Pada Kamis, 16 Maret 2023 Mash Denpasar menjadi tuan rumah sebuah acara Malam Puisi yang dilakukan untuk pertama kali. Acara tersebut digagas oleh duo host Richie dan Grace, dengan mengundang mereka yang ingin berbagi puisi.

Para tamu mulai membanjiri ruangan sejak awal acara, yang pastilah mereka adalah para penggemar puisi. Bila diamati, mereka termasuk kalangan anak muda yang sebagian besar mahasiswa. Malam itu dihadirkan juga pembaca puisi yang secara khusus diundang membaca puisi, yaitu @fadilasst48, @Tembangmerahss, dan @ainunanjasmara_

Acara Malam Puisi di Mash Denpasar dimulai pada pukul tujuh tiga puluh malam dengan suasana yang meriah dan semangat yang tinggi. Pemandangan yang menyenangkan melihat antusiasme anak muda terhadap puisi.

Setelah pengantar singkat dari Richie selaku pemandu acara, beberapa penyair dan penulis diundang untuk membacakan puisi mereka. Suasana yang tercipta di dalam ruangan menjadi hening, hanya sedikit suara AC yang mendengus sejuk. Terlihat mata para hadirin tertegun saat para penyair mulai membacakan puisi mereka dengan penuh hikmat.

Format program Malam Puisi ini menarik, Richie membagi setiap sesi yang dijeda dengan istirahat beberapa menit. Setiap akhir sesi, siapapun dari hadirin diperkenankan mengajukan diri untuk membacakan puisi pada sesi berikutnya.

Malam Puisi perdana ini mengambil tema kebebasan. Dan kelihatanya diartikan sebagai kebebasan sebagai tema puisi dan juga kebebasan dalam membaca puisi apa saja dan dengan gaya apa saja. Ada puisi tentang politik, perdamaian, keluarga, makanan, tentang cinta dan kerinduan, serta tentang kehidupan dan arti kebebasan.

Sambil mendengarkan puisi yang dibacakan, para tamu menikmati hidangan lezat dan minuman yang dipesan di tempat. Sebagian besar dari mereka mengambil kesempatan untuk bersantai dan menikmati suasana yang menyenangkan, sementara beberapa orang mulai memilih dan menulis puisi mereka sendiri.

Pada setiap jeda, selalu ada obrolan singkat tentang puisi yang baru dibacakan, atau mengorek informasi dari teman baru mengenai puisi dan praktek menulis puisi mereka.

Acara Malam Puisi di Mash Denpasar berlangsung selama beberapa jam, dan menjadi malam Jumat yang menyenangkan. Hal ini membuktikan bahwa puisi masih menjadi cara yang efektif untuk menyampaikan pesan-pesan penting, tapi juga bisa menghibur.

Membaca Puisi Sebagai Terapi

Melepaskan emosi adalah salah satu cara terapi kejiwaan yang sederhana namun efektif. Dengan melepaskan emosi, seseorang dapat mengurangi stres dan ketegangan yang mungkin dirasakan dalam keseharian.

Membaca puisi dapat menjadi salah satu bentuk terapi yang efektif dalam meredakan stres, kecemasan, atau ketegangan emosional. Terapi dengan menggunakan puisi dapat membantu seseorang dalam mengatasi berbagai masalah psikologis karena puisi dapat menimbulkan efek psikologis yang kuat pada pembacanya.

Membaca puisi juga menjadi salah satu alternatif melepaskan emosi sedih, marah, dan keinginan didengar. Membaca puisi itu membutuhkan fokus, penjiwaan, pengaturan nafas, suara dan gestur. Ini seperti beryoga. Hal berikut bisa kita kerucutkan sebagai manfaat ketika membaca puisi, selain mendapat teman dan pendengar ketika membacanya dalam forum kecil dan intim seperti Malam Puisi Mash Denpasar.

Membantu meredakan stres: Saat membaca puisi, pikiran seseorang akan terfokus pada kata-kata dan makna yang disampaikan dalam puisi tersebut. Hal ini dapat membantu mengalihkan perhatian dari masalah yang sedang dihadapi sehingga dapat meredakan stres. Lupa mantan dan lupa utang.

Meningkatkan rasa empati: Puisi seringkali mengandung perasaan dan emosi yang kuat, sehingga dapat membantu pembaca dalam memahami dan merasakan emosi orang lain. Dengan membaca puisi, seseorang dapat memperluas pemahaman tentang perasaan dan perspektif orang lain.

Meningkatkan kreativitas: Puisi seringkali menggunakan bahasa yang kreatif dan tidak konvensional. Dengan membaca puisi, seseorang dapat belajar untuk mengembangkan kreativitasnya dalam memikirkan atau mengekspresikan diri.

Menenangkan pikiran: Puisi dapat memberikan pengalaman yang menyenangkan dan menenangkan pikiran. Ketika seseorang membaca puisi, ia dapat merasa lebih rileks dan tenang.

Memperluas wawasan: Puisi seringkali mengandung makna yang dalam dan kompleks. Dengan membaca puisi, seseorang dapat memperluas wawasannya dan memperdalam pemahaman tentang dirinya sendiri, dunia di sekitarnya, atau kehidupan secara umum.

Mari membaca. Membaca Puisi dan apa saja, yang penting menyenangkan.

Masa bermain ke sungai saya alami di usia-usia sekolah dasar. Pada musim liburan sekolah, saya dan kakak selalu pergi ke rumah nenek yang sangat dekat dengan sungai. Bahkan sepetak kecil kebun kopi milik nenek, tempat kami berburu telur burung pipit dan tupai, persis terletak di lembah sungai.

Karena saya bukan warga setempat dan tidak bisa berenang, jadilah saya pengintil sepupu-sepupu dan kawan mereka yang ahli dalam persungaian. Saya berjongkok di atas batu menjadi penonton atraksi mereka melompat dari tebing batu ke dalam tibu (palung sungai). Atau berendam di bagian air dangkal menyaksikan kecurangan mereka saat lomba menyelam dan ikut tegang saat mereka bersitegang mengenai siapa pemenangnya, karena saya selalu diminta menjadi saksi.

Sungai merupakan habitat binatang yang nyaris semuanya bisa dimakan. Ikan tentu saja ada berbagai jenis dan semuanya enak. Namun kami juga sering menangkap udang, kepiting atau belut. Cara menangkapnya pun ada berbagai cara, tergantung jenis ikan atau kesenangan yang ingin kami dapatkan. Menangkap udang dengan jerat tali dari serat kelopak pisang (kotot), adalah permainan yang menyenangkan dan sangat meditatif. Kami harus bergerak sangat pelan, mengangkat batu yang kami curigai sebagai persembunyian udang dengan sangat perlahan pula. Jika bergerak terlalu cepat, kemungkinannya adalah udang akan segera kabur, atau air akan menjadi keruh sehingga tidak bisa melihat apakah di sana ada udang atau tidak. Tentu saja cara ini tidak pernah menghasilkan tangkapan yang lebih dari jumlah jari kelingking.

Cara menangkap ikan yang paling banyak menghasilkan adalah menggunakan perangkap bubu atau pencar (jala). Tapi ini permainan orang dewasa. Saya beberapa kali ngintil paman saya mencar (menebar jala) ke beberapa tibu yang diyakini menjadi habitat ikan paling banyak. Ya, orang dewasa selalu lebih berpengalaman dalam hal menangkap ikan, selalu ada banyak ikan. Kadang dungki (wadah ikan dari anyaman bambu) tidak sanggup menampungnya, sehingga dibutuhkan kaos yang saya pakai sebagai dungki darurat.

Sungai Dari Masa Lampau

Itu ingatan lampau, nyaris tiga puluh tahun yang lalu. Tempat kejadiannya sekitar 108 kilometer arah barat kota Denpasar. Petang itu, 12 November 2019 di Art Center Denpasar, ingatan sungai masa lampau sekonyong-konyong menyembul keluar dari pori-pori kepala saya. Pasalnya saya menyaksikan satu nomor pementasan Capung Hantu Project, pada hari terakhir Festival Seni Bali Jani 2019, yang dimainkan oleh anak-anak Sanggar Seni Kelakar dari SMP Dharma Wiweka – Denpasar.

Anak-anak belasan tahun memainkan dramatisasi puisi Sungai, sebuah puisi karya Kim Al Ghozali AM. Saya agak yakin anak-anak itu lebih mengenal Tukad Korea yang lebih menyerupai taman rekreasi ketimbang sungai sesungguhnya. Tapi penampilan mereka sejak awal pementasan, mampu menggambarkan gairah masa kecil tentang sungai dan tentu saja sejuk airnya. Anak-anak berpakaian serba hitam itu berlari di sekitar Kalangan Angsoka, mereka sedang menuju sungai. Persis seperti sepupu saya dan kawan-kawannya dimana saya ngintil di belakang mereka, yang begitu riang gembira berlari di antara pepohonan, menuruni lembah menghambur ke sungai.

Pementasa ini menjadi yang pertama bagi saya, menyaksikan ubah media dari puisi menjadi teater gerak. Prosesnya pasti memiliki tantangan tersendiri; menginterpretasikan kata menjadi gerak, membaca gagasan penulis kemudian mengubah ke bentuk baru sebagai sebuah gagasan baru di atas panggung.

Yang menarik dari pementasan ini bagi saya, adalah bagaimana Miss Desi Nurani yang menjadi pengempu, mengajak anak-anak Kelakar merespon ruang dengan dinamis. Bukan hanya terpaku panggung, petak kaku yang ada di depan kursi penonton, tapi juga seluruh areal termasuk tempat duduk penonton dan juga penonton itu sendiri diajak terlibat; bukan hanya menonton.

Setelah mereka asik bermain, berlompatan di atas bebatuan, terengah-engah memburu napas, mereka berteriak. “Di sana ada sungai!” dengan sumringah, berlari mengajak semua orang bergembira menuju tempat bermain mereka, sungai!

Gua buatan di samping belakang Kalangan Angsoka menjadi ruang bermain baru. Semua orang diajak masuk, semua orang berusaha masuk, ingin merasakan main di sungai. Saya tiba-tiba merasa sedang ada dalam lomba menyelam, sesak, pengap dan susah bergerak. Penonton yang serius, berusaha masuk lebih dalam dan menyaksikan, ada yang hanya suka-suka menempel di dinding gua memenuhi ruang, ada yang mengeluh kepanasan dan mengancam teman prianya untuk balik arah dan keluar bersamanya.

Keluar dari gua, kami diajak bermain di sisi lain sungai, sebuah perosotan. Sejatinya areal itu adalah areal bermain anak-anak yang menjadi bagian Art Center Denpasar, namun sudah tidak dirawat lagi.

Dulu kami main perosotan di jalan setapak yang menurun menuju sungai. Pelepah kelapa adalah kendaraan yang kami gunakan di kebun kopi nenek, di mana jalur prosotan cukup panjang dan menyenangkan. Dari ujung atas petak kebun kopi, meluncur hingga terhenti di bawah rumpun bambu di pinggir sungai. Sering kali permainan berujung tantangan untuk mencoba medan yang lebih wow. Sebuah jalur prosotan dengan kemiringan sekitar 45 derajat dengan akhir langsung terjun ke dalam sungai. Ekstrim!

Lelah bermain di dalam sungai seperti juga anak-anak Kelakar, kami melanjutkan permainan di sepanjang sungai. Saling kejar, berburu buah liar atau buah-buahan di kebun tetangga. Kami akan kabur ketika kepergok pemilik kebun. Seru! Tetapi tentu saja, tengat waktu adalah akhir. Sore tiba, nenek mulai kawatir dan memburu kami ke sungai untuk segera pulang dan makan malam. Menyenangkan sekali.

Perjalanan Kembali Ke Taman Bermain

Perjalanan kembali ke sungai bersama anak-anak Kelakar, mengingatkan saya untuk berbagi permainan kampung kepada anak saya, yang lahir di kota, dibesarkan aroma urban, diempu teknologi.

Saya mulai menyadari, kenapa anak saya begitu gembira ketika diajak ke Taman Janggan, bermain prosotan plastik itu. Ternyata kita kekurangan permainan, kekurangan ruang, butuh kelegaan dari himpitan tembok rutinitas. Itu sebabnya kenapa tukad Bindu selalu ramai, tukad Korea selalu padat, lapangan-lapangan selalu menjadi lautan manusia. Karena ruang bermain kita hanya itu. Itu saja ‘sungai’ kita yang tersisa, di kota.

Sungai juga menjadi cerminan, warna air menjadi gambaran, seberapa keruh kehidupan kita. Semua bermula dari limbah buangan hati kita.

 

DESEMBER

Usai cerita tentang senja
Namun senantiasa mengenang
Kini awan mulai mendendam
Hujan menyerta menderah
Berikut sambaran petir yang mencaci
Menyapu cahaya jingga yang dilaknat
Dalam diam aku berkesah
Dan tak berharap pelangi menyambut rintihan
Masih
Berjibaku dengan sunyi
Menikmati kesendirianku
Menikam malam penat
Berbisik lantang seraya menengadah
Seakan Malaikat menyampaikan nyanyian malamku
Meski gusar aku dalam peraduan
Aku menunduk menunggu Sang Pemurah Hati

__il.
Pwt, 30 Desember

 


 

LIRIH

Kini kau duduk anggun di pelataran prasasti
Menikmati kilauan mahkota singgasana
Menunggu Sang Raja menjamah elokmu
Kau jauh dan tak terlihat
Tak lagi kupandang
Menjadi bukan lagi senjaku
Seperti helai yang terjatuh di halaman
Kesesatan melangkahku beriringan
Tanpaku meminta menjadi rentan
Hanya menyisakan tunas tak berakar
Bait berikutnya menjadi samar
Tertutup ilalang di semak semanggi
Melunakkan tanah yang kupijaki
Yang menjadikan rindu semakin menghujam

__il.

 


 

TERHENTI

Otak melawan
tertahan berlari
Terperangkap dalam cawan
mendapati caci
Beriring langkah puan
menapaki bukit berduri
Tatap berundak depan
tengadah mencari mimpi
Awan membentuk kilauan
pada terik kulminasi
Jauh di ufuk terlihat rawan
melintas lewati sunyi
Senja tercipta rupawan
tergetar luluh sanubari
Senyum dalam pandang menawan
merusak langkah jemari
Mendapati langkah tak sejalan
memaksa nada terhenti

__il.