Dongeng sebelum tidur itu penting. Paling tidak itu kata survei yang saya lakukan melalui story Instagram @idBaliTersenyum, sehari menjelang perhelatan Cerita Rasa Festival yang dilaksanakan pada hari Sabtu, 30 Juli 2022. Menanggapi pernyataan “Mendongeng untuk anak”, 94% responden menyatakan penting, 6% menyatakan tidak sempat dan 0% jawaban untuk pilihan tidak penting dan buang waktu. Menurut kalian, pentingkah dongeng sebelum tidur untuk anak-anak?
Cerita Rasa Festival mengedepankan storytelling dalam program-programnya, selain film, seni dan budaya, yang kesemuanya membutuhkan penceritaan yang baik, jika ingin mengkomunikasikan ide kepada orang lain.
Kegiatan ini adalah rintisan festival pedesaan untuk merayakan cerita, cita rasa dan mempromosikan kepedulian lingkungan, budaya dan kemanusiaan. Cerita Rasa digagas dan diselenggarakan oleh Bali Tersenyum, sebuah sanggar literasi di desa Tukadaya, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana.
Ketika 6% responden menyatakan tidak sempat membaca dongeng untuk anaknya, lalu apakah 94% dari mereka yang menyatakan mendongeng itu penting, telah memiliki waktu untuk membaca dongeng sebelum tidur bagi anak-anak mereka? Untuk menjawab ini, dibutuhkan survei yang lebih detail dan dilakukan oleh mereka yang lebih berkompeten dari pada saya yang suka main-main dan berimajinasi saja.
Di lingkungan dekat saya, terutama generasi seusia, kebanyakan enggan mendongeng untuk anaknya karena tidak tau dongeng yang cocok dibacakan sebelum tidur atau merasa tidak bisa mendongeng. Sikap dan paradigma ini, cukup mengkhawatirkan akan menurun pada anak-anak mereka, karena anak-anak mencontoh orang tuanya. Memberikan satu jawaban untuk persoalan keengganan itu, Cerita Rasa mengemas Pentas Cerita yang mengetengahkan pentas mendongeng dan membaca cerita.
Membaca cerita dibawakan oleh Ayu Nila, remaja Tukadaya yang baru menamatkan sekolah SMK Pariwisata. Nila tampil membaca dongeng Padi dan Hama Wereng, dari buku karya Made Taro yang berjudul Kumpi Mangku Mendongeng. Sesi ini memberikan pilihan cara bercerita, jika tidak menguasai cerita diluar kepala, lakukan dengan membaca. Membaca di depan anak-anak, tentu akan menjadi contoh yang sangat baik bagi perkembangan anak-anak.
Sesi mendongeng dibawakan oleh Melany, dengan dongeng klasik Burung Merpati dan Semut. Dengan penampilan atraktif, permainan tempo dan intonasi yang baik, Melany yang juga seorang guru Sekolah Dasar, mampu mengajak penonton untuk turut hanyut bersama semut dan terbang bersama burung merpati.
Sebelum memulai mendongeng, Melany sempat memberikan gambaran apa itu dongeng dan bagaimana kemudian ia bekerja mengasah imajinasi anak-anak pendengarnya. Saya juga sepakat dengan pernyataannya bahwa dengan mendongeng bagi anak-anak kita, kita juga sedang merangsang minat baca.
Ketika imajinasi anak-anak mulai tumbuh, maka minat mencari tau akan tumbuh. Lalu ke mana mereka akan mencari selain dengan membaca? Kendati saat ini ada media audio visual yang mendominasi kehidupan anak-anak yang lahir bersama gadget.
Ketika kita berusaha dan bicara tentang meningkatkan minat baca, maka ada kewajiban lain, yaitu memberi contoh dan memberi fasilitas berupa buku bacaan yang cukup dan layak sesuai perkembangan usia anak-anak.
Demikian dongeng saya kali ini. Salam literasi!
Sebelumnya terbit di tatkala.com
Cita Rasa Festival Jembrana adalah sebuah cita-cita. Sebuah rintisan festival desa untuk merayakan cerita, cita rasa dan mempromosikan kepedulian lingkungan, budaya dan kemanusiaan. Cerita Rasa Festival Jembrana digagas dan diselenggarakan oleh Bali Tersenyum, sebuah sanggar literasi di banjar Brawantangi Taman, Desa Tukadaya.
Cerita Rasa dilaksanakan selama satu hari, pada Sabtu, 30 Juli 2022 mulai pukul 12:00 hingga 21:00 wita. Event rintisan festival desa ini dijadikan ruang untuk bersama-sama saling mendengar, merasakan, berbagi dan mendokumentasikan cerita, rasa dan peristiwa, bertempat di halaman Rumah Baca Bali Tersenyum.
Ide awal dari rintisan kegiatan festival desa ini, datang dari rencana pemutaran film pendek yang diproduksi Sanggar Bali Tersenyum, untuk ditonton bersama kru dan pemain yang berasal dari desa setempat. Film tersebut berjudul @ItsDekRaaa yang mengambil lokasi syuting di Banjar Pangkung Jajang, Desa Tukadaya pada bulan November 2021. Pemutaran film inilah yang kemudian menjadi puncak acara, yang diawali dengan presentasi kuliner, pelatihan fotografi, melukis bersama, dan pentas cerita.
Hal yang khas di Jembrana adalah pemanfaatan sisa pembuatan minyak kelapa menjadi menu masakan yang khas, dan enak. Makanan itu terbuat dari sisa rebusan santan setelah minyaknya dipisahkan, yang disebut roroban. Roroban kemudian ditambahkan dengan bumbu bali dan direbus beberapa saat, maka jadilah kuah kental yang gurih.
Kuah tersebut kemudian dicampur dengan berbagai jenis sayuran rebus, yang kemudian disebut jukut serapah. Lauk ini umumnya disajikan dengan lontong, sehingga dikenal sejagat sebagai lontong serapah khas Jembrana.
Keberadaan lontong serapah sudah mulai jarang ditemukan di Jembrana. Hal ini disebabkan oleh sudah jarangnya pembuatan minyak kelapa tradisional dilakukan oleh masyarakat setempat. Seperti kita tahu, minyak kelapa sudah di gantikan oleh minyak sawit kemasan.
Kamera sudah lekat dengan remaja kita, karena setiap smartphone sudah dilengkapi dengan kamera yang bagus. Hal itu mendorong pelaksanaan pelatihan fotografi bagi remaja, guna memperkenalkan dasar-dasar fotografi, memperkenalkan profesi fotografer dan bagaimana usaha foto & video itu berjalan.
Yang unik dari program pelatihan fotografi di Cerita Rasa Festival adalah, peserta diajak untuk memotret tanpa kamera. Aktifitas ini adalah untuk mengasah kesadaran visual, mengenai apa yang dilihat, apa yang menarik dan bagian mana dari objek foto yang akan diambil. Kesadaran visual inilah yang akan menjadikan foto yang diambil memiliki makna dan cerita, dan menjadi jalan menuju jenjang dari sekedar “tukang cekrek aplud” menjadi fotografer.
Selain itu, peserta juga mendapat cerita dari dua orang pengusaha foto dan video di Jembrana, yaitu Dwi Artawan pemilik Relief Studio dan Komang Triadi pemilik Candra Photography studio. Mereka berdua memberi semangat pada peserta, bahwa segala sesuatu harus dimulai dari nol. Dan jika memiliki semangat, maka nol akan bergerak menjadi satu, dua, dan seterusnya, tergantung pada semangat belajar masing-masing.
Menggambar bersama dalam Cerita Rasa kali ini, diikuti oleh tidak kurang dari tiga puluhan anak. Mereka datang dari beberapa banjar di Desa Tukadaya, dan ada juga dari desa sekitarnya. Program melukis ini merupakan ruang bermain dan belajar bagi anak-anak. Kegiatan ini, lebih ditujukan sebagai momen beraktivitas bersama, baik itu kerjasama antar anak-anak dan juga pendampingan oleh orang tua.
Setelah kurang lebih dua jam, karya anak-anak kemudian dipajang sebagai sebuah pameran bersama. Setiap anak kemudian bertindak sebagai juri, bagi lukisannya sendiri dan lukisan kawan lainnya. Mereka berhak memilih tiga lukisan yang menurut mereka terbaik, terbagus, atau yang mereka suka.
Aktivitas menjuri ini, dijadikan ajang bagi anak untuk mepresentasikan karya pada teman-temannya. Di sini anak-anak juga berkesempatan mengapresiasi dan menunjukkan aspirasinya dalam memilih karya terbaik versi mereka sendiri.
Dalam sesi menggambar ini, kami mengundang perupa muda asal desa Tukadaya, Wayan Wasudewa, yang banyak bermain-main di ranah mural dan tato. Kehadiran Wayan yang dikenal dengan sign WSDW menjadi sebuah gambaran tentang jalan berkesenian.
Secara tidak langsung, kehadiran orang dewasa yang melukis bersama anak-anak menjadi role model bagi mereka, yang selama ini hanya mengetahui menggambar adalah sempilan pelajaran di sekolahnya. Di sini mereka akan tahu bahwa seni juga bisa menjadi profesi, dan ada sekolahnya hingga perguruan tinggi. Ada juga orang yang memilih berkesenian sebagai jalan hidupnya.
Mesatua atau mendongeng merupakan pola penanaman nilai-nilai kehidupan yang sangat penting di dalam keluarga. Cerita rasa menghadirkan program pentas cerita, berupa mendongeng dan membaca cerita. Malam itu, tampil Ayu Nila yang membaca cerita dari buku karya Made Taro, sebuah dongeng berjudul Padi dan Hama Wereng, dan juga Melany yang mendongeng tentang balas budi semut pada burung merpati.
Dua konsep bercerita yaitu membacakan cerita dari buku dan bercerita secara hafalan sengaja ditampilkan di Cerita Rasa Festival Jembrana. Hal ini untuk memberi gambaran, bahwa bercerita tidak melulu menghafal diluar kepala, tapi bisa juga dengan membaca dari buku. Program ini ditujukan untuk memancing kembalinya minat orang tua bercerita atau mendongeng untuk anaknya. Yang juga semoga dapat meningkatkan minat baca di dalam keluarga-keluarga pedesaan.
Sebelum memulai mendongeng, Melany sempat memberikan gambaran apa itu dongeng dan bagaimana kemudian ia bekerja mengasah imajinasi anak-anak pendengarnya. Dengan mendongeng bagi anak-anak, kita juga sedang merangsang minat baca mereka.
Ketika imajinasi anak-anak mulai tumbuh, maka minat mencari tahu akan tumbuh. Lalu ke mana mereka akan mencari selain dengan membaca? Maka ada kewajiban lain, yaitu memberi contoh dan memberi fasilitas berupa buku bacaan yang cukup dan layak sesuai perkembangan usia anak-anak.
Film pertama yang diputar yaitu Pekak Kukuruyuk, sebuah film dokumenter berdurasi dua puluh menit, yang merupakan produksi program Eagle Award Metro TV. Pekak Kukuruyuk berkisah tentang kehidupan Pak Made Taro, seorang pelestari dongeng dan permainan tradisional. Karya Agung Yudha ini dipilih, karena berkaitan dengan program pentas cerita, yang mengangkat dongeng dan bercerita sebagai sebuah aktifitas yang perlu tetap dilakukan disetiap rumah orang tua bagi anak-anaknya.
Film selanjutnya adalah film berjudu Besok Saya Tidak Masuk Sekolah karya Oka Sudarsana. Fiksi pendek berdurasi enam belas menit ini berkisah tentang Ginar, seorang anak SD di pelosok Kintamani yang berjuang menempuh pendidikan Sekolah Dasar. Besok Saya Tidak Masuk Sekolah menggambarkan sisi lain dari keindahan dan kemegahan pulau Bali di mata dunia, sekaligus juga menyentil dunia pendidikan di negeri kita tercinta.
Film terakhir adalah @ItsDekRaaa. Film ini bercerita tentang kehidupan remaja di pedesaan yang terpapar oleh smartphone dan media sosial. Dekra, tokoh utama dalam film ini ingin sekali menjadi selebriti Tiktok, namun grup Tiktoknya terancam bubar karena salah satu temannya menghilang secara misterius.
@ItsDekRaaa adalah karya warga desa Tukadaya - Jembrana, Made Suarbawa, yang juga pengasuh Rumah Baca Bali Tersenyum. @ItsDekRaaa bercerita tentang seorang remaja perempuan desa bernama Dekra yang ingin menjadi seleb Tiktok, mendapat ancaman kelompoknya akan bubar karena salah satu temannya menghilang secara misterius.
Karya film pendek dari Jembrana yang sedang keliling dunia menuju berbagai festival film ini, dibintangi oleh empat remaja Desa Tukadaya, disyuting di desa mereka sendiri dan sebagian kru adalah warga desa setempat. Malam itu, puluhan orang memadati halaman Rumah Baca Bali tersenyum untuk menyaksikan wajah anak mereka, tetangga, dan alam desanya tampil di layar lebar.
Demikian catatan Cerita Rasa Festival Jembrana 2022 yang penuh kesan. Merdesa!
Cerita Rasa Village Festival adalah rintisan festival pedesaan untuk merayakan cerita, cita rasa dan mempromosikan kepedulian lingkungan, budaya dan kemanusiaan. Cerita Rasa digagas dan diselenggarakan oleh Bali Tersenyum, sebuah sanggar literasi di kabupaten Jembrana.
Cerita Rasa dilaksanakan pada hari Sabtu, 30 Juli 2022 mulai pukul 12:00 hingga 21:00 wita, bertempat di Rumah Baca Bali Tersenyum, Banjar Brawantangi Taman, Desa Tukadaya, Jembrana. Kedepannya, kegiatan ini akan dijadikan ruang untuk bersama-sama saling mendengar, merasakan, berbagi dan mendokumentasikan cerita, rasa dan peristiwa.
Pemutaran film inilah yang akan menjadi puncak acara, yang akan diawali dengan presentasi kuliner, pelatihan fotografi, melukis bersama, dan pentas cerita.
Kuliner yang akan dipresentasikan dalam Cerita Rasa adalah olahan kelapa. Yang pertama adalah membuat minyak kelapa dengan cara tradisional, yang sesungguhnya mulai jarang dilakukan jika tujuannya hanya minyak goreng. Seperti kita tahu, minyak kelapa sudah di gantikan oleh minyak sawit kemasan.
Hal yang khas di Jembrana adalah pemanfaatan sisa pembuatan minyak kelapa menjadi menu masakan yang khas, yaitu jukut serapah atau lontong serapah, yang bisa dikatakan hanya ada di Jembrana. Selain jukut serapah, akan ada juga sambal goreng kelapa dan tentunya pesan telengis.
Kamera sudah lekat dengan remaja kita, karena setiap smartphone sudah dilengkapi dengan kamera yang bagus. Hal itu mendorong pelaksanaan pelatihan fotografi bagi remaja, guna memperkenalkan dasar-dasar fotografi, memperkenalkan profesi fotografer dan bagaimana usaha foto & video itu berjalan.
Pelatihan fotografi bekerjasama dengan Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) MAKATA Desa Tukadaya, serta mengundang narasumber dari komunitas dan pelaku usaha fotografi dan video di Jembrana.
Program melukis dan kerajinan ini merupakan ruang bermain dan belajar bagi anak-anak. Dalam program ini, lebih ditujukan sebagai momen beraktivitas bersama, baik itu kerjasama antar anak-anak dan bersama orang tua. Pada sesi melukis, anak-anak akan melukis bersama seniman Wasudewa. Wasudewa dengan sign WSDW banyak bermain di seni tato dan street art.
Selain melukis, akan diperkenalkan kerajinan tradisional kepada anak-anak. Banyak kerajinan yang sejak dulu diturunkan atau diajarkan melalui pergaulan adat dan sosial, seperti kelatkat, wakul, kelabang dan sebagainya. Dalam sesi ini, lebih ingin untuk saling mengingatkan, agar kita punya itikad secara sadar untuk mengajarkan hal-hal yang menjadi tradisi di desa.
Mesatua atau mendongeng merupakan pola penanaman nilai-nilai kehidupan yang sangat penting di dalam keluarga. Cerita rasa menghadirkan program pentas cerita, berupa mendongeng dan membaca cerita. Akan tampil Ayu Nila seorang remaja Tukadaya yang baru menamatkan sekolah menengah atas dan Melany seorang Ibu muda yang juga seorang guru sekolah dasar.
Ayu Nila akan membaca cerita dari buku karya Made Taro, sebuah dongeng berjudul Padi dan Hama Wereng, sedangkan Melany akan mendongeng tentang Semut dan Burung Merpati.
Cerita Rasa akan menampilkan Film @ItsDekRaaa karya Made Suarbawa, yang bercerita tentang seorang remaja desa bernama Dekra yang ingin menjadi artis Tiktok. Saat membuat video Tiktok, salah satu temannya menghilang.
Selain itu, diputar pula film Pekak Kukuruyuk dan Besok Saya Tidak Masuk Sekolah. Pekak Kukuruyuk karya Agung Yudha, bercerita tentang Pak Made Taro, seorang pelestari tradisi lisan atau dongeng dan permainan anak-anak tradisional. Besok Saya Tidak Masuk Sekolah karya Oka Sudarsana, bercerita tentang seorang anak bernama Ginar yang mendapat kejutan di sekolahnya setelah begadang membuat PR.
Cerita rasa akan menjadi ajang pemutaran pertama @ItsDekRaaa di negeri sendiri, setelah pada 23 Juli diputar di Planet 23 Studios, Wheeling, West Virginia, dalam rangka The Fifteen Minute Film Festival. Film @ItsDekRaaa saat ini sedang berkeliling masuk berbagai festival film di berbagai negara. Selain The Fifteen Minute, festival yang telah memilih dan akan memutar film @ItsDekRaaa diantaranya; MiCe Festival di Valencia - Spanyol, Cinemaking International Film Festival - Banglades, DYTIATKO International Children’s Media Festival - Ukraina, dan semoga banyak lagi yang tertarik memutar hingga dua tahun mendatang.
Sampai jumpa di “Cerita Rasa”.
Virtual menjadi kata yang sangat ramai digunakan sejak Covid-19 melanda dunia. Misalnya meeting virtual atau festival virtual, yang mengacu pada aktivitas yang dilakukan, dibuat atau dipresentasikan menggunakan teknologi perangkat lunak komputer dan internet.
Sebuah festival virtual bernama VRDays Europe berlangsung pada 13-17 November 2021, di mana Indonesia terlibat sebagai Global Partner yang di wakili oleh Minikino. VRDays Europe merupakan Festival Virtual and Augmented Reality yang terselenggara secara fisik di Perpustakaan Publik Oosterdok, Amsterdam dan dibarengi dengan penyelenggaraan secara online di berbagai Negara melalui Laval Virtual World.
Minikino menjadi satu-satunya Global Partner di Asia Tenggara. VRDays Europe juga bermitra dengan institusi, organisasi, dan platform yang turut bergerak di dunia XR (Extended Reality) dari berbagai belahan dunia, di antaranya, APDC (Portugal), Euromersive Turkey (Turki), Helsinki XR Center (Finlandia), Karma Lab, XR at Koç University Istanbul (Turki), Laval Virtual (Perancis), Showtime VR Story (Polandia), Styly: Psychic VR Lab (Jepang), Torino Short Film Market (Irlandia), VR Academia (India dan Hyderabad), VR AR Academia (Kolkata, India), VR-AR Academia (Delhi, India), VRINN (Norwegia), XR Academia (Kolombia dan Belanda), dan XRBR (Brazil).
Sebelumnya Minikino telah menghadirkan pengalaman menonton film menggunakan Virtual Reality (VR) di Minikino Film Week 7 - Bali International Short Film Festival 2021, yang menghadirkan Film “Penggantian” karya Jonathan Hagard
Dalam penyelenggaraan VRDays Europe di Bali, Minikino menyajikan film-film VR dan diskusi panel bersama kreator dan produser VR. Tersedia tiga film yang bisa dinikmati menggunakan kacamata VR di venue acara, yakni MASH Denpasar. Film yang diputar adalah “Myriad” (produksi Miiqo Studios, 2021), “Symphony” (produksi “la Caixa” Foundation, ditulis dan disutradarai oleh Igor Cortadellas, Spanyol, 2020), dan “Narcissus and Echo” (produksi kolaborasi Veejays.com dan House of Makers, Belanda, 2021).
Film VR Myriad
Myriad merupakan film 360° 3D Documentary untuk menangkap kisah salah satu program reintroduksi paling spektakuler di Eropa: reintroduksi burung ibis botak yang dipimpin oleh manusia. Dengan menggunakan pesawat ultralight, manusia memandu ibis botak di atas Pegunungan Alpen, mendorong mereka untuk mengadopsi kembali pola migrasi historis. Penonton diajak mengikuti burung-burung dalam perjalanan yang mencekam, mencengangkan dan emosional, belajar tentang karakteristik khusus dan rute migrasi hewan, faktor-faktor yang mempengaruhi penerbangan mereka, dan tantangan yang harus mereka atasi dalam perjalanan.
Film VR Symphony
Symphony memberikan pengalaman audiovisual imersif yang membawa emosi penonton larut dalam petualangan melalui musik. Penonton akan mengalami dan benar-benar memahami musik klasik dari sudut pandang yang belum pernah ada sebelumnya, memasuki interior instrumen atau merasa terlibat dalam orkestra sembari menikmati komposisi Beethoven, Mahler dan Bernstein yang dibawakan oleh konduktor ternama Gustavo Dudamel dan Mahler Chamber Orchestra yang bergengsi.
Film VR Narcissus and Echo
Di Belanda, sekelompok artis menggunakan VR untuk menciptakan pertunjukan balet untuk penonton dengan jumlah kecil yang tetap interaktif dan juga anti-Covid. Karya Narcissus and Echo merupakan kisah tarian virtual yang emosional tentang kesendirian dan koneksi manusia. Pertunjukan karya ini pertama kali dibuka untuk dunia bulan Juni 2021 lalu di Amsterdam dan dipertunjukkan di berbagai kota lainnya. Walaupun dikembangkan untuk memberi pengalaman interaktif, kreatornya, Hidde Kross untuk pertama kalinya mencoba menampilkan versi yang lebih pendek sebagai adaptasi linear, khusus untuk pemutaran Minikino di Bali, Indonesia.
Diskusi panel dengan tema “What’s Up VR in Indonesia” digelar secara daring pada Rabu, 24 November 2021 jam 18.00 WITA dan bisa disaksikan terbuka melalui minikino.org/live. Tema diskusi seputar percakapan antara para kreator dan seorang produser VR tentang pengalaman membuat VR sinematik di Indonesia, bersama Aaron Wilson (sutradara/penulis), Annisa Adjam (produser), Jonathan Hagard (sutradara/animator/illustrator). Diskusi domoderasi oleh Jolinde Den Haas (Immersive Program di CineMart dan International Film Festival Rotterdam) dan Fransiska Prihadi (Direktur Program Minikino).
Mengusung tajuk “Immersive Tech Week 2021”, selama lima hari VRDays Europe menyajikan tema yang berbeda-beda tiap harinya.
Informasi selengkapnya mengenai kegiatan VRDays Europe bersama Minikino dapat dilihat melalui website https://minikino.org/minikino-x-vrdays-europe/.
Sebuah perjalanan dimulai dan pasti harus berakhir di sebuah tujuan atau pun persinggahan. Perjalanan Minikino Film Week (MFW) 7, Bali International Short Film Festival berakhir pada Sabtu, 11 September 2021 lalu; satu lagi persinggahan menuju MFW selanjutnya yang tujuannya telah pasti di 2 - 10 September 2022.
MFW adalah sebuah kolaborasi bersama banyak pihak, semuanya ikut andil membentuk perjalanan dan kualitas festival ini. Sejak pandemi melanda dunia, setiap langkah serasa tidak pernah mulus. Tahun 2021 memang terasa lebih sulit untuk menyelenggarakan festival ini. Namun ketika kita semua mengusung semangat dan harapan yang sama, maka kita bisa berjuang bersama.
Total 166 mata acara pemutaran film dan kegiatan Short Film Market berhasil terlaksana dalam MFW7. Tercatat 1997 penonton hadir di 14 lokasi yang tersebar di seluruh pulau Bali dan sekitar 366 views acara yang disiarkan online.
Program yang selalu menarik banyak perhatian adalah layar tancap. Sejak awal MFW selalu mengembangkan modul pelatihan yang mengiringi Pop Up Cinema ke desa-desa. Tahun sebelumnya kami sudah mengenalkan kepada anak-anak dan remaja tentang bagaimana terjadinya gambar bergerak, bagaimana membaca gambar atau bagaimana sebuah film dibuat. Sementara tahun ini pelatihan Pop Up cinema, memperkenalkan media baru yang bisa diproduksi dengan gadget atau HP mereka sendiri.

Minikino Film Week 7 ditutup dengan International Awarding Event, pada (11/9/2021). Dalam kegiatan ini, MFW mengumumkan berbagai penghargaan baik Internasional dan juga penghargaan Nasional.
Peraih penghargaan Internasional dan Nasional Award untuk masing-masing kategori, adalah sebagai berikut:
MFW7 Best Animation Short
Thorns and Fishbones” (sutradara: Natália Azevedo Andrade, Hungaria, 2020);
MFW7 Best Audio Visual Experimental Short
“Inside”
(sutradara: Yann Chapotel, Perancis, 2020);
MFW7 Best Children Short
“Girlsboysmix”
(sutradara: Lara Aerts, Belanda, 2020);
MFW7 Best Documentary Short
“Why Didn’t You Stay For Me”
(sutradara: Gevers Milou, Belanda, 2020);
MFW7 Best Fiction Short
“Makassar Is A City For Football Fans” (sutradara: Khozy Rizal, Indonesia, 2020);
MFW7 Programmer’s Choice
"A Lonely Afternoon”
(sutradara: Kyle Credo, Kanada, 2020). Sedangkan penghargaan tertinggi, yakni
MFW Best Short Film of the Year 2021
“I Am Afraid to Forget Your Face”
(sutradara: Sameh Alaa, Mesir, Prancis, Belgia, Qatar, 2020).
Begadang Filmmaking Competition 2021
"Pro Cast"
(sutradara: Immanuel Kurniawan, Victoria Film, Malang, Jawa Timur, 2021).
MFW National Competition 2021
“Masa Depan Cerah 2040”
(sutradara: Winner Wijaya, Fiksi, 2020)
Special Jury Mention
“Chintya”
(sutradara: Sesarina Puspita, Fiksi, 2019)
“Salmiyah”
(sutradara: Harryaldi Kurniawan, Dokumenter, 2019)
Raoul Wallenberg Institute Asia Pacific Award at MFW7
“The Last Breath of the Tonle Sap”
(sutradara: Thomas Cristofoletti, Robin Narciso, Kamboja, 2020).
Pada Minggu (5/9/2021), Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Desa Tukadaya, Makata, bersama Sanggar Bali Tersenyum mengadakan kegiatan pengenalan dan pelatihan yang bertajuk “Bercerita Menggunakan Kamera HP”. Kegiatan ini bertempat di Pangkung Jaka, lokasi yang sedang digarap oleh Pokdarwis West di Banjar Sarikuning, Desa Tukadaya. Kegiatan tersebut terselenggara atas kerjasama dengan Minikino Film Week (MFW) 7 – International Short Film Festival yang diselenggarakan oleh Minikino – Yayasan Kino Media.
Pelatihan yang diikuti oleh belasan remaja dari banjar-banjar yang ada di Desa Tukadaya, dibimbing oleh relawan-relawan MFW7. Ada Kak Aal seorang produser film yang berbagi tentang proses pembuatan film pendek berjudul Rangkul, Kak Vifick seorang fotografer yang berbagi tentang bercerita dengan gambar, dan Made Birus Direktur Traveling Festival MFW7 yang membimbing para peserta untuk menulis ide cerita, merekam dan mengedit video menggunakan kamera HP.
Pelatihan selama kurang lebih empat jam tersebut, menghasilkan lima karya video pendek yang menceritakan keseharian para peserta. Semua cerita datang dari ide mereka sendiri, diperankan oleh mereka sendiri, pengambilan gambar dan editing juga dilakukan sendiri, di bawah bimbingan teman-teman dari Minikino.
Selain workshop atau pelatihan, kegiatan bersama Minikino Film Week dilanjutkan dengan sesi layar tancap yang dimulai pada pukul 18:30 Wita. Selain memutar program-program film pendek yang merupakan pilihan festival, di akhir acara, hasil karya remaja Tukadaya dari pelatihan Bercerita Menggunakan Kamera HP pun ditayangkan.
Kemeriahan sangat terasa ketika para penonton yang sebagian besar adalah keluarga dan tetangga para peserta pelatihan, mulai melihat wajah-wajah yang mereka kenal tampil di layar lebar. Ini adalah pengalaman luar biasa, membuat karya dengan HP yang sudah sangat akrab dan berkesempatan menonton hasilnya bersama-sama di layar lebat yang sangat jarang ditemukan terutama di desa. Ruang kolektif seperti ini sangat sulit ditemukan ketika karya dari HP kemudian didistribusikan di kanal online dan ditonton melalui layar HP yang terbatas, dan sendirian saja.
Kegiatan pelatihan dan layar tancap ini terselenggara dengan menerapkan protokol kesehatan ketat, dengan mewajibkan peserta mengenakan masker, suhu badan diperiksa di lokasi dan dalam keadaan normal, serta disediakan hand sanitizer. Sebagai komitmen untuk saling menjaga, seluruh rangkaian acara diselenggarakan secara luring (fisik) dan daring (online) yang dibarengi dengan komitmen penerapan protokol kesehatan bagi penonton maupun penyelenggara yang bertugas.
Di tengah terpaan pandemi COVID-19, Festival film pendek Minikino Film Week 7 (MFW7) – Bali International Short Film Festival, diadakan pada 3-11 September 2021. Tahun ini MFW7, hadir di 15 titik yang tersebar di seluruh Bali. Festival Lounge atau tempat titik temu festival berada di MASH Denpasar. Selebihnya lokasi tersebar di kota Denpasar (Antida Sound Garden, Alliance Française Bali, Irama Indah Mini Hall, CushCush Gallery, Rumah Sanur Creative Hub, Men Brayut), kabupaten Badung (Uma Seminyak), kabupaten Buleleng (Rumah Film Sang Karsa), dan kabupaten Gianyar (Omah Apik Pejeng). Layar tancap tahun ini akan diadakan di kabupaten Buleleng (Desa Pedawa), kabupaten Jembrana (Pangkungjaka, Desa Tukadaya) dan kota Denpasar (Kebun Berdaya Kampung Hijau, Desa Tegeh Sari).
Semoga ini adalah awal dari kerjasama dengan Minikino dan membuka kerjasama-kerjasama baru dengan pihak lain yang bersedia berbagi ilmu dan pengetahuan dengan warga Desa Tukadaya.
KIM Makata mengharapkan, bahwa teman remaja, anak-anak dan masyarakat secara umum untuk sedia bekerjasama dalam meningkatkan kapasitas diri. KIM yang saat ini telah meluncurkan portal media online Makata media dotcom, berharap dapat menyelenggarakan berbagai pelatihan termasuk pelatihan menulis cerita dan berita, membuat video/ film, belajar fotografi, digital marketing, dan sebagainya. Tentu saja, sebuah kegiatan membutuhkan dukungan penuh dari masyarakat dan pemerintah Desa.
Masih di tengah terpaan pandemi COVID-19. Festival film pendek internasional Minikino Film Week 7 (MFW7), hadir pada 3-11 September 2021 di Bali. Sebagai komitmen untuk saling menjaga, seluruh rangkaian acara diselenggarakan secara luring (fisik) dan daring (online) yang dibarengi dengan komitmen penerapan protokol kesehatan bagi penonton maupun penyelenggara yang bertugas.
“Festival di tengah pandemi tetap perlu memperhatikan protokol kesehatan. Tahun ini ada syarat tambahan bagi seluruh relawan festival dan penonton. Mereka wajib memiliki bukti vaksin minimal satu kali atau hasil negatif rapid test antigen swab di bulan September 2021.” ujar Direktur Festival, Edo Wulia.
Tercatat 925 judul film pendek yang masuk melalui kanal online Short Film Depot dan Filmfreeway. Film maker dari seluruh dunia, termasuk Indonesia memiliki kesempatan yang sama memanfaatkan kanal tersebut. Seluruh film yang masuk kemudian melalui proses seleksi. 214 film internasional terpilih dan dikemas dalam 36 program.
Selain itu MFW7 akan menampilkan program film pendek dari festival tamu yaitu Image Forum Festival (Jepang), In-Docs (Indonesia), Seoul Yeongdeungpo International Extreme Short Image & Film Festival (Korea), Reel Asian (Canada), dan Clermont-Ferrand International Short Film Festival (Prancis). Kehadiran program tamu dari berbagai festival di dunia tersebut, merupakan konsep pertukaran program film pendek, dari kerja berjejaring dengan festival di dalam dan luar Indonesia.
Selain berhasil mendatangkan program dari luar, Minikino juga berhasil membawa program film pendek Indonesia untuk tampil di berbagai festival film internasional sepanjang tahun. Tahun ini kerjasama seleksi dan kurasi dilakukan untuk KAUM Alternative Indonesian Performance and Film Festival (Jerman) pada 8-21 Agustus 2021, Nòt Film Festival (Italia) pada 24-29 Agustus 2021, dan Seoul Yeongdeungpo International Extreme-Short Image & Film Festival (SESIFF, Korea Selatan) pada 7-12 September 2021 dan Image Forum Festival di Tokyo dan Nagoya, Jepang pada 25 September - 3 Oktober 2021.
“Berjejaring merupakan kunci. Minikino Film Week adalah jembatan sekaligus pintu yang membuka lebar potensi kerjasama serta apresiasi terhadap film-film pendek terbaik Indonesia, Asia Tenggara dan internasional,” papar Fransiska Prihadi, Direktur Program Minikino.
Selain pertukaran program film pendek, Minikino juga melakukan pertukaran sumber daya manusia, seperti bisa dilihat dalam deretan nama-nama dewan juri penghargaan Minikino Film Week 7. Demikian halnya tim Minikino yang diwakili Fransiska Prihadi berkesempatan diundang menjadi bagian komite juri dalam ReelOzInd! Australia Indonesia Short Film Competition dan SESIFF Korea Selatan. Selain itu, diundang pula sebagai pembicara dalam workshop film fiksi pendek yang diselenggarakan AKATARA, mempresentasikan program Minikino di Image Forum Festival Jepang mengenai Film in Shelter, dan Short Film Forum: How To Make The Most Of Film Festival yang diselenggarakan oleh Objectifs Centre for Photography and Film, Singapura.
Berbagai acara pra-festival sudah terlaksana sejak bulan Juni 2021. Program Hybrid Writer Internship mengawali di bulan Juni dan berlangsung hingga November 2021. Kompetisi produksi film pendek nasional tahunan, Begadang Filmmaking Competition berlangsung pada 23-24 Juli lalu.
Kisahpedia mendukung kegiatan Minikino tahun ini. Kisahpedia adalah lembaga akuisisi film yang menaruh perhatian pada isu keragaman dan toleransi dalam penyelenggaraan Begadang Filmmaking Competition. 39 tim produksi dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti kompetisi ini. Namun hanya 29 tim yang berhasil menyelesaikan produksi sesuai batas waktu 34 jam.
Selain lebih dari 150 kali pemutaran film di berbagai lokasi selama sepekan. MFW7 juga memberikan fasilitas bagi para pegiat film untuk bertemu, berjejaring, hingga mempromosikan karya mereka lewat Short Film Market. Terdapat kegiatan forum diskusi Kopi Selem, Nurturing FIlm Festival Writers dan Toast Your Short, workshop bedah film, Open Screen, Short Film Library, Open Screen Event, Begadang 2021 Official Selection, dan RWI Asia Pacific Award Nominees at MFW7 dengan Audio Description dan Closed Caption yang dapat dinikmati bersama teman-teman tuna netra dan tuli.
Untuk pertama kalinya tahun ini MFW7 akan menghadirkan pengalaman menikmati film virtual reality (VR) berjudul “Penggantian” karya Jonathan Hagard, seorang sutradara Indonesia-Prancis. Film ini menggambarkan akar identitas budaya, perubahan sosial, politik dan lingkungan hidup. Sebelum hadir di Minikino Film Week, “Penggantian” sudah lebih dulu tampil di berbagai festival internasional. Film ini meraih penghargaan di Venice International Film Festival, Annecy Festival dan Siggraph.
Tahun ini MFW7, Bali International Short Film Festival hadir di 15 titik yang tersebar di seluruh Bali. Festival Lounge atau tempat titik temu festival berada di MASH Denpasar. Selebihnya lokasi tersebar di kota Denpasar (Antida Sound Garden, Alliance Française Bali, Irama Indah Mini Hall, CushCush Gallery, Rumah Sanur Creative Hub, Men Brayut). Kabupaten Badung (Uma Seminyak). Kabupaten Buleleng (Rumah Film Sang Karsa), dan kabupaten Gianyar (Omah Apik Pejeng). Layar tancap tahun ini akan diadakan di kabupaten Buleleng (Desa Pedawa). Kabupaten Jembrana di Pangkungjaka, Desa Tukadaya. Kota Denpasar di Kebun Berdaya Kampung Hijau, Desa Tegeh Sari.
Made Suarbawa, Direktur Traveling Cinema mengatakan bahwa, bertemu dengan penonton di desa dalam program layar tancap selalu memberikan gairah baru. Pandemi ini membuat komunikasi dengan kolaborator menjadi semakin erat, selain untuk berkoordinasi, juga untuk saling bertukar informasi dan dukungan dalam beraktivitas dan mempersiapkan MFW7.
Buku program digital dan jadwal festival tersedia di situs minikino.org/filmweek. Semua program gratis dan terbuka untuk umum, sesuai dengan pedoman usia. Calon penonton diwajibkan mendaftar terlebih dahulu sebelum datang ke lokasi acara untuk mendapatkan festival pass. Formulir festival pass dapat diisi secara daring di minikino.org/mfw7pass.
Festival film pendek internasional Minikino Film Week (MFW) kembali hadir di tahun ke-7, pada 3-11 September 2021. Dari siaran media yang diterima Mipmap, MFW7 mencatat 925 judul film pendek yang masuk, melalui kanal online Short Film Depot dan Filmfreeway. Penerimaan film ini dibuka untuk film maker dari seluruh dunia, termasuk Indonesia. Seluruh film yang masuk kemudian melalui proses seleksi dan terpilih 214 film. Film-film yang masuk baik dari Indonesia maupun luar negeri tersebut, dikemas dalam 36 program dan akan diputar di layar-layar di seantero pulau Bali.
Tahun 2021 ini, Minikino Film Week memberikan penganugerahan penghargaan untuk film-film pendek terbaik dalam beberapa kategori, antara lain; Best Animation Short, Best Audio Visual Experimental Short, Best Children Short, Best Documentary Short, Best Fiction Short, Programmer’s Choice, dan Best Short Film of The Year 2021.
Juri untuk penghargaan kompetisi internasional tahun ini ialah Asako Fujioka (Yamagata International Documentary Film Festival, Jepang) , Lucky Kuswandi (sutradara dan penulis film, Indonesia), Kelly Lui (Reel Asian, Canada), dan Monez Gusmang (ilustrator, Indonesia).
Penghargaan terbaru adalah National Competition Award, yang ditujukan khusus bagi film pendek Indonesia. Nominasi penerima penghargaan MFW National Competition Award diseleksi oleh juri tahap pertama yang merupakan programmer Indonesia Raja 2021 yaitu Akbar Rafsanjani (Aceh), Kardian Narayana (Bali), Kemala Astika (Cirebon), Nosa Normanda (Jakarta), Sazkia Noor Anggraini (Yogyakarta).
Lima nominasi pada kategori ini ialah tiga karya film pendek fiksi berjudul Angpao (sutradara Stefanus Cancan), Chintya (sutradara Sesarina Puspita), Masa Depan Cerah (sutradara Winner Wijaya) dan dua film pendek dokumenter yaitu Shin Hua (sutradara Erick Sutanto), Salmiyah (sutradara Harryaldi Kurniawan).
Untuk penentuan pemenang yang berhak menerima National Competition Award, ditentukan oleh final round juri yang terdiri dari Anom Darsana (produser musik dan teknisi suara, Indonesia), John Badalu (produser film, Indonesia) dan Sanchai Chotirosseranee (Thai Film Archive, Tahiland).
Tahun ini Minikino Film Week juga bekerjasama dengan The Raoul Wallenberg Institute Humanitarian Rights and Law yang berbasis di Lund, Swedia, untuk memberikan perhatian pada film-film pendek yang berurusan dengan serangkaian masalah kesetaraan, keragaman, dan lingkungan. Satu film pendek akan terpilih untuk mendapatkan gelar The RWI Asia Pacific Award at MFW7 dengan hadiah uang tunai sebesar sepuluh juta rupiah.
Ada pun film-film yang masuk nominasi untuk memperebutkan gelar tersebut adalah Citarum (sutradara Ali Satri Efendi, Indonesia, 2020), God’s Daughter Dances (sutradara Sungbin Byun, Korea Selatan, 2020), Gold is Eating People (sutradara Su Xia, Cina, 2020), The Last Breath of Tonle Sap. (sutradara Thomas Cristofoletti, Robin Narciso, Kamboja, 2020), dan The Execution (sutradara Jeroen Van der Stock, Jepang, 2019).
Tentu saja tidak lupa, pemenang kompetisi membuat film pendek dalam waktu 34 jam, Begadang Filmmaking Competition juga ditentukan dari 4 nominasi yang terpilih yaitu, Makasih, Mbak Anggun (dir. Dimas Adiputro, Suka Films), Selamat Datang di Indonesia (dir. Azalia Muchransyah, CATastrophe Productions), Pro Cast (dir. Immanuel Kurniawan, Victoria Film / Malang, Jawa Timur), dan From Mars For England (dir. Mochamad Rizky Fauzy, KMTF).
Tahun 2021 Begadang Filmmaking Competition didukung oleh Kisahpedia, lembaga akuisisi film yang menaruh perhatian pada isu keragaman dan toleransi. Begadang diikuti oleh 39 tim produksi dari berbagai daerah di Indonesia, namun hanya 29 tim yang berhasil menyelesaikan produksi sesuai batas waktu. Kemudian, dari 29 film yang masuk diseleksi kembali hingga terpilih 10 film yang ditayangkan selama MFW7. Dari 10 film pilihan tersebutlah terpilih 4 (empat) film nominasi yang akan melalui proses penjurian akhir untuk menentukan pemenang utama.
Seluruh penghargaan yang dianugrahkan Minikino Film Week 7, diumumkan dan diserahkan dalam acara penutupan dan awarding events, pada tanggal 13 September 2021.
Untuk menjadi perhatian para peminat film, bahwa seluruh rangkaian Minikino Film Week 7 adalah bebas biaya dan terbuka untuk umum, dengan memperhatikan rating usia. Selain itu, panitia juga penerapkan protokol kesehatan yang ketat, dengan mewajibkan para penonton untuk melakukan registrasi awal, untuk mendapatkan festival pass.
“Festival di tengah pandemi tetap perlu memperhatikan protokol kesehatan dan tahun ini ada syarat tambahan bagi seluruh pekerja festival dan penonton untuk memiliki bukti vaksin minimal satu kali atau hasil negatif rapid test antigen swab di bulan September 2021,” ujar Direktur Festival, Edo Wulia dalam siaran persnya.
“Belajar tidak mengenal usia”, katanya. Apalagi yang masih muda; yang masih punya kesempatan belajar lebih banyak; yang lahir dan bersentuhan dengan teknologi sejak dalam kandungan, jika dibandingkan dengan generasi sebelumnya, ayah dan kakeknya yang ketika lahir masih diterangi damar sentir.
Sabtu lalu, 19 Juni 2021, muda-mudi Banjar Kembangsari, Desa Tukadaya, berkesempatan menerima kunjungan dan ilmu dari kawan-kawan Minikino (Yayasan Kino Media), yang berbagi tentang sejarah gambar bergerak (moving image), yang saat ini kita kenal dan nikmati sebagai video atau film.
Dalam sesi pelatihan 2 jam tersebut, muda-mudi menerima pemaparan dan praktek menciptakan gambar-gambar yang kemudian dipasang pada alat yang bernama #Zoetrope.
Zoetrope merupakan alat yang digunakan untuk mengerakan gambar; alat yang dapat menciptakan ilusi gerak dari rangkaian gambar yang dipasang di dalamnya. Zoetrope adalah alat pra-film animasi, yang ditemukan oleh William George Horner pada tahun 1834.
Gambar bergerak adalah sebuah seni untuk menggerakan objek, menciptakan ilusi gerak dari serangkaian gambar. Selanjutnya gambar bergerak berkembang menjadi lebih menarik, dimana fungsi kreativitas melahirkan karya seni yang melibatkan imajinasi. Konsep dasar gambar bergerak kemudian melahirkan animasi, yang berasal dari bahasa latin, anima, yang artinya jiwa, hidup, nyawa dan semangat.
Animasi adalah gambar dua dimensi yang seolah-olah bergerak. Animasi merupakan seni untuk memanipulasi gambar menjadi seolah-olah hidup dan bergerak. Lembaran-lembaran kertas yang digabungkan menceritakan gerakan seorang tokoh di setiap sekuensinya. Sebelum kelahiran komputer sebagai alat bantu, maka gambar dibuat sendiri oleh pelukisnya dengan membayangkan setiap gerakan secara detail. (dikutip dari wikipedia)
Minikino adalah sebuah organisasi nirlaba yang menyatakan fokus pada gerakan literasi audio visual melalui film pendek. Kegiatan yang dilakukan meliputi pemutaran dan diskusi film pendek, pelatihan-pelatihan, pengembangan jejaring budaya sinema, serta kompetisi dan festival film pendek.
Dalam pengembangan jejaring budaya sinema, Minikino terhubung dan bekerjasama dengan berbagai lembaga dan individu dari berbagai negara. Dalam jejaring ini termasuk komunitas masyarakat di penjuru pulau Bali, dan tentu saja desa-desa di Jembrana menjadi bagian yang tidak terpisahkan.
Minikino memiliki berbagai program menarik yang siap dilaksanakan, tinggal bagaimana komunitas masyarakat di Jembrana atau Tukadaya menyambutnya. Ibarat mata airnya sudah siap, tinggal komunitas menyiapkan gelas untuk menampung airnya agar bisa dimanfaatkan.
Setelah sesi pelatihan ini, semoga ada minat lagi untuk menimba ilmu lebih lanjut: apakah tertarik belajar membuat film animasi, belajar video, film atau fotografi dan sebagainya. Kami Rumah Baca Bali Tersenyum bersama Makata – KIM Tukadaya siap memfasilitasi, di bawah arahan pemerintah desa.
COVID-19 menunda berbagai event festival film di berbagai negara. Namun Minikino Film Week terus melangkah dengan berbagai penyesuaian dan inovasi. Seluruh rangkaian kegiatan disesuaikan dengan protokol kesehatan dan berbagai pembatasan era New Normal di masa pandemi ini.
Di tengah terpaan pandemi COVID-19, Minikino Film Week (MFW), Bali International Short Film Festival menyelenggarakan edisi ke-enamnya pada 4-12 September 2020. Seluruh rangkaian acara ini tentunya dibarengi dengan komitmen melaksanakan protokol kesehatan bagi penonton maupun penyelenggara yang bertugas. Penyelenggaraan MFW6 kali ini turut didukung oleh Fasilitasi Bidang Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan serta Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
“Tiap tahunnya, MFW selalu menghadirkan kolaborasi baru hasil dari jaringan kerja Minikino dengan berbagai festival film pendek maupun para profesional lainnya. Sebuah festival film pendek sejatinya adalah ruang untuk eksibisi, edukasi, dan networking, sehingga memperluas jaringan kerja menjadi kunci utamanya.” papar Direktur Travelling Festival I Made Suarbawa.
Menjelang terselenggaranya MFW6, telah terlaksana pula berbagai acara pra-festival yang dimulai sejak bulan Juli lalu. Diawali dengan Youth Jury Online Camp pada 20-24 Juli 2020, kemudian dilanjutkan dengan kompetisi produksi film pendek nasional tahunan Begadang Filmmaking Competition pada 25-26 Juli 2020 lalu.
Direktur Festival Edo Wulia menjelaskan, film-film pendek internasional yang akan tayang di MFW6 merupakan film pendek yang dipilih dari pengajuan terbuka melalui platform online. Tahun ini, MFW menerima pengajuan film pendek melalui 2 (dua) platform, yakni Short Film Depot (https://minikino.org/shortfilmdepot) dan Filmfreeway (https://filmfreeway.com/MINIKINOFILMWEEK).
“Di tahun keenam ini ada 198 film pendek dari 79 negara yang terpilih sebagai Official Selection akan tayang di layar MFW6. Jumlah ini terpilih dari total 903 film pendek yang masuk lewat pendaftaran seleksi Minikino Film Week. Seluruh film terpilih tersebut kemudian dikemas menjadi berbagai program.” lanjut Edo Wulia.

Jackson Segars Sutradara Film “Kimchi” Saat Menerima Penghargaan (foto: wayan martino #sayabercerita)
Diakhir pelaksanaan MFW6 pada 12 September nanti, akan ada penganugerahaan bagi film-film pendek terbaik dalam beberapa kategori, antara lain; MFW Best Short Film of the Year 2020, MFW6 Best Animation Short, MFW6 Best Audio Visual Experimental Short, MFW6 Best Children Short, serta MFW6 Best Documentary Short. Dan untuk pertama kalinya pada tahun ini, MFW6 akan memberikan penganugerahaan khusus untuk film-film pendek Indonesia dalam kategori MFW National Competition Award 2020.
MFW6 juga menghadirkan Short Film Market Events yang berisikan Short Film Library, MFW6 Open Screen Event, Forum dan Talks, Fringes, serta Workshop. Dengan berlakunya pembatasan jumlah penonton dan ketatnya prosedur bepergian, sejumlah pembicara dalam Forum dan Talks akan tampil secara online (daring) dan penyelenggaraannya akan disiarkan secara langsung melalui minikino.org/live dengan menghadirkan juru bahasa isyarat pada seluruh sesi.
“Secara umum, akan ada 31 program internasional, 8 program S-Express 2020 dengan fokus Asia Tenggara, 3 program Indonesia Raja 2019, 3 program tamu dan Begadang 2020 Official Selection. Lalu, untuk Short Film Market Events 2020, ada 4 (empat) topik Forum, 3 (tiga) Talks, 1 (satu) Fringes, dan 2 (dua) Workshop.” Ungkap Direktur Program Fransiska Prihadi.
Para pembicara dalam Short Film Market MFW6 menghadirkan Forum berupa diskusi panel dengan berbagai topik diskusi. “Why Film Festival Matters Beyond 2020” menghadirkan Jukka Pekka Laakso (Finlandia), Gina Dellabarca (New Zealand), Kelly Lui (Kanada) dan Koyo Yamashita (Jepang). “Future Cinema Audience: The Youth” akan dihadiri oleh Tomy W. Taslim (Indonesia), Sébastien Simon (Prancis, Korea Selatan) dan Tim Redford (Prancis) serta MFW6 Youth Juries Kayla Amare Budiwarman, Qiu Mattane Lao, Seika Cintanya Sanger, Sophie Louisa & Stella Melody Winata. Para profesional dari industri film pendek dunia juga akan menambah wawasan tentang nilai ekonomi film pendek menghadirkan Ho Hock Doong (Malaysia), Jaime E. Manrique (Kolombia), Sabrina Spence (Kanada) dan Vivian Idris (Indonesia).
Anggun Pradesha, seorang aktivis transpuan, bersama ibunya dari Jambi juga akan hadir secara langsung mengisi program MFW6 Talks tentang keberagaman dan penerimaan orang tua. Lalu ada Asako Fujioka (Jepang) yang akan memaparkan program kolaborasi Yamagata Documentary Dojo dengan Minikino berupa pertukaran pembuat film pendek dalam sesi “Breathing The Same Air”. Selain itu Ade Wirawan, pendiri Bali Deaf Community akan membahas topik Film, Orang Tuli, dan Bahasa Isyarat.
Workshop akan diisi dengan perkenalan produksi film dengan ponsel pintar oleh Mondiblanc Workshop. Ada pula workshop gambar gerak untuk anak-anak yang akan mengiringi layar tancap di 3 (tiga) desa. Kolaborasi tahun ini juga dilakukan bersama Nosa Normanda untuk memproduksi serial podcast minikino dengan fokus dunia film pendek.
Seluruh film pendek yang diputar memiliki teks Bahasa Indonesia. Menambah keistimewaan tahun ini, MFW6 merambah jangkauan penonton tuna netra dan tuli agar dapat menikmati festival film pendek ini. Bekerja sama dengan Teater Kalangan, untuk pertama kalinya dibuat deskripsi audio untuk 5 (lima) film pendek Indonesia dalam program S-Express 2020: Indonesia yang dapat dinikmati penonton tuna netra.

Masih dengan format yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya, kali ini MFW 6, Bali International Short Film Festival hadir di 10 titik yang tersebar di seluruh Pulau Bali. Festival Lounge atau titik temu utama festival akan berada di MASH Denpasar. Selebihnya akan ada di Irama Indah, MASH Denpasar, Rumah Sanur Creative Hub, Antida Sound Garden, Uma Seminyak, Omah Apik Pejeng, dan Rumah Film Sang Karsa Buleleng. Lalu MFW6 juga akan buka layar di Desa Pedawa, Buleleng; Selat Karangasem, dan Tegeh Sari Denpasar.
Acara akan berlangsung secara bersamaan selama 1 minggu (4-12 September) di titik-titik tersebut. Hanya terkecuali Pop Up Cinema (layar tancap) yang akan ada selama 3 (tiga) hari saja secara bergiliran di masing-masing desa. Seluruh calon penonton diwajibkan mendaftar terlebih dahulu sebelum datang ke lokasi acara dengan festival pass yang dapat diperoleh tanpa dikenakan biaya. Formulir festival pass dapat diisi secara daring di minikino.org/festivalpass.