan termasuk opening, Awarding Night dan closing. Mezzo Pass dan Supreme Pass dikenakan biaya tertentu sedangkan Student Pass gratis, dengan mengisi formulir dan menunjukan kartu pelajar atau mahasiswa.
Bagi yang ingin mendapatkan MFW Festival Pass bisa segera mengakses website minikino.org/filmweek, sehingga tidak akan kerepotan saat ingin menonton, karena bagi penonton yang tidak memiliki festival pass akan dikenakan donasi di tiap pintu masuk acara.