Sepanjang siang tadi saya pulang ke dusun menemani kawan-kawan BaleBengong Denpasar, melali ke dusun.

Penyusuran kami mulai dari pantai Candikusuma, Kecamatan Melaya. Di pantai nelayan ini, kami sudah ditunggu oleh Pak Kelian Banjar Moding Kaja I Kadek Erayanta dan anggota KJW (Kelompok Jurnalistik Warga Moding Kaja) antara lain Dek Yudi, Yarka Moni dan Agus Linuh. Mereka lalu mengajak kami menapak tilas perjalanan Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh yang konon dahulu kala "menitipkan" istri beliau kepada warga setempat di pesisir karena dalam kondisi hamil tua, sementara Ida Pedanda meneruskan perjalanan sucinya ke arah timur Pulau Bali.

Di atas tebing pantai ini ada sebuah candi kecil (tugu) bersudut tiga terbuat dari bata merah. Tugu inilah yang disebut Candi Kusuma, kemudian dipakai sebagai nama Desa Candikusuma. Candi ini konon dibangun oleh warga setempat pada tahun 1897 atas perintah pimpinan perkebunan Belanda yang bertugas di sana. Alasan membangun candi ini konon untuk tempat pemujaan, karena saat itu perkebunan Belanda di sana sering diganggu macan dan binatang buas lainnya, serta warga masyarakat sempat terkena wabah penyakit misterius (grubug). Konon sejak candi itu dibangun, keadaan kebun dan warga menjadi normal kembali. Sayangnya, candi yang asli sudah sempat dipugar entah oleh perintah siapa. Pemugarannya pun dilakukan secara amat buruk dan sembrono. Susunan batu bata asli yang tidak memakai perekat semen, justru sekarang disemen, lalu dikelilingi tembok beton yang juga asal-asalan. ????

Dari pantai Candikusuma kami menuju Dusun Moding. Di dusun yang terkenal dengan kebun vanili dan kakao ini kami mengunjungi rumah dan kebun petani setempat, Pak Ketut Sudomo. Pak Ketut Sudomo adalah salah seorang Petani Teladan Indonesia pada era 1990-an, yang telah banyak memberi inspirasi, pendampingan dan pelatihan serta menunjukkan keberhasilan pertanian kepada berbagai kalangan, termasuk menjadi "tempat belajar" bagi instansi-instansi berbagai pemerintah daerah, khususnya belajar tentang vanili dan kakao. Pak Ketut Sudomo juga adalah salah satu tokoh perintis kesenian Jegog di Banjar Moding.

Selanjutnya kami menuju rumah industri kreatif milik pionir Kelompok Wanita Tani (KWT) setempat. Rumah kreatif yang dikelola oleh Ibu Ayu ini bernama Coklat CK berada di tengah kebun. Di sini biji kakao hasil kebun di Banjar Moding diolah menjadi beberapa macam minuman coklat asli, camilan-camilan hingga coklat batangan. Pengolahan dilakukan dengan alat atau mesin manual serta dikemas secara kekinian di bawah binaan Bank Indonesia (BI). Rasa dahaga di siang yang tadi kebetulan cukup terik langsung terobati oleh jus coklat murni yang disajikan Ibu Ayu kepada kami semua.

Dari Rumah Coklat, kami menuju Dusun Senja yang berlokasi di Banjar Moding Kaja.

Di Dusun Senja, kami sudah ditunggu oleh ibu saya yang ditemani oleh Pak Agung Mang De dan istri, Gung Biyang Tami dan beberapa anggota STT Kusuma Bhakti Banjar Moding Kaja serta sahabat kami Made Suarbawa alias Made Birus dari Desa Tukadaya. Birus adalah penggerak Minikino dan pemilik "Rumah Baca Bali Tersenyum".

Di Dusun Senja kami makan siang dengan suguhan olahan tangan Agung Mang De, Agung Pekak Cakra, Gung Biyang Tami dan Gung Bagus berupa "lawar klungah" khas Jembrana, komoh (sup) daging ayam kampung dan ikan laut panggang, ditutup dengan secangkir kopi ditemani ketela dan pisang rebus.
Setelah obrolan singkat tentang apa dan bagaimana Dusun Senja ini dikelola, sekitar pukul 3 sore teman-teman dari BaleBengong bersiap kembali ke Denpasar dengan singgah dulu di Rompyok Kopi, di Negara.

Di Rompyok Kopi, sambil ngobrol tentang aktivitas sastra yang diselenggarakan Komunitas Kertas Budaya (sekarang menjadi Yayasan Kertas Budaya Indonesia), teman-teman BaleBengong khusus memesan Es Kuning dan Kopi Wanen, minuman dusun racikan Wayan Nanoq da Kansas yang satu-satunya di bumi itu. Haha.

Begitulah kisah kami melali ke dusun sepanjang hari ini, Sabtu 4 Februari 2023. Salam rahayu bagi kita semua.

Kopi Kintamani sudah dikenal luas, terutama dikalangan pecinta kopi. Saya sebagai bukan pengopi, tidak memiliki ketertarikan khusus dengan kopi, namun selalu tertarik mendengar dan belajar jika punya kesempatan. Dan kesempatan itu datang, ketika ada tawaran kepada kami di Minikino untuk ikut program melali ke Kintamani dari Bale Bengong. “Yes, saya meu melali!” jawab saya ketika diminta mewakili Minikino. Saya pikir melali ke Kintamani, lihat kebun kopi, ketemu petani kopi dan minum kopi, pasti akan menyenangkan dan menemukan banyak pembelajaran.

Buat saya sendiri, melali ke Desa bukan sesuatu yang asing, karena pada dasarnya saya orang desa yang melalinya di pangkung, sungai, kebun, sawah dan sekitarnya. Namun tentu saja memali saya adalah keniscayaan dalam hidup anak desa, tanpa konsep yang jelas selain melali itu sendiri, juga tanpa analisa dan simpulan. Di Minikino kami juga memiliki kegiatan ke desa-desa melalui program layar tancap dan workshop. Desa yang menjadi rekan berlayar tancap menjadi tujuan melali bagi tamu-tamu festival.

Melali Bersama Teman Baru dan Lama

4 Desember 2022, saya menuju markas Bale Bengong di Peguyangan Kaja, Denpasar Utara. Ini menjadi kali pertama berkunjung ke kantor mereka, sebuah tempat yang hijau dan terasa sejuk di pagi itu. Setelah diajak tour keliling dan naik turun bangunan yang menarik tersebut, saya tidak tau menyebutnya apa. Tapu ya, secara arsitektur bangunan ini sangat membuat saya senang, banyak angina, banyak cahaya, dengan struktur yang terasa unik. Tempat yang tenang di titik yang cukup sintru di pinggir Tukad Ayung.

“Hai halo apa kabar, jumpa lagi kita. Hi salam kenal, saya Birus dari Minikino. Halo saya asli Jembrana, Bali Barat”. Begitu kira-kira sapa-sapa saya bertemu teman lama dan baru di teras kantor Bale Bengong yang sangat rumahan itu. Sambil menunggu bus yang akan mengangkut, kami menikmati kudapan pagi, teh kopi dan secercah terang penjelasan mengenai program melali kita hari itu, dari Luh De Suriyani the mother of melali kita, dan ada juga Iin dan Juni yang kelihatannya sibuk mengatur segala sesuatunya.

Kami kemudian berjalan menuju titik temu dengan bus, yang sopirnya khawatir jalannya terlalu sempit untuk kendaraannya yang agak bongsor. Kami dengan riang memulai perjalanan itu. Saya lupa apakah ada sesi menyanyi bersama sehingga kami begitu gembira dalam bus tersebut. Yang teringat, bahwa kami dipandu untuk memperkenalkan diri lebih jauh, tentang siapa dan apa aktivitas masing-masing. Saya jadi tau, dalam perjalanan itu saya bersama dosen, pegiat lingkungan, fotografer, pengusaha perjalanan, pebisnis kuliner dan ya, rame lah ya.

Perjalanan kami agak tersendat di Petang - Badung, kurang lebih lima kilometer sebelum mencapai jembatan Tukad Bangkung, karen tidak satupun POM Bensin yang memiliki stok solar untuk mengisi bus kami. Saya berpikir, seandainya bus itu bisa hybrid, bisa isi solar tapi juga bisa isi bensin atau kalau semua bahan bakar langka bisa dengan listrik. Sambil duduk menonton rombongan pesepeda yang melintas di jalan, saya merenung, “Berharap ada stok solar di POM Bensin itu adalah kesalahan. Mungkin mereka hanya khusus jual bensin. Tapi bensin juga tidak ada, sudah ganti perta”.

Akhirnya perjalanan kami berhasil dilanjutkan dengan berganti kendaraan, dan mulailah perkenalan saya dengan Dek Pong yang datang menjemput kami. Dia adalah tokoh utama dalam program melali ke desa Mengani – Kintamani. Seorang petnai muda yang memiliki dedikasi pada kopi Kintamani, mulai dari menanam hingga memasarkan hasil olahan siap konsumsi.

Melali, Kintamani, Kopi dan Mengani

Beberapa kali ke Kintamai tujuan saya bertemu petani jeruk dan sekali pernah bermalam di dekat danau bersama petani tomat dan bawang. Kali ini menjadi pengalaman pertama bertemu kebun kopi kintamani yang sudah begitu sering saya dengar. Kenangan tentang kebun kopi bagi saya adalah kebun kopi Kumpi di Tukadaya – Jembrana. Kebun seluas sekitar 10 are di pinggir Tukad Brangbang, yang hari ini telah berganti dengan pohon jati dan sengon.

Di Mengani kami disambut hidangan bubuh nasi dengan lawar nangka dan kuah ayam kampung bumbu Bali. Dihangatkan matahari pagi dalam sejuk angina Kintamani, kami menikmati sarapan sambil berkenalan lebih lanjut dengan tim Mengani yang akan memandu kami melali-lali di desa mereka. Tim kecil tersebut, terdiri dari anak-anak muda desa yang merupakan alumni program pelatihan jurnalisme warga oleh Bale Bengong. Melihat suasana hari itu, saya mendapat validasi bahwa jurnalisme warga bukan sekedar soal memberitakan oleh warga biasa, tapi memiliki fungsi pemberdayaan yang sangat kuat.

Dari titik sarapan di jaba sisi Pura Desa/Pusah Mengani, kami berjalan menuju tempat persemaian kopi. Berpapasan dengan beberapa perempuan yang mengusung keranjang penuh pupuk kandang. Di persemaian kami menyaksikan deretean bibit kopi yang beberapa minggu lagi siap ditanam di kebun. Pembibitan ini bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan petani Kopi Mengani, tetapi merupakan sebuah unit usaha pembibitan yang memasok kebutuhan bibit unggul Kopi Kintamani.

Berpindah ke kebun. Ternyata kebun milik Dek Pong tidak hanya ditanami kopi, namun tumpang sari dengan jeruk dan ada pula pohon durian. “Biar ada hasil lain. Kalau hanya kopi kan kita tidak dapat hasil sepanjang tahun.” Kata Dek Pong mengomentasi konsep tumpang sari di kebunnya. Dia juga menjelaskan bahwa hasil kopi dari kebunnya telah diolah dan dijual langsung pada konsumen baik di Indonesia dan di luar negeri. Namun persoalannya kemudian adalah, jumlah produksi kebunnya yang terbatas sehingga tidak mampu memasok secara konsisten sepanjang tahun.

Setelah makan siang dikebun kopi, kami kemudian menuju “pabrik kopi” milik Dek Pong di rumahnya. Di tempat itu tampak sarana penjemuran kopi yang mengalami kerusakan Karena diterjang angina. Di dalam rumah, ada pulah mesin sangria, penggilingan dan alat packing. Hari ini Dek Pong dan Istrinya mempresentasikan proses penggilingan kopi dan kami diberi kesempatan untuk ikut dalam proses pengemasan bubuk kopi.

Kopi Kintamani dan Identifikasi Geografis

Merujuk pada website DGIP Dirjen (https://ig.dgip.go.id/detail-ig/5#karakteristik ) Kekayaan Intelektual Kemkumham, karakteristik Kopi Kintamani adalah jenis Arabica yang ditanam di dataran tinggi Kitamani pada ketinggian di atas 900 m dpl atau lebih tinggi.

Berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) Biji kopi Kintamani Bali mutu 1 adalah biji dengan nilai cacat fisik kurang dari 5 per 30 gr. Sedangkan berdasarkan Standar Coffee of America (SCAA) adalah diukur dari kadar air biji kopi maksimum 12 %, dengan biji kopi berwarna  hijau keabu-abuan, diameter  16 mm atau lebih besar. Profil cita rasa Kopi Kintamani adalah bebas dari cacat cita rasa, rasa asam bersih dari tingkat sedang sampai tinggi , rasa pahit yang yang tidak terdeteksi, mutu dan intensitas aroma yang kuat, kadang ada rasa buah khususnya jeruk peras.

Kendati namanya adalah Kopi Kintamani, berdasarkan Indentifikasi Geografis, Kopi Kintamani tidak hanya kopi yang ditanam di kawasan Kintamani, Kabupaten Bangli. Batas wilayah identifikasi ini mecakup kawasan yang terletak diantara gunung Batur dan Gunung Catur. Secara administratif kawasan ini mencakup 16 desa di Kecamatan Kintamani, Kubutambahan, Sawan dan Petang yang masuk dalam wilayah tiga kabupaten yaitu Bangli, Buleleng dan Badung.

Singaraja, kota dengan sederat tempat dan bangunan bersejarah. Jika memang ingin jalan-jalan berkeliling, rasanya sepeda menjadi sarana yang paling tepat. Kalau memaksakan dengan jalan kaki, jangkauannya akan terlalu pendek. Misalnya dari Tugu Singa Ambara Raja menuju Pelabuhan Buleleng, mungkin sudah nyerah ketika sampai di Jalan Pramuka.

Hal menarik dilakukan para penghobi sepeda di Buleleng pada Sabtu, 6 Agustus 2022. Mereka melaksanakan acara Kopdar (Kopi darat) Bike, dengan mengusung tema Selusur Heritage Kota, yang dikaitkan dengan Bulan Kemerdekaan RI ke-77.

Rute yang dipilih adalah jalan di tengah Kota Singaraja dan melintasi bangunan-bangunan tua dan bernilai sejarah. Start dimulai dari Danke Cafe di Jalan Udayana - Jalan Ngurah Rai - Jalan Pramuka - Jalan Diponogoro - Jalan Erlangga - Pelabuan Tua Buleleng - Jalan Imam Bonjol - Jalan Gajah - Jalan Veteran - Jalan Ngurah Rai dan kembali ke Jalan Udayana.

Jalan-jalan protokol di tengah Kota Singaraja, merupakan jalan yang telah berumur tua, yang merupakan jalan peninggalan Belanda. Menyusuri jalanan tersebut, untuk mengenal kembali tata kota Singaraja yang telah dibuat sejak masuknya Belanda ke Buleleng. Di sepanjang jalan ini banyak ditemukan bangunan tua yang masih kokoh dan masih tetap difungsikan.

Melintasi jalan Pramuka, di sana terdapat bangunan utama SMA Negeri 1 Singaraja, yang merupakan karya arsitektur jaman Belanda. Selanjutnya menuju Pelabuhan Tua Buleleng, di mana terdapat bangunan Museum Soenda Ketjil. Di jalan Imam Bonjol, peserta melintas di depan Masjid Agung Jami’ Singaraja. Melintasi sepanjang jalan Gajah Mada, bisa menyaksikan banyak bangunan-bangunan tua, seperti di sekitar SMP Negeri 1 Singaraja dan Gardu Listrik Kolonial yang telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya.

Mengayuh ke arah selatan yang perlahan menanjak, di jalan Veteran peserta melintasi Perpustakaan Lontar Gedong Kirtya, dan juga dapat menemukan SD Negeri 1 Paket Agung yang merupakan Sekolah Rakyat pertama di Buleleng. Sekolah ini adalah tempat mengajar Raden Soekemi, ayah dari Proklamator Indonesia, Ir. Soekarno. Kemudian memutar kembali ke arah utara, setelah melewati Tugu Singa Ambara, di jalan Ngurah Rai terdapat Rumah Soenda Kecil dan Kamar Bola.

“Rutenya lumayan melelahkan, terutama ketika kita melintasi jalan Gajah Mada, saya kira itu jalan yang lurus dan datar, ternyata menajak halus, cukup bikin ngos-ngosan gowes pedal,” Kata Hary Sujayanta, peserta Kopdar Bike yang penuh semangat.

“Ternyata banyak yang belum saya ketahui tentang Kota Singaraja. Dari acara ini ada pengetahuan baru yang saya dapat. Paling menarik itu ya, bangunan Kamar Bola yang katanya dulu Ballroom yang menjadi tempat dansa orang Belanda. Saya kira hanya sekedar bangunan tua milik TNI,” ujarn Kadek Yudha Prasertya, salah satu pesepeda yang ikut dalam Kopdar Bike kali ini.

Koordintor acara Kopdar Bike 2, Bagus Jayantha, menyampaikan bahwa acara Kopdar Bike ini dirancang bukan sekedar kumpul pesepeda lalu gowes bareng saja, tetapi juga berusaha untuk selalu memberikan informasi tentang Singaraja.

“Kali ini rutenya sengaja dipilih yang punya history kuat. Apalagi sekarang kan bulan Agustus, Bulan Kemerdekaan. Cara inilah yang kami gunakan untuk merayakannya,” ungkap Bagus Jayantha yang merupakan owner Danke Café, yang ditemui di sela-sela acara.

“Kita tidak bicara biar sehat, itu cuma bonus. Tapi yang lebih penting, orang semakin ramai yang mengunakan sepeda bukan cuma untuk olah raga, tapi juga untuk aktifitas keseharian” imbuh Bagus.

Kopdar Bike yang rencananya menjadi event bulanan ini, diinisiasi oleh tiga tempat nongkrong di Buleleng, yaitu Kedai Kopi Dekakiang, Danke Cafe dan Angkringan Mula Keto.

Pada bulan pertama Kopdar Bike di Bulan Juli 2022 lalu, rombongan Kopdar Bike menempuh jalur pendek ke wilayah barat dan memilih rehat di Pantai Penimbangan. Menurut cerita, pantai Penimbangan adalah tempat Raja Buleleng Ki Barak Panji Sakti menyelamatkan perahu saudagar Tiongkok yang karam. Di sanalah beliau memperoleh hadiah sepasang Gong Jegir. Kini salah satu gong itu tersimpan di Pura Pejenengan desa Panji, dan satu lagi tersimpan di Pura Bale Agung desa Menyali.

Sampai jumpa di Kopdar Bike mendatang.

Dalam catatan benak saya, Covid-19 yang merebak di Indonesia awal tahun 2020 menjadi hantaman paling telak bagi sektor pariwisata Bali, setelah kejadian bom tahun 2002 yang menelan korban jiwa 202 orang. Btw, saya tidak akan membahas fenomena angka 2 dan 0.

Namun demikian situasinya, di tahun 2021, usaha wisata masih menjadi impian besar. Sebuah gambaran indah untuk meraup untung dari upaya memenuhi hasrat berlibur, melepas penat dari rutinitas, menikmati keindahan alam, menambah pengetahuan atau sekedar piknik keluarga dan swafoto dari para pelancong.

Saat usaha wisata terjatuh ke titik bawah, beberapa titik daya tarik wisata malah terus dikembangkan oleh Pokdarwis di Kabupaten Jembrana. Sebut saja kawasan Karang Impian yang mulai aktif, Munduk Nangka yang cukup ramai dikunjungi, Belimbing Sari, Ambenan Ijogading Loloan Timur, Pokdarwis Gumrih juga menggeliat, wisata mangrove di Prancak dan Budeng juga mulai berpromosi di tahun 2020.

POKDARWIS - Kelompok Sadar Wisata

Kelompok sadar wisata atau Pokdarwis, terdengar aneh di telinga Ibu saya. Setelah obrolan sore bersama beberapa kawan, dia bertanya. "Siapa itu Pak Darwis, kenapa ngobrolnya tentang Pak Darwis dan Pak Merkus?" Hem, mau ngakak takut dosa, karena katanya surga ada di bawah telapak kaki Ibu.

Pak Darwis hanya fenomena salah dengar sebagai kosakata baru bagi Ibu saya. Namun pak Merkus, adalah fenomena yang terkait hutan, sawah dan petani di desa kami. Tapi maaf saya akan bahas tentang Pak Merkus lain kali saja.

Kembali ke Pokdarwis. Karena obrolan sore itu, saya ikut sadar karena ada kesadaran baru tentang wisata, dan ada kesediaan untuk berdiskusi, menumpahkan gagasan dan mimpi.

Pada dasarnya Pokdarwis dibentuk dan dijalankan sebagai penyangga aktivitas kewisataan yang ada di sebuah desa atau kawasan. Pokdarwis menjadi gerakan swakarsa yang diharapkan dapat menjamin kesadaran masyarakat akan keutuhan destinasi dan usaha-usaha wisata di kawasan tersebut, yang mengacu pada konsep sapta pesona.

Lalu bagaimana jika kesadaran Pokdarwis muncul di desa yang belum memiliki objek daya tarik wisata? Maka kelompok yang menghimpun diri akan menjadi pembuka jalan menuju kemunculan sebuah daya tarik wisata. Tentu ini menjadi tantangan tersendiri. Bagaimana impian dapat terjadi dan menapak ke tanah, bukan menjadi impian yang melayang di awang-awang dengan ingin menciptakan Ubud baru, Kuta yang lain, Tegalalang yang baru atau dan atau.

Kalau kita lihat; Kuta, Ubud, Tegalalang, awalnya hadir seperti apa adanya, hingga kapital mengupgrade mereka menjadi seperti sekarang dengan segala perhiasan dan lipstiknya yang membuat kecantikan aslinya tergerus; atau mereka memang mulai menua.

Dengan membaca kebutuhan wisata adalah lebih utama untuk memenuhi hasrat kesenangan, maka sesuatu yang menua dan membosankan akan segera ditinggalkan. Saya rasa kita butuh gerakan membangun wisata anti-aging, agar gerakan Pokdarwis baru, nantinya akan terhindar dari penuaan dini dan terjadinya ejakulasi dini yang membuat semangat mereka letoi di tengah jalan.

Sadar Wisata dan Wisata Sadar

Pokdarwis di Jembrana hadir untuk memberikan solusi bagi pengembangan potensi desa secara mandiri, sekaligus sebagai jawaban atas kesadaran dan kebutuhan berwisata dari masyarakat lokal.

Perlu disadari pula bahwa kebutuhan berwisata adalah kebutuhan tersier, yang artinya merupakan keputusan ke sekian dari berbagai hal yang harus diputuskan terlebih dahulu. Misalnya antara mencoba mengendarai ATV dibandingkan beli beras.

Pembangunan sektor wisata hendaknya memikirkan tingkat kebutuhan masyarakat yang penting, lebih penting, sangat penting dan mendesak. Jangan sampai membangun ketika ada janji pundi-pundi dari wisata. Menjaga kebersihan hanya karena agar wisatawan terhibur, jalan baru diperbaiki ketika ada investor buka sarana wisata, eksploitasi seni dan budaya hanya untuk wisata.

Setelah program sadar wisata, perlu dikembangkan program wisata sadar; baik itu oleh pemangku kebijakan, pemerintah desa dan masyarakat. Kembangkanlah sadar merawat pertanian, sadar memelihara hutan, sadar kebersihan dan kesehatan lingkungan, sadar melakoni seni dan budaya serta sadar-sadar lainnya, yang bukan hanya selogan kampanye belaka.

Sebagai contoh; ketika kesadaran memelihara hutan terjadi maka air kita terjaga, pertanian terairi, pangan kita aman, anak kita bisa sekolah, dan hutan lestari akan menjadi kawasan wisata yang menarik; mulai dari penjelajahan alam, kemping, pengamatan satwa, permainan luar ruang dan sebagainya.

Sadar bahwa apa yang kita lakukan adalah untuk diri kita, maka kita akan senang dan aura positif akan menyebar, sehingga orang akan datang untuk bersenang-senang bersama kita. Itulah wisata.

Ayunan Bali atau Bali Swing dalam Bahasa inggris, menjadi kata kunci yang populer dalam dunia perwisataan Bali. Bali Swing menyusul kepopuleran wisata selfie yang menjamur beberapa tahun terakhir ini. Demikianlah adanya, ketika sebuah produk populer dan diburu wisatawan, maka setiap yang merasa mampu menyediakan produk sejenis akan segera menyusul, agar bisa turut menyesap tetesan manis madu wisata.

Ayunan sejatinya bukan mainan baru di Bali. Tradisi mayunan (meayunan) bahkan menjadi bagian ritual di beberapa desa tua Bali. Sebut saja desa Tenganan di Karangasem, atau Desa Tua di Marga, Tabanan.

Anak-anak jadul ataupun anak-anak milenial pasti mengenal permainan ayunan, sesuai dengan tradisi masa kecil mereka. Saya yang lahir di desa tahun 80an, menikmati ayunan yang dipasang di bawah pohon jeruk bali yang rindang, atau menggunakan tanaman merambat di bawah pohon besar di pinggir sungai. Anak perkotaan sekarang umumnya mengenal ayunan di playground taman kota atau di sekolah PAUD.

Ayunan juga biasa digunakan untuk bayi. Ayunan bayi dibuat dari anyaman bambu atau rotan seperti membuat keranjang, atau dari kain dengan bingkai kayu. Ayunan bayi biasanya dipasang di jineng atau lumbung padi, yang sangat membantu para Ibu menidurkan bayinya pada siang hari.

Bali Swing (Ayunan) dan Wisata Bali

Wisata Bali telah bergulir dan melalui rentang waktu yang panjang. Bergerak terus seakan tidak bisa dihentikan, memasuki tiap sisi alam dan masyarakat Bali. Di beberapa sisi cenderung tidak bisa dikendalikan, walaupun kelihatannya ada yang mengendalikan.

Kembali ke fenomena Bali Swing yang menjadi nuansa baru industry pariwisata Bali. Rupa-rupanya menyusup juga ke desa di Bali Barat. Saya menemukan beberapa foto yang diunggah di akun sosial media teman saya, sebut saja Wayan Nano. Rupanya dia bersama rekan-rekan sepemikiran, tergabung dalam kelompok sadar wisata (Pokdarwis) PASSIH (Pariwisata Sumbersari Harmoni) dan tengah membangun sebuah wahana wisata. Rupanya mereka serius, karena secara berkala mengunggah foto kegiatan gotong-royong mereka.

Untuk mengobati penasaran, saya kemudian mengunjungi tempat yang sedang mereka tata, di pinggir pantai Sumber Sari, Desa Melaya, Jembrana. Di atas lahan kurang lebih 20 are, yang terletak persis di atas batu karang di bibir pantai, dengan beberapa batang pohon jati yang sedang meranggas karena musim kemarau yang panjang, kelompok ini membuat sebuah ayunan menghadap ke pantai. Pantai ini sesungguhnya sudah lebih dahulu dikenal masyarakat sebagai pantai karang impian, di mana fotografer sering melakukan pemotretan.

Anak Desa dan Potensi Desa

bali swing sumbersari

Saya mengunjungi mereka pada hari sabtu. Anggota Pokdarwis PASSIH sedang berbagi tugas. Sebagian memasang atap dari daun kelapa kering pada sebuah bale bengong yang memanfaatkan empat batang pohon jati sebagai tiang. Sementara beberapa orang lainnya sedang menggarap batang pohon besar, yang dijadikan papan sebagai bahan meja.

Saat ngobrol santai, dengan tiga anggota Pokdarwis PASSIH sambil makan sambal dengan ikan bakar dan nasi putih di warung lesehan setempat, saya menangkap gairah yang sedang hangat di antara mereka. Tut Banda, pelaku pariwisata yang juga berpengalaman menjadi kelian adat, Tu Ebeng yang mengaku lebih suka bekerja bebas dengan gairah musik dan kepedulian pada isu lingkungan, dan Wayan Nano yang saya kenal sebelumnya sebagai editor video dan trader online, yang kini memutuskan untuk merdesa.

Mereka bercerita, areal swing di atas karang impian pantai Sumbersari, merupakan langkah awal yang instan, menuju proses penggalian potensi lain yang dimiliki Sumbersari. Hal instan dibutuhkan guna memicu kepercayaan, bahwa apa yang mereka lakukan tidak sia-sia, akan ada hasil, karena tidak semua orang memiliki wawasan jauh ke depan seperti pentolan-pentolan PASSIH. Butuh pembuktian secepat mungkin, karena Sumbersari bukan Ubud atau Bedugul yang telah menjadi bulan-bulanan wisatawan. Jembrana hanya menjadi jalan bebas hambatan, bagi puluhan bus wisata dari Jawa menuju Denpasar dan Badung, menjadi perlintasan turis dari Kuta menuju Ijen atau G-land, Pantai Pelengkung, Banyuwangi.

Swing & Camping Ground

sumbersari

Sebagai alternatif bagi pengunjung yang ingin menikmati suasana pantai Sumbersari lebih lama, areal yang dikelola Pokdarwis PASSIH, diperuntukkan pula untuk kegiatan berkemah. Ini menjadi kombinasi yang menarik; swing sebagai pemantik, pantai karang impian sebagai potensi alam yang sudah dikenal dan camping ground.

Sebagai anak-anak muda, mereka mengandalkan energi muda mereka serta wawasan kekinian terkait perkembangan dunia pariwisata. Termasuk juga kedekatan mereka dengan teknologi informasi yang tidak bisa dipisahkan dengan perkembangan ekonomi dan industri  saat ini, yang katanya ada di titik 4.0. Gagasan-gagasan segar inilah yang menjadi proposal kuat, sehingga mendapat sokongan dari tokoh-tokoh setempat, seperti Penasehat Pokmas pak Ketut Pasek dan Pak Kamto selaku pemilik lahan, di mana lokasi swing dan camping ground berada.

Ketika areal swing dan camping ground ini berjalan, mereka merencanakan pergerakan selanjutnya adalah menggarap potensi di lingkungan desa, menyiapkan sebuah konsep terpadu wisata perkebunan; di antaranya kakao, pisang, pepaya dan kelapa, dengan aktivitas masyarakat dalam mengolah hasil kebun menjadi produk gula kelapa, sabun dan virgin coconut oil (VCO). Potensi-potensi tersebut sesungguhnya sudah berjalan dengan sendirinya, tinggal kemudian ditata dan dikemas dengan rapi agar tampak manis, sehingga semut-semut wisata akan segera merubung. Semoga bukan semut gatal yang membuat alergi.

Desa dan Masa Mendatang

bali swing sumbersari

Sumbersari memiliki bentang alam yang lengkap. Dari pantai hingga hutan yang berbatasan langsung dengan kawasan penyangga Taman Nasional Bali Barat. Ini menjadi potensi sekaligus tantangan. Jika benar dalam pemanfaatannya, maka akan memberikan manfaat yang besar bagi kehidupan masyarakat setempat.

Yang sering terjadi, sebuah kawasan digempur dengan perubahan demi parawisata, namun masyarakat setempat tidak pernah siap atau disiapkan untuk menghadapinya, yang kemudian hanya membiarkan mereka menjadi penonton yang hanya menerima remah bahkan sekedar limbah dan sering menjadi gerah.

Rintisan Pokdarwis PASSIH, yang tampak penuh gairah dan gigih, di pantai yang bukan berpasir putih, saya rasa akan menjadi pondasi bagi penyiapan masyarakat dan lingkungan, ketika suatu saat – beberapa penginapan dan villa yang kini telah ada mungkin akan ketambahan oleh resort –  mereka tidak dicaplok secara kejam.

Pantai Sanur merupakan kawasan wisata Bali dengan suasana yang tenang dan nyaman untuk bersantai. Terletak di sisi timur kota Denpasar, sehingga kita dapat menikmati matahari terbit yang indah. Pantai dengan pasir putih yang eksotik, pohon-pohon yang rindang membuat kita bisa menikmati kesejukan angin. Dengn duduk-duduk sambil menikmati hidangan kaki lima adalah salah satu cara menikmati Sanur. Ada jagung bakar, sate ikan, bubur Bali atau lumpia yang banyak dijajakan di sepanjang pantai.

Sebagai desa nelayan dan juga titik penyebrangan ke pulau Nusa Penida, pesonanya masih bertahan dengan karakteristik dan nuansa yang tenang dapat terus menarik pengunjung untuk kembali datang, di mana sebagian besar berasal dari Eropa.

Pantai Sanur Bali Beach Memancing di Pantai Sanur

Pantai sanur memiliki karakter yang berbeda jika dibandingkan dengan pantai di selatan Bali. Seperti Kuta atau Seminyak, yang menjadi surga bagi para peselancar. Ombak pantai sanur yang cukup tenang, meberikan kita kesempatan untuk menikmati aktivitas bersama keluarga. Aktivitas yang banyak ditawarkan untuk wisatawan di antaranya; tour dengan sepeda di sepanjang pantai, tour dengan perahu nelayan, memancing, bermain kano, snorkeling, sea walker hingga diving.

Industri Pariwisata Pantai Sanur

Industri pariwisata pantai Sanur dimulai sekitar tahun 1950an, dengan berdirinya Hotel Segara Beach oleh pionir pariwisata Bali Ida Bagus Kompiang. Dimana suasana pantai Sanur saat itu masih diliputi semak belukar, tanpa listrik dan infrastruktur lainnya sebagaimana yang kita saksikan saat ini.

Pantai Sanur Bali Beach Hotel Bali Beach Hotel yang diresmikan tahun 1966

Jika ingin napak tilas nuansa pariwisata sanur, kita bisa melihat bangunan monumental berlantai sepuluh, milik Bali Beach Hotel atau saat ini bernama Inna Grand Bali Beach. Pemerintah Soekarno saat itu mengakuisisi Hotel Segara Beach dan mulai mengembangkan pembangunan hotel baru. Pada tahun 1966 hotel baru tersebut kemudian diresmikan dan dikenal sebagai Bali Beach Hotel.

Hotel lain yang masih menyimpan sejarah panjang perkembangan wisata Sanur adalah hotel Tandjung Sari. Hotel Tandjung Sari dirintis sekitar tahun 1962 – 1963. Tandjung Sari Hotel masih mempertahankan nuansa tahun 60an pada setiap bungalownya hingga saat ini.

Pantai Sanur Bali Beach Perahu Nelayan yang siap mengantar wisatawan tour.

Bersama bergeraknya waktu, Pantai Sanur semakin terkenal dan mendorong pertumbuhan industri pariwisatanya. Perpaduan beragam restoran, toko-toko souvenir, bar dan berbagai tempat wisata yang inovatif dan modern menghiasinya saat ini. Namun demikian, Sanur tetap dikenal karena suasananya yang santai. Kehidupan masyarakat yang masih mempertahankan kekayaannya dalam seni dan budaya, menjadikannya sebagai tujuan ideal untuk menikmati nuansa klasik dan kontemporer.