Pada Kamis, 16 Maret 2023 Mash Denpasar menjadi tuan rumah sebuah acara Malam Puisi yang dilakukan untuk pertama kali. Acara tersebut digagas oleh duo host Richie dan Grace, dengan mengundang mereka yang ingin berbagi puisi.

Para tamu mulai membanjiri ruangan sejak awal acara, yang pastilah mereka adalah para penggemar puisi. Bila diamati, mereka termasuk kalangan anak muda yang sebagian besar mahasiswa. Malam itu dihadirkan juga pembaca puisi yang secara khusus diundang membaca puisi, yaitu @fadilasst48, @Tembangmerahss, dan @ainunanjasmara_

Acara Malam Puisi di Mash Denpasar dimulai pada pukul tujuh tiga puluh malam dengan suasana yang meriah dan semangat yang tinggi. Pemandangan yang menyenangkan melihat antusiasme anak muda terhadap puisi.

Setelah pengantar singkat dari Richie selaku pemandu acara, beberapa penyair dan penulis diundang untuk membacakan puisi mereka. Suasana yang tercipta di dalam ruangan menjadi hening, hanya sedikit suara AC yang mendengus sejuk. Terlihat mata para hadirin tertegun saat para penyair mulai membacakan puisi mereka dengan penuh hikmat.

Format program Malam Puisi ini menarik, Richie membagi setiap sesi yang dijeda dengan istirahat beberapa menit. Setiap akhir sesi, siapapun dari hadirin diperkenankan mengajukan diri untuk membacakan puisi pada sesi berikutnya.

Malam Puisi perdana ini mengambil tema kebebasan. Dan kelihatanya diartikan sebagai kebebasan sebagai tema puisi dan juga kebebasan dalam membaca puisi apa saja dan dengan gaya apa saja. Ada puisi tentang politik, perdamaian, keluarga, makanan, tentang cinta dan kerinduan, serta tentang kehidupan dan arti kebebasan.

Sambil mendengarkan puisi yang dibacakan, para tamu menikmati hidangan lezat dan minuman yang dipesan di tempat. Sebagian besar dari mereka mengambil kesempatan untuk bersantai dan menikmati suasana yang menyenangkan, sementara beberapa orang mulai memilih dan menulis puisi mereka sendiri.

Pada setiap jeda, selalu ada obrolan singkat tentang puisi yang baru dibacakan, atau mengorek informasi dari teman baru mengenai puisi dan praktek menulis puisi mereka.

Acara Malam Puisi di Mash Denpasar berlangsung selama beberapa jam, dan menjadi malam Jumat yang menyenangkan. Hal ini membuktikan bahwa puisi masih menjadi cara yang efektif untuk menyampaikan pesan-pesan penting, tapi juga bisa menghibur.

Membaca Puisi Sebagai Terapi

Melepaskan emosi adalah salah satu cara terapi kejiwaan yang sederhana namun efektif. Dengan melepaskan emosi, seseorang dapat mengurangi stres dan ketegangan yang mungkin dirasakan dalam keseharian.

Membaca puisi dapat menjadi salah satu bentuk terapi yang efektif dalam meredakan stres, kecemasan, atau ketegangan emosional. Terapi dengan menggunakan puisi dapat membantu seseorang dalam mengatasi berbagai masalah psikologis karena puisi dapat menimbulkan efek psikologis yang kuat pada pembacanya.

Membaca puisi juga menjadi salah satu alternatif melepaskan emosi sedih, marah, dan keinginan didengar. Membaca puisi itu membutuhkan fokus, penjiwaan, pengaturan nafas, suara dan gestur. Ini seperti beryoga. Hal berikut bisa kita kerucutkan sebagai manfaat ketika membaca puisi, selain mendapat teman dan pendengar ketika membacanya dalam forum kecil dan intim seperti Malam Puisi Mash Denpasar.

Membantu meredakan stres: Saat membaca puisi, pikiran seseorang akan terfokus pada kata-kata dan makna yang disampaikan dalam puisi tersebut. Hal ini dapat membantu mengalihkan perhatian dari masalah yang sedang dihadapi sehingga dapat meredakan stres. Lupa mantan dan lupa utang.

Meningkatkan rasa empati: Puisi seringkali mengandung perasaan dan emosi yang kuat, sehingga dapat membantu pembaca dalam memahami dan merasakan emosi orang lain. Dengan membaca puisi, seseorang dapat memperluas pemahaman tentang perasaan dan perspektif orang lain.

Meningkatkan kreativitas: Puisi seringkali menggunakan bahasa yang kreatif dan tidak konvensional. Dengan membaca puisi, seseorang dapat belajar untuk mengembangkan kreativitasnya dalam memikirkan atau mengekspresikan diri.

Menenangkan pikiran: Puisi dapat memberikan pengalaman yang menyenangkan dan menenangkan pikiran. Ketika seseorang membaca puisi, ia dapat merasa lebih rileks dan tenang.

Memperluas wawasan: Puisi seringkali mengandung makna yang dalam dan kompleks. Dengan membaca puisi, seseorang dapat memperluas wawasannya dan memperdalam pemahaman tentang dirinya sendiri, dunia di sekitarnya, atau kehidupan secara umum.

Mari membaca. Membaca Puisi dan apa saja, yang penting menyenangkan.

Jabatan sebagai Pekaseh1 menjadikan Sadra bukan lagi petani biasa seperti tahun-tahun sebelumnya. Dia memiliki kesibukan menjalankan tugas sebagai tampuk pimpinan tertinggi dalam struktur kepengurusansubak2 di desanya. Dibantu oleh dua orang prajuru3 yang menjadi tangan kanan sekaligus penyambung lidah dengan para petani selaku anggota subak, segala informasi dan kebijakan dapat segera tersampaikan dengan akurat dan tepat pada seluruh anggota subak. Belum lagi sebagian anggota subak tinggal dan berasal dari beberapa desa lain yang kebetulan memiliki sawah di desa itu, sangat menguras tenaganya.

Kesibukan yang didasari sikap ngayah4 untuk kepentingan masyarakat banyak itu, mendapat tentangan luar biasa dari Istri Sadra. Kepolosannya dan keluguan sebagai petani tulen serta sikap yang selalu iklas dan suka-rela tanpa peduli siang atau malam, tidak hirau hujan berangin, membuat jengkel dan geram Konten, istrinya.

Sejak proses pemilihan, ketika nama Sadra mulai masuk dalam bursa desas-desus bakal calon Pekaseh, Konten sudah wanti-wanti agar jabatan itu ditolak saja. Dalam benak Konten, jabatan seperti itu hanya menghabiskan tenaga dan pikiran tanpa memperoleh imbalan yang sepadan. Intinya rugi. Itulah sebabnya sangat sulit untuk mendapatkan orang yang bersedia dan suka rela mengajukan diri untuk mengemban jabatan itu.

“Sudahlah, siapa yang akan memilih orang yang tidak memiliki pengalaman dan petani bodoh seperti Aku?” Ungkap Sadra tenang-tenang saja menanggapi kehawatiran istrinya.

“Ya, karena Bli5 dianggap bodoh, orang-orang akan memilih Bli, makanya belajar sedikit tentang politik, Bliitu sedang dipolitiki”

Sadra tertawa terbahak-bahak mendengar istilah yang dikatakan istrinya. “Apalagi itu dipolitiki?” Sadra terbatuk-batuk.

“Sudah sadar diri bodoh jangan berlagak seperti orang bodoh, itu artinya Bliakan dimanfaatkan, orang-orang akan mengambil keuntungan dari kebodohan itu. Ayo Bli, buka mata sedikit, lihat apa yang sedang terjadi di luar rumah kita. Jangan hanya taunya lumpur, mintur6kukur7 dan tidur!” Konten semakin sengit.

“Kamu ini kenapa, orang lain makan cabe kenapa harus kita yang kepedasan. Keuntungan apa yang bisa diambil dari kita, kita ini petani, punya apa?”

“Ya itu, karena kita tidak punya apa-apa, hanya punya kebodohan dan keluguan, bersanding dengan mereka maka mereka akan semakin pintar untuk membodohi kita, para petani.”

“Aduh, pusing.”

“Pokoknya jabatan itu harus ditolak, bila perlu, saat sangkepan8nanti jangan datang, biar orang lain yang dipilih!”

Perdebatan di beranda rumah itu berakhir ketika malam semakin larut dan mereka harus memutuskan untuk masuk kamar.  Dan selalu seperti itu selama berhari-hari, hingga akhirnya sangkepan subak dilaksanakan dan Sadra terpilih secara musyawarah mufakat sebagai pekaseh baru dan akan memangku jabatan selama lima musim tanam.

Perdebatan berkembang lebih rame, tidak hanya di beranda, kini sampai ke sumur, dapur hingga kasur dan semakin banyak perumpamaan, kemungkinan, kerugian dan bukti-bukti yang di ungkapkan Konten.

“Apa sebenarnya yang Bli cari, apa tidak bisa diurus besok, apa lagi ini sudah malam dan di luar sedang hujan lebat.” Geram Konten suatu malam.

“Kalau tidak sekarang, gorong-gorong itu akan semakin tersumbat oleh sampah, air terus semakin besar dan pasti akan meluap hingga membanjiri seluruh areal persawahan, padi yang baru tanam akan rusak” Sadra mengenakan sepatu karet tinggi yang dia sebut sebagai sepatu selop. Di kepalanya bertengger topi lebar yang terbuat dari anyaman bambu dan berlapis plastik bening.

“Apa orang lain mau peduli? Mereka paling-paling sudah tidur pulas, peluk istri, mimpi indah!”

“Ini giliranku untuk ngayah, giliran mereka ya nanti.” Sadra sudah siap berangkat. Tangannya menenteng senter, caluk9 dan payung yang siap dikembangkan.

“Apa untungnya buat kita, mereka yang enak-enak tidur yang akan menikmatinya. Apa untungnya coba?” Konten menyusul suaminya sampai ke pintu rumah.

Ngayah ya tidak ada untungnya, kalau mau untung ya bagusnya jadi tengkulak.” Sadra berlalu menembus hujan dikegelapan malam. Cahaya lampu senter yang dibawanya hanya mampu menembus malam dalam jarak satu meter.

Sikap Sadra sebagai seorang pemimpin yang selalu mengutamakan kesejahtraan dan kepentingan anggotanya tetap menjadi poin persoalan dan memancing opini tajam Konten. Bukan hanya persoalan mengurus saluran irigasi yang mampet saat datang hujan dan banjir di malam hari.

Saat musim turun ke sawah dimulai, karena kesibukan mengurus segala keperluan musim tanam bagi anggotanya, sawah Sadra termasuk yang terakhir dijamah bajak. Saat pembagian benih padi pun demikian. Sadra mengambil bagian paling terakhir setelah seluruh anggota yang lain mengambil jatah dan yang tersisa hanya 15,5 kilogram dari seharusnya 25 kilogram yang dia perlukan untuk.

“Kalau begini urusannya, kita benar-benar menelan kerugian.” Pekik Konten saat mengetahui jatah benih padi mereka kurang sekitar 9,5 kilogram. “Bagaimana kalau nanti kita kekurangan saat menanam?”

“Jangan risau, kita bisa ambil di tempat Bli Jantuk atau Bli Kari, pasti ada lebihnya.”

“Bukan persoalan kita bisa ambil sana-sini, tapi asas kebersamaan dan keadilan tidak tegak. Keadilan bukan cuma buat mereka, tapi juga kita. Bagaimana panen kita bisa bagus, jatah benih kurang, pupuk kurang, untuk menyemprot hama tidak sempat. Pikir Bli, jangan hanya mikir mereka!”

“Ya baiklah, sekarang ayo pikirkan diri kita saja.” Sadra menarik tangan istrinya masuk kedalam kamar, karena hanya itu yang bisa menghentikan perdebatan di beranda malam itu.

* * *

Musim panen menjelang, bulir-bulir padi berwarna keemasan terhampar luas menghias seluruh desa. Para tengkulak berkeliaran menaksir tiap petak sawah. Dengan nada merayu dan kata-kata manis mencoba menawar padi-padi milik petani dengan harga miring nyaris jatuh. Tidak luput dengan padi milik Sadra.

Seorang tengkulak baru saja meninggalkan pekarangan rumah Sadra. Perdebatan segera mulai menghangat.

“Ini yang selalu aku takutkan Bli. Padi kita hanya ditawar 8 juta, coba kalau benih kita tidak kurang, pupuk cukup, hama di semprot, burung diusir, kita bisa dapat uang lebih dari 8 juta. Lihat Bli Jantuk, padinya ditawar 15 juta, Bli Kari sudah beli motor baru dari uang panjar saja. Kita dapat apa?” Suara Konten sangat memelas dengan wajah merengut.

“Wee, biar kata suamimu ini bodoh, kalau soal hitung-menghitung masih handal. Sawah kita hanya 50 are ditawar 10 juta, ya untung, sawah BliJantuk 1 hektar, hanya ditawar 18 juta, ya buntung. Kalau Bli Kari bisa beli motor baru, ya karena sawahnya 5 hektar, kalau sawah kita 5 hektar, bukan motor tapi mobil kita beli”

Konten masih diam membisu, tangannya memeluk tiang jineng.

“Kamu tahu kita sedang untung, hutang yang harus kita bayar di KUD berkurang karena jatah benih kita kurang, pupuk juga kurang, pestisida tidak beli. Dan para tengkulak memberi harga tinggi karena melihat jabatanku.”

Perdebatan siang di jineng10 berhenti sampai di situ, dengan kesimpulan dimenangkan oleh Sadra dengan kekalahan diderita oleh Konten yang terpukul telak hingga lidahnya kelu.

* * *

Bli! gawat Bli!” Teriak Konten suatu petang di tahun ketiga jabatan Sadra sebagai pekaseh. Dia lari tergopoh-gopoh dari jalan menuju rumahnya. Sadra yang sedang sibuk memberi makan burung tekukur peliharaannya hanya menoleh sebentar tanpa komentar.

Bli harus melawan karena ini sebuah konspirasi jahat!” Konten terengah-engah, berdiri memegang lutut di dekat Sadra.

“Kamu ini kenapa, apa yang harus dilawan, apa yang jahat?”

Bli, beberapa orang akan berusaha menurunkan Bli dari jabatan Bli saat ini.”

“Bagus itu!”

“Bagus bagaimana? Ini konspirasi jahat, tidak sesuai aturan.”

“Ngomong apa kamu ini!” Sadra beranjak membereskan kaleng pakan tekukurnya.

“Begini Bli…”

“Nanti saja, aku mau mandi dulu…!” Sadra melangkah menuju kamar mandi meninggalkan Konten yang masih mematung di dekat kandang tekukur.

* * *

“Begini Bli…” Konten memulai ceritanya saat Sadra sudah selesai mandi dan mereka duduk di beranda rumah. “Beberapa orang yang tidak perlu aku sebutkan namanya, sedang mengincar jabatan yang Blipegang sekarang. Bli tidak boleh membiarkan ini terjadi.”

“Bukankah itu bagus, selama ini kita ribut terus gara-gara jabatanku ini.”

Bli, pikiran mereka yang jahat ini yang tidak bisa aku terima, cara-cara tidak konstitusional, tidak sesuai adeaerte!” Konten semakin sengit.

“Mulutmu itu suka melilit kalau ngomong.”

Bli, mereka hanya memikirkan keuntungan, selama ini tidak ada yang bersedia memangku jabatan ini, tapi begitu terkabar akan ada dana puluhan juta, mereka mulai kasak- kusuk, di mana hati nurani mereka, di mana jiwa mereka untuk ngayah?”

“Kenapa harus dipusingkan, kalau mereka mau, biarlah mereka ambil.”

Bli…! jangan bodoh lagi, ini ketidak adilan, ini yang aku bilang kita sedang dipolitiki, dimanfaatkan!”

“Kalau kita memang bisa bermanfaat bagi orang lain, bukannya itu bagus? Berarti tidak sia-sia hidup kita di dunia”

“Heeh…! bodoh, bodoh, bodoh…!” Tangan Konten mengepal, giginya gemeretek menahan darah yang mulai naik ke ubun-ubunnya dan membuat mukanya memerah seperti kepiting rebus.

“Siapa yang maksa, kamu sendiri yang mau kawin sama orang bodoh.”

“Jujur saja Bli, aku hawatir dengan nasib uang yang akan turun nantinya, orang-orang itu tidak kredibel sama sekali.”

“Bagaimana kita bisa menilai orang seperti itu?”

“Sudah jelas Bli, sama sekali tidak kredibel,ada uang mereka datang tidak ada uang mereka menghilang, apa uangnya tidak akan ikut menghilang?”

“Sebenarnya uang siapa yang kamu ributkan?”

“Uang kita, uang rakyat.”

“Saat jadi pejabat miskin saja kamu ribut, bagaimana saat aku jadi pejabatyang pegang uang banyak, apa kamu tidak tambah ribut kalau aku mau kawin lagi?” Wajah Konten makin sengit mendengar ucapan suaminya.

“Ini politik kotor Bli, politik busuk!”

“Sudah, kita pikir politik Kasur dan dengkur saja, sudah malam.” Sadra menarik tangan istrinya masuk ke dalam kamar. Lampu depan rumah dipadamkan. Malam mengalir tenang, hawa dingin menyelimuti desa itu. Bulan bopeng di belahan langit barat memendarkan cahaya temaram. Binatang malam menyanyikan lagu cinta.

Denpasar, Agustus 2008

Note:

  1. Ketua subak
  2. Organisasi yang mengatur sistem pengairan/irigasi di Bali
  3. Staff yang bertugas sebagai kurir informasi.
  4. Pekerjaan suka-rela/kerja bakti
  5. Abang
  6. Memancing kepiting.
  7. Burung tekukur.
  8. Rapat
  9. Sejenis parang
  10. Lumbung padi.

Kaki[1] Wari seorang petani tulen yang mengabdikan hidupnya  bagi bumi pertiwi, yang tidak henti-hentinya memberikan anugerah berlimpah. Kesuburan, air yang terus mengalir,  hingga panen yang selama bertahun-tahun selalu membuat Kaki Wari tersenyum lebar saat menuntun sapi-sapinya menarik cikar[2] yang dipenuhi hasil panen.

Kaki Wari termasuk petani yang terpandang dan dihormati. Selain karena usianya yang termasuk sepuh, dia memiliki sejumlah sawah yang luas di beberapa desa yang berbeda. Setiap sawah yang baru dibeli selalu sempat digarapnya sendiri, sebelum kemudian diserahkan pada seorang penyakap[3]. Hingga suatu kali dia membeli sebidang sawah seluas 45 are yang menjadi sawah garapannya hingga kini. Sawah yang terletak persis berbatasan dengan hutan jati yang merupakan wilayah penyangga Taman Nasional Bali Barat itu, memiliki struktur tanah yang agak miring. Tanahnya lebih tinggi di bagian timur dan semakin rendah di arah barat, sehingga petak-petak sawah harus dibuat kecil memanjang dan bertingkat-tingkat mengikuti struktur tanah yang ada. Belum lagi bongkahan batu berukuran sangat besar teronggok di sana-sini, semakin membuat areal persawahannya tampak unik.

Di sisi timur terdapat saluran irigasi yang mengalir dari dalam hutan yang selama ini menjadi sumber pengairan bagi beberapa kelompok subak[4] di desa tersebut. Sisi sebelah utara ditumbuhi rimbunan pandan berduri yang berbatasan langsung dengan hutan jati yang disekat oleh sebuah jalan tanah selebar kurang lebih dua meter. Di sebelah barat mengalir sebuah kali kecil berbatu dengan sumber air berasal dari dalam hutan yang memiliki banyak mata air jernih dan sejuk sepanjang tahun. Sedangkan di sebelah selatan berbatasan dengan lahan milik petani setempat.

Lahan persawahan ini menjadi kesukaan Kaki Wari. Semenjak dibeli, tidak pernah sekalipun diserahkan pada penyakap dan kebiasaannya membeli sawah berhenti seketika. Di sisi timur, Kaki Wari membiarkan sepetak tanah kering untuk tempatnya mendirikan gubuk sederhana sebagai rumah tinggal selama musim menggarap sawah. Itu berarti nyaris sepanjang tahun dia tinggal, karena sumber air yang melimpah membuatnya bisa bercocok tanam sepanjang tahun. Apapun yang ditanamnya tumbuh dengan subur dan memberi hasil yang memuaskan.

Dalam usinya yang menginjak 75 tahun, tubuhnya masih cukup kuat untuk menggarap lahan tersebut. Anak-anak Kaki Wari sering memintanya untuk pensiun dan beristirahat. Tapi bagi Kaki Wari, sawah dan lumpur adalah bagian yang tidak mungkin dipisahkan dari kehidupannya.

“Ini saatnya Bapa[5] menikmati hasil keringat selama puluhan tahun, kami semua sudah bekerja dan punya penghasilan untuk membiayai hidup keluarga kita. Bahkan hasil pembagian dari penyakap sawah-sawah Bapa sudah lebih dari cukup sebagai uang pensiun Bapa” Demikian kata anak laki-laki tertua Kaki Wari yang bernama Wayan Gede Idep Wirawan berusaha meyakinkan.

“Ini bukan masalah uang, bukan masalah harta, ini masalah arti sebuah kebahagiaan. Dimana Bapa bisa merasa senang di sana Bapa akan menghabiskan sisa hidup Bapa.

Tyang[6] mengerti, tapi usia Bapa sudah cukup untuk mengambil waktu istirahat. Kami khawatir dengan kesehatan Bapa.” Idep masih bersikeras meluluhkan hati Ayahnya, dan berusaha menunjukan betapa dia sayang pada laki-laki yang baginya sudah mulai renta itu.

“Yan, kesehatan buat Bapa bukan tentang diam dan istirahat, tapi kebebasan jiwa untuk berbuat. Tubuh Bapa terasa begitu sehat saat menenggelamkan diri dalam sejuknya lumpur dan aromanya yang khas terhirup hingga paru-paru dan memenuhi rongga jantung, sehingga detaknya begitu seimbang dan selaras dengan detak alam semesta.” Kaki Wari tersenyum tenang sementara tangannya mengelus dada.

Idep dan adiknya, Nengah Jineng Sastrawan, hanya bisa diam membisu mendapat ceramah dari Bapa mereka. Tidak ada kata yang bisa melawan keinginan Kaki Wari dalam menjalani kehidupnya sendiri. Percakapan antara anak dan ayah yang belangsung pada malam bulan purnama di rumah mereka yang terletak di tengah desa itu, terhenti sampai disitu.

Rumah yang terhitung paling besar dibandingkan dengan rumah disekitarnya, selalu sepi tanpa penghuni beberapa tahun terakhir ini. Istri Kaki Wari telah meninggal lima belas tahun yang lalu dalam tidurnya yang tenang. Kaki Wari dan istrinya memiliki filosopi sederhana tentang hidup. Jika kehidupan dijalani dengan tulus dan penuh kejujuran, maka kebahagiaan akan selalu menyertainya. Sejak berpulangnya Dadong[7] Wari, Kaki Wari lebih memilih tinggal di gubuknya ketimbang di rumah besar yang baginya seperti ruang hampa yang tidak memberinya keleluasaan untuk sekedar bernafas. Sementara Wayan Idep si anak tertua harus menempati rumah dinas, setelah melenggang ke gedung dewan setelah adanya proses pergantian antar waktu. Seorang anggota dewan dari partainya di recall karena terbukti terlibat kasus pelecehan seksual terhadap seorang perempuan pemandu karaoke. Sementara Jineng lebih memilih tinggal di rumah barunya yang terletak di pusat kota, dengan alasan lebih dekat dengan tempat usahanya, tapi sejatinya itu hanya karena istri mudanya yang mantan mami kafe remang-remang tidak senang tinggal di desa.

* * *

Secara fisik, Kaki Wari tampak semakin tua dalam kesendiriannya. Tapi bukan itu yang mengganggu pikirannya. Pada pagi hari saat embun masih menguasai pucuk-pucuk daun dan rerumputan, saat mentari sedang berusaha menembus rimbunan daun jati, Kaki Wari sering termenung, duduk di balai-balai bambu di depan gubuknya, matanya memandang jauh ke arah hamparan sawah di hadapannya. Dua bulan lalu musim penghujan telah berakhir dan musim kering menjelang. Sepanjang puluhan tahun, tiada pernah ada rasa khawatir dalam benak Kaki Wari akan kekurangan air bagi sawahnya. Tapi belakangan, ada sesuatu yang dirasa berubah.

Kali kecil berbatu di ujung barat tidak lagi mengalirkan air jernihnya, hanya genangan-genangan kecil yang tersisa, bahkan saat musim penghujan airnya akan mengalir dengan warna coklat tanah. Saluran irigasi di atas sana pun airnya mulai surut dan tidak sanggup lagi memenuhi kebutuhan bercocok tanam padi pada musim kemarau seperti sekarang ini, airnya hanya cukup untuk sekedar menopang pertumbuhan kedelai yang disemai bulan lalu.

“Semua memang tidak ada yang sanggup lepas dari perubahan. Pun keluargaku dan mahluk yang bernama manusia dan tanah ini serta alam semesta.” Batin Kaki Wari. Dia menenggak sisa kopi dari dalam cangkir yang terbuat dari bambu. Tangannya mengusap rambut dan wajahnya. Dia seperti sedang merasakan betapa dirinya pun sudah merubah total. Rambut yang beruban dan selalu rontok, kulit wajahnya yang semakin keriput. Kering dirasakan di sekujur kulit yang membalut tubuhnya, warna legam itu menyimpan berbagai kisah kehidupan tanah ini.

Matahari menyinari hamparan sawah, menerpa bulir embun di pucuk-pucuk daun kedelai yang kemudian memendarkan warna perak.

Kaki Wari berjalan menyusuri pematang saluran irigasi, dia melangkah masuk ke dalam hutan. Air bening mengalir sangat kecil di sepanjang saluran itu, sehingga dasar lumpur terlihat jelas. Daun-daun kering terkumpul pada ranting yang melintang, membuat bendungan-bendungan kecil. Rumput-rumput liar tumbuh di sepanjang saluran air tersebut.

Semakin dalam Kaki Wari masuk ke dalam hutan, semakin terang matahari bersinar. Tidak ada rimbunan daun jati yang menghalangi sinarnya menghujam bumi. Bukan pula karena pohon jati sedang musim meranggas, tapi pohon-pohon jati itu seperti menghilang. Mata Kaki Wari menengadah memastikan, matanya tertumbuk matahari yang semakin tinggi, matanya silau, pandangannya menjadi gelap tidak jelas apa yang tampak di hadapannya, dia seperti kehilangan kemampuan penglihatan, dan dia semakin tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, bahkan pohon-pohon jati yang begitu lebat tidak tampak oleh matanya yang semakin berkunang-kunang. Kemudian dia melangkah mengandalkan jejak ingatan masa lalunya tentang hutan ini. Jalan setapak itu, rimbunan semak belukar, rumpun rotan yang saling membelit, batang-batang pohon jati itu, semua masih tersimpan dalam memori masa lalunya, dan kini dia harus mencari jalan pulang karena dunia sudah semakin gelap baginya.

* * *

Sosok laki-laki berkulit legam dengan rambut beruban dan wajah berkeriput itu tampak terbaring di atas ranjang besi bercat hijau muda, dengan selimut berwarna abu-abu pucat. Pada tangannya tertancap jarum yang menjadi saluran bagi cairan infus yang mengalir dari botol berlabel merah yang tergantung pada sebuah tiang stainless di sisi ranjang. Lelaki itu adalah Kaki Wari, dia harus menjalani perawatan intensif setelah dua hari yang lalu, tubuhnya ditemukan oleh seorang pencari madu, tergeletak di dekat saluran irigasi, di antara pangkal batang pohon jati sisa penebangan. Pencari madu itu yang kemudian menggendong tubuh renta Kaki Wari keluar dari dalam hutan dan mengabarkan berita itu pada Wayan Idep.

Kaki Wari merasa sangat bingung ketika siuman dan menyadari tubuhnya tergeletak dalam kamar bersih bercat putih. Tapi dia tidak sanggup melakukan apapun, tubuhnya tidak bisa dia gerakkan, hanya senyum yang selalu sanggup mengembang bagi siapapun yang menjenguknya.

“Kenapa Bapa harus disini, kapan kalian akan membawa Bapa pulang?” tanya Kaki Wari sore itu pada Wayan Idep.

Bapa tenang saja dulu. dokter akan merawat hingga Bapa cukup sehat untuk pulang.” Idep mencoba menjelaskan.

Kaki Wari hanya menarik nafas dalam-dalam. Ruangan VIP rumah sakit yang cukup luas itu tampak lengang, hanya Idep yang menunggu disana.

“Apa adikmu Jineng akan kemari?”

“Ya nanti dia pasti kemari” Kata Idep setelah diam dengan wajah bingung untuk beberapa saat. Nada suaranya terdengar gelagapan dan penuh keraguan.

“Suruh dia kemari agar kita bisa bicara, kapan lagi kita bisa berkumpul seperti ini?” suara Kaki Wari terdengar lemah dan kurang jelas pengucapannya.

“Tentu saja, saya akan menelpon agar dia segera kemari.” Idep bangkit dari duduknya dan melangkah keluar dari ruang perawatan menuju ruang depan yang menjadi bagian dari ruang perawatan VIP tersebut.

* * *

Hari berganti hari, Kaki Wari masih dirawat di ruangan yang sama. tidak ada perubahan yang mendasar pada kondisinya. Tidak ada gerakan tubuh, dia tampak lemah tanpa daya.

“Mana Jineng, kenapa dia tidak kunjung datang? Apa kau sudah menelponnya? Apa katanya?” pertanyaan itu terus mengalir dari kerongkongan Kaki Wari setiap Idep memasuki ruangan itu tanpa membawa Jineng serta, sehingga Idep tidak punya jawaban lain lagi.

Bapa sabar, Jineng pasti segera datang.”

Pertanyaan dan jawaban itu selalu silih berganti terdengar, hingga hari ke tujuh, Jineng muncul di ruang perawatan Kaki Wari, wajahnya kusam dan tidak bergairah.

“Kenapa baru datang Jineng, apa kau sakit? Apa anak-anakmu sehat dan keluargamu baik-baik saja? Bapa khawatir terjadi apa-apa pada kalian.”

Jineng tidak sanggup berucap, dia menggeleng dan mengangguk pelan berulang kali, wajahnya tertunduk menghujam ujung kakinya yang kokoh menancap ke lantai, agar sanggup menopang tubuhnya. Tidak ada kata-kata lagi, sunyi diantara mereka yang dibiarkan berdua saja dalam ruanggan itu. Mata tua Kaki Wari bermain sendiri, menyiratkan penantian akan apa yang telah lama diharapkannya. Tapi Jineng tetap membisu, tidak ada sepatah katapun keluar dari mulut Jineng, hingga dua orang berseragam warna abu-abu gelap masuk dan mendekatinya. Seorang dari mereka membisikkan sesuatu di telinga Jineng, kemudian mereka pergi meninggalkan ruang perawatan tersebut. Jineng berjalan diapit oleh dua orang laki-laki berseragam abu-abu.

Mata Kaki Wari tertutup perlahan, bibirnya menyiratkan senyum tenang penuh kedamaian.

* * *

Satu minggu setelah kunjungannya ke ruang perawatan Kaki Wari, Jineng dinyatakan bebas dari tuduhan sebagai pelaku sekaligus penadah aksi penebangan liar hutan jati di kawasan utara, setelah menyerahkan sejumlah uang jaminan sehingga memiliki kesempatan mengikuti prosesi upacara pengabenan ayahnya.

Setelah berpuluh-tahun bergelut dengan ketulusan dan keyakinannya terhadap Ibu Pertiwi, kini Kaki Wari telah mencapai titik tertinggi pengabdiannya, di mana dia telah kembali ke dalam serat-serat inti alam semesta.

Denpasar, Agustus 2008
Pernah Cetak Denpost

[1] Kakek
[2] Pedati
[3] Petani penggarap dengan sistem bagi hasil
[4] Organisasi yang mengatur sistem pengairan/irigasi di Bali
[5] Bapak
[6] Saya
[7] Nenek

 

DESEMBER

Usai cerita tentang senja
Namun senantiasa mengenang
Kini awan mulai mendendam
Hujan menyerta menderah
Berikut sambaran petir yang mencaci
Menyapu cahaya jingga yang dilaknat
Dalam diam aku berkesah
Dan tak berharap pelangi menyambut rintihan
Masih
Berjibaku dengan sunyi
Menikmati kesendirianku
Menikam malam penat
Berbisik lantang seraya menengadah
Seakan Malaikat menyampaikan nyanyian malamku
Meski gusar aku dalam peraduan
Aku menunduk menunggu Sang Pemurah Hati

__il.
Pwt, 30 Desember

 


 

LIRIH

Kini kau duduk anggun di pelataran prasasti
Menikmati kilauan mahkota singgasana
Menunggu Sang Raja menjamah elokmu
Kau jauh dan tak terlihat
Tak lagi kupandang
Menjadi bukan lagi senjaku
Seperti helai yang terjatuh di halaman
Kesesatan melangkahku beriringan
Tanpaku meminta menjadi rentan
Hanya menyisakan tunas tak berakar
Bait berikutnya menjadi samar
Tertutup ilalang di semak semanggi
Melunakkan tanah yang kupijaki
Yang menjadikan rindu semakin menghujam

__il.

 


 

TERHENTI

Otak melawan
tertahan berlari
Terperangkap dalam cawan
mendapati caci
Beriring langkah puan
menapaki bukit berduri
Tatap berundak depan
tengadah mencari mimpi
Awan membentuk kilauan
pada terik kulminasi
Jauh di ufuk terlihat rawan
melintas lewati sunyi
Senja tercipta rupawan
tergetar luluh sanubari
Senyum dalam pandang menawan
merusak langkah jemari
Mendapati langkah tak sejalan
memaksa nada terhenti

__il.

 

Bulan November 2019 saat belum ada November rain di Denpasar. Waktu itu tanggal 6, saya bersama keluarga menyaksikan pementasa BET (Bali Eksperimental Teater) untuk pertama kali dalam hidup saya, kendati masa kecil saya bertetangga dengan mereka. Kesan pertama yang saya bisa katakan dalam dua kata pada pandangan pertama menyaksikan BET adalah, “Mereka ngawur!”

Sebelum pementasan dimulai, saya sempat bertegur sapa dengan penulis dan sutradara pementasan yang berjudul Pan Balang Tamak Reborn ini, Nanoq Da Kansas. Wajahnya kelihatan tegang, entah karena gugup, menjaga wibawa atau sedang akting grogi. Dia berlalu-lalang di antara remaja putri yang sedang berias, memperhatikan salah seorang pemain yang sedang mengenakan pakaian penari, melihat sepintas putranya; Elang, yang sedang dibantu mengenakan pakaian yang terbuat dari karton. Tidak lupa mereka berfoto bersama.

Bali Eksperimental Teater di Bali Jani

BET dalam Festival Bali Jani yang berlangsung di Taman Werdhi Budaya – Denpasar, mendapat kapling panggung di depan Gedung Kriya. Kengawuran itu mulai terasa ketika waktu pementasan sudah tiba. Seorang pembawa acara mengarahkan penonton untuk naik ke atas panggung, panggung yang disiapkan oleh panitia dengan karpet merah itu. Suara merdu pembawa acara yang menggema dari empat titik pengeras suara, mengatakan bahwa BET akan menggunakan areal halaman di pinggir sungai, sebagai ruang pentas mereka.

Setelah saya dan penonton lain duduk di panggung, belasan muda-mudi berlarian ke penjuru halaman rumput di pinggir sungai, mengambil bungkusan tas kresek dan mengeluarkan isinya, daun-daunan. Mereka menebar daun-daun itu di halaman beton di depan panggung, menyiapkan seting pementasan. Di bagian ini saya agak kesal, karena melihat bahwa mereka sama-sekali tidak siap dengan pementasan, bahkan ketika pembawa acara telah mengumumkan bahwa pementasan telah mulai. Ya, terasa ngawur!

Belasan muda-mudi itu kemudian duduk, mereka hanya mengenakan kamben dan kaos bebas berwarna gelap, persis seperti muda-mudi banjar yang sedang ikut sangkep di balai banjar. Saat tokoh klian banjar memasuki kalangan itu, saya mulai menyadari, pementasan memang benar-benar telah dimulai. Apa yang mereka lakukan sejak awal adalah bagian dari skenario pementasan.

Tapi ada satu skenario yang diubah karena kendala teknis. Saya bocorkan di sini. Sampai tanggal 3 November, sang sutradara masih memiliki ide menggunakan layar lebar untuk menayangkan beberapa potongan video yang viral di jagat televisi dan maya negeri ini, sebagai pembuka. Untunglah ide itu gagal. Karena tanpa layar itu, latar pementasan terasa organik. Lampu-lampu dari pedangang yang mangkal dan gedung di seberang sungai seakan lampu kota di kejauhan. Artistik.

Kejelataan Pan Balang Tamak Reborn

Bali-Eksperimental-Teater

Pan Balang Tamak Reborn, kisah warga kerajaan BET yang dianggap licik penuh intrik dalam menghadapi segala situasi. Dalam pementasan BET, dikisahkan bagaimana Pan Balang Tamak berkelit mencari pembenaran untuk membela diri saat terlambat menghadiri kerja bakti. Di tampilkan pula, bagaimana Pan Balang Tamak menciptakan trik kemenangan menghadapi persaingan pentas busana anak-anak. Hingga akhirnya dia berhasil mengecoh raja dengan memanipulasi kematiannya sendiri.

Batang tubuh cerita masa kecil saya tentang Pan Balang Tamak ditikam dan dikoyak dengan nuansa teror; yang pernah terjadi, sedang terjadi, bahkan mungkin masih akan terjadi di negara kita tercinta ini. Teror ini bukan hanya terjadi di Negara – Bali, di mana asal BET. Tapi juga terjadi di Negara Indonesia, bahkan juga di negara api dan negara air, udara, tanah dan seandainya ada juga yang lain-lainnya.

Kembali lagi ke bagian awal yang ngawur, di mana panggung berkarpet merah diserahkan kepada penonton. Sementara itu, Pan Balang Tamak Reborn dipentaskan lesehan di halaman rumput dan beton. Saya merasa BET sedang menyuguhkan keripik renyah dengan tingkat pedas di atas level 10. Pan Balang Tamak yang menjadi representasi rakyat jelata, melata dengan nasib kehidupan mereka hanya menjadi sebuah tontonan bagi mereka yang ada di panggung berkarpet merah itu. Ya memang, ini hanya sebuah tontonan.

Kejelataan kembali ditampilkan dalam koreografi sederhana. Saya kira tidaklah dibutuhkan sutradara hebat, karena anak TK sering mementaskannya di acara perpisahan mereka. Tari menanam jagung, di mana remaja lelaki bergaya bapak tani yang mengayunkan cangkul dan remaja perempuan menggoyangkan pinggul berlaga jadi ibu tani yang menanam benih jagung. Namun tentu ini permainan orang dewasa, karena menanam jagung versi BET kini bukan lagi di kebun kita, tapi di beton kita; seperti itu yang saya dengar dari nyanyian Anak Badai yang menjadi pengiring pementasan. Sekali lagi ya, ini hanya sebuah tontonan.

Mungkin karena perubakan lingkungan, sosial kemasyarakatan dan hawa politik, warga masyarakat di desa Pan Balang Tamak tidak bisa mengapresiasi muda-mudi yang menyuguhkan kreatifitas. Bukannya saling mendukung, mereka malah saling ejek dan saling menjatuhkan antar mereka. Namun ketika anak Pan Balang Tamak muncul menyanyikan lagu Bongkar karya Iwan Fals, menawarkan raskin, bansos, subsidi, dan sebagainya; masyarakat menjadi beringas. Berlomba-lomba saling sikut mencari koneksi, mengajukan proposal agar mendapat komisi.

Tingkah yang lebih modern dalam masyarakat negara yang dipanggungkan BET, tampak saat kabar kematian Pan Balang Tamak mulai tersiar. Informasi menyebar dari gadget ke gadget, menghasilkan sinyal yang grengsut menghabiskan lebar frekwensi. Semua berbicara, semua memberitakan; “Pan Balang Tamak mati!”

Kok rasanya tidak ada yang berusaha mengklarifikasi dan mengkonfirmasi kesahihan beritanya. Hingga pengawal raja datang membawa berita, “Pan Balang tamak masih hidup!”

Lagi-lagi tidak ada konfirmasi sumber berita, bahkan oleh seorang raja sekalipun. Malah sang raja langsung main percaya saja dan segera mengambil keputusan. Matilah sang raja karena keputusannya sendiri, dan hoax membuatnya tamat.

Pementasan usai, penonton yang duduk di atas karpet mereh itupun senang dan bertepuk tangan, karena mendapatkan apa yang mereka harapkan. Pan Balang Tamak menang dalam kematiannya.

BET Bertukar Panggung

Bali-Eksperimental-Teater

Pementasan BET (Bali Eksperimental Teater) dengan lakon Pan Balang Tamak Reborn, membuka mata saya bahwa panggung tidak melulu literal. Tempat yang disediakan, tetap dan kaku. Dengan membalik keadaan, bertukar tempat dengan penonton, saya merasa BET berhasil menempatkan Balang Tamak sebagai kita, rakyat jelata.

Saya duga, ini adalah kebiasaan BET yang jarang menggunakan panggung mewah. Hal ini terkonfirmasi dari pernyataan Nanoq Da Kansas dalam sebuah artikel yang ditulis Ketut Syahruwardi Abbas dalam blognya.

”Kami telah melakukannya di Negara (Jembrana) sejak tahun 90-an. Sejak saya dan kawan-kawan di Negara masih aktif di Teater Kene dan berlanjut dengan BET. Hal ini bahkan sempat kami lakukan secara berkesinambungan dalam kurun waktu 5 atau 6 tahunan (1993-1998),”

”Kami memanfaatkan teras atau halaman rumah, ditonton oleh kawan-kawan sendiri dan warga sekitar rumah. Bahkan di lingkungan tempat kontrakan saya dulu, di Banjar Satria, Negara, para ibu-ibu rumah tangga saat itu menjadi terbiasa membujuk anak-anak mereka untuk segera mandi dengan iming-iming mengizinkan anak-anak itu menonton pementasan kami pada malam harinya,”

__Karena Panggung Memakai ”Style Bali” (2012)

Saya rasa BET itu gila, dengan cara ngawur berhasil membuat kami bahagia, dan membuat anak saya yang berumur 8 tahun bertanya, "Kapan lagi ada acara yang seperti ini?" Kami sekeluarga menunggu pementasan selanjutnya.

Sumber kutipan: Karena Panggung Memakai ”Style Bali” | ketutwardi.wordpress.com

Woho! Bukan persoalan mudah menjadi orang jujur, rendah hati, penuh cinta dan selalu berpikiran positif. Aku yakin semua orang akan menganggapku narsis, over pede kalau aku mengatakan aku adalah orang paling positif, jujur dan selalu baik kepada setiap orang, bahkan sudah bermula dari dalam hatiku, bukan sekedar lipstick yang manis di bibir tapi sepahit empedu di dalam hati. Terus terang, hanya kejujuran itu modalku menjalani hidup, termasuk kehidupan percintaan.

May, gadis manis yang begitu sering mengirimkan puisi indah untukku. Puisi-puisi itu telah banyak menginspirasi lagu-lagu dalam album terbaruku. Oh ya, aku seorang penyanyi sekaligus komposer. Aku sering menggarap musik untuk kawan-kawan baikku. Sekali lagi aku bukan sombong, aku hanya mengatakan sejujurnya. Setiap lagu yang musiknya aku kerjakan selalu laris manis dan menduduki deretan top ten di mana-mana bahkan kadang viral di media sosial.

Kembali lagi kepada May. Setiap orang pasti menebak kalau dia lahir bulan Mei. Hem, kalian salah besar. May lahir bulan Juni. Aku tidak tahu, apakah orang-orang yang lahir bulan Juni semuanya seasik dan semenarik May.

Sejak pertemuan pertama kami dalam program televisi, kencan buta bareng artis, aku sudah merasa ada getaran aneh. Dia beda dengan fans lain yang biasanya suka berteriak-teriak, ”Jozi! Jozi!” dan mereka akan mengejar-ngejarku mencari kesempatan mencubit, yang lebih parah lagi kalau ada yang mendaratkan tamparan di wajahku dan berharap aku akan melaporkan mereka ke polisi dan jadi viral di mana-mana.

Sedangkan May selalu terkesan tenang, gak gampangan. Misterius! Dia selalu sanggup menahan gejolak perasaannya tanpa diekspresikan secara berlebih. Senyumnya membuatku megap-megap menahan birahi. Tiga lagu aku ciptakan khusus untuk memuja senyum manis itu.

Baiklah, aku katakan pada kalian bahwa aku sudah menyunting May menjadi kekasih seminggu sebelum peluncuran albumku yang ke-5. Jangan menuduhku memanfaatkan aji mumpung ngetop, lalu seenak hati menggaet setiap fans yang bertampang manis. Oh tidak! Janganlah kalian kejam pada diriku. Bukankah sudah aku katakan bahwa aku orang yang jujur dan baik hati. Dan perlu kutambahkan bahwa aku tipe setia pada satu pasangan. Poligami? Oh, Noway!

Aku sadar bahwa aku bukan tipe laki-laki romantis. Lagu-lagu yang aku ciptakan memang selalu romantis dan membuat semua perempuan terlena, tapi kalian boleh tanya pada May, dia masih hidup, dia boleh bersaksi. Pernahkah aku melakukan sesuatu yang romantis seperti dalam lagu yang aku ciptakan? Dia pasti menjawab “Never!”.

Seperti sahabatku, kau pasti mengatakan bahwa May sudah tertipu, jatuh cinta pada plyboy kacangan. Tapi mereka hanya iri, menuduhku sebagai laki-laki penipu bermulut manis penuh bisa.

“Kau hanya manusia pencemburu, susah melihat orang senang dan senang melihat orang susah.”

“Joz, kami sahabatmu. Tidak ada cemburu. Buka matamu! Lihat keluar! siapa sebenarnya May? Dunia ini berputar Joz, semua tidak kekal, hanya perubahan yang abadi. Juga hati May, dia masih sangat muda dan penuh gejolak. Bagai butir apel ranum yang menggoda  siapapun untuk menyentuhnya. Bangun Joz!”

“Hei! Kalian hanya menginginkan Mayku yang ranum. Percintaan kami terlalu indah untuk kalian hancurkan”

“Joz, kenapa cinta membuatmu semakin goblok?”

Apa kau juga memikirkan hal yang sama seperti sahabatku? Aku goblok? Oh, nasibku. Bahkan mereka yang mengaku sahabat meninggalkanku dan mengucilkanku dalam dunia yang luas ini.

Aku katakan padamu; benar bahwa telponku tidak pernah diangkat. Pesanku tidak pernah dibalas. Tapi bukan berarti dia meninggalkanku. Sahabat-sahabatku terlalu pendek akal, munafik. Termasuk gosip serong dan selingkuh untuk menarik keuntungan agar reting acara TV mereka naik. Agar oplah tabloid picisan mereka meningkat. Puih!

Kau tahu, sahabatku bahkan bertindak seolah mereka pisikolog dan peramal masa depan. Memaksakan opini mereka.

“Joz, kau tau aku sahabat baikmu. Aku seorang perempuan, tidak mungkin merebut May. Cinta bukan sekedar syair dalam lagu, perempuan perlu sentuhan nyata dari hati-kehati. Kami perlu dimanja, disayang, bukan cuma disuruh mendengarkan CD. Dan aku ingin mengatakan, kau telah gagal dalam kehidupan nyata. Itu kenapa May mencampakkanmu!”

“Hei, Kau cuma iri pada May! Tidakkah kau ingin membiarkan May bahagia bersamaku? Dia memang perempuan beruntung yang meluluhkan hatiku.”

“Oh Joz, kenapa cinta membuatmu semakin gila?”

Kau bisa bayangkan rasanya saat sahabatmu menuduh kau gila? Betapa perih hati ini ketika mereka menyiramkan cuka pada lukaku.

Aku buka rahasia padamu. Tapi ingat! jangan pernah bercerita pada mereka. Aku tahu semua desas-desus tentang May di belakangku. Untuk sebuah reputasi aku berusaha menutupinya, membohongi semua orang. Skandal yang paling besar adalah aku telah membohongi diriku sendiri.

Oh, ini adalah aib terburuk dalam sejarah karirku. Bayangkan, seorang Jozi telah dikhianati, dicampakkan! Oh, baiklah aku akui di hadapanmu bahwa ini kenyataan. Aku dikhianati. Tapi tolong jangan hukum aku dengan kata dicampakkan, karena itu memuakan sekali.

Begini, setelah banyak rahasia kecil itu. Oh, hei! Apakah itu rahasia kecil? Aku yakin kau menganggap itu rahasia  besar karena aku artis. Tapi kau kuanggap sahabatku, kau boleh tahu semuanya.

Baiklah, aku lanjutkan ceritaku. May menelponku malam itu. Suaranya lirih seperti biasa, tapi aku dapat menangkap keraguan, ketakutan dan penyesalan. Aku telah mengenalnya dengan baik sehingga dapat merasakan apa yang dia rasa, bahkan aku dapat membayangkan bibir merahnya yang merekah dan basah bergetar saat berucap. Wajahnya yang merona merah, matanya yang berkaca-kaca. Aku dapat membayangkan betapa cantiknya dia malam itu.

“Hallo May, apa kabarmu? aku sangat merindukanmu.” aku memecah kekeluan yang menyelimuti percakapan kami. Tapi aku hanya mendengar desah pelan. Aku yakin May mulai menangis saat itu, air matanya mulai bergulir di pipinya yang halus. “Katakan sesuatu. Bicaralah! Aku masih mendengarmu.”

“Joz... aku mohon kau memaafkanku.”

“May, kau sudah mengenalku, kapan aku bisa pelit akan maaf. Apapun itu, aku akan menerima dengan lapang dada. Aku pasti memaafkanmu.” ucapanku cukup lama tidak berbalas, hanya terdengar isak kecil dari seberang sana. “May…?”

“Joz, maafkan aku, aku hanya perempuan pengkhianat. Maafkan aku! Tut, tut, tut, tut…”

“May hallo…”

Kau pasti sudah tau, itu artinya percakapan kami terputus sampai disitu saja. Tapi tidak apa-apa, paling tidak itu adalah awal yang baik. Aku yakin selanjutnya akan jauh lebih mudah.

“Jozi, terimakasih engkau telah menganggapku sahabat. Kedatanganku menemuimu sesungguhnya hendak menyampaikan sesuatu.”

“Baiklah, setelah kau mendengar kisah panjangku, kini saatnya aku mendengarkanmu.”

“Aku sangat kagum dengan kejujuranmu dan ketulusanmu. May juga mengagumi dirimu melebihi apapun. May sering bercerita betapa engkau adalah sebuah kesempurnaan. Hanya saja, May merasa dia bukan orang yang tepat untuk mendampingimu. Dia merasa terlalu naïf untuk memahami cara berfikirmu. Dia ingin membiarkanmu bahagia karena engkau memiliki kebahagiaan itu dalam dirimu, bahkan dalam kesendirianmu engkau akan bahagia. Joz, aku menyampaikan titipan May untukmu.”

“Titipan? Oh biarkan aku memelukmu sahabat baikku. Hei! Siapa yang menikah?”

“May.”

“May?”

“Ya, May.”

“Mayku?”

“Benar, May”

“Apa tidak salah? Ini? bukankah ini fotomu? Hei!! Kau!? Kau menikahi Mayku? Oh Kau! Bukankah aku sudah memaafkannya? Kenapa dia meninggalkan aku? Kau! Anggap kita tidak saling kenal. Enyah dari hadapanku dan lupakan aku pernah menganggapmu sahabat. Itu tidak pernah terjadi!”

Denpasar, Oktober 2008

Membaca satu judul cerpen dari seorang penulis memberikan saya gambaran yang kuat akan gagasan dari penulis tersebtu. Namun, akan berbeda sensasinya ketika membaca beberapa judul cerpen yang telah dipilih menjadi satu buku. Selain sensasi aroma kertas dan tinta yang semerbak ketika membuka buku pertama kali, dari sebuah rangkaian cerpen dalam satu buku, saya bisa membaca ruang hidup dan rentang waktu pemikiran serta kegelisahan yang mengganggu jiwa si penulis, hingga tertumpah ke dalam cerpen-cerpen itu.

Cerpen Lelaki Garam karya Made Adnyana Ole, saya baca pertama kali tahun 2017 ketika diterbitkan di koran Kompas, dan ternyata juga menjadi salah satu cerpen yang masuk dalam buku cerpen pilihan Kompas 2017, Kasur Tanah. Setelah membaca, kepala saya berusaha menguliti isi kepala Ole. Apa yang masih tersembunyi di balik cerita itu, selain kisah pertemuan asam pegunungan dan garam laut di sebuah belanga yang kemudian melahirkan Jenawi? Bahkan sampai akhir cerita, Ole dengan kejam tetap meyembunyikan kenyataan itu pada Jenawi, yang begitu merindukan uap garam dari masa kecilnya. Dalam tubuh Jenawi, Ole menitipkan kerinduannya pada masa lalu; keperawanan alam yang tidak terjamah, romantisme yang selalu berusaha dipertahankan, dan gambaran ideal pemudi desa yang bersekolah ke kota kemudian pulang membangun desa. Di sisi lain, Ole menanam kegeraman hatinya dan kobaran asa perlawanan terhadap serangan atas nama kemajuan dan pembangunan, pada sosok lelaki bernama Ripah, yang ternyata juga memendam rindu menggila dalam dirinya.

Kemudian Lelaki Garam kembali saya temukan bersama delapan cerpen lain karya Made Adnyana Ole, dalam buku kumpulan cerpen berjudul Gadis Suci Melukis Tanda Suci Di Tempat Suci. Buku tersebut baru terbeli di pameran buku Festival Bali Jani pada November 2019, walaupun buku itu sudah saya taksir di acara May May Komunitas Mahima pada bulan Mei 2019, namun otak saya agak waras bersepakat dengan lambung dan memilih membeli siobak.

Setelah melahap sembilan cerita bersama menu alakadarnya yang kami punya di meja makan, atau kadang menghabiskan sedikit uang di warung pinggir jalan, saya merasa Ole berhasil membuat saya bahagia secara utuh dari awal; cerita pertama, hingga cerita terakhir. Saya sangat menyarankan untuk jangan sekali-kali melompati satu judulpun, karena nuansa yang didapatkan pasti akan berbeda. Tapi kalau mau-mau sendiri mulai dari cerpen manapun, dan mengakhirinya pada judul yang manapun, itu tetap sah dan meyakinkan bahwa kalian telah menyukseskan program ayo membaca, dan kalian pasti bahagia seperti saya.

Kenapa saya menekankan untuk membaca secara berurutan? Jadi begini. Saat memegang sebuah buku, otak saya membacanya sebagai sebuah keutuhan, setiap judul adalah bab dari sebuah cerita panjang. Benang merahnya adalah gagasan dan kegelisahan penulisnya, yang tentu saja akan bergantung pada sudut pandang personal saya sebagai pembaca.

Ketika membaca cerpen pertama, Terumbu Tulang Istri, saya telah bisa dikecoh dan dibawa masuk dalam suasana depresif dari tokoh lelaki bernama Kayan, yang sialnya namanya sama dengan tokoh dalam cerpen saya. Suasana depresif masih terbawa ketika memasuki kisah kedua, namun Gede Juta mulai memberi harapan, mewakili semangat perlawanan, seorang pahlawan rasanya sudah akan segera muncul, namun ternyata bukan Gede Juta. Dia tidak segagah yang saya kira, seperti Gundala atau Si Buta Dari Gua Hantu.

Sosok pahlawan baru muncul pada cerpen berikutnya, Siat Wengi dan Gadis Suci Melukis Tanda Suci di Tempat Suci. Tapi sungguh, bukan seperti Superman atau Catwoman yang sejak awal sudah jelas adalah pahlawan. Dalam dua cerpen ini, tokoh utama yang begitu menggebu ingin menjadi pahlawan bagi komunitas ataupun bagi nafsu balas dendam, kemudian letoi, dan membiarkan tokoh lain yang menyelesaikan persoalan itu.

Sampai cerpen keempat, saya masih diaduk dan dibawa ke puncak, namun kemudian diredam dan terasa sekali penurunan tensi ketika membaca cerpen Kerapu Macan dan Men Suka. Membaca Kerapu Macan, lebih seperti membaca esai ringan, kemudian ada twist yang tidak terlalu mengejutkan. Walaupun tetap ada kesenjangan sosial yang berusaha dipotret, saya merasa Ole mungkin sedang lelah, kemudian memutuskan makan enak agar dapat inspirasi lagi. Sedangkan cerpen Men Suka, memberi rasa gamang, tidak berdaya dan sudah tidak ada lagi perlawanan, hanya diam. Namun itulah cara satu-satunya mengobati luka dalam yang dihadapi Men Suka, dengan harapan akan mengering dan rasa sakitnya ikut menguap bersama waktu. Tokoh anak Men Suka, yang berusaha menjadi tim pencari fakta untuk mengungkap teka-teki akhirnya menyerah, dan terjadilah rekonsiliasi semu.

Luka-luka yang berusaha diobati dengan kepedihan dan keterasingan, digambarkan akan sangat mungkin kambuh pada hari-hari raya kenegaraan, seperti digambarkan dalam cerpen Darah Pembasuh Luka. Luka kambuhan pada lutut kiri Tantri, sangat halus dimasukan sebagai simbol paham yang selalu dijadikan kambing hitam saat dibutuhkan, guna menebar rasa takut.

Pada nyaris di ujung rangkaian gerbong cerita ini, di sanalah muncul Lelaki Garam yang menyimpan atau sengaja menyembunyikan kisahnya dari generasi keturunanya, yang tidak pernah diketahuinya akan menimbulkan kekacauan dan kerumitan. Ketika selesai membaca cerpen ini, kalian akan mengetahui betapa kerumitan itu akan terjadi oleh kenyataan yang ditutup-tutupi, dimanipulasi dan dikorupsi.

Di penghujung cerita, Ole mengambil peran dan membayar kesalahan Lelaki Garam yang penuh rahasia. Cerpen 4 Dari 100 Lelucon Politik, mengambarkan seorang Ayah yang berusaha membawa cerita dari masa lalu kepada anaknya yang menjadi simbol masa mendatang, sehingga anak-anak kita memiliki bekal untuk memecahkan sedikit kekacauan dan kerumitan kehidupan yang sering kusut tak berujung. Paling tidak, dalam kisah ini seorang Ayah berusaha untuk menjadi berguna di depan anak perempuannya, dengan menjadi sedikit lucu. Saraf di tengkuk saya kembali lentur dan rilek setelah Ole menyudahi ceritanya dan Putik pergi tidur.

Ingin sekali menelisik dan mengulas lebih dalam satu persatu cerpen-cerpen dalam buku ini. Namun kalau dipaksakan sekarang tentu saja tidak akan terlalu lucu lagi. Yang pasti, buku ini sangat layak untuk dinikmati secara utuh sebagai serampai kisah, yang ingin dijaga oleh penulisnya sebagai sebuah pengingat dan penanda, sebuah tanda suci, bahwa hari itu pernah ada. Bahwa kenyataan memang kadang pahit.

Judul: Gadis Suci Melukis Tanda Suci di Tempat Suci
Pengarang: Made Adnyana Ole
Terbit: 2018
ISBN : 9-786026-106360
Bahasa: Indonesia
Penerbit: Mahima Institute Indonesia
Jenis Buku: Kumpulan Cerita Pendek

Membaca cerpen-cerpen Made Suarbawa kadang terasa seperti menonton film pendek. Detil, rinci, tapi ketat dan padat. Penilaian saya mungkin saja dipengaruhi oleh pengetahuan utama saya tentang sosok penulisnya yang selama ini memang lebih banyak bergiat di Minikino, sebuah organisasi festival film pendek yang berkedudukan di Denpasar dan memiliki jaringan kerja amat luas di dunia internasional. Tapi, soal rinci dan detil, sepertinya bukanlah penilaian berlebihan.

Sejumlah tokoh dalam cerpen-cerpen ini dilukiskan dengan begitu teliti, sebagaimana seorang juru kamera dalam proses penggarapan film, yang dengan upaya keras mengarahkan moncong kamera ke seluruh tubuh pemain. Bagaimana wujud tokohnya, apa saja aksesorisnya, bagaimana tokoh itu bergerak, dilukiskan dengan penuh perhitungan, bahkan kadang terkesan amat lengkap. Seperti juga dalam sebuah film di mana kamera tak bisa merekam perasaan tokoh-tokohnya hingga ke dalam hati, Made Suarbawa tampak berupaya keras melukiskan perasaan tokoh-tokoh dalam cerpennya —sedih, cemas atau sakit hati— dengan hanya menarasikan gerak tubuh dan mimik sang tokoh. Pada bagain inilah salah satu letak kelebihan cerpen-cerpen Made Suarbawa.

Meski cerpen-cerpennya belum banyak dikenal pembaca karena memang belum banyak disiarkan di media massa atau media sosial, bisa diduga Made Suarbawa punya pengalaman menulis yang panjang. Ini tampak dari kematangannya mengatur strategi bercerita untuk mengaduk-aduk perasaan pembacanya. Strategi penceritaan yang cukup berani dilakukan pada cerpen “Kisah Peniup Seruling”. Cerita yang sesungguhnya sederhana ini diramu dengan dialog tanya-jawab yang terkesan monoton, namun penulisnya cukup lihai menyusun tanya-jawab itu sehingga pembaca menjadi penasaran dan membacanya hingga usai.

Meski sejumlah ceritanya memiliki tema sederhana, bahkan kadang klise, misalnya soal diskriminasi anak perempuan dalam keluarga di Bali, namun Made Suarbawa punya teknik penyelesaian yang tak tertebak. Saat sepasang suami-istri berbahagia atas kelahiran anak pertamanya yang perempuan, dan di sisi lain anak perempuan tak membuat keluarga besar mereka bahagia, Made Suarbawa menyelesaikan cerpen itu dengan amat datar, santai, tapi menimbulkan keharuan dan pesan terselubung yang cukup mendalam.

Akhirnya, selamat membaca.

Singaraja, September 2019
Made Adnyana Ole, editor

Note: Buku Kumpulan Cerpen Politik Kasur, Dengkur dan Kubur diterbitkan oleh Mahima Institute Indonesia - Singaraja (ISBN 978-623-7220-15-2). Bila ingin memiliki buku ini, dapat mengontak penerbit @bukumahima atau penulisnya @madebirus (IG).

Judul: Politik Kasur, Dengkur dan Kubur
Pengarang: I Made Suarbawa
Terbit: 30 Oktober 2019
ISBN : 978-623-7220-15-2
Bahasa: Indonesia
Penerbit: Mahima Institute Indonesia
Jenis Buku: Kumpulan Cerita Pendek