Masa bermain ke sungai saya alami di usia-usia sekolah dasar. Pada musim liburan sekolah, saya dan kakak selalu pergi ke rumah nenek yang sangat dekat dengan sungai. Bahkan sepetak kecil kebun kopi milik nenek, tempat kami berburu telur burung pipit dan tupai, persis terletak di lembah sungai.

Karena saya bukan warga setempat dan tidak bisa berenang, jadilah saya pengintil sepupu-sepupu dan kawan mereka yang ahli dalam persungaian. Saya berjongkok di atas batu menjadi penonton atraksi mereka melompat dari tebing batu ke dalam tibu (palung sungai). Atau berendam di bagian air dangkal menyaksikan kecurangan mereka saat lomba menyelam dan ikut tegang saat mereka bersitegang mengenai siapa pemenangnya, karena saya selalu diminta menjadi saksi.

Sungai merupakan habitat binatang yang nyaris semuanya bisa dimakan. Ikan tentu saja ada berbagai jenis dan semuanya enak. Namun kami juga sering menangkap udang, kepiting atau belut. Cara menangkapnya pun ada berbagai cara, tergantung jenis ikan atau kesenangan yang ingin kami dapatkan. Menangkap udang dengan jerat tali dari serat kelopak pisang (kotot), adalah permainan yang menyenangkan dan sangat meditatif. Kami harus bergerak sangat pelan, mengangkat batu yang kami curigai sebagai persembunyian udang dengan sangat perlahan pula. Jika bergerak terlalu cepat, kemungkinannya adalah udang akan segera kabur, atau air akan menjadi keruh sehingga tidak bisa melihat apakah di sana ada udang atau tidak. Tentu saja cara ini tidak pernah menghasilkan tangkapan yang lebih dari jumlah jari kelingking.

Cara menangkap ikan yang paling banyak menghasilkan adalah menggunakan perangkap bubu atau pencar (jala). Tapi ini permainan orang dewasa. Saya beberapa kali ngintil paman saya mencar (menebar jala) ke beberapa tibu yang diyakini menjadi habitat ikan paling banyak. Ya, orang dewasa selalu lebih berpengalaman dalam hal menangkap ikan, selalu ada banyak ikan. Kadang dungki (wadah ikan dari anyaman bambu) tidak sanggup menampungnya, sehingga dibutuhkan kaos yang saya pakai sebagai dungki darurat.

Sungai Dari Masa Lampau

Itu ingatan lampau, nyaris tiga puluh tahun yang lalu. Tempat kejadiannya sekitar 108 kilometer arah barat kota Denpasar. Petang itu, 12 November 2019 di Art Center Denpasar, ingatan sungai masa lampau sekonyong-konyong menyembul keluar dari pori-pori kepala saya. Pasalnya saya menyaksikan satu nomor pementasan Capung Hantu Project, pada hari terakhir Festival Seni Bali Jani 2019, yang dimainkan oleh anak-anak Sanggar Seni Kelakar dari SMP Dharma Wiweka – Denpasar.

Anak-anak belasan tahun memainkan dramatisasi puisi Sungai, sebuah puisi karya Kim Al Ghozali AM. Saya agak yakin anak-anak itu lebih mengenal Tukad Korea yang lebih menyerupai taman rekreasi ketimbang sungai sesungguhnya. Tapi penampilan mereka sejak awal pementasan, mampu menggambarkan gairah masa kecil tentang sungai dan tentu saja sejuk airnya. Anak-anak berpakaian serba hitam itu berlari di sekitar Kalangan Angsoka, mereka sedang menuju sungai. Persis seperti sepupu saya dan kawan-kawannya dimana saya ngintil di belakang mereka, yang begitu riang gembira berlari di antara pepohonan, menuruni lembah menghambur ke sungai.

Pementasa ini menjadi yang pertama bagi saya, menyaksikan ubah media dari puisi menjadi teater gerak. Prosesnya pasti memiliki tantangan tersendiri; menginterpretasikan kata menjadi gerak, membaca gagasan penulis kemudian mengubah ke bentuk baru sebagai sebuah gagasan baru di atas panggung.

Yang menarik dari pementasan ini bagi saya, adalah bagaimana Miss Desi Nurani yang menjadi pengempu, mengajak anak-anak Kelakar merespon ruang dengan dinamis. Bukan hanya terpaku panggung, petak kaku yang ada di depan kursi penonton, tapi juga seluruh areal termasuk tempat duduk penonton dan juga penonton itu sendiri diajak terlibat; bukan hanya menonton.

Setelah mereka asik bermain, berlompatan di atas bebatuan, terengah-engah memburu napas, mereka berteriak. “Di sana ada sungai!” dengan sumringah, berlari mengajak semua orang bergembira menuju tempat bermain mereka, sungai!

Gua buatan di samping belakang Kalangan Angsoka menjadi ruang bermain baru. Semua orang diajak masuk, semua orang berusaha masuk, ingin merasakan main di sungai. Saya tiba-tiba merasa sedang ada dalam lomba menyelam, sesak, pengap dan susah bergerak. Penonton yang serius, berusaha masuk lebih dalam dan menyaksikan, ada yang hanya suka-suka menempel di dinding gua memenuhi ruang, ada yang mengeluh kepanasan dan mengancam teman prianya untuk balik arah dan keluar bersamanya.

Keluar dari gua, kami diajak bermain di sisi lain sungai, sebuah perosotan. Sejatinya areal itu adalah areal bermain anak-anak yang menjadi bagian Art Center Denpasar, namun sudah tidak dirawat lagi.

Dulu kami main perosotan di jalan setapak yang menurun menuju sungai. Pelepah kelapa adalah kendaraan yang kami gunakan di kebun kopi nenek, di mana jalur prosotan cukup panjang dan menyenangkan. Dari ujung atas petak kebun kopi, meluncur hingga terhenti di bawah rumpun bambu di pinggir sungai. Sering kali permainan berujung tantangan untuk mencoba medan yang lebih wow. Sebuah jalur prosotan dengan kemiringan sekitar 45 derajat dengan akhir langsung terjun ke dalam sungai. Ekstrim!

Lelah bermain di dalam sungai seperti juga anak-anak Kelakar, kami melanjutkan permainan di sepanjang sungai. Saling kejar, berburu buah liar atau buah-buahan di kebun tetangga. Kami akan kabur ketika kepergok pemilik kebun. Seru! Tetapi tentu saja, tengat waktu adalah akhir. Sore tiba, nenek mulai kawatir dan memburu kami ke sungai untuk segera pulang dan makan malam. Menyenangkan sekali.

Perjalanan Kembali Ke Taman Bermain

Perjalanan kembali ke sungai bersama anak-anak Kelakar, mengingatkan saya untuk berbagi permainan kampung kepada anak saya, yang lahir di kota, dibesarkan aroma urban, diempu teknologi.

Saya mulai menyadari, kenapa anak saya begitu gembira ketika diajak ke Taman Janggan, bermain prosotan plastik itu. Ternyata kita kekurangan permainan, kekurangan ruang, butuh kelegaan dari himpitan tembok rutinitas. Itu sebabnya kenapa tukad Bindu selalu ramai, tukad Korea selalu padat, lapangan-lapangan selalu menjadi lautan manusia. Karena ruang bermain kita hanya itu. Itu saja ‘sungai’ kita yang tersisa, di kota.

Sungai juga menjadi cerminan, warna air menjadi gambaran, seberapa keruh kehidupan kita. Semua bermula dari limbah buangan hati kita.

Bulan November 2019 saat belum ada November rain di Denpasar. Waktu itu tanggal 6, saya bersama keluarga menyaksikan pementasa BET (Bali Eksperimental Teater) untuk pertama kali dalam hidup saya, kendati masa kecil saya bertetangga dengan mereka. Kesan pertama yang saya bisa katakan dalam dua kata pada pandangan pertama menyaksikan BET adalah, “Mereka ngawur!”

Sebelum pementasan dimulai, saya sempat bertegur sapa dengan penulis dan sutradara pementasan yang berjudul Pan Balang Tamak Reborn ini, Nanoq Da Kansas. Wajahnya kelihatan tegang, entah karena gugup, menjaga wibawa atau sedang akting grogi. Dia berlalu-lalang di antara remaja putri yang sedang berias, memperhatikan salah seorang pemain yang sedang mengenakan pakaian penari, melihat sepintas putranya; Elang, yang sedang dibantu mengenakan pakaian yang terbuat dari karton. Tidak lupa mereka berfoto bersama.

Bali Eksperimental Teater di Bali Jani

BET dalam Festival Bali Jani yang berlangsung di Taman Werdhi Budaya – Denpasar, mendapat kapling panggung di depan Gedung Kriya. Kengawuran itu mulai terasa ketika waktu pementasan sudah tiba. Seorang pembawa acara mengarahkan penonton untuk naik ke atas panggung, panggung yang disiapkan oleh panitia dengan karpet merah itu. Suara merdu pembawa acara yang menggema dari empat titik pengeras suara, mengatakan bahwa BET akan menggunakan areal halaman di pinggir sungai, sebagai ruang pentas mereka.

Setelah saya dan penonton lain duduk di panggung, belasan muda-mudi berlarian ke penjuru halaman rumput di pinggir sungai, mengambil bungkusan tas kresek dan mengeluarkan isinya, daun-daunan. Mereka menebar daun-daun itu di halaman beton di depan panggung, menyiapkan seting pementasan. Di bagian ini saya agak kesal, karena melihat bahwa mereka sama-sekali tidak siap dengan pementasan, bahkan ketika pembawa acara telah mengumumkan bahwa pementasan telah mulai. Ya, terasa ngawur!

Belasan muda-mudi itu kemudian duduk, mereka hanya mengenakan kamben dan kaos bebas berwarna gelap, persis seperti muda-mudi banjar yang sedang ikut sangkep di balai banjar. Saat tokoh klian banjar memasuki kalangan itu, saya mulai menyadari, pementasan memang benar-benar telah dimulai. Apa yang mereka lakukan sejak awal adalah bagian dari skenario pementasan.

Tapi ada satu skenario yang diubah karena kendala teknis. Saya bocorkan di sini. Sampai tanggal 3 November, sang sutradara masih memiliki ide menggunakan layar lebar untuk menayangkan beberapa potongan video yang viral di jagat televisi dan maya negeri ini, sebagai pembuka. Untunglah ide itu gagal. Karena tanpa layar itu, latar pementasan terasa organik. Lampu-lampu dari pedangang yang mangkal dan gedung di seberang sungai seakan lampu kota di kejauhan. Artistik.

Kejelataan Pan Balang Tamak Reborn

Bali-Eksperimental-Teater

Pan Balang Tamak Reborn, kisah warga kerajaan BET yang dianggap licik penuh intrik dalam menghadapi segala situasi. Dalam pementasan BET, dikisahkan bagaimana Pan Balang Tamak berkelit mencari pembenaran untuk membela diri saat terlambat menghadiri kerja bakti. Di tampilkan pula, bagaimana Pan Balang Tamak menciptakan trik kemenangan menghadapi persaingan pentas busana anak-anak. Hingga akhirnya dia berhasil mengecoh raja dengan memanipulasi kematiannya sendiri.

Batang tubuh cerita masa kecil saya tentang Pan Balang Tamak ditikam dan dikoyak dengan nuansa teror; yang pernah terjadi, sedang terjadi, bahkan mungkin masih akan terjadi di negara kita tercinta ini. Teror ini bukan hanya terjadi di Negara – Bali, di mana asal BET. Tapi juga terjadi di Negara Indonesia, bahkan juga di negara api dan negara air, udara, tanah dan seandainya ada juga yang lain-lainnya.

Kembali lagi ke bagian awal yang ngawur, di mana panggung berkarpet merah diserahkan kepada penonton. Sementara itu, Pan Balang Tamak Reborn dipentaskan lesehan di halaman rumput dan beton. Saya merasa BET sedang menyuguhkan keripik renyah dengan tingkat pedas di atas level 10. Pan Balang Tamak yang menjadi representasi rakyat jelata, melata dengan nasib kehidupan mereka hanya menjadi sebuah tontonan bagi mereka yang ada di panggung berkarpet merah itu. Ya memang, ini hanya sebuah tontonan.

Kejelataan kembali ditampilkan dalam koreografi sederhana. Saya kira tidaklah dibutuhkan sutradara hebat, karena anak TK sering mementaskannya di acara perpisahan mereka. Tari menanam jagung, di mana remaja lelaki bergaya bapak tani yang mengayunkan cangkul dan remaja perempuan menggoyangkan pinggul berlaga jadi ibu tani yang menanam benih jagung. Namun tentu ini permainan orang dewasa, karena menanam jagung versi BET kini bukan lagi di kebun kita, tapi di beton kita; seperti itu yang saya dengar dari nyanyian Anak Badai yang menjadi pengiring pementasan. Sekali lagi ya, ini hanya sebuah tontonan.

Mungkin karena perubakan lingkungan, sosial kemasyarakatan dan hawa politik, warga masyarakat di desa Pan Balang Tamak tidak bisa mengapresiasi muda-mudi yang menyuguhkan kreatifitas. Bukannya saling mendukung, mereka malah saling ejek dan saling menjatuhkan antar mereka. Namun ketika anak Pan Balang Tamak muncul menyanyikan lagu Bongkar karya Iwan Fals, menawarkan raskin, bansos, subsidi, dan sebagainya; masyarakat menjadi beringas. Berlomba-lomba saling sikut mencari koneksi, mengajukan proposal agar mendapat komisi.

Tingkah yang lebih modern dalam masyarakat negara yang dipanggungkan BET, tampak saat kabar kematian Pan Balang Tamak mulai tersiar. Informasi menyebar dari gadget ke gadget, menghasilkan sinyal yang grengsut menghabiskan lebar frekwensi. Semua berbicara, semua memberitakan; “Pan Balang Tamak mati!”

Kok rasanya tidak ada yang berusaha mengklarifikasi dan mengkonfirmasi kesahihan beritanya. Hingga pengawal raja datang membawa berita, “Pan Balang tamak masih hidup!”

Lagi-lagi tidak ada konfirmasi sumber berita, bahkan oleh seorang raja sekalipun. Malah sang raja langsung main percaya saja dan segera mengambil keputusan. Matilah sang raja karena keputusannya sendiri, dan hoax membuatnya tamat.

Pementasan usai, penonton yang duduk di atas karpet mereh itupun senang dan bertepuk tangan, karena mendapatkan apa yang mereka harapkan. Pan Balang Tamak menang dalam kematiannya.

BET Bertukar Panggung

Bali-Eksperimental-Teater

Pementasan BET (Bali Eksperimental Teater) dengan lakon Pan Balang Tamak Reborn, membuka mata saya bahwa panggung tidak melulu literal. Tempat yang disediakan, tetap dan kaku. Dengan membalik keadaan, bertukar tempat dengan penonton, saya merasa BET berhasil menempatkan Balang Tamak sebagai kita, rakyat jelata.

Saya duga, ini adalah kebiasaan BET yang jarang menggunakan panggung mewah. Hal ini terkonfirmasi dari pernyataan Nanoq Da Kansas dalam sebuah artikel yang ditulis Ketut Syahruwardi Abbas dalam blognya.

”Kami telah melakukannya di Negara (Jembrana) sejak tahun 90-an. Sejak saya dan kawan-kawan di Negara masih aktif di Teater Kene dan berlanjut dengan BET. Hal ini bahkan sempat kami lakukan secara berkesinambungan dalam kurun waktu 5 atau 6 tahunan (1993-1998),”

”Kami memanfaatkan teras atau halaman rumah, ditonton oleh kawan-kawan sendiri dan warga sekitar rumah. Bahkan di lingkungan tempat kontrakan saya dulu, di Banjar Satria, Negara, para ibu-ibu rumah tangga saat itu menjadi terbiasa membujuk anak-anak mereka untuk segera mandi dengan iming-iming mengizinkan anak-anak itu menonton pementasan kami pada malam harinya,”

__Karena Panggung Memakai ”Style Bali” (2012)

Saya rasa BET itu gila, dengan cara ngawur berhasil membuat kami bahagia, dan membuat anak saya yang berumur 8 tahun bertanya, "Kapan lagi ada acara yang seperti ini?" Kami sekeluarga menunggu pementasan selanjutnya.

Sumber kutipan: Karena Panggung Memakai ”Style Bali” | ketutwardi.wordpress.com